SB-23

2224 Words
"Pokoknya nggak mau tau!! Gak udah balapan lagi!!" teriak Keisha. Giffard mengerutkan keningnya. "Itu satu-satunya cara dapat duit cepat." "Ngepet sana paling cepat. Aku yang jaga lilinnya, kamu yang jadi babinya." Giffard tertawa. "Ini tuh babi apa baby dulu? Soalnya beda tipis satu arti." Alis Keisha mengerut, dia pun menatap Giffard dengan tatapan heran nya. "Yaa babi itu yang harus dibuang ditempat sampah kayak kamu!!" cetus Keisha dan membuat Giffard tertawa. "Terus kalau baby beda tipis salah buaya, yang suka bilang sayang aku cinta kok sama kamu. Ayo, kita melakukannya." lanjutnya dengan nada kesal. Dan nyatanya Giffard kembali tertawa kencang. "Melakukan apa nih? Aku nggak tertarik sama tubuhmu." Memutar bola matanya malas, Keisha pun membanting tasnya. "Syukur deh, seenggaknya aku nggak harus kehilangan perawan hanya karena kamu!!" Keisha pergi, dia memilih masuk ke dapur dan membuat secangkir kopi s**u. Melihat hal itu, Giffard pun mengikutinya. Dia belum berdiri tepat di belakang tubuh Keisha dan menatap leher jenjang Keisha dengan intens. "Nggak menjamin juga gak begitu, karena kita tinggal satu rumah, satu ranjang, satu selimut, dan satu atap. Kamu tau kan kalau aku itu—" Giffard menggantungkan ucapannya dan berdehem. "... Laki-laki normal." lanjutnya. Keisha memutar tubuhnya menghadap Giffard. "Oh ya, normal ya?" melingkarkan kedua tangannya di leher Giffard, perempuan itu tersenyum. Menghapus jarak diantara mereka, Keisha pun berkata. "Jadi … yakin situ normal?" lanjutnya. Giffard mengangguk. "Kalau begini … " Keisha tersenyum kecil, dia pun mendekatkan bibirnya pada leher jenjang Giffard. Mengecup leher itu dan juga menjilat leher Giffard dengan pelan. Disini Giffard mengepalkan tangannya, matanya terpejam erat seolah dia tengah menikmati sensasi aneh yang merayap dalam tubuh Giffard. Reflek tangan Giffard menyentuh pinggang Keisha dan meremas ujung baju perempuan itu. "Kamu memulainya, Keisha!!" suara Giffard tertahan, seolah dia tengah menahan sesuatu yang ingin meledak dalam dirinya. Tidak berhenti disana Keisha juga menggigit kecil telinga kiri Giffard. Dan entah kenapa penyiksaan ini membuat Keisha senang. Dia senang melihat warna kulit Giffard yang merah akibat ulahnya. Keisha juga senang mendengar suara tertahan Giffard seperti ini. "Ingat kata-katamu Giffard!! Kamu tidak tertarik denganku!!" bisik Keisha. Mata Giffard terbuka perlahan, dia pun menatap leher jenjang Keisha yang terpampang jelas di hadapannya. Laki-laki itu tersenyum kecil, tangannya menyentuh rambut Keisha dan menyingkirkannya. Sepersekian detik, Keisha pun memekik kaget, ketika sesuatu menyentuh lehernya. Bibir itu begitu kenyal menyentuh lehernya, bahkan Keisha bisa merasakan perih di lehernya. Tangan Keisha menyentuh d**a bidang Giffard, dan meminta laki-laki itu untuk melepaskannya. Tapi bukannya melepas, Giffard semakin brutal menggigit leher itu dan membuat Keisha sesak nafas. "Gif … " lirih Keisha. Giffard tak memberi ampun, siapa suruh memancing dirinya. Jika terjadi sesuatu dengan Keisha itu bukan salah Giffard. Laki-laki itu tidak sepenuhnya salah. Mengusap punggung perempuan itu, Giffard mampu merasakan tubuh Keisha yang merinding karena ulahnya. Bahkan Giffard juga bisa melihat tatapan memohon Keisha pada dirinya yang meminta lepas. Jika Giffard melepaskan dengan gampang, yang ada perempuan itu pasti akan mengulanginya kembali. Giffard mencoba mendesah, dia pun melepaskan diri dari ceruk leher Keisha dan beralih pada bibir ranum perempuan itu. Menikmatinya dengan pelan, sesekali menggigitnya hingga membuat Keisha memukul d**a gudang Giffard berkali-kali. Disini Giffard cukup bahagia dengan penyiksaan yang dia lakukan pada Keisha. Setelah menikmati nyaris setengah tubuh perempuan itu, Giffard pun menarik dirinya dari Keisha. Memberi jarak beberapa langkah, dan melihat raut perempuan itu yang nampak ingin protes dengan sikap Giffard. "Mau mandi dulu, sore nanti ketemu papi, katanya suruh les." kata Giffard mengingatkan. Bahkan tanpa rasa bersalah Giffard malah pergi begitu saja dari hadapan Keisha. Sekali lagi!! Keisha dibuat kesal dengan sikap Giffard barusan. Ini yang kedua kalinya Giffard meninggalkan dirinya pas lagi begini-begininya. Dan dengan santainya dia bilang ingin mandi? Andai saja membunuh orang tidak memiliki hukum, maka, hari ini juga keisha akan membunuh Giffard dengan kedua tangannya. Menyadari sesuatu, Keisha pun langsung memijat pelipisnya pusing. Baru kali ini dia menemukan spesies macam Giffard. Dimana dia mampu menaik turunkan hormon Keisha tanpa bertanggung jawab. Jika saja Giffard ingin, bukankah waktu itu mereka bisa melakukannya? Dia hanya sebatas meraba, mencium tanpa mau menyentuh Keisha lebih dari ini. Mereka tinggal satu rumah, mereka tidur dalam satu ranjang, tak sekalipun Giffard melakukan yang lebih dari kata ciuman. Harusnya Keisha merasa bangga, karena dia masih dipertemukan dengan sosok laki-laki yang mampu menahan hawa nafsu dan gairah ketika mereka sering bertemu terus menerus. Terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting, Keisha tersentak dengan rasa dingin di punggungnya, dia juga merasa jika baju bagian belakangnya basah. Keisha mencoba menoleh, atau lebih tepatnya melepas pelukan itu. Namun seseorang yang ada di belakang tubuhnya menahannya. “Kamu marah?” pertanyaan itu keluar dari bibirnya tanpa basa-basi. Keisha menggeleng, dia tidak marah, dia hanya merasa kecewa saja dengan dirinya sendiri yang berpikir jika Giffard akan mengajaknya tidur bersama. “Nggak. Kenapa?” “Sorot matamu menunjukkan kalau kamu marah sama aku. Kenapa? Karena tadi ya? karena aku tidak menyentuhmu?” Giffard melepas pelukan itu dan memutar tubuh Keisha hingga menatapnya. Dia pun tersenyum kecil dan mengusap pipi Keisha dengan lembut. “Kalau aku menyentuhmu saat ini, itu tandanya aku melanggar janjiku sendiri. Setelah tinggal bersamamu, aku berjanji pada diriku untuk tidak menyentuhmu sebelum kita menikah. Aku masih bisa menahan hasrat dalam diriku untuk tidak tergoda denganmu. Jadi tolong jangan memancingku, karena aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan.” lanjutnya. Keisha menatap Giffard nanar, matanya berkaca-kaca. Sungguh, dia terharu dengan ucapan itu. Sedangkan yang terjadi, jika satu ruangan ada dua jenis kelamin yang berbeda, mereka akan mencari kepuasan, dan juga sesuatu yang menguntungkan satu sama lain. Tapi yang ada …. Keisha langsung memeluk laki-laki itu dengan erat, dia tidak perlu khawatir kembali. Dia tidak akan menggoda ataupun membuat Giffard menyentuhnya seperti itu. Dia juga merasa menyesal dengan apa yang baru saja dia lakukan, dimana dirinya yang merasa terbang lalu dijatuhkan sejatuh-jatuhnya oleh Giffard. “Maaf aku udah salah sangka sama kamu.” kata Keisha menahan tangisannya., Giffard tersenyum, andai saja dia tahu … mungkin Keisha akan membencinya. “Sekarang siap-siap, jam empat nanti ada bimbel kan di rumah papi?” ucap Giffard dan membuat Keisha mengangguk Perempuan itu melepas pelukannya dan menuju kamar untuk mengganti bajunya. Disini Giffard menatap Keisha dengan rasa bersalah, dadanya berdenyut nyeri. Sungguh, rasanya begitu sakit ketika kita memilih satu orang terlibat dalam suatu masalah tanpa memberitahunya lebih dulu. “Kei … maaf, jika suatu saat nanti aku akan membuatmu kecewa. Tolong … jangan jatuh cinta denganku. Tapi ajari aku untuk sembuh dari penyakitku.” gumam Giffard lirih. **** Kali ini belajarnya berbeda, Kenzo tiba-tiba saja nimbrung dengan Debora di dalam satu ruangan yang sama. Lebih tepatnya Kenzo ingin tahu sudah sampai mana Giffard dan juga Keisha belajar. Sedangkan selama ini ketika mereka berdua, Giffard lebih banyak bermain games dibanding belajar dengan Keisha. Itu sebabnya Kenzo ingin tahu sampai mana mereka belajar, karena baru kali ini Giffard betah dengan guru lesnya. “Ini bukan karena dia cantik kan? Atau Gif suka sama perempuan itu?” kata Kenzo. Debora menoleh sejenak, dia pun menatap Kenzo dengan tatapan bingung. “Kalau mereka jatuh cinta kenapa? Bukannya bagus?” Kenzo menggeleng. “Aku udah ada calon untuk Giffard. Jadi kalau bisa jangan buat Gif suka sama dia. kalaupun itu terjadi, Keisha harus berhenti jadi guru les Gif.” Debora menatap Kenzo dengan tatapan bingungnya, lama-lama Kenzo itu seperti Leo yang dulu pernah menjodohkan dirinya dengan Aska. Hingga membuat Debora kabur dari rumah dan memilih hidup bersama dengan Kenzo. Dan kali ini hal itu akan terjadi pada Giffard? Wanita itu langsung protes, dia tidak suka sikap kekang Kenzo pada Giffard. Dulu dia yang mati-matian memasukkan Giffard ke asrama putra di luar negeri, karena perkelahian dan juga masalah lainnya Kenzo meminta Giffard pulang ke ibukota. Dia juga mencari banyak guru untuk mengajari Giffard, yang menurut Kenzo sangat jauh ketinggalan pelajaran. Dan sekarang Kenzo malah mencarikan jodoh untuk Giffard? “Heh Mas aku nggak setuju pokoknya. Jangan sampai ya Gifa kabur kayak aku dulu.’ kata debora. Kenzo menatap Debora. “Ini yang terbaik. Aku sudah punya calon untuk Giffard. Awasi mereka jangans ampai salah satu diantara mereka jatuh cinta!!” Setelah mengatakan hal itu Kenzo pun pergi, meninggalkan Debora yang masih kebingungan. Dia baru saja mendapatkan berita bagus dari Leo jika dia akan menerima calon mantu. Dan sekarang Debora harus mendengar dengan jelas jika Kenzo sudah memiliki calon untuk Giffard? Lalu bagaimana dengan Keisha? perempuan itu bahkan terlihat tulus dan sabar menghadapi Giffard. Meskipun setiap hari mereka harus bertengkar lebih dulu hanya karena masalah sepele. Dan nyatanya … Debora memilih pergi juga meninggalkan Keisha dan juga Giffard erdua. Memastikan Debora pergi, Giffard langsung meletakkan pensilnya di atas lembaran kertas. Disini Giffard langsung mengusap wajahnya, dia itu tidak bodoh, hanya malas saja jika harus mengulang pelajaran yang sudah pernah dipelajari. Sedangkan Keisha, perempuan itu sempat mendengar obrolan papa dan juga mama Giffard. Dimana KEnzo sudah menyiapkan satu perempuan untuk menjadi istri Giffard nantinya. Dan hal itu mampu membuat d**a Keisha berdenyut nyeri. Di depan Giffard Keisha masih bisa tersenyum, dia pun memasukkan beberapa buka Giffard dalam tasnya. Lebih tepatnya merapikan meja ini dan juga menata jadwal pelajaran besok untuk Giffard. “Mau main game?” tanya Keisha. Giffard menatap aneh, dia pun merubah posisinya menatap Keisha dengan curiga. “Tumben banget bilang begitu, ada apa nih? Biasanya suka ngamuk kalau aku main game.” dan nyatanya kali ini Keisha lebih suka Giffard main game di sampingnya, dibanding Giffard main perempuan atau pergi dari sampingnya. “Kalau nggak mau juga gak masalah.” Giffard cekikikan, dia pun mengambil ponselnya lalu menatap jam dinding di ruangan ini. Masih ada waktu dua puluh menit, masih cukup untuk bermain games. Meraih tangan Keisha dan menggenggamnya, Giffard pun sudah mulai memainkan gamenya. Disini Keisha mendadak melow, dia membayangkan bagaimana jika nanti dirinya dan Giffard tak bisa seperti ini? Bagaimana jika mereka tak sedekat ini lagi? Bagaimana jika nanti Keisha tak memiliki teman bertengkar setiap hari? Bagaimana jika Keisha merindukan tensi darah tingginya naik hanya karena Giffard? Air mata Keisha turun dengan perlahan, dia merasa takut, takut jika nanti apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan. Dia tak lagi bisa sedekat ini dengan Giffard. dan Keisha takut jika suatu saat nanti Giffard lebih bahagia bersama dengan perempuan lain dibanding dirinya. Apa iya dia harus memberikan Giffard junior agar bapaknya tak menjodohkan Giffard dengan perempuan lainnya? Menyadari ada yang aneh dengan Keisha, Giffard pun menghentikan acara main gamenya. Dia begitu terkejut ketika melihat Keisha menangis di depannya. Tatapannya begitu kosong, bahkan ketika Giffard melambaikan tangan tepat di hadapan Keisha, perempuan itu tak berkedip. Hingga akhirnya Giffard pun menyentuh pipi Keisha dengan pelan. “Kenapa nangis? Aku melakukan kesalahan lagi? Kan udah nggak balapan.” kata Giffard lembut. Keisha tersentak, dia pun mengusap air matanya perlahan. “Nggak. lagi kangen sama ibu di kampung aja. Kamu kan tau ayah aku habis sakit, jadi pengen ketemu.” “Mau pulang kampung? Aku anter nanti kalau mau.” Keisha menggeleng, jika dia ingin pulang. Keisha ingin pulang sendiri tanpa Giffard. Lagian Giffard juga harus sekolah, dia tidak mau Giffard bolos sekolah hanya karena Keisha. Dia bisa pulang sendiri, nanti setelah menerima ijazah akhir studinya. “Yakin kok.” “Aku bentar lagi juga mau lulus, pikirku nanti kalau aku udah libur kita bisa pulang sama-sama.” Keisha hanya mampu tersenyum, dia pun memasukkan ponselnya dalam tas yang dia bawa. Dia harus pamit pulang lebih dulu sebelum Kenzo dan juga Debora curiga kenapa lama sekali Keisha di ruangan belajar Giffard. Sedangkan jam pelajaran sudah berakhir sepuluh menit yang lalu, mungkin Keisha terlalu mendalami peran sehingga dia harus merasakan sakit sebelum berperang. Berperang? Ah sial!! komedi apa yang dia lakukan saat ini. Giffard hanya bocah SMA yang membutuhkan bimbingan dalam pelajarannya. Lalu sakitnya dimana? Setelah melihat punggung Keisha yang menghilang dari pintu ruangannya, Giffard masih diam di tempatnya. Pikirannya melayang pada tangisan Keisha, apa yang terjadi dengan perempuan itu dan kenapa dia menangis? Sepertinya kalau rindu orang tuanya tidak mungkin, hampir setiap hari Keisha memberi kabar atau melakukan panggilan video dengan kedua orang tuanya dan juga adiknya. Pasti ada hal lain yang membuat perempuan itu menangis. Apa mungkin karena balapan tadi, Keisha masih marah dengannya? Bangkit dari duduknya Giffard mencoba untuk mengejar Keisha. Tapi yang ada Debora malah menahannya dan meminta Giffard untuk makan malam bersamanya. Sudah lama kan, mereka tidak makan bersama setelah Giffard memutuskan untuk tinggal di apartemen dekat dengan sekolahnya. “Keisha nggak diajak makan malam, Ma?” “Mama udah tawarin, tapi katanya dia buru-buru pergi ke tempat kerjanya.” “Mau ke tempat kerja?” bep Giffard. Giffard pun mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi Theo salah satu temannya yang saat ini memegang cafe setelah Giffard Ayu. Dan nyatanya hari ini tidak ada jadwal masuk untuk Keisha, alis perempuan itu mendapatkan jadwal libur hari ini. Lalu dimana perempuan itu saat ini? “Hmm, Ma boleh nggak Gif pergi? Gif pengen nyusul Kei.” izin Giffard yang membuat hati Debora berdenyut sakit. Berapa tahun dia membesarkan bocah ini? Bocah yang ditemukan tanpa merasakan kasih sayang dari seorang ibu. “Jujur saya Mama … kamu suka ya sama Kei?” Giffard diam, dia pun menatap debora dengan nanar. “Ma nggak ada waktu buat jawab pertanyaan Mama. Gif harus pergi Ma, Gif harus cari Kei.” Sakit!! Itulah yang dirasakan oleh Debora. wanita itu mengangguk dan membiarkan Giffard pergi dari hadapannya. Bahkan Debora bisa melihat Giffard yang terlihat khawatir pada Keisha. Keputusan Kenzo mampu menyakiti kedua belah hati. To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD