Giffard mendudukkan Keisha diatas meja, kedua pipinya menggembung menandakan jika perempuan itu tengah marah. Semalam, setelah berdebat ala-ala suami masa kini yang meminta dede bayi, membuat Giffard tertawa kecil. Harusnya, hari ini dia kembali ke rumah Kenzo, sayangnya karena Keisha bangun lebih awal membuat Giffard mengurungkan niatnya. Perempuan itu lucu ketika sedang marah dengan kedua pipinya yang mengembang.
"Dasar bayi!!" katanya mengejek.
Mata Keisha yang tidak terlalu besar pun mendelik sambil menunjukkan wajah Giffard dengan berani. Dia bilang apa? Bayi?
"Kamu itu yang bayi!!"
Giffard tersenyum. "Yang gelendotan kemarin siapa? Yang nempel juga siapa?"
"Nggak tau siapa!!" katanya, sambil memutar bola matanya malas.
"Bocah SMA loh!!"
"Berduit tuh!!"
Alis Giffard mengerut. "Karena duitnya? Bukan karena orangnya?
Itu juga termasuk. Sayangnya Keisha langsung menggeleng, dia hanya membutuhkan uang Giffard bukan Giffard nya. Kalaupun sama perempuan lain, Keisha juga tidak akan peduli.
Mengangguk kecil, tangan Giffard menyelinap masuk ke dalam leher Keisha. Mengusapnya dengan lembut hingga ke rahang perempuan itu. Pandangan Giffard terarah pada satu titik, yang sejak beberapa hari tidak dia sentuh. Mendekatkan dirinya lebih intim lagi, kepala Giffard tiba-tiba saja langsung miring tepat di hadapan Keisha. Laki-laki itu tersenyum masih sambil mengusap rahang dan juga leher Keisha dengan menggoda.
Belum lagi, Keisha yang langsung gugup jika paginya harus melihat wajahnya Giffard sedekat ini di depannya. Bagaimanapun dia ini perempuan normal. Dia juga bisa terpancing gairahnya ketika tangan itu tak kunjung pergi. Sedangkan Keisha juga merasa tidak enak hati, jika dia menepis tangan Giffard. Yang ada laki-laki itu akan tahu titik lemah Keisha ada dimana.
Dengan perasaan gugup, ketika melihat Giffard ingin Menciumnya. Keisha langsung mengangkat tangan kiri untuk menutup bibir Giffard.
"Belum sikat gigi." kata Keisha. "Maksudnya aku." ujarnya kembali. Mengingat, ketika dia bangun pagi Keisha tak kunjung cuci muka atau sikat gigi. Dia hanya minum air putih saja dan keluar kamar. Sedangkan Giffard, dia sudah rapi sudah mandi, dan siap pergi ke kantor katanya. Jangan sampai ketika berciuman dia mencium aroma jigong yang tak sedap dari mulut Keisha.
Bukannya menjauh, Giffard malah menarik tangan Keisha dengan lembut. Mengecup punggung tangan perempuan itu dengan pelan.
Jantung … shitt!! Kenapa negara jantungnya harus berdebar lebih kencang dari biasanya!! Padahal mereka juga sering bertemu, hanya saja karena urusan dengan bapak Kenzo membuat Keisha tak memiliki banyak waktu bersama dengan Giffard.
Dengan pelan tapi pasti, kedua bibir itu saling menempel satu sama lain. Hanya ada kecupan, tanpa lumayan atau pun gigitan. Hanya saja, ketika bibir itu menyentuh bibir Keisha, mata wanita itu mengerjap beberapa kali. Selain belum siap dengan serangan Giffard, perempuan itu lebih sibuk dengan debaran jantungnya di dalam sana. Takut jika jantung itu lepas dari tempatnya. Meskipun mustahil, tapi tetap saja Keisha takut.
****
Setelah berperang dengan perasaan nya. Keisha memutuskan untuk duduk di samping Giffard yang sibuk dengan tablet yang entah dapatnya dari mana. Perempuan itu langsung gelendotan lagi pada tangan Giffard. Sungguh, dia tidak mau jika Giffard kembali pergi dan membiarkan Keisha hidup sendiri di apartemen ini. Meskipun dicukupi, dan apapun yang Keisha inginkan tetap saja Keisha tidak mau.
"Aku harus ke sekolah, habis itu lega kantor. Balik lagi ke sekolah, kalau capek ya gak pulang." jelas Giffard, yang mulai risih dengan sikap Keisha.
"Pulang ke mana?"
"Apartemen, Keisha. Palingan tidur lagi di rumah mama."
"Ih … kamu itu sengaja atau gimana sih!!"
Giffard sendiri bingung bagaimana dia menjelaskan ini semua pada Keisha. Jika akan yang Giffard lakukan bisa membuat Keisha masuk dalam masalah besar. Tapi Giffard juga tidak tega jika harus memberitahu jika dirinya dijodohkan dengan perempuan lain, dan itu bukan Keisha. Sungguh, Giffard masih belum bisa menerima amarah Keisha. Meskipun nanti juga Giffard akan merasakan hal itu.
Bukannya sengaja, sekarang situasinya berbeda. Dia hanya ingin Keisha menunggu lebih lama lagi, atau bisa dikatakan sabar aja dulu siapa tau ada jalan yang bisa mereka lewati dengan mudah. Dia hanya tinggal di rumahnya sendiri, tidak tinggal di rumah perempuan lainnya. Harusnya Keisha tidak perlu khawatir dengan hal ini, Giffard hanya membutuhkan Keisha percaya dalam hal ini.
"Percaya!! Seberapa jauh aku pergi, kamu adalah rumahku." jelas Giffard.
"Mau rumah, mau kebun binatang aku nggak peduli, Gif. Gila apa kamu itu! Ya Tuhan, ini bukan bangunan Giffard." kata Keisha tak masuk akal.
"Ternyata gak cuma tubuh kamu aja yang cebol. Otak kamu juga cebol banget!! Begini aja gak tau apapun!!"
Mata Keisha melotot seketika. Dia pun memukul Giffard dengan tangannya kencang. "Kamu suka banget kayaknya ngehina aku? Gini-gini aku lebih tua darimu, loh." ujarnya.
"Memangnya aku peduli kalau kamu lebih tua dariku? Aku hanya berkata jujur!!"
Menunjukkan Giffard dengan rasa dongkol, akhirnya Keisha pun memutuskan untuk pergi. "Aku marah sama kamu!!" teriak Keisha kencang dan membuat Giffard tertawa.
"Ada … orang marah terus ngomong!!"
"Tidur luar Giffard, nggak usah masuk kamar!!" teriak Keisha kembali.
Giffard tertawa terbahak, dia pun langsung bangkit dari duduknya dan memutuskan untuk pergi. Setidaknya dia sudah bilang pada Keisha jika dia akan pergi ke sekolah dan kantor. Jika perempuan itu masih marah, jangan harap Keisha mendapat ampun dari Giffard.
Merasa ada yang aneh dan tidak mendengar sesuatu, akhirnya Keisha pun memutuskan untuk kembali ke sofa. Dan alangkah terkejutnya Keisha ketika tidak melihat Giffard berada di apartemen ini. Dia itu tahu tidak kalau Keisha itu tengah marah pada dirinya? Bukannya dibujuk yang ada Giffard malah meninggalkan dirinya di apartemen ini seorang diri.
"Biadab!!" rengek Keisha kesal.
****
"Ha … gila itu orang atau apa sih. Orang Bininya marah bukannya dibujuk malah di tinggal pergi." kata Bertha.
Keisha sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Giffard. Bisa-bisanya dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Doa baru saja kembali dan kenapa harus pergi lagi? Mengurus perusahaan. Hei … usia dia bahkan belum ada dua puluh tahun dan bapaknya meminta Giffard untuk mengurus semuanya? Apa bapaknya gila?
Menatap baju yang bertumpuk di atas tempat tidur. Keisha berpikir jika doa harus di culik lebih dulu biar Giffard menetapkan di rumah ini. Tapi Keisha juga mendadak takut, kalau penculik itu melecehkan Keisha. Mungkin kalau cuman minta tebusan Giffard masih bisa menebus ha. Mengingat laki-laki itu memiliki banyak duit, tapi kalau sampai Keisha disentuh dan di bunuh setelah di lecehkan. Bukannya itu mantap?
"Ngeri juga sih. Tapi patut untuk dicoba." ucap Bertha.
"s**t!! Dipikir diculik itu enak apa? Makan aku banyak ya." dengus Keisha.
"Yang ada penculiknya kapok nyulik kamu yang bawel dan rewelan begini."
Keisha hanya geleng kepala. Dia tidak tahu lagi dengan sikap Giffard yang menurutnya sulit diartikan. Bahkan laki-laki itu terlalu sulit untuk ditebak apa maunya.
"Jangan menebak kalau nggak bisa. Yang ada situ stres gak ada urusan." ucap Bertha.
Keisha mendengus, tapi masalahnya perempuan itu cukup penasaran dengan Giffard. Dia hanya ingin tahu tujuannya apa? Tapi tetap saja Keisha tidak menemukan apapun.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bersama, berhubung Bertha juga tidak ada kegiatan apapun. Tempat dia bekerja juga sedang libur, alangkah baiknya jika Bertha dengan senang hati menemani Keisha jalan-jalan. Atau mungkin sekedar mampir apartemen, atau menginap disana.
"Pengen. Tapi masalahnya, itu Tika gimana?" kata Bertha
"Diangkut sekalian dodol!!"
Bertha tertawa. "Tapi kan Tika jarang di rumah."
Kalau masalah itu Keisha tidak tahu, dia juga jarang sekali bertemu dengan Tika. Setelah pindah di apartemen, rasanya Keisha sudah seperti orang asing bagi mereka.tika terlalu sibuk mengejar studinya yang nyaris terbengkalai beberapa bulan terakhir. Karena masalah biaya yang membengkak, bahkan dia harus bekerja dari pagi ketemu pagi untuk mengumpulkan uang yang cukup. Tapi tetap saja uang Tika habis untuk keperluan sehari-hari dan juga jatah sekolah adiknya. Dia bukan dari keluarga kaya atau terpandang, bahkan untuk makan besok saja Tika harus memikirkan untuk hari ini. Meskipun dia banyak teman yang bisa membantu dirinya, tetap saja Tika ingin usaha sendiri dulu untuk mencapai apa yang dia inginkan.
Memutuskan kembali ke kos, Bertha dan juga Keisha tidak menemukan Tika sama sekali. Perempuan itu belum pulang, ponselnya juga mati. Padahal Keisha juga ingin Tika bisa ikut dengannya ke apartemen. Itung-itung kalau Giffard tidak pulang, dia masih punya teman untuk berbicara.
"Kayaknya dia gak pulang lagi deh." ucap Bertha.
"Ya sudah, kita berdua aja kalau begitu." jawab Keisha dan membuat Bertha mengangguk kecil.
****
Giffard memijat kepalanya ketika melihat Clarissa yang tiba-tiba saja datang ke sekolah untuk mengantar makan siang untuk Giffard. sedangkan hal itu tidak perlu dia lakukan, hanya untuk mengambil hati Giffard. Mau sampai kapanpun, dia tidak akan tertarik dengan perempuan yang bernama lengkap Paulina Clarissa Larasati. Dan sekarang, perempuan itu malah duduk santai di hadapan Giffard dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya
Aiden yang melihat pun heran. Ini bukan Giffard, mana mungkin Giffard mempermainkan perempuan. Dia sudah mengaku kalau Giffard memiliki kekasih yang bernama Keisha. Tapi kali ini …
"Lo nggak lagi selingkuh kan?" bisikan Aiden.
Giffard menggeleng. "Satu aja bikin pusing kok dua. Gue bukan elu sana sini oke!!"
Aiden mendengus, dia tidak seperti itu. Aiden hanya mencari sosok perempuan yang bisa membuat Aiden jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama. Tapi nyatanya, sampai saat ini Aiden belum juga menemukan perempuan itu. Lagian, dia juga masih bocah masih suka koleksi mantan. Jadi ya jangan harap Giffard bisa melihat Aiden setia dengan satu perempuan.
"Terus itu cewek siapa, Gif kalau bukan pacar lo."
"Ceritanya panjang. Kalau gue ceritain sekarang, tahun depan belum tentu selesai."
"Sialan!! Jangan sampai cerita lo lebih tebal dari buku sejarah."
Nyatanya memang begitu, Giffard membenci apa yang ada di hadapannya. Laki-laki itu juga meminta Clarissa untuk segera pergi dari sini. Giffard tidak suka menjadi bahan tatapan mata dari semua murid. Dia bukan Aiden yang suka tebar pesona. Apalagi dia juga terkenal dingin di sekolah, tidak ada yang bisa melakukan hati Giffard selama ini.
"Kita bisa pulang bersama. Lagian, papa kamu juga nyuruh aku ke butik sama kamu." ucap Clarissa dengan tampang bahagianya.
Giffard melemparkan tatapan tajam, sehingga membuat Aiden semakin bingung dan penasaran. "Untuk apa? Aku tidak membutuhkan butik!! Kamu pikir aku ini orang nganggur apa!! Aku sibuk, dan kalau kamu ingin ke butik, pergi aja sendiri!!"
Setelah mendapatkan penolakan, Clarissa langsung memukul meja kantong sekolah ini. Apalagi melihat Giffard yang pergi begitu saja dari hadapan Clarissa. Dia tahu jika Giffard tidak ingin menikah dengannya. Tapi masalahnya untuk pertama kalinya, Clarissa jatuh cinta dengan laki-laki yang mampu menolaknya. Meskipun dia sudah bersikap baik dan penuh perhatian.
Meningkatkan kantin dengan rasa jengkel, Giffard memilih pergi ke arah parkiran. "Hah Gif, lo mau kemana?" tanya Aiden heran.
"Gue mau pergi dulu, kalau ada pengumuman kasih tau gue."
"Lo mau kemana?"
"Pergi bentar, gak usah bawel. Urus sekolah dengan baik."
Giffard melakukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Disana dia bisa melihat dua pasang sandal yang tidak pernah Giffard lihat sebelumnya. Yang warna kuning Giffard tahu jika itu milik Keisha. Tapi yang warna biru?
Buku-buku Giffard masuk ke apartemen ini dengan perasaan gak karuan. Bagaimana kalau Keisha memasukkan laki-laki lain selain dirinya ketika Giffard tidak ada di rumah? Atau mungkin Keisha sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain, seperti dirinya pada Giffard?
"Keisha … " panggil Giffard berteriak.
Keisha yang ada di bawah meja dapur pun langsung sendiri. Melihat Giffard yang datang dengan keadaan marah.
"Ya? Kenapa?" ucap Keisha.
"Aku nggak ada kamu masukin laki-laki lain selain aku." tuduh nya.
Alis Keisha mengkerut, dia pun menatap Giffard dengan tatapan bingungnya. "Maksudnya?"
"Itu sandal punya siapa? Yang warna biru."
"Punyaku. Kenapa?" sahut Bertha yang sejak tadi hanya diam di pojokan ruang tengah. Perempuan itu lebih memilih menikmati cemilannya dibanding membantu Keisha masak.
Giffard terkejut, dia menatap Keisha dengan tatapan yang sulit diartikan. Sudah salah, nada tinggi lagi!!
"Kenapa? Kamu jam segini kok udah pulang?" tanya Keisha mendekati Giffard. Berdiri di hadapan laki-laki itu, Keisha pun mengangkat tangannya dan menempelkan punggung tangannya di kening Giffard. "Gak demam juga." ujarnya.
"Memang. Aku sengaja pulang, cuma pengen liat kamu masih marah sama aku atau tidak." jawab Giffard cepat tanpa adanya rasa malu.
Jangan tanya Keisha bagaimana. Yang kelas jantungnya berdebar kencang, dengan rona merah di kedua pipinya. Begitu juga dengan Bertha yang menunjukkan wajahnya menjijikkan, seolah dia alergi dengan ucapan Giffard.
"Gak ada hubungannya." cetus Keisha untuk menutupi rasa gugupnya.
"Ada!! Kamu aja yang nggak tau."
"Dih apa sih!! Gak jelas banget kamu itu." sewot Keisha
Perempuan itu memilih pergi dan menghampiri Bertha. sungguh, dia benci hal ini. Hal dimana dia merasa jantungnya nyaris lepas dari tempatnya karena ulah Giffard.
Bertha mendekat, lebih tepatnya menarik telinga Keisha untuk lebih dekat dengan bibirnya. "Bilang dulu, kalau kamu sudah mulai suka sama Giffard. Rona merah di pipimu, sebagai simbol perasaanmu." bisik Bertha dan membuat Keisha menggeleng.
Tidak mungkin!! Tidak mungkin jika dia mulai jatuh hati dengan bocah SMA. itu mustahil!!
To be Continued