Pada akhirnya, Giffard pun mengantarkan Keisha ke apartemennya kembali. Wanita itu memilih duduk di atas pangkuan Giffard, dan memeluk tubuh Giffard dengan erat. Seolah dia tidak ingin laki-laki itu pergi meninggalkannya kembali. Peduli setan, jika dia menganggap kalau Keisha perempuan murahan atau sejenisnya. Dia sama sekali tidak peduli, laki-laki itu susah menilai dan tidak bisa seenaknya sendiri mengakhiri semuanya dengan singkat. Keisha tidak suka!! Dia masih membutuhkan Giffard untuk hidupnya ke depan. Masa depannya begitu cerah ketika bersama dengan Giffard, sudah kaya raya, banyak duit lagi.
Sedangkan laki-laki itu, yang melihat sikap Keisha yang mendadak manja pun mendesah kecil. Dia bersyukur jika dia menduduki ponsel Giffard, yang mungkin sejak tadi terus menyala. Tapi disini Giffard tidak memiliki banyak nyali untuk mengatakan sejujurnya kepada Keisha, tentang perjodohannya dengan Clarissa. Tapu perkara pekerjaan, untung saja Keisha mau mengerti, dan membiarkan Giffard kembali mengurus properti milik keluarganya. Dia adalah anak pertama di keluar Kenzo dan juga Debora, mana ada tahta Keisha untuk melarang Giffard berhenti mengurus usaha papanya? Yang ada nyawa Keisha saja bisa di beli oleh bapak Kenzo.
"Gak mau lepas apa? Besok aku harus ke kantor untuk kunjungan pertama kalinya." kata Giffard mengusap lembut punggung Keisha.
"Terus aku peduli?"
Mendesah pelan, Giffard pun menangkup kedua pipi Keisha dengan lembut. Mengusapnya dengan pelan dan mencoba untuk tersenyum. "Nggak mau ngertiin?"
"Aku lagi sakit loh!! Habis jatuh dari motor kamu, masa iya kamu pergi begitu saja? Bukan cewek murahan nih yang di datangi pas lagi butuh aja!!'
Entah kenapa ucapan itu malah membuat Giffard tertawa kecil. "Sangking mahalnya, aku harus bayar kamu satu digit penuh selama sebulan sekali."
Menepis tangan Giffard, perempuan itu kembali memeluk tubuh Giffard dengan erat. Tidak peduli besok ke kantor untuk kunjungan pertama kali atau mungkin pergi ke sekolah ada ujian pagi. Keisha sama sekali tidak peduli, malam ini perempuan itu ingin Giffard berada di apartemen ini apapun alasannya. Bukannya apa, dia mendadak takut kalau tinggal sendiri di apartemen ini.
Giffard mengalah, mungkin dia bisa pergi dari apartemen ini setelah dirasa Keisha tidur dengan nyenyak. Untuk beberapa hari ke depan, atau beberapa minggu kedepan Giffard tidak memiliki banyak waktu untuk bersama dengan Keisha. Dan inilah yang dikhawatirkan Giffard untuk kesembuhan dirinya. Dia yang ingin hidup normal seperti laki-laki pada umumnya, harus tertunda ketika Kenzo bilang dirinya harus bertunangan dengan Clarissa. Entah kenapa rasanya Giffard ingin sekali memperjuangkan Keisha dalam hal ini. Sedangkan dirinya saja tidak pernah jatuh cinta dengan Keisha.
Mencoba untuk berdiri dengan posisi menggendong Keisha. Giffard mencoba untuk berjalan pelan menuju ke arah kamarnya. Tentu saja hal itu langsung membuat Keisha yang ada di gendongan Giffard menjerit.
"Giffard … turunin!! Gila ya kamu!! Ini kalau jatuh berdua hei!! Kaki kamu juga masih sakit, Gif!!" teriak Keisha.
Kakinya memang masih sakit, tapi kalau masalah Keisha rasa sakit yang dia rasakan mendadak hilang entah kemana. Sesampainya di kamar, Giffard langsung melepaskan gendongan Keisha, hingga membuat wanita itu memekik kaget kembali. Dia pun merayap mundur hingga membuat Giffard menarik kaki Keisha dan menindih nya.
Laki-laki itu tersenyum menatap wajahnya Keisha yang mungil. "Cantik ya nggak make up."
"Ucapan kadal di kasih daging begitu!!" cibir Keisha.
Giffard tertawa kecil, dia pun memasukkan tangan kanan ke dalam baju Keisha dan mengusap perut perempuan itu dengan lembut.
Tentu, mata Keisha mendelik sempurna. Dia ingin berteriak dan protes akan tangan Giffard, yang secara tidak langsung sudah masuk ke dalam bajunya. Tapi yang ada, Giffard lebih dulu membungkam bibir Keisha dengan bibirnya. Sehingga apa yang ingin perempuan itu katakan kembali dia telan. Memainkan lidah, dan juga mencecap rasa yang ada. Giffard terkejut ketika tangan Keisha dengan beraninya menyentuh d**a bidang dan juga perut kotaknya. Bahkan perempuan itu dengan beraninya meloloskan baju yang Giffard kenakan.
Mungkin jika Giffard tidak penyakitan, malam ini akan menjadi malam perpanjang untuk mereka berdua. Tapi sayangnya …
Kembali menciumnya dengan pelan, Giffard samar-samar mendengar desahan Keisha yang begitu menggoda. Dia mencoba untuk fokus dengan apa yang dia lakukan, membayangkan jika dirinya dan nafas Keisha akan berakhir dalam satu selimut yang sama. Tapi yang ada Giffard susah untuk fokus, meskipun bibirnya terus memainkan apa yang bisa dimainkan.
Sedangkan Keisha sendiri memilih untuk pasrah, dia sudah besar, dia mengerti resiko apa yang akan dialami ketika malam ini terjadi. Bahkan dia sudah seperti perempuan murahan yang menjual dirinya hanya karena uang. Atau mungkin dia begini hanya karena untuk membuat Giffard tetap berada di apartemen ini?
Sialan!! Dia masih bocah SMA kemarin sore, dan betapa gilanya Keisha yang menginginkan bocah ingusan macam Giffard.
Merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya, Keisha pun melepas tautan bibir mereka untuk mengambil oksigen. Meskipun kedua tangannya melingkar dengan indahnya di leher Giffard, nyatanya di bagian bawah sama mereka masih terbungkus dengan rapi. Keisha mencoba untuk memegangnya, tapi dengan sigap Giffard pun menggeleng. Matanya berubah tajam, sehingga membuat Keisha ketakutan. Dia menelan salivanya dengan kasar dan mundur, sungguh Keisha benci dengan tatapan tidak bersahabat dari Giffard.
"Kenapa?" tanya Keisha memberanikan diri. Sialan!! Dia sudah setengah begini, masa iya dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Bukannya menjawab Giffard lebih memilih kembali mencium Keisha, hingga membuat perempuan itu kewalahan. Mendorong sedikit demi sedikit, sampai akhirnya …
"Sialan!!" umpat Giffard, ketika mendengar suara ponselnya berdering dengan kencang dan nyaring.
***
"Kamu menggangguku!!" seru Giffard.
Ya, saat ini Giffard berada di rumah Clarissa. Wanita itu terus menelponnya dan membuat Giffard murka. Dia tidak suka diganggu kecuali Keisha. Dan kali ini kesabaran Giffard sudah tidak bisa lagi dibendung pada perempuan itu. Rasanya Giffard ingin sekali mencekik leher Clarissa hilang dunia ini tidak ada hukum. Dimana ayahnya adalah pebisnis handal, yang ada kepala Giffard yang akan hilang jika tahu kabar Giffard membunuh calon tunangannya.
"Aku nggak akan telepon kamu kalau papa aku nggak nyuruh." ucap Clarissa.
"Aku harap kamu pandai berbohong, Clarissa!!" desis Giffard.
Awalnya Clarissa juga berbohong, dia mengatakan pada ayahnya jika Giffard tengah sibuk pelantikan bersama dengan Kenzo. Tapi yang ada ayah Clarissa sama sekali tidak percaya, jika dia belum mendengar sendiri. Untung saja ketika Giffard menerima panggilan masuk itu, hanya Clarissa saja yang mendengar umpatan khas Giffard dibanding ayahnya. Bahkan Clarissa juga menyangkut nama ayah Clarissa agar Giffard mengontrol ucapannya. Tapi yang ada Giffard tidak mengatakan apapun kecuali mematikan sambungan teleponnya dan langsung pergi ke rumah Clarissa.
"Gif, aku tau kamu nggak mau bertunangan dengan aku. Tapi seenggaknya jangan bersikap dingin padaku. Ayahku bisa curiga dengan hubungan kita." kata Clarissa pelan.
Giffard menoleh sejenak. "Terus aku harus peduli? Aku harus mementingkan hubungan kita dibanding perasaanku?" laki-laki itu menatap Clarissa penuh dengan kebencian. Jika saja malam itu dia juga menolak, seperti apa yang Giffard katakan, hal ini tidak mungkin terjadi diantara mereka. "Aku sudah katakan bukan, jika aku akan mencari segala cara untuk membatalkan perjodohan ini!!" ujarnya kembali.
"Aku mohon jangan, Gif."
Clarissa merengek, dia meminta Giffard untuk tidak membuatkan perjodohan mereka. Tau kan ayah Clarissa mengidap penyakit jantung, yang dimana Clarissa sendiri tidak bisa berbuat banyak akan hal ini. Dia juga tidak ingin hal itu terjadi, tapi ayahnya selalu meminta Clarissa untuk mendekatkan diri pada Giffard. Sedangkan laki-laki itu, malah memilih menjauhkan dirinya dari Clarissa. Jika bukan paksaan kedua orang tua mereka, Clarissa dan juga Giffard tidak akan bertemu.
"Merengek sebisamu!! Menangis sebisamu! Seberapa besar kamu berusaha untuk mempertahankan perjodohan ini, aku adalah orang pertama yang akan menghancurkannya." desis Giffard dan berlalu.
Clarissa mendesah kesal, apapun masalahnya dia akan terus mempertahankan perjodohan ini. Apapun yang terjadi kedepannya, Clarissa akan keluar sebagai pemenang untuk Giffard.
****
Merasakan ranjang sampingnya kosong, Keisha pun langsung bangun. Dia pun menatap sekeliling tempat ini yang sudah sepi dan tak ada orang satupun kecuali Keisha. Seingat Keisha, tadi setelah bergulat tanka bercinta dengan Giffard, laki-laki itu memutuskan untuk tidur di apartemen ini bersama dengan Keisha. Dia juga berjanji jika pagi nanti, dia akan membuatkan sarapan untuk Keisha sebelum berangkat ke kampus. Tapi malam ini, Keisha malah melihat rajang sampingnya kosong, lalu dimana Giffard?
"Gif … kamu dimana?" panggil Keisha.
Tidak ada jawaban sama sekali.
Perempuan itu akhirnya mengambil baju yang tidak berguna di bawah tempat tidur dan mengenakannya asal. Lalu berjalan pelan ke arah kamar mandi, dan membuka pintunya dengan pelan juga. Dia takut ketika dia membuka pintu itu, mendadak matanya ternodai dengan Giffard yang telanjang bulat di dalamnya. Tapi yang ada Keisha sama sekali tidak menemukan Giffard di era kamar mandi.
Hingga akhirnya, Keisha pun memutuskan untuk keluar kamar. Ruangan semuanya gelap, hanya ada lampu dapur saja yang masih menyala dengan terang. Perempuan itu langsung pergi ke arah dapur dan mendapati Giffard yang tengah memasak sesuatu dengan telanjang d**a. Mendadak Keisha gugup sendiri, dia masih ingat betul ketika malam tadi dia melihat setengah tubuh Giffard berada di atasnya. Meninggalkan beberapa bercak merah di tubuh laki-laki itu, dengan keadaan setengah sadar. Dan kali ini Keisha harus melihat laki-laki itu memasak dengan telanjang d**a? Rasa ingin berjalan perlahan lalu memeluk dari arah belakang, membuat iman Keisha semakin tipis, setipis tisu. Kalau digodanya model cogan begini, tentu saja iman Keisha langsung tidak berguna sama sekali.
"Kamu sudah bangun?" pertanyaan itu langsung membuat lamuna Keisha buyar. dia pun mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengatur detak jantungnya yang tak beraturan. Keisha melihat Giffard yang mendekat, membuat pasukan udara di sekitarnya mendadak habis, sehingga dia kesulitan untuk bernafas. "Aku tadi lapar, terus bangun masak. Kamu lapar juga?" ucapnya.
Antara menggeleng dan mengangguk Keisha jadi bingung sendiri. Dia pun menatap gugup bercak merah yang ada di d**a Giffard. Itu adalah karyanya, rasa ingin memotret nya dan memamerkan karya itu pada Bertha dan juga Tika, tapi Keisha tahu jika hal itu tidak mungkin.
Duduk di kursi dengan gugup, Keisha hanya diam saja menatap Giffard yang berjalan kesana kemari. Sungguh, hal itu bahkan mampu membuat Keisha curiga. Jika Giffard masak sejak tadi kenapa Keisha tidak mendengar suara apapun?
"Gif kamu beneran masak kan? Maksudku, kenapa aku nggak dengar apapun pas kamu masak." tanya Keisha akhirnya. Dia bukan perempuan yang suka memandang apapun dengan banyak pikirannya. Dia akan mengatakan apapun yang dia rasakan hingga mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Giffard menatap Keisha dengan santai. "Kamu nggak percaya?"
Bukannya tidak percaya, hanya saja Keisha merasa aneh dengan sikap Giffard. Tapi karena Keisha tidak ingin masalah ini membesar, akhirnya perempuan itu mengalah dan menikmati makanan yang dibuat oleh Giffard. Mungkin benar, jika laki-laki itu tengah memasak, karena terlalu pulas tidur Keisha sampai tidak mendengar apapun yang Giffard lakukan.
"Nanti pagi, sebelum matahari terbit aku harus segera pulang. Papa bisa ngamuk pas tau aku nggak di rumah." kata Giffard.
Keisha mendesah dia pun menatap Giffard dengan tatapan memohon. "Terus aku?"
"Kamu tenang aja, cukup di apartemen ini. Aku akan sering mengunjungimu."
"Udah kayak simpanan bukan sih?"
Giffard hanya diam, lebih tepatnya memilih menikmati makannya dengan cepat hingga tandas. "Jangan berisik! Cepat makan, dan kembali tidur."
Dan entah kenapa sifat menyebalkan Giffard kali ini membuat darah tinggi Keisha ingin naik seketika. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tanpa memikirkan Keisha sama sekali. Iya kalau Keisha tidak marah atau mencekik laki-laki itu. Bagaimana jika Keisha hilang kendali dan mencekik Giffard saat ini juga?
"Pengen nyekek tapi itu Giffard." cibir Keisha kesal.
"Pengen dede bayi, tapi Keisha!!"
"Dih!! Dede bayi, dia bilang!! Bercinta aja nggak bisa gimana mau jadi dede bayi!!! Sekolah dulu sana yang pinter, yang benar baru mikirin dede bayi!! Sialan!! Bocah kemarin sore aja mikir selakangan!!" cetus Keisha kesal dan pergi.
Sedangkan Giffard bukannya marah, laki-laki itu malah tertawa kecil.
To be continued