Laura tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara klakson mobil suaminya. Ia bergegas keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. “Cepat yang, waktu kita tinggal 20 menit ini untuk mencapai klinik. Semoga saja tidak macet di jalan, kalau tidak kita akan terlambat.”
“Iya maaf yang, tadi meeting ku agak kelamaan selesainya. Tenang aja aku agak ngebut ya.”jawab suaminya.
Mereka berhasil sampai di klinik dengan tepat waktu, dan hanya menunggu satu pasangan saja, lalu dipersilahkan masuk ke dalam ruangan dokter.
Dr. Robby adalah dokter kandungan yang terkenal menangani kasus-kasus infertilitas di kota mereka. Mereka sudah menjadi pasien dr. Robby sejak program IVF yang pertama. Ia sedang duduk mengetik di komputernya ketika Laura dan suaminya masuk ke dalam ruangan, dan setelah beberapa saat lalu menyapa mereka. “Selamat pagi Pak David dan Ibu Laura. Jadi kemarin Ibu sudah diambil sampel darahnya untuk mengetahui kadar hormon HcG atau hormon kehamilan di dalam darah Ibu. Di sini saya memegang hasil lab nya dan kita akan membacanya bersama ya.”
Laura memegang erat tangan suaminya sambil jantungnya berdebar kencang. Ia melihat suaminya dengan raut wajah tegang memandang ke arah dokter. “Tolong Tuhan please, please biarkan aku hamil Tuhan”, doa Laura dalam hati.
Dr. Robby membuka lembaran hasil, membaca sejenak, lalu memandang ke arah Laura dengan wajah prihatin. “Maaf Ibu, Bapak, sepertinya kali ini belum berhasil ya. Hasil lab menunjukkan tidak ada kenaikan kadar hormon HcG yang signifikan untuk menandakan kehamilan. Tentu saja Ibu bisa tes lab lagi dalam beberapa hari ke depan untuk lebih pastinya.”
Laura seketika merasa tidak bisa bernafas dan hatinya sesak. Perkataan dokternya serasa menusuk hatinya secara nyata. Ia sungguh tidak mau percaya bahwa ia telah gagal lagi. “Tapi dok, saya sudah terlambat haid 2 hari ini. Biasanya haid saya selalu tepat waktu”, kata Laura.
“Siklus haid setelah proses bayi tabung bisa mengalami perubahan yang tidak dapat diprediksi oleh karena banyaknya jumlah hormon yang masuk ke dalam tubuh”, jawab dr. Robby.
Laura berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya di depan sang dokter. Ia mendengar suaminya bertanya, “Lalu bagaimana tindakan kami selanjutnya dok?” Dr. Robby menjelaskan bahwa mereka masih menyimpan dua embrio yang dibekukan, dan mereka dapat melakukan embrio transfer atau penanaman embrio kapanpun mereka mau tanpa harus mengulang proses IVF dari awal lagi.
Laura diam saja, dalam hati ia menjerit, “Aku tidak mau embrio yang lain. Aku ingin embrio yang ini, bayi yang ini. Aku ingin hamil sekarang.”
Setelah berkata kepada dr. Robby bahwa mereka akan mendiskusikannya lebih lanjut, Laura dan suaminya meninggalkan klinik itu dan pulang ke rumah. Selama perjalanan, mereka berdua hanya terdiam saja, sungguh suasana yang berbeda sekali dengan perjalanan berangkat tadi yang penuh harapan. David hanya berkata sekali bahwa mereka dapat mencoba lagi dan ini bukan akhir dari segalanya untuk menghibur Laura, tetapi sesungguhnya hatinya juga merasa putus asa. Laura hanya mengangguk saja. Mereka seakan tidak ada kata-kata yang dapat diucapkan kepada satu sama lain.
Laura mengarahkan pandangannya keluar jendela sambil membiarkan air matanya menetes. Ia melihat orang-orang duduk di cafe sambil makan dan mengobrol tertawa, dan ia berpikir betapa enaknya mereka hidup tanpa beban. Hidup ini sungguh tidak adil. Lima tahun perjuangannya untuk menjadi seorang ibu. Dua kali inseminasi buatan, dua kali bayi tabung dan rasa sakit ditusuk jarum setiap hari, berbagai macam obat herbal, obat modern dan vitamin yang ia minum, semuanya tanpa hasil. Dan yang lebih membingungkan, para dokter tidak dapat menemukan penyebab pasti mengapa mereka tidak dapat hamil. Dr. Robby dan dokter-dokter sebelumnya tidak menemukan kelainan apapun pada Laura, dan walaupun kualitas s****a suaminya kurang dari optimal, tetapi masih dalam kategori wajar.
Laura merasa lelah sekali. Ia merasa sungguh sudah mencapai jalan buntu saat ini. Ia tidak tahu apakah ia masih mau menanamkan embrio yang dibekukan lagi, sedangkan ia dan bahkan dokter pun tidak tahu kenapa embrio yang telah ditanam ini tidak mau menempel di rahimnya.