SB-03

1974 Words
“Memangnya kenapa kalau aku ada disini? Nggak boleh apa?” Bukannya tidak boleh. Tentu saja boleh, ini jalanan umum siapapun juga boleh lewat. Lagian jalan ini bukan Keisha yang membangunnya. Tapi masalahnya, bisa-bisanya bocah yang sejak tadi dia pikirkan, malah berada di depannya. Berdiri dengan tegaknya menggunakan kaos putih, jaket army dan juga celana hitam sobek bagian lututnya. Jangan lupakan sepatu mahal yang dua minggu lalu diinginkan Keisha. Tanpa banyak bicara pria itu langsung menarik tangan Keisha untuk segera masuk ke mobil mewahnya. Mendadak Keisha berpikir kapan terakhir dia menaiki mobil mahal? Keisha hanya takut jika mendadak dia mual dalam mobil itu sangking nyaman nya. Dalam hati Keisha berdoa jika dia tidak akan membuat pria disampingnya ini ilfeel saat bersamanya. Duduk manis sambil menggigit jari adalah hal yang dilakukan Keisha saat ini. dia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa, atau mungkin mengajak Giffard berbicara sesuatu. Dia cukup malas. Bukan!! Lebih tepatnya tidak tahu harus bercerita tentang apa. Keisha hanya takut jika bocah itu tidak nyaman, dan memecat Keisha. Belum juga jadi milyader masa iya dipecat duluan. Tidak. Hal itu tidak boleh terjadi. Mobil yang ditumpangi Debora pun berhenti. Ini bukan taman kota, melainkan pinggiran jalan yang sepi. Tak ada satu motor atau orang pun yang melewati jalan ini. Hingga akhirnya membuat Keisha takut sendiri. Jangan bilang cuma karena uang lima juta dia harus setor nyawa dulu sama Giffard. Atau tidak Kenzo tidak tahu jika memiliki anak psikopat macam Giffard? Yang diam-diam langsung menghanyutkan. “Gif., kita mau ngapain kesini?” tanya Keisha sembari menatap sekeliling tempat ini. Lampu jalan yang nyala mati membuat Keisha berpikir, jika di bawah lampu itu pasti ada hantu bocah sekolah yang usil. Bermain dengan listrik tidak akan membuatnya mati, itu sebabnya dia bermain listri ditengah malam macam ini. Berbeda dengan Giffard. Dia memang sengaja mengajak wanita di sampingnya ini di tempat gelap. Bahkan depan sana saja sudah memasuki area makam. Bukan tanpa sebab, Giffard sudah capek jika harus mengikuti apa mau Kenzo. Dia tidak mau memiliki guru private macam wanita disampingnya. Dia tahu jika wanita itu membutuhkan banyak uang, mungkin membayarnya lebih tinggi akan membuat wanita itu menyerah dan mundur. Seperti guru private lainnya, jika Kenzo menawarkan uang lima juta maka Giffard akan menawarkan uang sepuluh juta dalam satu atau dua hari. tapi yang pasti guru private nya itu harus pergi dan tidak mau mengajari Giffard kembali. “Nggak mau. Saya sudah janji pada Bapak kamu, kalau mau merubah kamu. Jadi saya tolak penawaran kamu.” jawab Keisha tegas. Jangan sampai dia kehilangan ladang duitnya, lumayan juga satu bulan lima juta. Sedangkan Giffard hanya menawarkan satu kali setelah itu bye!! Yang ada Keisha tidak jadi kaya raya. “Yakin?” Tentu saja. Tentu Keisha yakin, walau sejujurnya dia juga tidak begitu yakin dengan jawabannya, tapi sebisa mungkin Keisha menyakinkan Giffard. Jika dia bisa merubah anak itu menjadi anak yang baik dan penurut. Keisha sudah berjanji pada Bapaknya, dan mana mungkin dia mau mundur hanya karena uang sepuluh juta? Anak kuliahan semester enam itu keras, jika dia salah langkah maka duit yang didepan mata pun akan bye!! Kalau bisa yang setiap bulan dapat gaji, kenapa harus ambil yang sekali gaji tapi hidup enak hanya hitungan jam? “Yaudah kamu turun dari mobil aku!!” Mata Keisha melebar sempurna, dia pun menolehkan kepalanya pelan menatap Giffard tidak percaya? Pria disampingnya itu baru saja mengusirnya dari mobilnya? Sedangkan Keisha bisa duduk di mobil mewah ini juga karena Giffard, bukan mau dia sendiri. “Nggak mau. Kamu lupa ya aku bisa sampai sini juga karena kamu.” kata Keisha mengingatkan. Giffard tidak peduli, jika dia ingin wanita itu turun. Itu tandanya dia harus turun dari mobil Giffard. Dia tidak mau wanita keras kepala berada di dalam mobilnya. Jika Keisha menerima uang sepuluh jutanya, maka Giffard akan mengantar Keisha pulang. Tapi jika tidak, jangan harap Giffard mau mengantar Keisha pulang ke rumahnya. “Pokoknya aku bilang nggak ya nggak!! Gila ya kamu ninggal aku disini sendiri?” seru Keisha kesal. Dimana sih otaknya, ini udah malam, bahkan hampir nyaris pagi. Dan Giffard meminta Keisha untuk turun dari mobilnya? “Mau aku paksa?” ancam, Giffard. “Coba aja kalau berani, aku telepon papa kamu. Bilang sama dia kalau kamu nyulik aku terus--” “Sialan!! Diem!! kamu berani ya mengancamku!!” umpat Giffard dan membuat Keisha diam. -Sugar Baby- Tarik nafas buang!! Oke, hari ini adalah hari pertama Keisha mengajar di rumah Giffard. Dia langsung dipersilahkan masuk oleh Kenzo dan juga Debora--Mama Giffard. Disini Keisha juga bisa melihat satu anak laki-laki yang masih menggunakan seragam SMP, sedangkan satu anak perempuan menggunakan seragam SD. Kalau dilihat mungkin sih selisih umur tiga tahun, tapi udah kayak anak kembar. “Kei kamu masuk aja ke ruangan itu..,” Debora menunjuk satu ruangan dengan pintu putih. Biasanya guru private semua akan mengajar Giffard di ruangan itu, karena Debora dan juga Kenzo takut kalau belajarnya terganggu akibat adik Giffard. ‘Tunggu disana aja ya, Gif sebentar lagi datang kok. Ini sudah waktunya pulang sekolah.” ujarnya. Wanita itu masih terlihat sangat cantik di usianya. Bahkan Keisha saja langsung merasa insecure melihat body slimming dan juga wajah cantiknya. Pasti dulu waktu setelah melahirkan Giffard, ibunya itu melakukan perawatan mahal. Seperti tetangga kos nya yang katanya pijat lemah, sampai menguras dompet dua juta dalam satu minggu. Sambil menunggu Giffard datang, Keisha lebih dulu mengambil banyak buku pelajaran milik Giffard. Dia harus tahu materinya lebih dulu sebelum mengajari Giffard semuanya. Dia juga harus tahu mata pelajaran mana yang dia sukai dan tidak disukai. Sesuai tebakan, semua anak sekolah pasti tidak suka hitung-hitungan. Seperti matematika, fisika dan juga kimia. Sudah jela tiga mata pelajaran yang sama sekali tidak disukai, termasuk Keisha. Dia paling benci menghitung, jarak, kecepatan atau mungkin berat. Terkadang jika dia sedang bimbang atau gabut, Keisha pasti akan menimbang berat badannya dan meminta kartika untuk memecahkan rumus berat badannya dengan rumus fisika. Dimana jawaban dari rumus itu tidak akan ada jawabannya. Merasa menunggu Giffard cukup lama, dan Keisha juga merasa bosan membaca buku terus. wanita itu memilih menutup bukunya dan menatap banyak barang di ruangan ini. Ada foto anak kecil yang menggunakan tuxedo dengan rambut keritingnya. Dia terlihat sangat lucu dan juga menggemaskan. Senyumnya yang begitu manis bahkan bisa membuat siapa saja jatuh cinta dengannya. Lalu Keisha menatap satu figuran dimana dalam foto itu adalah Kenzo dan juga Debora. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi. Dan kali ini Keisha mengakui jika yang good looking akan selalu berada di depan. Tidak hanya foto, di ruangan ini banyak sekali piala dan juga piagam yang menggantung dengan indah. Dari piala olahraga, cerdas cermat dan juga taekwondo yang selalu menjadi juara satu. Pertanyaannya.., jika bocah SMA itu pintar lalu peran Keisha disini untuk apa? “Gabutnya orang kaya, hambur-hamburan duit pas tau anaknya itu sebenarnya pintar. Tidak ada yang dilakukan wanita itu setelah menatap satu persatu foto yang ada di ruangan ini. Sampai akhirnya wanita itu memilih duduk di karpet bulu, dan menggunakan meja dan juga lengannya sebagai bantal. Dan dia pun mulai tertidur pulas. -Sugar Baby- Jam menunjukkan pukul lima sore. Dimana Giffard yang seharusnya sudah pulang tepat jam tiga sore. Tapi nyatanya sampai saat ini Giffard tak kunjung pulang. Rumah ternyamannya itu kembali tak nyaman, saat ada satu wanita asing datang ke rumahnya. Sejak dulu Giffard paling benci dengan orang asing yang datang dan pergi begitu saja. Mengambil helm full face, Giffard akhirnya memilih untuk pulang. Lagian jika dipikir orang itu pasti sudah pulang karena Giffard tak kunjung pulang juga. Mana ada orang yang mau menunggu selama ini? Hanya orang bodoh saja yang mau menunggu selama ini tanpa kepastian. Contohnya, Giffard Tyler!! Mengendarai motornya dengan ugal-ugalan Giffard pun sampai di rumah Kenzo Tyler. Dia pun langsung membunyikan klakson motornya tak sabaran, badannya sangat lengket dan bau keringat. Ditambah lagi dia juga lapar, habis latihan basket bersama dengan temannya, jangan sampai hanya karena gerbag setinggi dua meter ini membuat mood Giffard berubah. “Pah.., buka [ka.., Gif lapar!!” teriak Giffard dari arah luar. Pak Hari yang ingin membuka gerbang itu ditahan oleh Kenzo. Bocah itu sudah keterlaluan, dia sudah membuat Keisha menunggunya selama dua jam. Dan bahkan wanita itu sampai ketiduran di ruang belajar milik Kenzo, dan pemilik ruangan itu sama sekali tidak pulang sampai jam lima sore. Giffard yang di balik gerbang terus berteriak kencang, jika dia sangat lapar bisa saja pingsan di depan gerbang. Dan seperti biasa, Debora yang merasa kasihan langsung membuka gerbang itu dan membuat senyum lebar Giffard tercetak jelas di wajahnya. “Hai Mommy..,” sapa Giffard tersenyum lebar. Sesekali melirik ke arah Kenzo yang menatapnya tajam. Pria itu selalu saja seperti itu, tidak tau betapa sibuknya Giffard selama ini. “Mommy marah sama kamu. Cepat masuk, mandi, makan dan belajar!!” cetus Debora dan pergi begitu saja. Giffard cemberut dia pun langsung mengangguk dan menuntun motornya sampai di garansi mobil. Dia pun meletakkan motornya diantara mobil mewah miliknya. Walaupun banyak mobil, nyatanya Giffard paling suka mengendarai motor kayak yang lainnya. Tanpa basa-basi Giffard pun segera masuk ke ruangan belajarnya, dan memastikan jika wanita itu sudah pergi dari rumahnya. Sayangnya, saat membuka pintu ruangan ini Giffard malah melihat Keisha guru privatenya masih berada ditempat yang sama. Wanita itu menutup matanya dengan lelap. Seolah beban hidupnya terangkat satu persatu. Untuk membangunkan saja membuat Giffard berpikir dua kali. Tapi jika tidak, wanita itu pasti sudah keenakan tidur sampai bermimpi ke pulau jeju. Giffard sendiri juga menunggu wanita itu untuk bangun. Dan sambil menunggu, akhirnya Giffard memilih untuk mandi. Sejujurnya ruangan ini banyak sekali manfaatnya, selain untuk ruang belajar Giffard. Ruangan ini juga kamar kedua untuk Giffard, ada alat musik, bola basket dan juga satu tempat tidur untuk Giffard tidur. Hanya saja pintunya menyerupai dinding, jadi tidak ada yang banyak tahu soal ruangan ini selain ruang belajar. Hampir lima belas menit Giffard selesai mandi, dia masih menatap Keisha yang masih terlelap dalam tidurnya. Mau tidak mau Giffard pun membangunkan wanita itu agar mau bangun. Bukannya bangun dia malah meminta waktu lima menit untuk melanjutkan mimpinya, dan bergumam tidak jelas. Kesabaran Giffard ada batasnya kan? Dia pun mengambil air minum yang mungkin saja milik wanita itu. Mencelupkan lima jarinya ke gelas putih itu hingga basah, dan mencipratkan air itu tepat di wajah Keisha, “Eh banjir.., banjir..,” pekik Keisha yang merasa jika wajahnya basah. Wanita itu langsung membuka kedua bola matanya menatap Giffard dengan tidak percaya. Lalu menatap ruangan ini dengan tatapan tak kalah kagetnya. Dia masih berada di ruang belajar milik Giffard. Dan saat menatap jam dinding yang ada di ruangan ini, Keisha benar-benar dibuat terkejut. Ini sudah jam lima sore dan Giffard baru saja datang? “Kamu dari mana saja, kenapa jam segini kamu baru datang ha? Saya udah nunggu kamu selama dua jam. Dan saya harus blos pekerjaan saya hanya karena kamu!!” seru Keisha kesal. Alis Giffard terangkat satu, “Yang nyuruh kamu nunggu aku siapa? Kalau udah tahu nggak datang, kenapa nggak pulang?” Tidak semudah itu untuk membuat Keisha pergi dari rumah ini, dia akan tetap mempertahankan duit lima jutanya hanya untuk mengurus anak bandel ini. Kalau saja, Giffard menawarkan satu bulan seharga sepuluh juta dan itu berlaku sampai Keisha lulus kuliah, mungkin itu bisa dibicarakan dengan baik-baik. tapi sayangnya, semuanya tidak sesuai harapan. dan Keisha akan mempertahankan suatu hal yang bisa menunjang karir dan hidupnya. Keisha ingin sekali protes dengan hal ini, tapi yang ada Giffard malah nyelonong pergi begitu saja dari hadapan Keisha. Dan yang jelas hal itu membuat Keisha langsung mengusap dadanya pelan. “Orang sabar di sayang Tuhan!! Orang sabar pantatnya lebar!! Orang sabar!!” “Keisha makan..,” Teriakan itu bahkan langsung membuat Keisha diam seketika. Itu suara Giffard yang tidak ada sopan-sopannya sama sekali. Keisha itu lebih tua darinya, dan dengan seenak jidatnya Giffard malah memanggil Keisha tanpa embel-embel mbak atau mungkin mungkin kakak. “Nggak ada akhlak, kamu Giffard!!” kata Keisha dongkol. -Sugar Baby-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD