SB-05

2036 Words
Sejujurnya Giffard paling malas jika harus datang ke cafe. Tapi berhubung dia datang bersama dengan Leo dan juga Kenzo. Akhirnya bocah itu pun hanya ikut di belakang dia pria tua. Dan disinilah Giffard. Dia berdirinya samping Leo dengan tatapan memicing. Menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya. Lebih tepatnya pegawai cafe ini, dari barista sampai koki pun Giffard lihat. Tapi ada satu karyawan yang membuat Giffard mengernyitkan keningnya. Wanita itu menunduk dengan kacamata bulatnya. Belum lagi masker yang ada di wajahnya, sangat mengganggu Giffard untuk melihat wajahnya. Kalau dilihat-lihat dari model rambut, warna dan juga postur tubuh wanita itu. Sepertinya Giffard tahu dan kenal betul. Tapi siapa? "Saya datang kesini cuma mau memberitahu kalian semua. Jika cafe ini saya serahkan pada cucu saya yang bernama Giffard Tyler. Semua keluhan, atau hal apapun yang berhubungan dengan cafe ini. Kalian bisa memberitahu cucu saya, Giffard." jelas Leo dan membuat para pegawai ini mengangguk. Leo meminta semua pegawai cafe ini untuk kembali bekerja. Cafe sebentar lagi pasti akan ramai. Jangan sampai Leo mendapat keluhan kalau ada salah satu pegawai cafe ini malas. Dan tidak melayani pelanggan dengan benar. "Tunggu!!" seru Giffard tiba-tiba. Leo dan juga Kenzo menoleh menatap Giffard dengan bingung. Begitu juga dengan banyak pegawai yang langsung menghentikan langkahnya, hanya untuk menatap Giffard. "Ada apa Gif? Kamu mau ngomong sesuatu?" kata Leo bingung. "Jangan cari gara-gara ya kamu!!" sahut Kenzo. Giffard menggeleng, dia meminta semua pegawai cafe ini untuk segera pergi. Tapi meminta satu pegawai wanita yang mengenakan masker untuk tetap di depannya. Sekali lagi, Giffard menatap wanita itu dengan teliti. Kepalanya benar-benar menunduk, seolah dia tidak ingin jika Giffard tahu dia siapa. Tapi entah kenapa Giffard malah berpikir jika itu adalah Keisha, guru privatnya yang memiliki rambut berwarna coklat bergelombang. "Kamu tetap disini!!" perintah Giffard. "Ada apa ya? Apa Anda butuh sesuatu? jawabnya. Giffard menggeleng dia tidak butuh apapun untuk saat ini. Dia hanya penasaran saja dengan wanita di depannya. Tangannya terulur untuk menarik masker wanita itu. Tapi dengan cepat wanita itu berjalan mundur satu langkah. Agar tangan Giffard tidak menarik maskernya. "Maaf saya lagi flu." katanya. Bukannya percaya Giffard malah tersenyum. Dia pun meminta wanita itu untuk membuatkan satu kopi latte dan juga beberapa cemilan. Lagian dia sedang ingin minum kopi bersama dengan Opanya. Dan meminta Kenzo cepat-cepat pergi ke kantor. "Jangan macem-macem ya kamu. Satu macam aja, tapi jangan berlebihan!!" ancam Kenzo. Alis Giffard terangkat sebelah dan mengangguk. "Kalau nggak lupa ya Pah." jawabnya cengengesan. "Giffard!!" tegur Kenzo dan melotot. Leo langsung melerai mereka berdua. Jika tidak begini sudah dipastikan jika Kenzo dan juga Giffard akan bertengkar terus menerus. Dua pria berbeda usia ini suka sekali bertengkar, hanya karena masalah sepele. Apalagi jika masalahnya ada di Debora. Sudah dipastikan suasana rumah yang tadinya adem ayem, dingin bag di surga. Menjadi panas seperti hidup di neraka. Sudah tahu Bapaknya ini orang paling cemburuan. Punya anak usilnya nggak karuan. Sambil menunggu kopi dan cemilannya datang. Giffard meminta Leo untuk menceritakan masa mudanya. Sebenarnya, sudah pernah dengar tapi terdengar sangat lucu jika Leo yang bercerita. Bahkan dulu Giffard juga lebih sering tidur di rumah Leo di banding di rumah Kenzo. "Dulu itu waktu masih muda. Opa yang jatuh cinta sama Oma?" tanya Giffard. Leo menggeleng sebagai jawaban. "Nggak tuh. Opa nggak ngejar Oma kamu. Yang ada Oma kamu yang ngejar Opa dulu." "Bukannya pria itu ditakdirkan untuk mengejar ya Opa? Bukan dikejar?" Itu rumus Giffard. Tapi rumus Leo tentu saja berbeda. Dia tidak pernah sekalipun mengejar yang namanya wanita. Sejak dulu banyak wanita yang mengejar-ngejar Leo. Walaupun duit jajan aja masih seribu perak, dan juga masih menaiki sepeda kayuh. Nyatanya Oma Giffard juga jatuh cinta dengan Leo. Ditambah lagi Oma yang mengatakan cinta pada Leo. Bukan Leo yang mengatakan cinta pada Oam. Leo juga menanamkan rumus itu pada Giffard sejak dia remaja. Jangan pernah dia sampai tunduk pada satu wanita. Tapi sekalipun dia tunduk dengan satu wanita, yang benar-benar dia cintai. Sampai mati pun dia pasti akan ingat apa yang pernah mereka lalui bersama. "Bukan rumus aku. Tapi rumus Raphael, katanya sih gitu." elak Giffard. Sampai saat ini tidak ada satu wanita pun yang bisa membuat Giffard tunduk kecuali dia. Dia yang pernah ada, dan pergi dengan sejuta alasan!! "Bilangin sama temen kamu. Jangan mau kalah sama wanita, cuma dikasih selakangan aja udah tunduk. Gila apa!!" cetus Leo. Giffard hanya menggelengkan kepalanya kecil dan tertawa. Sedang asyik bercanda tawa dengan Leo. Dan menceritakan masa muda Leo dulu, tak terasa kopi latte milok Giffard pun datang dan juga beberapa cemilan yang ada. Wanita yang mengantarnya pun masih sama, wanita yang menggunakan masker tadi. Bahkan dengan sengaja juga Giffard menarik masker itu hingga lepas. Bisa di lihat wajah kaget wanita itu, saat Giffard menarik maskernya. Dengan bodohnya dia malah menolehkan kepalanya dan menatap Giffard dengan mata lebarnya. "Nggak sopan banget sih!!" cetusnya kesal. "Saya itu lagi flu!!" ujarnya tanpa sadar. Leo ingin menegur Keisha, tapi dilarang oleh Giffard. Bagaimanapun Giffard adalah Bos barunya saat ini. "Bohong mulu!! Itu hidung panjang baru tahu rasa kalau kebanyakan bohong!!" jawab Giffard santai dan menikmati kopi latte ya. Keisha mendengus dan memilih pergi. Tapi yang ada Giffard malah menarik tangan Keisha, hingga wanita itu berdiri di samping Giffard dengan tangan yang digenggam erat oleh Giffard. "Apalagi? Mau bahas soal kemarin? Aku mau kerja dulu bisa dibahas besok lagi!" ucap Keisha malas. "Opa kenalin ini Keisha, guru private yang Papah bilang sama Opa." kata Giffard pada Leo, tanpa mau menjawab ucapan Keisha. Entah sengaja atau tidak tapi Keisha tidak suka dengan sikap Giffard. Wanita itu akhirnya tersenyum canggung dan menunduk. Tak lupa juga menarik tangannya dengan kasar, dan langsung membuat Giffard tersenyum kecil. "Oh yang gantiin Kartika yah." jawab Leo. "Iya Pak. Saya yang gantiin Kartika." Leo tersenyum kecil, dan melirik ke arah Giffard. "Semoga berhasil ya." katanya penuh dengan misteri. Belum lagi mereka berdua yang langsung tertawa satu sama lain. Itu tadi ucapan semangat kan? -Sugar Baby- Kalau dibilang lega sih iya. Keisha merasa lega saat bocah itu tidak melakukan banyak hal. Dia hanya menarik tangan Keisha dan juga mengenalkan Keisha pada Leo, jika Keisha adalah guru privatenya. Tapi yang membuat Keisha berpikir adalah ucapan Leo. Itu tadi maksudnya apa gitu loh. Semoga berhasil!! Apanya yang berhasil. Ngelangkah aja belum udah semoga berhasil. Tantangannya cuma satu minggu, dan hari ini Keisha tidak mengajar Giffard. "Kenapa jadi aku yang penasaran sih. Apanya yang berhasil." gumam Keisha pelan. Sambil mengusap meja cafe yang terakhir. Keisha pun segera masuk ke dalam pantry. Hanya ada dirinya dan juga Mas Bayu. Yang lainnya mah udah pada pulang duluan. Katanya lagi nggak mood buat nongkrong, karena hari ini cafe ramai jadi capeknya terasa. "Kei aku anterin pulang ya." ucap Bayu tersenyum manis. "Aduh Mas kali ini jangan dulu ya. Kei mau beliin titipan Mbak Bertha sama Kartika, mau ke supermarket depan dulu." jelas Keisha. Bayu mengernyitkan keningnya bingung. Memangnya kenapa kalau belanja dulu? Kan tidak masalah Bayu bisa menemani Keisha belanja lebih dulu. Membelikan kebutuhan Bertha dan juga Kartika. Setelah itu barulah Bayu mengantar Keisha pulang ke kos. Lagian Keisha itu sebenarnya tidak enak hati, jika terus-terusan nebeng di Bayu. Dia takut jika Bayu berpikir yang tidak-tidak. Padahal selama ini Keisha hanya menganggap Bayu sebagai teman kerja tidak lebih. Tahu sendiri kan, yang namanya perasaan sialan itu bisa datang kapan saja. Sedangkan Keisha lagi tidak ingin jatuh cinta kecuali dengan Min Suga. Tapi tetap saja Bayu ngotot ingin mengantar pulang Keisha, dan mengantar wanita itu untuk berbelanja. Tidak ada yang bisa Keisha lakukan selain mengangguk dan mengiyakan tawaran Bayu. Anggap saja rejeki anak Sholehah. Selesai merapikan cafe. Keisha segera mengambil tas dan juga jaketnya. Saat dia berniat untuk menunggu Bayu di parkiran cafe. Disaat itulah dia menatap Giffard yang ada di depan cafe. Keisha tidak menganggap jika orang itu ada di sana. Dan berharap Bayu tidak lama-lama di dalam pantry, dan segera keluar dan pergi dari sini. Tapi sayangnya. Harapan tinggallah harapan. Sebelum Bayu datang, Giffard malah lebih dulu menarik tangan Keisha dan mendorongnya masuk ke dalam mobil secara paksa. Keisha mengumpat keras, tentu saja hal itu langsung membuat Giffard tertawa kecil. Saat dia ingin masuk ke mobil, pria itu malah menatap Bayu yang sedang mencari Keisha. Langsung saja Giffard menghampiri Bayu dan memberitahu Bayu, jika malam ini Keisha pulang sama dia. "Tapi maaf tadi udah janji pulang sama aku dianya." kata Bayu. "Lah terus kenapa? Aku ada urusan penting sama dia. Jangan macam-macam!!" ucap Giffard memperingati. Lebih tepatnya sedikit menggertak, agar pria di depannya takut padanya. Jelek-jelek gini Giffard juga Bos kali, yang tidak mau dibantah sama bawahan. "Iya saya tahu. Tapi katanya tadi mau belanja dulu dianya." "Biar saya yang belanjakan. Kamu bisa pulang sekarang. Nggak perlu khawatir sama Keisha." Bayu mengangguk dan langsung mengendarai motor bebeknya dan pergi begitu saja. Sedangkan Giffard, dia pun langsung menuju mobilnya dan menatap Keisha yang menunjukkan wajah kesalnya. Giffard masa bodo dengan raut wajah Keisha. Dia pun langsung menjalankan mobilnya, hingga sampai di supermarket dekat dengan cafenya. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha menatapnya aneh. Untuk apa juga dia berhenti di depan supermarket? Tidak ada reaksi apapun dari wanita yang duduk di sampingnya. Giffard langsung menatap Keisha dengan bingung. Bukannya tadi dia bilang ingin belanja? Terus untuk apa wanita itu masih duduk santai di sampingnya, tanpa mau turun dari mobil. "Jadi belanja nggak sih? Kata barista tadi mau belanja?" kata Giffard kesal. Mendengar kata belanja Keisha jadi ingat apa yang Bertha dan juga Kartika titipkan padanya. Tanpa banyak bicara wanita itu segera turun dari mobil Giffard, dan masuk ke supermarket. Mengambil troli kecil dan juga barang yang dibutuhkan Bertha dan juga Kartika. Ingat ya semua harus serba diskon, nggak boleh kalau nggak diskon. Duit yang mereka transfer nggak mungkin cukup kalau beli barang yang tidak ada kata diskon. Mengambil sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi dan juga beberapa kebutuhan lainnya. Sambil mentotal semua belanjaan nya dalam ponselnya. Bahkan saat menatap banyak cemilan, Keisha hanya mampu melewatinya dengan teguh. Seolah rak cemilan itu adalah sebuah gaib yang tak terlihat oleh mata. Keisha pikir Giffard akan meninggalkan dia saat Keisha turun dari mobil, taunya dia malah berjalan di belakang Keisha berjarak beberapa langkah dari Keisha. “Ngapain kamu disitu? Biasanya kalau saya turun dari mobil kamu, kamunya langsung pergi!!” Giffard tidak menjawab, dia langsung merebut troli mili Keisha dan mengambil barang lebih banyak lagi. Keisha langsung protes dan mengembalikan barang yang Giffard ambil lebih banyak. Tapi semakin Keisha mengembalikan barang itu, semakin banyak juga barang yang Giffard ambil dan dia masukan ke troli. Dan akhirnya Keisha pun langsung diam. Berharap cemas jika tagihannya tidak akan membengkak karena ulah Giffard. Atau mungkin bocah itu akan sengaja meninggalkan Keisha dengan tagihan belanja yang banyak. Entah kenapa Keisha memiliki pemikiran macam itu. Tapi semoga saja nggak!! Wanita itu bisa melihat Giffard membawa troli nya ke kasir, Keisha berharap cemas dia berdiri berjarak jauh dari Giffard. Dia hanya takut jika mendadak Giffard pergi dengan belanjaan yang banyak ini. Keisha juga tidak memiliki banyak uang untuk membayar belanjaan ini, bahkan uang yang Bertha dan Kartika kirim juga hanya beberapa ratus saja tidak banyak. “Mau gantiin rak shampo? Atau mau gantiin model shampo?” cibir Giffard. Keisha menggeleng, dia pun berjalan pelan ke arh Giffard. Semua belanjaannya sudah masuk ke kantong plastik. Tapi sampai saat ini Giffard juga tidak membayar tagihan itu, apa mungkin dia menunggu Keisha yang bayar tagihannya? “Totalnya berapa?” tanya Keisha lirih. “Ngapain tanya tagihannya? Mampu bayar apa?” hina Giffard. Keisha menutup matanya perlahan, menghela nafasnya dalam, tangannya mengepal sempurna. kalau saja tidak ingat dia adalah Bos barunya di cafe, mungkin saja Keisha bisa memukul Giffard atau menampar mulut pria itu. “Aku memang nggak sekaya kamu!! Aku memang nggak punya uang banyak kamu kamu!! Aku memang nggak punya jabatan kayak kamu!! Makanya aku nggak bisa bayar tagihan belanjaanku yang banyak!! Tapi ingat satu hal Gif, kamu nggak ada hak buat ngehina aku!! Aku masih bisa bayar kok, walaupun harus nyicil seumur hidup aku!!” Keisha langsung pergi dari hadapan Giffard. Dia berlari kencang untuk menuju kosnya. Tidak peduli banyak orang yang melihatnya dengan tatapan anehnya. Sedangkan Giffard, dia pun meminta pegawai supermarket ini untuk memasukan belanjaan milik Keisha ke mobilnya dan mengantarkan belanjaan ini ke kos Keisha. Ada atau tidak adanya Keisha Giffard tidak peduli. -Sugar Baby-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD