SB-32

1965 Words
"Enggak mungkin!!" teriak Keysha kencang. Semua anak menoleh termasuk dosen yang baru saja menatap bukunya di tumpukan meja paling depan. Membenarkan kacamatanya dosen itu menatap Keisha dengan kebingungan. "Keisha … apanya yang tidak mungkin?" Perempuan itu tersentak mendengar pertanyaan yang begitu asing di telinganya. Ini adalah kelas terakhir, dan setelah ini Keisha akan bebas dari jerat dengan banyaknya tugas dari dosen yang selalu mengincar Keisha. Jika diingat sebenarnya Keisha tidak memiliki masalah apapun dengan dosen itu. Tapi entah kenapa dia selalu saja memberikan banyak tugas hanya untuk Keisha. Bahkan Keisha juga pernah protes dengan semua ini, hingga akhirnya dosen itu tidak nen gubris apapun protesan Keisha. Menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali, Keisha merasa dejavu diantara mahasiswa lainnya. Sungguh, pikirannya melayang pada ucapan Bertha, yang dimana perempuan itu mengira jika Keisha menyukai Giffard. Tentu saja hal itu tidak mungkin!! Dia tidak mungkin menyukai anak didiknya sendiri, dia juga tidak mungkin menjalin hubungan dengan bocah sma baru kemarin. Sialan!! Rona merah itu bukan karena suka atau apapun itu, tapi karena Keisha yang malu digoda terus menerus oleh Giffard. "Keisha … " panggil dosen itu kembali. Keisha gelagapan, dia pun langsung menggeleng, tanda tidak ada yang tidak mungkin. Dia hanya banyak pikiran, itu sebabnya dia berpikir jika semuanya tidak mungkin. Sedangkan di dunia ini semuanya serba mungkin jika ada banyak duit. Dosen itu masih terus menatap Keisha untuk beberapa detik. Hingga akhirnya dosen itu menundukkan kepalanya mengambil ponselnya dari saku celana. Jemarinya menari-menari indah di layar ponsel cerah itu, setelah itu kembali menyimpannya di saku celana. "Ya sudah. Kalau tidak ada pertanyaan, kelas saya akhiri dan sampai ketemu besok pagi. Selamat siang." Mahasiswa yang ada di dalam kelas ini langsung bersorak. Begitu juga dengan Keisha yang langsung menyimpan beberapa buku yang dibawa ke dalam tas. Setelah itu mengambil ponselnya, yang sempat bergetar sejak tadi. Dia menatap beberapa panggilan dari Giffard, pesan bocah itu dan juga pesan masuk dari Bertha yang menawari donat untuk Keisha. Tapi ada satu pesan yang membuat Keisha mendelik sempurna. "Itu … kenapa ngajakin ketemuan!!" dengus Keisha. Menyimpan ponselnya kembali, Keisha pun memutuskan untuk bertemu dengan dosen yang baru saja keluar dari kelasnya. Untuk apa dosen itu memintanya bertemu? Sampai di depan ruangan dosen, Keisha merasa malas jika harus ketuk pintu. Tapi jika tidak, atau mungkin dosen itu keluar dan bertemu Keisha di luar ruangan. Sudah dipastikan akan ada berita tidak sedap tentang dirinya dan juga dosen. Apalagi dulu, Keisha pernah mendapati gosip, jika dirinya adalah ayam kampung karena tubuhnya yang berisi, hingga kurus begini pun masih dianggap menjual diri karena banyak uang. tak taunya Keisha itu pandai sekali mencari uang halal, baru kali ini saja dia mendapatkan uang haram yang harus tinggal satu rumah dengan brondong. Semoga saja kak Seto tidak memarahinya karena dia tinggal berdua dengan bocah dibawah umur. Akhirnya, Keisha pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan ini dengan kencang, sesekali melihat koridor ini yang terlihat masih sepi. “Pak Danu … “ panggil Keisha akhirnya, karena sang pemilik ruangan ini tak kunjung keluar. tiba-tiba … Keisha merasakan sebuah tepukan dari bahunya yang langsung membuatnya terkejut. Keisha langsung menoleh, melihat dosennya dengan mata bulatnya. Kalau sudah tau di luar ruangan kenapa juga harus meminta Keisha datang ke ruangannya? “Jantungan Pak!!” pekik Keisha. Pak Danu pun tersenyum kecil, “Saya mengundang kamu, cuma pengen ngajak kamu makan siang.” Buset dah!! Apa ini yang dinamakan sogokan nilai? Maksudnya, untuk mendapatkan nilai bagus dan epic, Keisha harus menerima ajakan makan siang pak Danu. “Aduh Pak, saya sudah makan tadi.” jawab Keisha. Beda lagi dengan perut sialannya itu, yang mendadak berbunyi dengan kencang. Hingga membuat kedua pipi Keisha memerah karena malu. Pak Danu tyang mendengar pun langsung tertawa, sambil menunjuk perut Keisha dengan dagunya. “Tuh, cacingnya demo.” kekehnya. “Masih mau nolak?” ujarnya kembali Mau tidak mau akhirnya Keisha pun mengiyakan ajakan Pak Danu untuk makan siang bersama. Keisha meminta Pak Danu untuk menunggunya di depan minimarket kiri jalan, setidaknya tempat itu tidak begitu jauh dari kampus. Dan menurut Keisha itu adalah tempat paling aman untuk penjemputan. Kadang Keisha juga meminta Giffard untuk menurunkan dia disana ketika bocah sialan itu memaksa untuk mengantar atau menjemput Keisha. “Ya sudah saya tunggu disana ya.” kata Pak Danu, membuat Keisha mau tidak mau mengangguk. Buru-buru perempuan itu langsung mencari Bertha, dia ingin mengajak Bertha dalam hal ini. Setidaknya, jika ada gosip dia bisa beralasan jika semua ini karena Bertha. Dia hanya mengantar Bertha dan Pak Danu untuk bertemu dan makan siang. Sialnya, perempuan berambut pirang itu malah tidak ada. Keisha capek keliling kampus, bertanya sana sini, seperti Bertha telah hilang dari muka bumi ini. Dan tak ada satu pun yang melihat Bertha berada di kampus. Dimana dia? “Tika … “ Keisha berlari ketika melihat Tika yang barus aja keluar dari kelas. Perempuan itu terlihat buru-buru, belum lagi dia langsung melambaikan tangan pada ketiga temannya. “Liat Bertha nggak?” tanyanya heran.. Keisha tidak mungkin mengajak Tika yang terlihat sibuk. Bukan masalah itu juga, Keisha juga yakin jika Tika tidak mengetahui hal ini, maksudnya masalah ini. Itu sebabnya Keisha tidak mau melibatkan Tika sedikitpun. “Duh, Kei, nggak tau deh. Dari kemarin Bertha gak pulang. Aku juga lagi nyariin dia.” Mata Keisha mendelik sempurna, bisa jadi alasan untuk Keisha pada pak Danu. Membatalkan janji makan siangnya kareena bertha tidak pulang dari kemarin. Buru-buru, Keisha memutuskan untuk pergi dari kampus ini. ide yang bagus, setidaknya dia terselamatkan dari gosip. Sedangkan Tika yang melihat sikap aneh Keisha pun mengumpat dalam hati. Dia itu tahu atau tidak, kalau disini Tika masih berdiri dengan tegak di hadapannya. Bukannya diajak bicara, yang ada Keisha malah pergi begitu saja dari hadapannya. Dengan bersenandung ria, akhirnya Keisha pun melihat Pak danu yang tengah menikmati sebotol air mineral. Keisha mendekatinya dan tersenyum, seolah senyum itu akan mampu menyelamatkan dirinya. “Kok lama banget.” tanya Pak Danu, pasalnya dia juga sudah lapar sekali. Belum lagi Keisha yang entah kenapa menurut Pak danu sangat lama untuk datang. “Sorry Pak, saya tadi habis ketemu sama Tika. Saya lagi nanya Bertha kemana, taunya dari kemarin belum pulang. Ini dia lagi ngajakin saya nyari Bertha, Pak.” Alis Pak Danu terangkat sebelah. Dia pun menatap Keisha dengan tatapan herannya. “Berthalia?” Keisha mengangguk kecuali, dia pun langsung memasang wajah memelas. “Saya meminta dia untuk penelitian, untuk skripsi yang seharusnya dia kerjakan tahun lalu. Saya meminta Bertha untuk menyelesaikan dengan cepat. Dan saya juga memberi waktu Bertha satu minggu untuk skripsi itu.” jelas Pak Danu. Keisha membuka mulutnya lebar-lebar, matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan jika apa yang dia dengar tidak benar. Tapi sayangnya, saat ini Keisha berhadapan dengan dosen, yang dimana dosen pasti akan meminta yang terbaik untuk mahasiswanya. “Oh begitu ya, Pak.” kata Keisha canggung. Pak Danu mengangguk kecil, “Yasudah ayo kita pergi. Saya sudah lapar, Keisha.” *** Masuk ke sebagai cafe yang katanya baru, Keisha pun merasa sungkan. Mendadak dia berpikir jika dia akan bertemu dengan Giffard di cafe ini. Ini hanya pikiran saja, tapi Keisha berharap jika Giffard tidak akan menemukan dirinya. Keisha menatap beberapa menu yang terpampang sangat jelas di depan mata, hingga membuat perut Keisha kembali berbunyi dengan cukup keras. Ya Tuhan … Pak Danu yang mendengar pun tertawa kecil, dia meminta Keisha untuk memesan beberapa menu yang dia suka. Sedangkan Pak Danu, akan kembali setelah dia dari kamar mandi. "Pak ini saya gak ditinggalin kan? Nanti pas saya pesan terus Bapak pulang ninggalin saya!!" ucap Keisha takut. Pak Danu tertawa kecil. "Saya nggak seperti itu. Pesan saja, setelah ini saya kembali." "Terus Bapak pesen apa?" "Samain aja kayak kamu." Keisha mengangguk, menatap Pak Danu yang pergi dari hadapannya. Perempuan itu langsung memesan beberapa menu makanan yang dia suka, tidak peduli pak Danu suka atau tidak dengan makanan yang dia pesan. Lagian, siapa suruh meminta Keisha yang memesan makanannya. "Pesanan atas nama siapa?" tanya pelayan itu dengan sopan. "Keisha. Tapi yang bayar mas-mas tadi ya." Mbak kasir itu menatap Keisha dengan ragu, lalu menatap laki-laki yang bersamanya baru saja keluar dari lorong toilet. "Mas yang itu?" tanya mbak kasih sambil menunjuk Pak Danu yang berjalan ke arahnya. Keisha mengangguk, dia meminta mbak kasir itu menagih tagihan jumlah makanan yang dia pesan pada Pak Danu. Dia yang mengatakan Keisha makan, tentu saja dia juga yang harus membayar makanan yang Keisha pesan. Pak Danu sampai, dia pun mengeluarkan satu kartu platinum berwarna hitam dan dia berikan pada kasir. Sebenarnya, meskipun ditinggal Pak Danu pun tidak masalah. Keisha masih bisa membayar tagihan makannya dengan kartu yang diberikan Giffard untuknya. Jangankan membayar, membeli tempat makan ini saja Keisha bisa menggunakan kartu itu. Mencari tempat duduk yang kosong, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di pinggiran dekat dengan panggung kecil. Keisha merapikan kemeja yang dia kenakan, sesekali menatap pengunjung yang baru saja datang. Sampai akhirnya tatapan Keisha mengarah pada satu meja yang tak jauh dari tempatnya duduk. Hanya berjarak empat kursi saja tapi terlihat jelas siapa yang duduk di meja nomor sepuluh. Tika. Ya, meja yang berjarak empat meja itu membuat Keisha menyipitkan matanya. Menatap perempuan yang duduk di meja nomor sepuluh dengan seorang laki-laki dan tertawa. "Itu … Tika bukan sih, Pak?" tanya Keisha menatap Pak Danu yang terus menatap Keisha. Laki-laki itu menoleh, menatap meja sepuluh dan mengangguk. "Iya, itu Tika, ada apa? Kamu mau gabung sama dia?" Tentu saja tidak, mau apa juga Keisha harus gabung dengan mereka. Dia bukan tipe orang yang mengangguk ketika temanya bahagia. Bahkan Chrissy juga mendukung kalau temannya itu memiliki kekasih, asalkan tidak menyakitinya saja sudah lebih dari cukup. Tak lama, makanan yang dipesan Keisha pun datang. Dia menatap sepiring nasi goreng dan juga sepiring pasta. Bahkan Keisha juga memesan beberapa cemilan dan juga minum dingin. "Pk Danu … sebenarnya, kenapa sih Bapak ngajakin saya makan siang berdua?" tanya Keisha ragu. "Kita tidak sedang di kampus. Kamu bisa memanggil saya dengan nama, Keisha." Tetap saja tidak baik. Mau di kampus atau tidak, bagaimanapun Pak Danu adalah dosennya. Dia tidak ingin banyak orang, atau mahasiswa kampus mendengar Keisha memanggil dengan sebutan nama. "Kalau tidak mau nama, bisa ditambah dengan embel-embel." kata Pak Danu. "Mas? Memang boleh manggil Mas?" Tentu saja tidak, itu juga sudah lebih dari cukup. Lagian itu panggilan yang sopan untuk Pak Danu. Menikmati makan siangnya, Keisha banyak sekali cerita tentang nilainya yang banyak sekali kurang. Bahkan, ada beberapa mata pelajaran Pak Danu yang nilainya tidak sesuai dengan apa yang Keisha inginkan. Sedangkan Pak Danu bisa membantu Keisha dengan lulus cepat. Tiga bulan mendatang akan ada perpisahan untuk senior. Jika Keisha ingin, dia bisa lulus dengan senior. "Bentar Mas, masalahnya otak saya lagi nggak pengen diajak berpikir." kata Keisha. Danu tertawa kecil. "Mau saya bantu? Tapi ada imbalannya." Keisha mendesah pelan. Dia pun menatap Pak Danu dengan tatapan mengintimidasi. "Kenapa harus ada imbalannya Pak? Nggak ada yang gratis apa, Pak?" Dalam pikiran Keisha kali ini hanya satu, Pak Danu memberikan nilai cuma-cuma, udah dipastikan Pak Danu akan meminta tidur setiap hari dengan Pak Danu. Jangan harap Keisha mau berbuat seperti itu, dengan Giffard saja Keisha tidak mau apa lagi dengan Pak Danu. Yang ada bukannya berteriak keenakan, yang ada Keisha malah berteriak minta tolong karena dipaksa. "Tapi pengen tau alasan Bapak ngajakin saya makan siang berdua apa?" "Sebenarnya gak ada apa-apa, saya cuma pengen makan siang saja dengan kamu. Lagian kamu juga tidak ada kelas kan setelah kelas saya." Memang, Keisha tidak ada kelas lagi setelah Pak Danu. Tapi kan masalahnya aneh saja ketika murid makan siang dengan dosen. Takutnya timbul fitnah, yang dimana Keisha adalah orang yang paling dibenci di muka bumi ini. "Pak saya—" ucapan Keisha terhenti ketika melihat satu laki-laki yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Mata perempuan itu mendelik sempurna, hingga reflek jarinya menunjuk ke arah laki-laki itu. "Giffard … " To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD