Orang lain nggak akan tau rasanya pura-pura baik-baik saja kayak apa. Sama seperti Keisha yang harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Untuk tetap bisa makan, dan memenuhi semua kebutuhannya tanpa meminta. Dia juga sedang berusaha untuk mendapatkan banyak uang untuk memenuhi semuanya. Tapi kenapa harus begini!!
Ucapan Giffard benar-benar melukai hati Keisha. Dia memang terlahir dari orang kaya, terlahir untuk menjadi price, tapi bisa nggak sih nggak usah ngehina orang? Nggak usah merendahkan orang?
Sesampainya di depan kos, Keisha malah menatap banyak belanjaan di depan gerbang. Dia pun mengusap air matanya pelan dan menatap empat kantong plastik besar di san. Sudah pasti itu adalah ulah Giffard. Pria itu mengantar belanjaannya ke kos, tanpa peduli juga kan dimana Keisha saat ini. Padahal dia yang bawa Keisha pergi dari cafe dan dia juga yang nganter Keisha ke supermarket.
Tidak mau terkena masalah dengan ibu kos, Keisha langsung membuka gerbang hitam ini dengan pelan. Memasukkan satu persatu kantong plastik itu ke teras kos. Lalu menutup gerbang dan berlari ke teras kos. Mendadak saja malam-malam hujan turun, seolah tahu jika hati Keisha sedang tidak baik-baik saja.
“Mbak.., buka Mbak.., lagi nggak bawa kunci!!” terak Keisha.
Bohong. Dia bawa kok kuncinya, cuma malas saja untuk mengambil di dalam tasnya. Lebih baik dia berteriak untuk melampiaskan kekesalannya. Hingga tak lama pintu pun dibuka dari dalam, dan muncullah wajah Bertha yang terlihat sangat lelah.
“Malem banget Kei pulangnya. Ada kerja tambahan apa?” tanya Bertha heran. Dia pun menunduk dan menatap empat kantong plastik besar di bawah kakinya. “Buset Kei ini belanjaan banyak banget deh. Kamu yang beli semuanya?’ ujarnya.
Bertha membantu membawa dua kantong belanjaan milik Keisha, dan membawanya masuk. Begitu juga dengan Keisha yang langsung mengambil belanjaan nya juga dan dia taruh di sofa butut kos ini. Dia pun memberitahu jika semua belanjaan ini Giffard yang bayar bukan Keisha. tapi tentu saja hal itu tidak ada yang gratis. Keisha tidak membayar dengan uang, tapi dengan mental yang langsing down karena ucapan Giffard.
“Dia bilang apa?” tanya Bertha penasaran.
“Aku tanya tagihannya berapa. tapi dia bilang emangnya aku mampu bayar apa,” jelas Keisha mengusap wajahnya kasar. “Tau aku itu orang nggak punya. tapi kan nggak usah pakai dihina juga. Lagian aku juga sadar diri sih kalau masalah duit.” ujarnya kembali.
Keisha juga sudah berusaha untuk mengubah jalan nasibnya. tapi yang namanya Keisha ini adalah orang paling sensitif, dia pasti akan kepikiran ucapan Giffard yang membuat moodnya langsung down.
“Bocah kemarin sore aja belagu ngehina yang lebih tua dari dia. Balas dendam deh Kei, kasih pelajaran biar kapok!!”
“Maunya Mbak, tapi gimana caranya!!”
“Besok deh aku pikirin. By the way uang yang ditransfer tadi buat kamu aja nggak papa. Buat pegangan Kei.”
“Makasih ya Mbak. Selama ini Mbak baik banget sama aku.”
Bertha hanya mengangguk dan meminta Keisha untuk segera tidur. Ini jam dua belas malam dan hampir setengah satu. Dia baru saja datang dengan belanjaan yang banyak. Sebenarnya Bertha masih ingin tanya, Keisha itu belanja dimana sampai supermarket jam segini saja masih buka. Sedangkan kebanyakan supermarket mini tutupnya saja jam sepuluh malam. Dia masih bisa bertanya esok hari. Lebih baik dia juga tidur, karena besok adalah hari yang panjang.
Saat Bertha mematikan lampu kos. Saat itulah dia melihat bayangan di balik gorden kuningnya. Bertha membukanya sedikit dan melihat siapa yang berdiri di depan teras kosnya. Dan ternyata ada satu pria yang berdiri menatap pintu kos ini. Entah dia siapa tapi sepertinya dia mengikuti Keisha sampai ke kos. Bahkan saat Bertha ingin membuka pintu kosnya, yang ada pria itu malah berjalan pergi. Mungkin saja orang gila atau orang yang minta sumbangan.
Tidak mau ambil pusing Bertha pun segera masuk kamar dan tidur.
-Sugar Baby-
“Gini nih kalau anak sering dimanjakan, jatuhnya ngelunjak!!” cibir Kenzo.
Hari ini Giffard sengaja pulang lebih cepat untuk melancarkan aksinya. Dia masih memiliki waktu untuk membuat Keisha menyerah. Semalam dia sengaja mengajak dia belanja dan membelikan banyak barang. Untuk membuktikan pada Keisha jika dia mampu membayar lebih mahal dari Kenzo. Tapi yang ada dia malah pergi sambil nangis-nangis seperti orang gila.
Dan sekarang Giffard malah melihat Papanya itu masuk ke dapur dengan keadaan marah? Padahal sejak tadi Giffard tidak melakukan hal yang menurutnya ngelunjak. Dia hanya memeluk Debora dari arah belakang, mengganggu Mamanya itu memasak. Terus letak ngelunjaknya dimana?
Giffard tahu betul jika sejak dulu papanya itu tipe orang yang pencemburu angkut. Sedangkan Giffard adalah tipe pria yang suka sekali mengganggu Debora, sehingga membuat Kenzo marah-marah tak jelas.
"Aku nggak ngapa-ngapain ya Pah. Kan cuma peluk Mama doang." kata Giffard membela.
Tapi tetap saja Kenzo tidak suka dengan siako Giffard. Dia hanya takut jika anak laki-lakinya itu mengalami gangguan. Dia mencintai ibu tirinya sendiri dibanding wanita lain. Sedangkan sejak dulu Kenzo tidak pernah melihat Giffard menggandeng wanita lain selain--
"Nggak usah peluk-peluk istri orang!!" sinisnya.
Giffard tertawa, "Ingat ya Bapak Kenzo Tyler terhormat!! Bapak berhutang budi atas hal ini, jadi saya berhak memeluk Mama saya sesuka hati saya."
Mata Kenzo melebar sempurna. Dia pun langsung mencubit lengan Giffard untuk segera pergi dari dapur. Dan memeluk Debora begitu erat, seolah Debora itu adalah miliknya dan tidak akan membaginya dengan yang lain.
Giffard sendiri tertawa kecil, dan meninggalkan dapur dengan cepat. Saat melewati ruang tamu, dia malah melihat Keisha yang duduk di sofa bersama dengan Bibi.
"Masuk ke ruangan sekarang!!" perintahnya layaknya Bos.
Keisha menghela nafasnya berat, dengan langkah berat dia pun menuju ruangan yang dulu pernah dimasuki saat pertama kali. Keisha duduk di sofa bed berwarna hitam dan putih dengan menunduk.
Sedangkan Giffard, dia bahkan duduk di samping Keisha dengan baju haramnya. Otot bisep ya terlihat sangat jelas. Tidak hanya lengan, itu kaki ototnya juga tercetak dengan jelas pula. Dalam hati Keisha merupakan doa, yang dimana dia tidak boleh tergiur dengan otot-otot yang menggoda iman. Benar kata Kartika, jika terlalu lama tidak baik untuk kesehatan mata Keisha.
"Kita mau belajar apa?" tamat Keisha yang sudah bosan diam terus.
"Mau makan dulu. Tapi pengen omelet. Bisa buatkan?"
Tugas Keisha disini cuma mengajari bocah itu belajar. Terus kenapa dia malah diminta untuk masak? Keisha ingin menolak, dia tidak memiliki banyak waktu untuk memasak. Apalagi sebentar lagi dia juga harus kembali ke cafe untuk bekerja. Tapi yang ada, Giffard terus memaksa Keisha untuk memasak omelet untuk dirinya. Jika tidak mau, dengan amat terpaksa Giffard akan memecat Keisha dari cafe, dan Giffard juga pastikan bila Keisha akan keluar dan tidak menjadi guru les Giffard kembali. Tinggal pilih mana yang wanita itu suka.
Tentu saja untuk kelangsungan hidupnya, Keisha memilih masuk ke dapur rumah ini. Dapur yang begitu luas seperti lapangan bola basket. Mengambil telur dan juga beberapa bahan lainnya, Keisha pun langsung membuat dua omelet sekaligus. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Giffard semua agar bocah itu makan banyak dan belajar. Maklum ya, dia kalau laper suka rese.
Lima belas menit berlalu, Keisha pun selesai dengan omelet nya. Tak lupa juga membuatkan satu gelas s**u dingin untuk Giffard. Ketika ingin masuk ke ruangan belajar, Keisja dikejutkan oleh sebuah tepukan di bahunya.
"Bu Debora…," panggil Keisha kaget. "Bu Debora butuh sesuatu?" tanyanya lagi.
Wanita itu menggeleng, "Tidak. Kamu ngapain bawa nampak ke ruang belajar? Giffard bikin ulah ya?" katanya.
Bagaimana menjelaskan pada wanita itu, jika anaknya itu bikin ulah dan meminta Keisha harus memasak. Jika Keisha menolak, Giffard akan memecat dirinya dari cafe dan juga sebagai guru lesnya. Bisa dibayangkan, bagaimana hidup Keisha jika dia kehilangan pekerjaannya. Selain kuliahnya yang berantakan, hidupnya pun juga akan berantakan.
"Nggak kok Bu. Dia cuma mau dibuatkan omelet, jadi saya buatkan sekalian susunya juga. Biar sehat." jelas Keisha.
Alis Debora bertautan satu sama lain. Dia tahu betul jika anak laki-lakinya itu suka sekali dengan s**u. Tapi s**u hangat, bukan es s**u. Wanita itu ingin memberitahu, namun suara Giffard yang memanggil Keisha dari arah dalam. Membuat wanita itu langsung masuk ke dalam ruang belajarnya. Dan meninggalkan Debora dengan banyak pertanyaan yang bersarangnya di otaknya.
Keisha meletakkan omelet pesanan Giffard di atas meja, dan juga s**u dinginnya. Setelah itu kembali membuka buku pelajaran milik Giffard. Untuk mengetahui sudah sampai mana laki-laki itu sekolah. Dan yang lebih mengejutkan Keisha adalah, buku ini kosong tanpa coretan. Tidak ada angka apalagi huruf A. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha menatap Giffard bingung.
“Ngapain lihat-lihat, suka?” cetus Giffard.
Keisha menggeleng, mana mungkin dia mau suka sama bocah SMA macam Giffard. Walaupun dia punya otot bisep, wajah tampan tapi kalau sifatnya ngeselin Keisha juga berpikir dua kali untuk suka sama laki-laki macam Giffard.
“Ini kenapa bukunya kosong, ngga ada tulisannya? Kamu nggak pernah mencatat ya?” tanya Keisha dengan kesabaran yang tingkat tinggi.
Giffard tidak menjawab, dia lebih fokus pada s**u dingin di samping omeletnya. Dia masih ingat ketika meminta Keisha untuk membuatkan omelette. tapi kenapa wanita itu malah membawakan s**u dingin? Dia tahu kan kalau Giffard tidak suka s**u dingin?
Tidak mendapat respon apapun dari Giffard membuat Keisha kembali mendongak. Dia pun menatap Giffard yang lebih sibuk menatap s**u dingin yang dia buat tadi. Dan mulutnya yang terus saja mengunyah omelette yang dia buat. Dia juga tidak bilang omelette itu kurang apa,
“Kalau susunya nggak suka, jangan diminum. Aku aja yang minum.” kata Keisha akhirnya.
“Aku suka susu.” jawab Giffard cepat dan membuat Keisha mengangguk paham.
-SugarBabby-
“Kei … mau bareng?” tawar Bayu.
Keisha menggeleng, tidak enak juga jika harus pulang bareng Bayu terus menerus. Dan kali ini Keisha ingin mandiri, dia ingin pulangs endiri setelah membeli satu kotak martabak pesanan Tika. Wanita itu suka sekali makan tiap malam, sama halnya dengan Bertha dan juga dirinya. Mau bagaimana lagi, jika tidak makan yang ada mereka akan kelaparan sampai esok pagi.
“Yakin nggak mau bareng? Kita pulangnya searah loh.” kata bayu kembali.
‘Iya sih Mas, tapi malam ini nggak dulu deh. Tika pesen martabak, nanti mas Bay lama lagi nunggunya. Mending mas Bay pulang duluan aja nggak papa.”
Bayu yang tidak mau memaksa pun mengangguk. Dia memilih pulang lebih dulu ke tempat kosnya dulu. Sedangkan Keisha mulai berjalan mencari penjual martabak telur pesanan Tika. Memesan satu kotak martabak telur spesial sama seperti yang Tika ucapkan. Malam ini tubuh Keisha begitu capek, dia bahkan sampai terlambat masuk kerja karena ulah Giffard. Keisha hanya takut, jika laki-laki itu sengaja melakukan hal ini. Selain memecat Keisha menjadi guru privatenya, dia juga akan mengeluarkan Keisha dari cafe. Dimana hidup Keisha sangat tergantung pada Cafe itu. Selain tempatnya yang dekat dengan kampus dan juga tempat tinggalnya, hanya itu cafe satu-satunya yang mau menerima karyawan yang bekerja part time dengan bayaran yang lumayan.
Sambil memijat bahunya, Keisha sesekali menatap sekeliling jalanan Ibukota yang mulai sepi. Ini sudah jam sebelas malam, itu sebabnya jalanan depan cafe Keisha sedikit longgar. Biasanya di jam segini akan ada banyak motor atau mobil yang melakukan balap liar. Dan sebelum hal itu terjadi, Keisha harus sudah pulang lebih dulu. Dia tidak ingin menjadi korban kebisingan mereka.
“Mbak ini martabaknya.”
Keisha mengangguk dan memberikan uang selembar berwarna biru. Setelah menerima uang kembalian, barulah Keisha memilih untuk segera pulang. Saat Keisha ingin menyeberang, disaat itulah Keisha merasakan sebuah tarikan secara kasar dari arah belakang. Hingga membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukan seseorang.
Giffard Tyler. ya, dia adalah orang yang langsung menarik tangan Keisha dengan aksar. Hingga membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.
“Bisa nyetir nggak sih!!” teriaknya dan langsung membuat Keisha menoleh.
Dia bisa melihat satu mobil berwarna kuning yang berhenti, ketika Giffard berteriak begitu lantang. Langsung saja Kesha melepaskan diri dari pelukan itu dan menatap dirinya sendiri. Ada yang luka atau tidak, adalah hal utama yang ada dipikiran Keisha.
“Maaf ya, saya buru-buru.istri saya mau melahirkan, jadi saya nggak fokus ke jalanan.” ucap orang itu.
“Dalam keadaan apapun jangan sampai teledor. Ini jalanan banyak pengendara lain dan juga pejalan kaki. Selain bisa membahayakan orang lain, itu juga bisa membahayakan diri kamu sendiri. Tolong perhatikan baik-baik lain kali.” kata Giffard.
Keisha langsung menatap bocah SMA yang ada di depannya dengan kagum. Jika itu adalah Keisha mungkin dia akan marah-marah dan memaki orang itu. Sayangnya, tubuh Keisha benar-benar lelah itu sebabnya dia tidak memiliki daya untuk bertengkar dengan orang itu.
“Maafkan saya.” katanya kembali.
“Iya. Cepat bawa istrimu ke rumah sakit, dia lebih membutuhkan pertolongan di banding wanita ini.”
Entah kenapa Keisha sangat tidak suka dengan ucapan bocah itu. Baru saja Kesiah mengagumi laki-laki itu dan sekarang dia merasa tidak suka kembali. Orang itu segera pergi setelah meminta maaf. Sedangkan Giffard tentu saja dia langsung menatap Keisha dengan tatapan tajamnya.
“Apa?” sewot Keisha kesal.
“Ngelamun atau apa?” cetus Giffard.
“Capek.”
“Aku anter pulang.” katanya dengan nada datar.
“Tapi … ”
“Masuk Keisha!!”
-SugarBaby-