Sesuai petunjuk dari Theo, jika Keisha tidak ada di cafe, Giffard memutuskan untuk kembali ke kos lama Keisha. Dan nyatanya dia tidak menemukan perempuan itu disana. Malahan, Tika dan juga Bertha sama sekali tidak tahu keberadaan Keisha ada dimana. Tempat yang sering dikunjungi Keisha, juga sudah Giffard datangi satu persatu. Tak ada atau tempat pun yang membuat Giffard bertemu dengan Keisha.
Giffard mengacak rambutnya frustasi. "Kei … kamu dimana sih."
Mencoba menghubungi ponsel perempuan itu, nyatanya ponsel Keisha mati. Perempuan itu sengaja mematikan ponselnya agar Giffard tidak bisa mencarinya. Padahal, dia sudah meminta maaf pada Keisha, dia tidak akan balapan lagi seperti tadi. Dan dia akan mencari pekerjaan sampingan lainnya, dan Giffard pikir perempuan itu sudah memaafkannya. Tapi yang ada Keisha malah pergi dengan amarah yang sama sekali tidak diketahui Giffard.
Di sisi lain, Keisha yang duduk di pinggiran bukit mendesah. Dia pun mengusap air matanya yang masih keluar dengan perlahan. Disini, Keisha tidak tahu apa yang membuat dirinya menangis seperti ini. Harusnya dia senang dong, kalau Giffard sudah memiliki calon istri dan setidaknya bocah itu tidak lagi mengganggunya. Tapi kenapa perasaannya sangat kalah?
Merasakan sebuah tepukan, Keisha pun menoleh cepat. Dia pikir Giffard tahu dimana Keisha berada, taunya yang datang adalah Bertha.
"Mau bunuh diri atau gimana kok pinggir banget duduknya."
Keisha mengusap air matanya perlahan. "Bakso masih enak deh Mbak."
Bertha cekikikan. "Aku pikir udah gak doyan nasi padang."
Tentu saja kalau masalah makanan Keisha tidak bisa menolaknya. Dia suka apapun yang dia makan, kecuali sayur yang berkuah. Bukannya apa, menurut Keisha yang berkuah itu mampu membuat Keisha tersedak makanan nya sendiri.
"Kamu kesini ngapain deh? Gif nyariin tuh, sampai ke kos segala." ucapan Bertha kembali.
Keisha sengaja gak pulang ke apartemen bocah itu. Dia juga beralasan jika harus pergi ke cafe karena pekerjaan. Sedangkan Keisha tahu jadwal hari ini dia libur. Kalau masalah untuk apa Keisha ada disini, Keisha juga tidak tahu kenapa. Dia hanya ingin menyendiri dan tidak ingin diganggu sama sekali. Nanti kalau moodnya sudah berubah baik, dia akan kembali ke apartemen Giffard.
"Lagi berantem sama Giffard apa kamu?"
Keisha menggeleng, dia tidak ada masalah apapun dengan Giffard. Hanya saja dia sedang rindu dengan ibu dan ayahnya di kampung. setelah kuliah, bekerja sampai detik ini Keisha belum juga pernah bertemu dengan ibunya kembali. Kehidupan yang serba mahal ini membuat Keisha memendam rasa ingin pulang, selain faktor biaya Keisha juga tidak mungkin pulang dengan tangan kosong.
Rntah kenapa Bertha malah tidak percaya dengan penjelasan itu. Dia merasa jika Keisha dan Giffard memiliki satu masalah yang begitu serius, hingga membuat Keisha berada di tempat ini sambil menangis. Ingat ya, Keisha pernah bilang jika ingin menemui Keisha dalam keadaan mood buruk, mereka bisa menemui Keisha disini bikin bintang ini. Melihat banyaknya lampu yang menyala di depan mata.
"Kamu itu nggak bisa bohong, Kei. Mungkin kalau Tika percaya aja kamu bilang begitu, tapi ini aku loh, Kei." kata Bertha.
Dan nyatanya Keisha juga tidak bisa menahan diri untuk tidak bercerita pada Bertha. Perempuan itu memberitahu Bertha, jika dia sempat mendengar percakapan antara Kenzo dan juga Debora tentang Giffard. Kenzo selalu dari papa Giffard, sudah menyiapkan satu perempuan untuk menikah dengan Giffard. Mungkin, karena memang satu level dan satu derajat dengan mereka, itu sebabnya Kenzo memilih jodoh untuk Giffard yang sepadan. Keisha juga sempat mendengar ketika Kenzo bilang, jangan biarkan Giffard jatuh cinta dengan Keisha.
"Masalahnya kita itu tinggal satu rumah. Ya nggak mungkin juga hal itu bisa terelakkan." kata Keisha.
Bertha tertawa kecil. "Jadi udah beneran suka sama Giffard ya Kei."
"Bukannya suka, nyesek aja gitu loh. Kalau Gif menikah terus aku sama siapa?"
"Buset dah!!" pekik Bertha memukul lengan Keisha. "Bingung amat kalau ditinggal nikah Gif. Amat aja nggak bingung Kei." lanjutnya dan tertawa.
Keisha sedang tidak ingin bercanda, dia sedang mode galau dan serius. Keisha juga memikirkan bagaimana nasib dirinya jika Giffard menikah dengan perempuan lainnya. Yang pasti Keisha akan, menjanda dan tinggal kembali di kos petak ini. Baru saja dia merasakan jadi orang kaya seperti apa, malah di impiannya di kuburan dalam-dalam oleh Kenzo.
"Harusnya bagus dong, kan kamu sendiri yang bilang pengen menjauh dari Giffard dan menyadarkan dia kalau kalian tidak bisa menikah. Selain tidak cinta, Giffard juga usianya jauh dibawah kamu, Kei."
Itu masalahnya!! Harusnya Keisha senang, tapi nyatanya Keisha malah kesal dengan keputusan Kenzo. Jika saja dia memiliki nyali yang besar, mungkin Keisha akan bilang kalau dia tidak setuju dengan keputusan mereka yang menjodohkan Giffard.
Bertha hanya mampu geleng kenapa, lebih baik Keisha pulang, Giffard sudah menunggunya dengan khawatir. Bukannya apa, masalah kecil seperti ini harusnya menang tidak perlu Keisha pikirkan. Jika Giffard ditakdirkan untuk Keisha. Maka, laki-laki itu tidak akan perlu jauh dari Keisha. Jika pun pergi tentu saja akan kembali lagi.
"Aku gak cinta sama dia, wak." kata Keisha kekeh.
"Yang bilang situ cinta Giffard siapa? Aku cuma bilang kalau jodoh nggak kemana."
Menunjukkan wajah sebalnya, Keisha pun langsung memukul lengan Bertha, hingga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan. "Sama aja deh."
Bertha meminta Keisha untuk segera pulang. Hari sudah malam, dan tidak bagus juga angin bukit ini untuk kesehatan. Apalagi Keisha yang sama sekali tidak menggunakan jaket, dia hanya menggunakan baju lengan panjang, dan juga celana kain warna coklat muda. Kalau terlalu lama disini, Keisha bisa jatuh sakit.
Perempuan itu mengangguk, dia pun bangkit dari duduknya dibantu oleh Bertha. Mereka meninggalkan bukit ini dan memutuskan untuk makan malam bersama. Keisha belum makan apapun sejak siang tadi, dia juga menolak makan malam bersama dengan keluarga Giffard. waktu itu yang ada dipikiran Keisha hanya pergi dan tidak ingin mendengar apapun lagi.
Memilih makan soto, Keisha pun memesan banyak koya. Apalagi ini juga salah satu kedai soto kesukaan Bertha sab juga Keisha.
"Coba aja kalau ada Tika pasti seru." ucap Keisha menyuapi satu sendok soto ke dalam mulutnya.
"Dia lagi sibuk, jangan ganggu deh. Dia sudah dapat mangsa murid baru." jelas Bertha.
"Siapa?"
"Anak kecil beneran ini, bukan bohongan kayak Giffard."
Mendengar namanya saja membuat Keisha langsung menghembuskan nafasnya pelan. "Oh begitu ya. Suka nggak di rumah ya Tika?"
Bertha mengangguk sekarang jarang sekali di rumah Tika, dia lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Pagi kuliah, sore mengajar begitu terus menerus kehidupan Tika untuk mendapatkan duit banyak.
Menghentikan obrolannya, Bertha dan juga Keisha lebih memiliki menikmati soto koya mereka yang setengah dingin. Sesekali menatap ponselnya, yang dimana Giffard sejak tadi ternyata menelponnya.
"Angkat dulu gih siapa tau aja penting." ucap Bertha.
Keisha menggeleng. "Nggak penting juga. Itu yang telepon Giffard soalnya.
"Terserah deh, yang penting aku sudah mengingatkan."
*****
Keisha harus berlarian masuk ke rumah sakit, setelah mendapat telepon jika Giffard masuk rumah sakit karena kecelakaan. Tadi, setelah makan Keisha masih mengobrol dengan Bertha tentang banyak topik. Dia mengabaikan panggilan Giffard yang terus masuk ke ponselnya. Keisha berpikir jika bocah itu hanya mencarinya dan meminta Keisha untuk pulang. Tapi yang ada, ketika dia mendengar suara orang lain dan bukan Giffard, Keisha merasa menyesal karena tidak mau menerima panggilan itu sejak tadi.
Masuk ke ruang UGD, Keisha bisa melihat Giffard yang duduk di atas brankar keras dengan wajah cemberut nya. Tidak ada satu orang pun yang menunggu atau menjaga Giffard.
Keisha mendekat. "Gimana keadaan kamu."
"Menurutmu gimana?" tanya balik Giffard.
Perempuan itu langsung cemberut, dia pun menatap kaki dan juga lengan Giffard yang banyak luka. "Jatuh dimana?"
"Menurutmu dimana juga?"
Kesal juga dengan jawabannya Giffard, Keisha pun memutuskan untuk pergi. Baru juga membalik badannya, Giffard lebih dulu menahan tangan Keisha dengan ruangan merintih.
Keisha yang melihat hal itu langsung memanggil dokter atau suster yang ada di ruangan ini. "Kenapa ya Bu?" tanya suster itu sopan.
"Dia meringis kesakitan. Tolong periksa ya Sus."
Suster itu mengangguk kecil dan memeriksa luka Giffard. Ternyata ada satu luka yang belum dibersihkan dan diobati. Buru-buru suster itu mengambil obat dan juga pembersih luka. Dengan telaten suster itu mengobati luka Giffard, tapi yang lebih menyebabkan lagi kenapa juga dia harus sesekali melirik ke arah Giffard yang hanya diam saja menatap Keisha.
Perempuan itu berdehem. "Sayang anak kita sudah menunggu di rumah. Tadi aku titipin ke mami, setelah pulang dari rumah sakit, kita bakal menjemputnya." kata Keisha kesal.
Suster itu langsung menunduk dan fokus dengan luka Giffard. sedangkan Bertha dan juga Giffard hanya mampu melongo mendengar ucapan itu. Anak akan yang dimaksud Keisha?
Setelah sudah, suster itu pergi dengan wajah cemberut nya. Dia melemparkan tatapan tajam ke arah Keisha, seolah dia tidak takut dengan Keisha. Melihat hal itu Giffard pun langsung tersenyum.
"Iya. Kamu udah telepon mami belum, kalau habis gini kita jemput dia." ucap Giffard, seolah tau drama apa yang Keisha lakukan.
"Tapi maaf ya Pak, Bu, pasien harus menginap satu hari di rumah sakit. Untuk memastikan jika tidak ada luka dalam yang Bapak rasakan."
Giffard menunjukkan wajah datarnya, hingga membuat suster itu mundur selangkah. "Saya tidak mau di rawat, anak saya siapa yang jaga jika saya di rawat di rumah sakit ini? Biar istri saya aja yang merawat saya di rumah."
"Tapi–"
"Nggak denger ya Sus?"
Suster itu mengangguk, dia pun segera pergi dari hadapan Keisha dan juga Giffard. Setelah dipastikan suster itu tidak kembali, Bertha pun mendekat dan mencubit lengan Keisha.
"Heh bocah!!" kata Bertha. "Anak siapa yang kalian maksud tadi?"
Keisha hanya diam saja begitu juga dengan Giffard yang diam pula. Lelaki itu meminta Keisha untuk membayar tagihan rumah sakit. Dia akan menunggu di sini bersama dengan Bertha. Ini hanya luka kecil, dan menurut Giffard tidak akan jadi masalah untuk dirinya. Yang jadi masalah hanya satu, motor Giffard harus rusak bagian depan akibat menabrak mobil berhenti.
Dia terlalu memikirkan Keisha, dan mencari perempuan itu. Hingga tak sengaja minum berhenti pun langsung ditabrak oleh Giffard. Sayangnya, setelah pulang dari rumah ibunya Giffard hanya mengendarai motor tidak mobil. Dia pikir menggunakan motor akan jauh lebih cepat menemukan Keisha. Tapi yang ada Giffard malah mengalami musibah.
Tak lama, Keisha pun kembali dia pun melipat kertas putih dan dia masukkan ke dalam tas. Lalu menuntut Giffard untuk turun ke lantai dan memilih pulang. Keisha juga meminta Bertha untuk memesan taksi online untuk mereka. Keisha akan mengabarkan Bertha pulang lebih dulu, setelah itu giliran Keisha yang pulang ke apartemen bersama dengan Giffard.
"Bukannya tadi Bertha bilang, kalau dia nggak tau Kei dimana? Dan sekarang kenapa kalian bisa bersama?" pertanyaan itu lolos keluar dari bibir Giffard dengan santai.
Tapi tidak santai oleh Bertha maupun Keisha.
Dengan pasti dan menyakinkan, Keisha pun berkata. "Ketemunya di tukang soto pinggiran jalan. Aku laper kesana eg taunya lihat Bertha. Ya kan?" perempuan itu meminta persetujuan Bertha. Jangan sampai perempuan itu menjawab berbeda dengan apa yang Keisha katakan.
"Iya bener. Aku makan soto duluan, terus makan soto bareng." jelas Bertha mendukung kebohongan Keisha.
Giffard mencoba untuk percaya, meskipun dia ragu dengan penjelasan mereka. Giffard tahu ya mereka ini teman, dan Giffard juga pernah berbohong meminta bantuan teman untuk menyetujui kebohongan Giffard. Dan sekarang terjadi dengan Keisha dan Bertha?
Sesampainya di lobi rumah sakit, Keisha menatap satu mobil berhenti disana. Tentu saja Keisha langsung masuk dan mencarikan posisi ternyaman untuk Giffard duduk.
"Udah enakan belum?" tanya Keisha memastikan.
Giffard mengangguk. "Udah. ayo masuk."
Keisha mengangguk, dia pun menatap Bertha yang baru saja mengembalikan kursi roda rumah sakit ini. "Ber kamu depan ya. Aku dibelakang salah.Gif."
Tidak ada pilihan, Bertha pun mengangguk kecil. Dia pun masuk lebih dulu dan disusul oleh Keisha yang duduk di samping Giffard. Bahkan Keisha juga meminta Giffard untuk menceritakan akan yang terjadi, sehingga Giffard sampai seperti ini.
Dengan tegas dan pasti, Giffard pun mengakui jika dia menabrak mobil berhenti. Dia sedang mencari Keisha, dia berpikir jika Keisha masih marah karena balapan Giffard. Itu sebabnya, Giffard yang tidak fokus malah menabrak mobil yang terparkir indah pinggiran jalan.
"Kok nggak sekalian tiang listrik yang agak gede terus keras." cibir Keisha kesal.
"Heh istri namanya juga nggak kelihatan."
"Mata kamu itu normal, masa iya melihat jalan yang lebarnya kayak lapangan golf nggak bisa."
Ingin rasanya Giffard berteriak kencang di telinga Keisha. Jika kedua maya Giffard ini minus dan silinder. Dia memang tidak ingin menggunakan kacamata, karena ketampanannya akan bertambah berlipat-lipat. Begini saja sudah bukan mengait Keisha, apalagi dia menggunakan kacamata. Takutnya dikatakan orang seperti artis Korea.
"Astaga pede banget sih. Orang wajah pas-pasan begitu, dibilang mirip artis Korea. Seujung kuku nya aja kamu nggak ada Giffard."
"Jangan salah, aku itu idola di sekolah. Banyak yang suka sama aku, tapi aku masih setia milik kamu. Harusnya kamu bangga dengan semua ini."
Apanya yang di banggakan dengan hubungan tidak jelas ini?
To Be Continued