Kepala Keisha berdenyut nyeri saat dia ingin turun dari mobil mewah milik Giffard. Bukan perkara AC mobil itu, atau Keisha kampungan yang naik mobil mewah langsung mual. Dia pusing karena harus berurusan dengan Giffard. Hari ini pertama kalinya Keisha bolos bekerja, dan semua itu hanya karena Giffard. Bocah itu benar-benar menguji kesabaran Keisha kali ini. Janjian belajar jam tiga sore, nyatanya bocah itu malah pulang jam lima sore. Belum lagi sekarang Keisha batu saja dipulangkan di kos tepat jam sepuluh malam.
Bocah itu sengaja memulangkan Keisha tepat jam sepuluh, karena mungkin saja dia beranggapan jika Keisha akan menyerah begitu saja. Oh, tidak semudah itu. Mana mungkin seorang Keisha Maheswari harus menyerah hanya karena Giffard. Ingat ya, uang diatas segalanya. Jika Giffard berani bayar mahal setiap bulannya sampai kuliah Keisha selesai. Sudah dipastikan jika Keisha akan menerima tawaran bocah itu, untuk berhenti menjadi guru privatenya. Sayangnya bocah SMA macan Giffard, mana mungkin berpikir sejauh ini.
"Buka pintunya!! Aku mau turun." cetus Keisha.
Giffard hanya meliriknya saja. Dia tidak ada niatan untuk membuka pintu mobil ini. Lagian jika Keisha ingin turun, ya turun saja lewat jendela mobil juga bisa kan? Kenapa harus Giffard yang membuka pintu mobilnya?
"Gif kamu nggak denger ya, saya mau turun." seru Keisha.
"Peduli setan!! Mau turun ya turun aja. Ribet banget sih jadi cewek!!"
Mata Keisha melebar sempurna. Dia pikir Keisha ini jin atau sejenis setan yang bisa menembus benda mati, seperti dindin dan juga pintu? Kalaupun bisa, sudah Keisha lakukan sejak dulu. Dan dia tidak perlu bekerja sekeras ini untuk mendapatkan uang. Dia hanya perlu merampok ke bank agar mendapat banyak duit.
Keisha menunjuk pada pintu mobil yang tertutup. Mana mungkin dia bisa keluar dari mobil jika pintunya tertutup. Harusnya Giffard berpikir dua kali sebelum berkata macam itu.
"Yang jelas ada dong gila apa kamu!!"
"Batalin dulu baru aku bukain!! Kalau nggak sampai pagi di dalam mobil ini sama aku!!"
Oke, baiklah!! Kalau dia berani mengancam Keisha itu tandanya, dia harus siap menerima konsekuensinya. Pada akhirnya Keisha pun mengangkat kakinya, dan dia taruh di dashboard mobil milik Giffard. Melepas jaket yang dia kenakan lalu membuatnya menjadi selimut. Bahkan dengan sengaja pula Keisha memiringkan tubuhnya, menghadap Giffard dan memejamkan matanya. Jika dia bisa mengancam Keisha, itu tandanya Keisha juga bisa mogok karena ancamannya.
Melihat hal itu Giffard pun langsung mengernyitkan keningnya. Apa-apaan dia ini. Bahkan tadi yang ada di kepala Giffard adalah, wanita itu akan takut dengan ancaman Giffard dan memilih menyetujui tawaran Giffard. Tapi yang ada wanita itu malah memposisikan dirinya tidur di dalam mobil Giffard. Seolah ancaman Giffard tidak akan membuat wanita itu takut.
Dengan senyum yang mengembang Giffard pun menyalakan mobilnya kembali. Lalu membawa wanita itu untuk keliling ibukota, atau mungkin membuangnya ke pinggiran jalan atau hutan. Lagian siapa suruh mengabaikan ucapan Giffard.
Disisi lain Keisha yang pura-pura tidur hanya mampu berdoa dalam hati. Jangan sampai Giffard bersikap seenaknya. Kalaupun iya tinggal telepon Bapaknya saja, dan semuanya akan terlihat beres.
Kata Bu Debora, bocah ini hanya terguncang. Dia bersikap macan ini karena ada seseorang yang dulu diharapkan, menjadi sebuah kenyataan pahit. Takdir tidak membuat mereka bersatu, hingga membuat Giffard bersikap seenaknya pada semua wanita.
Dengan berani Keisha membuka kedua bola matanya. Menatap Giffard yang terlalu serius menyetir mobilnya. Kalau boleh jujur dia itu memiliki wajah yang sangat tampan, rahang yang kokoh dan juga postur tubuh orang dewasa. Bahkan Keisha bisa menjamin jika diluar sana tidak akan ada yang tahu, jika Giffard adalah bocah SMA yang dua bulan lagi akan lulus sekolah. Bahkan kalau di ajak mejeng pun juga tidak malu-maluin, pass lah untuk diajak pergi ke kondangan atau pesta buat dipamerin.
"Ngapain lihat-lihat?"
Sumpah ya Keisha merasa menyesal telah memuji bocah itu di dalam hatinya. Sikap dan ucapannya sangat bertolak belakang dengan ucapan Debora. Langsung saja Keisha menutup wajahnya dengan jaket yang dijadikan sebagai selimut. Dan berdoa jika Giffard benar-benar tidak membuangnya ke laut.
-Sugar Baby-
Sejujurnya Giffard tidak suka dengan cara ini. Dia paling tidak tega jika harus menyakiti banyak orang. Tapi keadaan yang memaksa dirinya untuk bersikap macam ini. Jika saja waktu bisa di putar, Giffard ingin kembali dimasa dimana dia sangat mencintai satu wanita yang dia inginkan sebagai pelengkap hidupnya. Namun, semuanya gagal saat wanita itu pergi meninggalkan Giffard hanya karena pria lain dan juga skandal kehidupan Giffard.
Karena sakit hatinya dulu Giffard masuk ke asrama pria. Niat hati ingin mencoba menenangkan diri dan menghindari dari masalah cinta. Giffard malah terjebak dalam perkumpulan orang-orang yang suka sesama jenis.
Teman Giffard yang bernama Carlos yang satu asrama dengannya, sangat menyukai Giffard. Dan menginginkan Giffard untuk menjadi kekasihnya. Awalnya Giffard menjalin hubungan dengan Carlos. Tapi semakin hari, Giffard semakin tertekan dan mengakhiri hubungannya dengan Carlos. Dia tidak tahan, dan menurut Giffard dia tidak bisa memuaskan apa yang Giffard inginkan. Akhirnya pria itu kembali ke jalan yang benar. Dia bertemu dengan wanita yang sama saat dia jatuh cinta. Dan lagi-lagi takdir berkata tidak untuk mereka!! Giffard dijauhkan dari wanita yang dia cintai, sampai akhirnya dia pun menutup diri dan juga hatinya. Dia tidak menerima orang asing, tapi Giffard paling suka memainkan banyak orang sesuka hatinya. Mencari apa yang seharusnya didapatkan, dan dia pelampiasan.
Seperti pagi ini dengan kesal Giffard membawa Keisha guru private nya ke apartemen miliknya. Ini benar-benar gila, jangan sampai Debora tahu hal ini. Atau tidak, Mommy kesayangannya itu akan terkena jantungan melihat putranya memasukan satu wanita di apartemennya.
Giffard tidak melakukan hal apapun pada Keisha. Dia hanya mengingat tangan wanita itu dengan ikat pinggang. Mengikat kakinya dengan dasi miliknya. Sambil berpikir bagaimana membuat wanita itu menyerah. Dia itu keras kepala sama seperti dirinya. Dan nyatanya hal itu malah membuat Giffard tidak suka. Dia seharusnya tunduk dan takut di bawah kaki Giffard. Sikap baiknya hanya akan terlihat di depan keluarganya saja.
Mendengar lenguhan wanita itu Giffard pun masih terdiam di tempatnya. Dia menatap wanita itu yang mulai membuka kedua matanya perlahan. Terlihat sangat drama bukan? Dan Giffard benci itu.
"Nyenyak tidurnya?" cibir Giffard.
Keisha yang masih setengah sadar pun hanya mendengus. Dia pun menggerakkan tangan dan juga kakinya, tapi yang ada tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Wanita itu berpikir jika Giffard telah memotong kaki dan juga tangannya. Menjual organ geraknya untuk mendapatkan uang. Tapi yang ada Keisha malah di sadarkan dengan ikat pinggang kulit harga jutaan rupiah, yang melingkar di pergelangan tangannya.
Astagfirullahaladzim itu ikat pinggang kalau di jual. Bisa buat hidup Keisha selama satu tahun. Decak Keisha dalam hati.
"Lepasin Giffard!! Saya mau pulang!! Jangan harap kamu memperlakukan saya kayak gini, terus saya mau nyerah dan setuju sama tawaran kamu!! Nggak akan Giffard!!" seru Keisha.
"Keras kepala banget sih!! Tinggal jawab iya semuanya selesai. Kamu mau aku ikat terus kayak gini?"
Asalkan ikat pinggangnya bisa di bawa pulang, terus di jual sih nggak masalah. Keisha ikhlas lahir batin Gif. Jawab Keisha dalam hati.
Dan akhirnya wanita itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin juga dia mau diikat macam ini terus. Kuliahnya dan juga pekerjaannya bagaimana, jika dia harus diikat macan ini. Yang ada masa depannya masih suram banget kayak hidup Giffard.
Wanita itu mencoba bernegosiasi dengan Giffard. Dia meminta waktu satu Minggu, jika dia tidak bisa merubah Giffard. Maka dia akan menyerah dan menerima tawaran Giffard. Jika Keisha bisa merubah Giffard. Bocah itu harus menurut pada Keisha apapun yang Keisha katakan.
Awalnya Giffard ingin menolak. Tapi kalau dipikir ini tidak masalah. Toh yang harus Giffard lakukan hanyalah, membuat wanita itu tidak betah saat mengajar Giffard. Selain itu masih bisa dipikir sambil berjalan.
"Oke. Aku setuju. Satu minggu dimulai dari sekarang!!" sinis Giffard.
Keisha mengangguk cepat. Sekarang yang harus dipikirkan adalah keselamatan dirinya saat ini. Sedangkan yang lainnya bisa dipikir nanti saja bisa.
Giffard segera melepas ikatannya dari kaki hingga tangannya. Lalu menatap wanita itu dengan tatapan serius. Sedangkan yang dilakukan Keisha hanya mampu menahan nafasnya, gara tidak tercium Giffard sedikitpun. Pria itu terlihat tampan dan juga maskulin. Sedangkan dia saja masih berantakan sepagi ini.
"Mandi!! Pulang!!"
-Sugar Baby-
"Ya ampun aku pengen cekik dia tau nggak sih Mbak." teriak Keisha kesal.
Bertha tertawa kecil. Lalu menyodorkan satu cup kecil teh pada Keisha berharap jika wanita yang duduk di depannya ini bisa mereda amarahnya.
"Kenapa sih Kei, kamu baru pulang loh hari ini." kata Bertha.
Bagaimana tidak kesal, jika tadi saat di apartemen mewah milik Giffard. Bocah itu malah meninggalkan Keisha, dan meminta wanita itu pulang sendiri. Bisa dibayangkan kan tarif taksi online dari apartemen Giffard ke cafe tempat Keisha kerja?
"Dua ratus tujuh puluh lima ribu Mbak. Gila apa!! Bisa buat makan satu Minggu!!" pekik Keisha lagi.
Mata Bertha membulat seketika sejauh itulah apartemen Giffard? Itu sih kalau di logika sudah seperti tarif dari kota A ke kota B. Mana mungkin jika dekat tarifnya sampai dua ratus ribu.
"Seriusan apa Kei?"
"Serius Mbak ya ampun masa iya aku bohong gitu."
Bahkan Keisha sampai menunjukan bukti transaksi akhirnya pada Bertha. Dan sekarang wanita itu tidak memiliki uang sama sekali, kecuali satu lembar warna biru di dalam dompetnya. Padahal gajian masih lama tapi duitnya sudah ludes duluan. Sedangkan perjanjiannya dengan Kenzo, masih lama. Dia menginginkan waktu satu minggu untuk melihat Giffard berubah atau tidak. Dan yang jelas gajinya juga tidak mungkin satu minggu ini.
"Gila parah sih ini Kei. Masa iya dia nggak antar kamu pulang?"
Yang ada Keisha malah dibawa kabur. Tahu begini mending semalam dia teriak, dan yang pasti Bertha maupun Kartika akan menolongnya. Tidak perlu harus dibawa kabur ke apartemen dan mengeluarkan banyak uang untuk hal ini.
"Dia harus ganti rugi, duit aku habis karena dia Mbak."
"Yang sabar lah Kei. Ingat lima juta sebulan, gaji cafe aja nggak sampai segitu. Harus lapang d**a musuh bocah labil."
Bukan lapang d**a lagi harus stock dan beli sabar di minimarket. Agar dia bisa lebih, lebih, lebih sabar lagi saat mengurus Giffard.
Tidak mau membahas hal itu Keisha pun memilih meneguk teh dinginnya dengan nikmat. Masih untung punya temen baik hati dan tidak sombong. Rajin menabung di gerobak teh poci dekat kosnya. Kurang baik apa coba.
"Nggak ada kelas pagi Kei? Aku lihat jadwal kamu, kayaknya ada kelas jam sembilan." kata Bertha mengingatkan.
Dia memang ada kelas pagi, tapi karena tidur di kasur empuk dan membuat Keisha malas membuka mata. Akhirnya dia pun bangun tepat jam sembilan pagi. Dan membutuhkan waktu satu jam untuk mandi dan juga beres-beres. Bahkan karena tidak membawa baju, Keisha sampai mengambil baju milik Giffard dan dia pasukan dengan celana panjang miliknya. Bajunya saja belum Keisha ganti, dan Bertha sudah bertanya masalah kelas. Yang dimana Keisha bolos kelas pagi karena Giffard.
"Jangan keseringan bolos deh Kei. Mau lulus kapan kamu? Target ya tahun depan harus lulus."
"Iya Mbak tenang aja. Habis gini aku fokus ke kuliah."
"Sayang banget soalnya Kei. Tinggal selangkah lagi."
Keisha mengangguk dia juga tidak mau menjadi anak bodoh, atau mungkin sampai tidak lulus satu mata pelajaran kuliah. Atau tidak dia akan mengulang tahun depan, dan yang jelas wisudanya akan jauh lebih lama.
Karena jam kuliah selesai jam satu. Dan Keisha juga sudah termasuk bolos kuliah. Wanita itu memutuskan untuk pergi ke cafe. Lebih baik dia bekerja, daripada tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
Lagian kan lumayan juga kalau dapat jatah makan dari cafe. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli makanan.
"Cari duit dulu ya Mbak, biar bisa makan."
Wanita itu mengangguk dan membiarkan Keisha pergi cari hadapannya. Lalu berjalan sedikit jauh dan menuju ke tempat kerja. Wanita itu pikir dia bisa bersantai saat sampai di cafe. Karena tempat kerja ini terlihat sangat sepi.
Windy yang melihat kedatangan Keisha pun langsung menghampiri wanita itu, dan segera meminta Keisha mengganti seragam cafe nya dengan cepat.
"Apaan Win, kenapa panik gini sih." kata Keisha bingung.
"Buruan ganti baju deh Kei. Anak Bos bentar lagi mau kesini sama cucunya. Pengen lihat kinerja kita kayak apa, aku dengar mau ada kenaikan gaji." jelas Windy.
Mendengar kata gaji membuat Keisha langsung mengangguk antusias. Baiklah, Dewa Fortuna sedang berbaik hati pada Keisha. Langsung saja Keisha berlari ke arah pantry dan mengganti bajunya dengan seragam cafe. Tak lupa juga mencepol rambutnya agar terlihat rapi.
"Kei buruan lama deh. Udah dateng ini…," teriak Windy.
Dengan berdecak kesal Keisha pun langsung keluar dari pantry dan menghampiri Windy. Saat dia ingin melangkah ke barisan para pegawai cafe. Langkah kaki Keisha terhenti seketika, saat menatap sosok yang dia sangat kenal.
"Di-dia ngapain disini?"
-Sugar Baby-