SB-33

1994 Words
Keisha terlihat panik setelah mendengar ketukan pintu di apartemen. Dia melihat dari monitor dekat pintu, yang dimana menunjukkan wajah Giffard yang terlihat sangat marah. Laki-laki itu memilih mengetuk, padahal dia bisa saja membuka pintu apartemen ini sendiri. Selain tahu passwordnya apa, dia juga punya card dan juga kunci cadangan apartemen ini. Jantung Keisha berdebar lebih kencang, dia bahkan mondar-mandir di depan pintu dengan meremas kedua tangannya. Seharusnya, dia tidak merasakan hal ini. Maksudnya untuk apa dia panik? Untuk apa dia ketakutan? Toh, dia juga tidak memiliki hubungan paten dengan Giffard kan? Tapi tetap saja Keisha merasa ketakutan dengan kedatangan Giffard. Mencoba membuka pintu, Keisha hanya menyembulkan kepalanya saja untuk melihat bagaimana ekspresi Giffard kali ini. Dia pun nyengir tanpa dosa, dan berkata. “Kok lo udah pulang, Gif? Biasanya pulang malam.” Giffard yang moodnya sudah buruk, langsung mendorong pintu apartemen ini hingga terbuka lebar. Bahkan Giffard juga tidak peduli dengan Keisha yang ikut terbating hingga bersembunyi dibalik pintu apartemen. Perempuan itu mendengus, melihat Giffard yang langsung melepas sepatu, dan juga melonggarkan dasinya. “Kamu lapar nggak? Mau aku buatkan sesuatu?” tanya Keisha gugup. Giffard menatap Keisha dengan tajam, seolah tatapan itu mampu menguliti Keisha. Dan entah kenapa Keisha tidak suka tatapan Giffard seperti itu. Dia tahu, dia salah karena sudah keluar dengan dosennya sampai makan siang. Harusnya Keisha menolak, tapi kan masalahnya Keisha juga sudah menolak, tetap saja dosennya meminta Keisha untuk menemaninya makan siang. “Gif kamu marah?” tanya Keisha dengan menunjukkan wajah melasnya. Biasanya kalau begini Giffard suka iba dan tidak jadi marah pada Keisha. “Pikir aja sendiri!! Punya otak kan!!” katanya pedas. Melongo adalah hal yang dilakukan Keisha kali ini, belum lagi Giffard yang telah mengatakan hal itu langsung pergi dari hadapan Keisha.Tentu saja sikap itu langsung membuat Keisha mengumpat kencang. Mencoba untuk tidak mempedulikan Giffard, Keisha lebih memilih duduk di ruang tengah sambil menikmati tehnya yang sudah dingin. Dia tadi, setelah mengetahui Giffard berada di tempat makan yang sama. Keisha buru-buru menghabiskan makannya dan mengajak pak Danu pergi, dengan alasan ada mantan kekasih Keisha yang masih saja mengikutinya sampai sekarang. Jangankan pacar, dekat dengan laki-laki saja baru dengan Giffard bisa seintim ini. Hanya Keisha suka memberi harapan palsu pada laki-laki yang mendekatinya. Maklum saja, hidup dikota orang dan jauh banget dari keluarga, membuat Keisha mau tidak mau memanfaatkan makanan gratis, barang gratis dari mereka yang suka sekali memberikan Keisha hadiah. Tak lama, Giffard pun keluar dari kamar. Dia sudah bersih, aroma sabun menyeruak di hidung Keisha. Dia bahkan bisa melihat Giffard yang berjalan ke arah dapur tengah membuat sesuatu. Berhubung Keisha juga masih merasa lapar, karena takut melihat Giffard malah, tetap saja tidak mengurangi porsi makan Giffard. Mencium aromanya saja langsung membuat perut Keisha keroncongan. Dia sudah membayangkan apa yang Giffard masak untuk dirinya dan juga untuk Giffard sendiri. Tapi yang ada, ketika Giffard datang ke ruang tengah sambil membawa piring. Keisha dibuat melongo dengan satu piring nasi goreng telur dan juga kopi s**u. Keisha menatap ke arah meja, hingga dapur secara bergantian. Tidak ada wajan untuk memasak, karena sudah bersih. Begitu juga dengan piring yang susah tersusun rapi juga disana. "Loh … buat aku mana?" tanya Keisha langsung Giffard melirik Keisha sejenak lalu berkata. "Pacarmu bisa buatin, kenapa harus aku!!" Kesal? Tentu saja Giffard kesal dengan sikap Keisha yang mendadak menghilang tanpa mengobati Giffard sekalipun. Dia juga tidak mengatakan apapun jika dia pergi bersama dengan laki-laki lain. Setidaknya, Keisha bilang jika dia tidak bisa karena harus menemani dosennya. Bukan berarti dia harus berbohong jika masih ada di kampus. "Dih!! Apaan sih, dia itu dosen. Aku sudah bilang kan, kenapa harus diungkit!!" Meletakkan piringnya, Giffard pun menatap Keisha dengan kesal. "Ada begitu dosen, makan siang cuma berdua doang!! Di pikir aku bodoh apa!!" Keisha mengacak rambutnya frustasi. "Heh … apa sih! Udah aku bilang ya, dia itu dosen aku!!" ucapnya Keisha kembali. "Perlu harus bohong segala? Aku udah mulai jujur ya sama kamu, terus apa yang aku dapat!!" Keisha diam, dia tahu jika dia salah. Tapi kan masalahnya, Keisha juga takut kalau mau bilang sama Giffard. Takut gak di bolehin, sedangkan Keisha juga pengen kayak lainnya. "Iya iya, aku salah, aku minta maaf, udah bohong." Dasarnya Giffard itu tidak bisa melihat wajah melas Keisha. Akhirnya laki-laki itu langsung menarik Keisha ke dalam pelukannya. Sebenarnya dia mau makan siang dengan siapapun, Giffard tidak masalah. Asalkan dia mau bilang sejujurnya pada Giffard. Tapi kenapa harus bohong segala? Keisha memeluk tubuh hangat itu dengan erat. Cuaca memang tidak dingin, tapi betah kenapa dipelukan Giffard, Keisha berpikir jika cuacanya begitu dingin. Tidak hanya dipeluk, Keisha juga merasa laki-laki itu mengecup keningnya beberapa kali, hingga membuat Keisha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Mencoba untuk menenangkan amarahnya, Giffard malah merasakan ponselnya bergetar. Dia pun menatap id call ayahnya di layar ponselnya. Laki-laki itu mendesah, sambil menatap Keisha. "Bentar ya, Papa telepon." katanya Keisha mengangguk. Dia pun melepas pelukan itu, hingga membuat Giffard bangkit dari duduknya. Entah apa yang mereka bicarakan, atau mungkin apa yang mereka bahas, hingga Giffard harus pergi ketika menerima panggilan dari orang tuanya. Disini, Keisha juga tidak mendengarkan apapun kecuali kata hallo. Giffard hanya memasukkan satu tangannya ke kantong celana yang dia kenalan, sambil menganggukkan kepalanya kecil. "Nanti aku usahain.'" katanya, dan mematikan sambungan teleponnya. Membalik badannya menatap Keisha. Laki-laki itu mencoba untuk tersenyum. "Papa bilang, suruh pulang bentar." ucap Giffard. Keisha langsung diam. Pasalnya dia sudah merencanakan sesuatu hal yang akan dia lakukan pada Giffard. Tapi kenapa, selalu saja ayahnya yang menjadi penghalang antara Giffard dan juga Keisha. Apa perlu Keisha menyingkirkan papa Giffard buat gak jadi tali tambang? Mau tidak mau Keisha pun mengangguk kecil, mungkin bukan saatnya untuk dia melakukan banyak hal dengan Giffard. Masih ada hari lain dan siapa tahu saja hari ini Giffard pulang cuma sebentar dan kembali ke apartemen. "Yaudah … pulang sana!!" usir Keisha kesal. Merasakan jika Keisha marah, dia hanya perlu menepuk puncak kepalanya dengan lembut. "Aku bakalan balik cepet. Habis urusan itu selesai, langsung balik ke apartemen." Tidak merespon ucapan itu, Keisha memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya dia tahu tidak sih!! Bahkan dia sudah banyak sekali bilang begitu, janji akan kembali cepat, akan menyelesaikan dengan cepat pun nyatanya tidak. Dia akan kembali minggu depan, dan paling cepat tiga hari setelah hari ini. Giffard sendiri juga tidak bisa berbuat banyak. Dia sedang berjuang untuk melawan papa nya meskipun mustahil dan sulit. Sampai mengorbankan waktunya bersama dengan Keisha. Kembali mengenakan sepatu, Giffard pun segera pulang ke rumah Kenzo. **** "Kenapa Papa manggil aku?" tanya Giffard, ketika dia baru saja sampai di rumah. Kenzo melemparkan map biru di atas meja. Hingga membuat Giffard mengerutkan keningnya. "Apa?" "Buka aja sendiri." Mengambil map itu, Giffard langsung membuka map itu dengan mata mendelik. Isinya hanya sebuah foto dirinya dan juga Keisha, untung saja foto perempuannya tidak begitu jelas. Itu adalah foto ketika Giffard mendekati Keisha di tempat makan dan nyaris berdebat, jika Keisha tidak langsung menarik tangan Giffard untuk pergi. Giffard menatap Kenzo dengan mata memicing. "Papa dapat dari mana?" "Tidak perlu tau, Papa dapat darimana. Yang jelas jauhi dia, karena kamu sudah punya calon istri." Sekali lagi, Giffard meminta Kenzo untuk tidak menjodohkan dirinya dengan Clarissa. Dia tidak menyukai Clarissa sama sekali, dan ini juga sudah modern tidak seharusnya perjodohan itu masih terulang. Giffard tahu, kisah cinta Kenzo dan juga ibunya Lail, mereka yang awalnya saling cinta, akhirnya juga bercerai bukan? Dan Kenzo malah memilih Debora sebagai istri keduanya. Harusnya Kenzo berpikir sampai kesana. Kenapa juga dia harus merasakan pahitnya perjodohan. Sedangkan Debora yang awal ya di jodohkan juga kabur dari rumah. "Jangan membantah, Giffard. Ini untuk kebaikanmu." "Bukan Pa!! Kalau untuk kebaikan ku, yang jelas harus pilihan aku!!" Kenzo tidak ingin dibantah. Dia akan tetap melangsungkan pertunangan Giffard dan juga Clarissa minggu depan. Mau tidak mau, ini adalah keputusan Kenzo, dan Giffard harus mengikuti apapun yang Kenzo inginkan. Melihat papanya pergi, Giffard pun mengacak rambutnya frustasi. Sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan, selain bekerja sama dengan Clarissa. Dan sialnya, perempuan itu malah seolah menerima pertunangan ini dengan senang hati, tanpa memikirkan apa mau Giffard. Ketika Giffard ingin pergi, dia malah melihat Debora yang mengusap air matanya di dekat meja. Giffard tersenyum kecil, dan menghampiri Debora yang dimana laki-laki itu masih muda. "Mama kenapa nangis?" tanya Giffard. Meskipun dia tahu, jika ibu tirinya itu mendengar perdebatan antara Kenzo dan juga Giffard. "Kamu nggak papa?" bukannya menjawab pertanyaan Giffard, Debora malah melayangkan pertanyaan. Yang dimana dia sangat khawatir dengan keadaan Giffard. Tentu saja Giffard baik-baik saja, dia merasa dirinya tidak berguna karena tidak bisa membela dirinya di depan ayahnya. Kenzo masih tinggal di masa lalu, dimana perjodohan itu masih melekat pada dirinya. Sedangkan kisah cintanya juga tidak ada perjodohan kan? Hanya Debora yang dijodohkan hingga memilih meninggalkan rumah, sampai menikah dengan Kenzo. Tapi nyatanya … "Kalau kamu gak mau jangan dipaksa." kata Debora kembali. "Ada pilihan lain ya Mam? Mungkin Gif udah pilih enggak. Mama sendiri tau kak, Papa kayak apa." Debora tahu, bagaimana keras kepalanya Kenzo selama ini. Dia adalah pria yang tidak mau dibantah sedikitpun. Meskipun setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Begitu juga dengan Giffard. Debora juga tidak mau berjanji apapun untuk Giffard, dia akan membantu sebisa mungkin selagi bisa. Tapi Debora juga meminta maaf pada Giffard, jika dirinya telah gagal menjadi seorang ibu. Terenyuh dengan ucapan itu, Giffard malah lebih memilih memeluk Debora dengan hangat. Dia tidak mau ibunya itu meminta maaf atas apa yang orang lain lakukan. Toh, masalah ini masih lama dan yang jelas Giffard akan memikirkan banyak cara untuk membatalkan pertunangan ini. "Mama jangan khawatir, masih ada banyak waktu. Gif bisa ngobrol berdua dengan Clarissa dan bahas tentang hal ini." kata Giffard menyakinkan. Debora awalnya tidak yakin, dengan ucapan itu. Namun, tidak ingin mengecewakan Giffard akhirnya, Debora pun mengangguk kecil. Dia tahu jika putranya ini bisa, tapi untuk hasilnya … semoga saja seperti yang dia inginkan. **** Mengetuk pintu rumah Clarissa dengan tidak sabaran. Akhirnya pintu rumah besar ini pun terbuka dengan lebar. Clarissa muncul dengan mengenakan baju tidur yang begitu seksi. Belahan d**a yang sangat rendah, dan juga panjang baju ini hanya setengah paha. Giffard berdehem. "Saya mau bicara sama kamu!!" katanya dengan nada cetus. "Gif ini malem banget loh, gak bisa apa ngomongnya besok lagi aja? Aku ngantuk banget loh, Gif." "Peduli setan ini malam atau pagi, saya cuma ingin masalah ini cepat selesai!!" Clarissa mengerutkan keningnya, akhirnya dia pun memintanya Giffard untuk masuk lebih dulu. Clarissa meminta maaf jika dia tidak akan menyajikan apapun untuk Giffard. Selain ini sudah malam, para pembantu rumah ini juga sudah tidur. Dan yang jelas Clarissa juga malas jika harus pergi ke dapur hanya mengambil air minum untuk Giffard. "Katakan apa masalahnya!!" kata Clarissa yang mulai tertarik dengan permasalahan yang dibicarakan oleh Giffard. Hari ini Kenzo meminta Giffard untuk pulang, dia membicarakan pertunangan Giffard dan juga Clarissa. sedangkan perempuan itu tahu, jika Giffard tidak ingin bertunangan dengan Clarissa apapun alasannya. Dia lebih memilih perempuan yang dia inginkan dibanding dengan pilihan Kenzo. Tapi ayahnya itu memaksa, dan pertunangan ini akan dilaksanakan seminggu kemudian. Giffard datang kemari untuk membahas hal ini, setidaknya Clarissa bisa di ajak kerjasama untuk membatalkan pertunangan mereka. Atau mungkin Clarissa mengajak kekasihnya untuk menemui Kenzo, dan meminta untuk membatalkan pertunangan mereka. Mendengar hal itu Clarissa pun menyipitkan matanya. "Kamu serius gak mau tunangan sama aku?" baru kali ini ada orang yang menolak dirinya secara terang-terangan. Sedangkan selama ini dirinya menjadi primadona di sekolahnya, ada banyak sekali laki-laki yang ingin menjadi kekasihnya. Menjadi salah satu laki-laki beruntung yang mendapatkan cintanya. Sedangkan dengan Giffard, kenapa dia malah menolak? "Serius. Saya tidak menginginkan kamu!!" jawab Giffard. "Kamu tidak main belajar menerima saya?" Memangnya hal mana yang harus Giffard Terima? Dia melihat Clarissa saja sudah tidak ingin, bagaimana bisa menerima. "Saya harap kamu mau melakukan apa yang saya katakan! Jika saya tidak ingin menikah denganmu, maka, hidupmu akan menderita jika pertunangan ini dilanjutkan!!" kata Giffard dan berlalu. Melihat hal itu, Clarissa pun menaikkan satu alisnya. Menderita? Penderitaan apa yang akan Clarissa rasakan jika hidup bersama dengan Giffard? To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD