Giffard tersenyum kecil dia pun langsung mengikuti Keisha yang mau masuk ke kamu. Perempuan itu menahan d**a Giffard dan mendorongnya pelan. “Mau ngapain?” tanya Keisha heran.
“Mau masuk. Kenapa?” tanya balik Giffard.
Keisha menggerakkan jari telunjuknya tepat di hadapan Giffard. Laki-laki itu harus menunggunya, Keisha sedang ingin ganti baju dan melarang Giffard untuk masuk bersamanya.
Dan disini Giffard menyadarkan Keisha, jika dalam kamar itu ada satu ruangan untuk ganti baju dan mandi. Keisha tak perlu khawatir, sudah seperti yang Giffard katakan jika dia tidak memiliki gairah apapun pada Keisha. Dia tidak minat tubuh tepos milik Keisha yang tak mampu menggodanya. Dan jika Giffard ingin dia akan cari perempuan lainnya, dan itu bukan Keisha. bahkan perempuan itu tidak perlu khawatir juga, dia masuk hanya untuk istirahat, dia tidak memiliki niat untuk mengintip Keisha.
“Dih … bilang tepos tapi sukanya nyium sama peluk pinggang. Nggak malu tuh bilang begitu?” kata Keisha mencibir.
Giffard tertawa. “Hanya bagian itu yang seksi dan aku suka, calon istri. Lainnya skip, aku juga gak pernah tuh pegang kacamata kamu.”
“Hampir!!” ralat Keisha yang tak terima dengan ucapan itu.
Keisha juga mengingatkan Giffard, di apartemen yang dulu dia yang mendudukkan Keisha di depannya. Dan bahkan menyentuh Keisha perlahan tapi pasti, untung saja Keisha kuat iman dan tidak tergoda dengan Giffard. Meskipun laki-laki itu nyaris mencupang lehernya penuh waktu itu.
Giffard tertawa kencang. “Desahannya aja aku masih ingat. Kok bisa bilang nggak ke goda. Dasar perempuan, gengsinya gede ya!!”
Keisha memutar bola matanya, dia pun langsung mengambil baju putih entah milik siapa dan juga celana pendek. Masuk dalam satu ruangan dan mengganti lilitan handuk itu dengan baju yang dia bawa, jangan sampai laki-laki itu masuk dan Keisha belum juga selesai mengganti bajunya. Karena merasa takut jika Giffard benar-benar mengintip, Keisha berkali-kali memanggil nama Giffard dan menatap pintu ruangan ini. Jika laki-laki itu membuka pintu, jangan harap Keisha akan memberi ampun. Dia akan memukul Giffard dengan apapun yang ada, termasuk baju yang ada.
Beberapa menit kemudian, dan merasa aman saja, Keisha pun keluar dari ruangan itu. Dia tidak menemukan Giffard sama sekali, tempat tidur ini kosong, Keisha mencoba mencari keberadaan Giffard dan tidak menemukan dimanapun. Tidak di dapur, tidak di ruang tengah, atau kursi yang ditata rapi di depan televisi, dengan karpet bulu dan juga beberapa komputer yang menyala.
Da sekitar tiga komputer menyala di sana, dan juga satu kursi putar berwarna putih. Awalnya Keisha juga sedikit aneh dengan kursi ini, tapi kata Giffard ini adalah tempat kerjanya. Dekat dengan ruang televisi dan berhadapan langsung dengan dapur.
Kembali ke kamar, Keisha melihat lampu kamar mandi menyala, suara gemericik air juga terdengar cukup jelas. Keisha mencoba memanggil nama Giffard, dan tak ada satu panggilan pun yang dia dengar. Tangannya menyentuh knop pintu kamar mandi ini dengan pelan dan membukanya, embun ruangan ini cukup ketara apalagi kamar mandi ini hanya kaca tembus pandang. Dimana Keisha bisa melihat ranjangnya, begitu sebaliknya. hanya saja di ujung dekat wastafel ada satu tombol yang dimana jika tombol itu dipencet akan keluar embun dan menutup seluruh kaca.
Keisha mengetuk kaca kamar mandi ini dengan pelan. “Gif lagi mandi ya?” terika Keisha.
Suara air gemericik itu pun berhenti, embun di balik kaca shower dan bathup belum juga hilang. Tapi Keisha bisa melihat kaki Giffard yang berjalan ke arah samping, yang diyakini Keisha mengambil handuk atau bathrobe. Hingga tak lama, pintu kaca itu terbuka seiring hilangnya embun dan juga bunyi clik.
Keisha mundur beberapa langkah, melihat Giffard yang keluar dari pintu itu dengan rambut basahnya. dan sialnya dia hanya melilit handuk di bagian pinggang ke bawah, tangan yang menyisir rambut basahnya mampu membuat keisha menelan salivanya begitu kasar. Dia pecinta laki-laki tampan, tapi kalau modelnya begini terus kayaknya ya Keisha sendiri yang akan kalah.
Keisha menggeleng, tidak!! Dia tidak boleh kalah dari bocah kemarin sore. Setampan apapun Giffard, semenarik apapun Giffard, semneggoda apapun Giffard. Keisha tetap pada pendiriannya, jika dia tidak akan jatuh cinta dengan bocah itu apapun yang terjadi. Dia akan mempertahankan masa jomblonya, sampai dia menemukan om-om yang mau memungut dirinya dan menjadikan Keisha ratu dengan kehidupan yang mewah dan layak. Setidaknya Keisha bisa pamer pada Tika dan juga Bertha, jika dia menemukan om-om kaya dan berduit dia bisa dipanggil dengan sebutan sugar baby.
Tapi mengingat kata sugar baby, Keisha jadi ingat apa yang dikatakan Tika dan juga bertha, jika Keisha adalah sugar baby nya Giffard.
“Kenapa beda begini sih sugar baby nya!!” kata Keisha tanpa sadar.
Giffard yang melihat hal itu melongo, dia pun mendekat, menaruh kedua tangannya di samping Keisha. Dengan posisi Giffard tengah mengurung tubuh mungil Keisha dengan kedua tangannya,
“Sekarang tau kan siapa yang punya otak m***m, aku atau kamu!!” katanya menyentil kening Keisha. “Yang bilang jangan ngintip, kenapa sampai sini? Mau ngintip? Atau mau mandi bareng?” lanjutnya dengan nada menjengkelkan.
Keisha menyipitkan matanya, tangannya reflek menepis tangan Giffard dan pergi. Tidak aman!! Pikirnya. Dia pun duduk di pinggiran tempat tidur, dan melihat Giffard yang keluar dari kamar mandi dengan wajah menjengkelkan. Entah kenapa rasanya Keisha benar-benar ingin tukar tambah Giffard dengan yang lain. Setidaknya papa nya lah kalau bisa, atau tidak opa nya kalau meningoy dia bisa dapat warisan banyak. Atau tidak malah diusir dari rumah dan tidak mendapatkan apapun.
Kembali melihat Giffard yang keluar dengan pakaian lengkap. Celana hitam dan juga kaos tanpa lengannya. Sial!! lagi-lagi Keisha harus banyak mengumpat jika berhadapan dengan Giffard. Otot itu … kenapa mampu membuat Keisha gagal fokus!!
Giffard duduk di samping Keisha, dia pun memberikan satu amplop coklat pada Keisha. “Apa ini?” tanya Keisha heran.
“Uang.” jawab Giffard singkat.
Alis Keisha mengerut, dia pun membuka amplop coklat itu dan terkejut. “Gif duit sebanyak ini kamu dapat dari mana? Kamu nggak minta orang tuamu kan?”
Giffard menggeleng. “Sesuai janji ya, nggak minta orang tua.”
“Terus duit sebanyak itu dari mana?”
“kerja istriku!!” jawab Giffard lelah.
“Ralat!!’ jawab Keisha cepat. “Aku tau kamu kerja, tapi kan aku juga butuh tau kamu kerjanya apa. Kerja open BO, ngerampok, jual ginjal, atau kerja di kelab malam, nemenin tante-tante, atau apa kek. Yang jelas dong, aku nggak mau ya dinafkahi sama uang haram.” lanjutnya marah.
Bukannya marah dengan ucapan Keisha, Giffard pun tersenyum. Mengambil uang itu dan melemparnya asal, laki-laki itu lebih memilih menarik Keisha untuk ke tengah ranjang, lalu menyentil kening perempuan itu kembali dan berkata, “Otaknya gemesin, ayo tidur. selamat malam.”
****
Keisha masih menatap uang itu dengan nanar, pikirannya melayang kemana-mana dan banyak sekali pikiran jahat yang mampir di otak Keisha. Dari perampok, begal, bobol bank, maling, simpanan tante-tante, open BO atau mungkin bekerja di kelab malam?
Perempuan itu menaruh roti selainya dan menatap Giffard dengan serius. “Gif … kamu nggak lagi melakukan hal aneh kan?”
“Contohnya?”
Dengan sigap Keisha pun menjelaskan, jika Giffard tidak melakukan kejahatan apapun. Seperti mencuri uang, begal dan temannya. Bukannya apa, Keisha juga tidak mau jika diberi nafkah dari uang haram. Dia itu ingin Giffard mandiri dan tidak mengandalkan orang tua. Dan kalau bisa Giffard harus mengurungkan niatnya untuk menikah dengan Keisha. Itu yang Keisha inginkan.
Bukannya marah, Giffard malah lebih memilih melahap rotinya yang tinggal satu gigitan. Menghabiskan satu gelas s**u vanilla kesukaannya, laki-laki itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan meraih tas nya.
"Mau kemana Gif?" tanya Keisha heran.
Giffard menatap Keisha sejenak. "Sekolah lah. Nanti siang nggak usah antar makan siang. Aku mau makan diluar sama Aiden." jelasnya. Giffard memutuskan pergi, namun baru juga beberapa langkah Giffard menghentikan langkahnya dan menatap Keisha sejenak. "Dibawah ada motor, kalah kamu bosen di rumah atau pengen keluar kerja atau cari makan pakai aja motor aku." lanjutnya.
Keisha langsung diam, menatap punggung Giffard yang pergi dari hadapannya. Dia masih penasaran pekerjaan apa yang menghabiskan banyak duit. Semalam, Giffard membawa dua gepok uang berwarna merah dan diberikan pada Keisha. Meskipun Keisha sudah menghitungnya dan uangnya ada meskipun tidak dengan jumlah lengkap. Karena Keisha tahu Giffard juga membutuhkan uang untuk pegangan. Sedangkan sisanya tentu saja Keisha langsung menyimpannya. Dia takut jika uang itu hasil Giffard melakukan kejahatan.
Menghela nafas ya mungkin kali ini Keisha akan mengikuti kemana Giffard pergi. Dari sekolah atau bahkan ke tempat kerja laki-laki itu. Lagian, ini salah Giffard juga kenapa dia memberi surat pemecatan untuk Keisha. Yang dimana Keisha tidak memiliki pekerjaan lain selain tiduran di rumah.
Terdengar suara notif, Keisha pun menatap ponselnya dimana ada satu notif masuk ke Ponselnya. Keisha mengambil ponsel itu dan melihatnya. Gaji dari Kenzo sudah masuk dalam rekeningnya.
"Mayan lima juga bisa buat beli cilok bakar." gumam Keisha.
Keisha terlalu bahagia, dia pun membuka aplikasi belanja online dan membeli sesuatu hanya dia inginkan. Skin care dan juga satu sepatu keluaran terbaru. Bahkan Keisha juga membeli jaket dengan warna yang sama, tapi beda bentuk. Satu untuk dirinya dan juga satu untuk Giffard. Siapa tahu bocah itu mau, kalau tidak tinggal bilang lagi belajar miskin.
Selesai belanja online. Keisha pun langsung memberikan belas sarapan mereka, dapur dan juga apartemen ini agar tidak berdebu. Jangan sampai Keisha mendapat olokan dari Giffard jika dia perempuan malas. Sedangkan selama ini Keisha adalah tipe perempuan yang aktif dan tidak bisa diam.
"Jualan online kayaknya bisa deh, mayan kan duitnya bisa muter." kata Keisha kembali.
Kembali mengambil Ponselnya, perempuan itu kembali membeli banyak barang yang akan dia jual. Laku atau tidak yang penting Keisha bisa menggunakannya nanti. Atau tidak dia bisa meminta bantuan Giffard untuk jadi modelnya.
Membutuhkan waktu setengah jam, akhirnya Keisha pun selesai. Tinggal mandi setelah itu mengikuti kegiatan Giffard uang ada di sekolah dan juga luar sekolah. Jujur saja Keisha begitu penasaran dengan pekerjaan Giffard sekarang.
Singkat cerita, Keisha sudah berdiri tegak di depan gerbang sekolah Giffard. Dia menggunakan motor besar milik Giffard dan juga helm hitam. dia melihat gerbang ini masih tertutup tapi, dia juga melihat beberapa anak fo dalam gerbang dan juga beberapa anak yang berkumpul tanpa melakukan apapun. Disini dibawah pohon besar, Keisha pun mencari keberadaan Giffard yang tidak ada sama sekali. Apa mungkin masih di kelasnya? Atau mungkin bocah itu kabur dari sekolah?
Mengambil Ponselnya, Keisha dengan cepat mengirim pesan pada Giffard, menanyakan dia ada dimana. Dan nyatanya ketika Giffard membalas pesannya dengan cepat, bocah itu sedang ada di kantin makan dengan Aiden.
Keisha mencoba bersabar, sebentar lagi mereka akan pulang dan Keisha tahu jika bocah itu kerja nya apa. Baru juga duduk di samping motor besar ini, Keisha malah melihat satu mobil hitam yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Itu adalah Giffard dan juga Aiden. Kemungkinan besar mobil itu milik Aiden, karena mobil hitam milik Giffard ada di parkiran apartemen.
Naik ke atas motor, Keisha buru-buru menyalakan motornya dan mengikuti mereka berdua. Jalanan yang tadinya ramai jadi sepi. Banyak anak di pinggir jalan, dengan bersorak gembira ketika Aiden dan juga Giffard turun dari mobil. Bahkan Keisha juga bisa melihat Giffard yang cengengesan di antara mereka. Penampilan yang urakan, menggunakan baju bebas dengan warna hitam.
"Gue pikir lo nggak datang, Gif." tanya salah satu diantara mereka.
"Gue pasti datang. Bini gue lagi butuh duit banyak." jawab Giffard yang masih bisa didengar oleh Keisha.
"Kayak omongan lo bener aja deh. Bini sape yang lo maksud? Lo sembunyiin perempuan di apartemen lo?" kali ini giliran Aiden yang berkomentar.
Nyatanya Giffard memilih mengedikkan bahunya. Dia mengambil motor yang ada dan membawanya ke garis start. Disini Keisha mendekat, dia berdiri diantara banyaknya perempuan seksi, yang berbaris rapi dengan baju yang kurang bahan. Padahal ini siang tapi mereka tidak merasa panas.
"Taruhannya berapa?" kata Giffard penasaran.
"Dua puluh juta lagi kalau lo menang."
Mendengar kata lagi, Keisha pun langsung menerobos deretan ini dan berdiri di samping Giffard. Tangan Keisha reflek menarik telinga Giffard hingga merah.
"Sialan, siapa yang berani–" ucapan Giffard terpotong ketika melihat siapa yang dengan berani menjewer telinga Giffard. "Calon istri ngapain disini!!" katanya.
Keisha melepaskan tangannya dari telinga Giffard, "Pulang!!"
"Nyari nafkah calon istri kenalan harus pulang sih." kekeh Giffard.
Keisha tidak peduli dengan nafkah yang Giffard katakan. Sekarang dia tahu kenapa kemarin bawa uang begitu banyaknya. Taunya dia mengikuti balap liar untuk mendapatkan uang banyak. Dan Keisha tidak mau hal itu terjadi kembali. Lebih baik dia miskin dan gak makan apapun, dibanding harus melihat Giffard balapan motor hanya sekedar dapat uang receh.
"Bentar dong, habis gini pulang, Kei."
"Heh secara nggak langsung kamu itu mau bikin aku janda sebelum waktunya!!" Keisha nampak kesal dengan ucapkan Giffard. "Ayo pulang Giffard. Nggak papa gak makan, asal kamu nggak balapan." lanjutnya.
"Lah kenapa? Yang penting kan nyari duit."
"Ya tapi nggak gini juga dong Gif. Kamu itu hih … ayo pulang! Pokoknya pulang nggak mau tau, nggak usah balapan. Gak masalah gak makan, penting aku nggak jadi janda!!"
Giffard terkekeh. "Yaudah ayo pulang. Aku nggak mau jadiin calon istri janda sebelum waktunya."
Dan nyatanya Keisha lebih suka jikaa melihat Gif disaatmenurut padanya.
To Be Continued