ENAM

883 Words
Setibanya di rumah, suaminya menawarkan diri untuk tinggal di rumah untuk menemaninya, tetapi Laura menyuruhnya untuk kembali ke kantor saja. Lebih baik suaminya bekerja saja daripada mereka berdua di rumah meratapi nasib mereka. Terlebih lagi, suaminya tidak boleh sampai kehilangan pekerjaan karena mereka sangat bergantung kepada penghasilannya. Laura membuat makan siang ringan untuk dirinya sendiri, lalu berendam di bath tub untuk menenangkan pikirannya. Alih-alih pikirannya tenang, ia malah merasa khawatir memikirkan keadaan finansial mereka. Mereka bisa menyisihkan tabungan untuk melakukan embrio transfer lagi dalam dua atau tiga bulan lagi, tetapi itu akan benar-benar menghabiskan simpanan mereka, dan bila Laura berhasil hamil, pengeluaran mereka akan bertambah dan Laura tidak akan bisa bekerja selama kehamilan sampai beberapa bulan setelah kelahiran bayinya. Atau ia dapat mencoba mencari pekerjaan dahulu sekarang dan menunda penanaman embrio sampai mereka benar-benar siap untuk mencoba lagi sembari Laura memulihkan tubuhnya dan emosinya. Laura sungguh merasa kehabisan tenaga secara fisik dan mental dengan semua usaha kehamilan ini. Ia teringat tahun-tahun awal pernikahannya, ketika mereka masih berharap akan kehamilan alami, bagaimana setiap bulan Laura akan menghitung tanggal ovulasi, lalu menantikan tanggal haidnya dengan harap-harap cemas. Betapa ia sangat senang ketika ia terlambat haid satu atau dua hari, lalu ternyata haid nya tiba dan ia merasa kecewa dan sedih sekali. Beberapa kali ia melakukan tes kehamilan sendiri, namun hasilnya tidak pernah positif. Bila diingat-ingat lagi, Laura dan suaminya sudah lama sekali tidak tertawa bersama, bersenang-senang bersama tanpa beban. Sekian lama ini mereka hanya fokus pada program kehamilan ini dan itu membuat mereka lebih sering berargumen dan bertengkar. Laura merindukan saat saat ketika ia sungguh-sungguh merasa bahagia dengan suaminya, pernikahannya dan dengan hidupnya. Ia bertekad untuk berbicara dengan suaminya nanti malam untuk membahas masa depan mereka. Mungkin akan lebih baik untuk mereka berdua beristirahat dahulu dari semua program kehamilan dan menyibukkan diri dengan pekerjaan dan hobi lain untuk sementara waktu, dan juga kembali fokus dengan hubungan mereka berdua. Hanya saja, Laura juga seperti dikejar waktu mengingat usianya yang sudah kepala tiga ini yang berarti semakin lama akan semakin sulit untuk Laura berhasil hamil dan meningkatkan risiko kehamilan juga. Laura menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir dan beranjak keluar dari bathtub yang airnya sudah menjadi dingin. Sembari mengeringkan badan, entah dari mana ia tiba-tiba teringat akan kakaknya Nina yang berusia lebih tua 2 tahun darinya. Nina tinggal di kota yang sama tetapi mereka jarang sekali bertemu atau bahkan mengobrol di telepon. Nina yang dengan mudahnya melahirkan 2 anak dengan usia yang berjarak dekat, yang kedua bahkan tanpa perencanaan. Setelah menikah di usia relatif muda, Nina dan suaminya memutuskan untuk menunda untuk mempunyai anak selama beberapa tahun untuk karir dan traveling, lalu tanpa kesulitan langsung hamil ketika mereka akhirnya memutuskan untuk mempunyai anak. Semenjak Nina melahirkan anak pertamanya, dan Laura mulai fokus dengan program kehamilannya, mereka mulai perlahan menjauh dengan sendirinya. Nina memiliki kesibukan menjadi ibu baru, dan karena tidak enak hati dengan keadaan Laura atau ia berpikir Laura tidak akan bisa membantunya, ia tidak pernah melibatkan Laura dalam membesarkan anaknya. Terakhir kali Laura bertemu Nina, mereka sedang menghadiri ulang tahun ibu mereka di rumah orang tua mereka beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, Nina sedang hamil besar dan sibuk sekali menjaga anak pertamanya yang memang aktif sekali. Laura mendengarkan kakaknya mengomel terus kepada orang tua mereka tentang anaknya yang nakal, sulit diatur, susah makan, dan lain sebagainya. Laura merasa tidak dapat bersimpati dengan kehidupan kakaknya. Seharusnya kakaknya sangat bersyukur dengan hidupnya, ia mempunyai 2 anak yang sehat, dan bahkan tidak perlu bekerja karena suaminya mempunyai penghasilan yang cukup untuk keluarga mereka. Sementara Laura dan suaminya harus selalu berjuang secara finansial dan dengan infertilitas mereka. Laura juga merasa kakaknya tidak pernah sungguh-sungguh bersimpati dengan perjuangannya dan tidak mau ikut terlibat dengan kehidupan Laura. Dahulu ketika Nina belum memiliki anak, ia sering berkata kepada Laura bahwa ia sangat menikmati hidupnya yang bebas dan ia sering bepergian dengan teman-teman nya. Terakhir ini saat ketemu, ia pernah berkomentar kepada Laura, “Enak ya kamu Laura, bisa punya banyak waktu senggang, bisa melakukan apapun yang kamu mau, pergi ke manapun yang kamu mau. Kalau aku, mau ke kamar mandi aja diikuti terus sama anakku. Aku tidak pernah ada waktu untuk diri sendiri sama sekali. Dan sebentar lagi dengan adanya anak kedua, pasti aku semakin di rumah terus mengurus anak-anak sepanjang waktu.” Laura hanya tersenyum pahit mendengarnya. Ia tidak pernah pergi jalan-jalan atau traveling kemana pun. Satu-satunya tempat yang sering didatangi nya hanya klinik fertilitas dan ruangan dokter yang silih berganti. Selain itu, ia dan suaminya hanya sibuk bekerja untuk mengumpulkan uang untuk biaya program kehamilan mereka. Tetapi anehnya, siang itu, Laura hanya merasa rindu yang teramat sangat kepada kakaknya. Hilang rasa marah, kecewa, dan iri hati yang biasa dirasakannya kepada Nina. Laura ingin sekali mendengar suara kakaknya di hari yang teramat berat ini. Bagaimana pun juga, mereka sedari kecil sangat dekat sekali sampai saat menikah. Mereka selalu bercerita tentang segala hal yang sedang dialami, termasuk urusan percintaan. Laura ingin menelepon kakaknya tetapi ia kuatir kakaknya sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk mendengarkannya. Laura menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tetapi pikirannya tetap tertuju kepada kakaknya. Sore hari, Laura akhirnya memberanikan diri untuk menelepon Nina. Ia duduk di kursi di taman belakang sambil mendengarkan suara telepon berdering. Setelah beberapa saat, akhirnya terdengar suara Nina di telepon. “Halo, Laura?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD