TUJUH

814 Words
Siang itu, Nina terburu-buru menyetir mobil dengan Lili yang duduk di car seat di belakang ke dokter anak untuk vaksinasi. Mereka agak terlambat berangkat dari rumah karena sedari pagi tadi Keira menangis terus dan lebih rewel dari biasanya, dan setelah bersusah payah menenangkannya, barulah Nina tega untuk meninggalkan bayinya dengan Mbak Siti di rumah. Ia terpaksa meninggalkan bayi nya di rumah karena suaminya tidak ada untuk menemani ikut dan Nina tidak sanggup membawa dua anak sekaligus ke dokter. Nina menoleh ke belakang dan melihat Lili sedang bermain sendiri dengan hiasan di baju nya. “Lili sayang, nanti yang pintar ya disuntik dokternya. Cuma sebentar aja kok, terus nanti kamu dikasih stiker sama susternya kalau sudah selesai,” kata Nina dengan agak cemas. “Iya ma,” jawab Lili dengan senyuman manis. Nina sungguh berharap Lili tidak akan menangis keras seperti terakhir kalinya Lili vaksin beberapa bulan yang lalu. Saat itu, Lili berteriak-teriak membuat kehebohan hingga semua orang tua lain dan anak-anak mereka memandangi mereka dengan takjub. Sesampainya di klinik, Nina menggendong Lili masuk ke ruang tunggu. Awalnya, Lili masih tenang dan mengamati anak-anak lain di ruangan itu. Tidak disangka-sangka, setelah mendengar suara perawat dan dokter di ruangan sebelah, Lili mulai menangis dan menarik tangan Nina mengajaknya keluar. Rupanya Lili tadi tidak menyadari kalau ini ruangan dokter dan baru teringat akan pengalamannya dulu merasakan sakitnya disuntik ketika mendengar suara dokter. Nina berusaha keras menenangkan Lili sambil memangkunya agar Lili tidak lari ke arah pintu, tetapi Lili terus menangis semakin keras sementara mereka menunggu giliran nama Lili dipanggil. Beberapa ibu-ibu di sana memandangnya dengan tersenyum simpati, mungkin dalam hati mereka bersyukur anak-anak mereka tidak menangis-nangis seperti Lili. Ketika nama Lili dipanggil, Lili dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter, Lili semakin keras berteriak dan memberontak berusaha turun dari gendongan Nina. Nina terkejut dan hampir saja menjatuhkan Lili. Ia memegang Lili dengan kuat sambil berjalan ke arah ruangan dokter. Nina berusaha menenangkan Lili tetapi Lili tidak menghiraukannya sama sekali. Lili mengangkat kedua kakinya di kedua sisi pintu masuk ruangan dokter dan menolak masuk ke dalam. Nina bersusah payah sekuat tenaga memegang Lili sambil berusaha melepaskan kakinya. Akhirnya, dengan bantuan satu perawat dan dokternya, mereka bertiga berhasil membawa Lili ke tempat tidur dan memegangi Lili, lalu dokternya cepat-cepat menyuntikkan obat ke paha Lili. Lili menangis kencang saat disuntik dan memberontak berusaha melepaskan diri. Nina tidak habis pikir betapa kuatnya anaknya itu sampai ia kewalahan. Setelah selesai, perawat menawarkan stiker dan Lili mengambilnya sambil masih menangis. ”Anaknya kuat sekali ya Bu,” sang dokter pun tersenyum seraya berkomentar. “Iya dok,” Nina menjawab dengan pasrah. Lili akhirnya berhenti menangis dan sibuk memainkan stikernya. Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka keluar dari klinik. Tangan Nina masih memegangi pintu klinik untuk membiarkan Lili keluar duluan, ketika tiba-tiba Lili melepaskan tangan Nina yang satunya dan berlari ke trotoar menuju ke jalan raya. Spontan Nina berteriak “Lili!!!” dan berlari mengejarnya. Lili sudah sampai di tengah jalan raya ketika Nina berhasil menangkapnya dan langsung menggendongnya. Di saat bersamaan, sebuah mobil besar mengerem mendadak di depan mereka sambil mengklakson keras. Nina mengangkat tangannya untuk meminta maaf kepada pengemudi mobil tersebut, lalu dengan hati berdebar kencang ia kembali ke mobilnya sendiri. Nina menaruh Lili di tempat duduknya dan langsung memarahinya. Nina tidak mau memikirkan apa yang dapat terjadi seandainya ia terlambat menggapai Lili. Lili yang terkejut mendengar teriakan Nina langsung menangis. Nina memeluk anaknya erat erat sambil menangis juga. “Oh Lili sayang, Mama harus gimana lagi sama kamu. Kamu kok nggak mau nurut sama Mama sih sayang..” Nina terus memarahi Lili sambil mengelus-elus kepala Lili. Nina mengendarai mobilnya pulang ke rumah sembari mengelap air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Ia membayangkan reaksi suaminya jika mengetahui insiden ini. Suaminya pasti akan menyalahkan Nina karena ia ceroboh tidak memegang tangan Lili erat-erat, dan ia setuju bahwa itu memang salahnya. Nina melihat di kaca bahwa Lili sudah tertidur di kursinya karena kelelahan. Sesampai di rumah, Nina mengangkat Lili dan menaruhnya di tempat tidurnya. Bayi Keira untungnya juga sedang terlelap di tempat tidurnya. Ia mengijinkan Mbak Siti untuk kembali ke kamarnya beristirahat, lalu Nina sendiri berbaring di sebelah anak-anaknya. Nina berpikir bahwa seharian ini baru saat ini ia mendapatkan waktu istirahat sejenak. Ia merasa lelah sekali secara fisik, dan emosinya juga terkuras habis, bahkan untuk menangis pun ia merasa kehabisan tenaga. Seharusnya ia menggunakan waktu ini untuk dapat mandi tanpa gangguan, tapi ia sungguh tak kuat berdiri. Ia memandangi anak-anaknya tidur dengan berbagai macam perasaan bercampur aduk di hatinya. Tiba-tiba pikirannnya melayang kepada adik satu-satunya, Laura. Ia tahu Laura sudah berusaha selama lima tahun ini untuk mempunyai anak dan saat ini sedang menjalani program bayi tabung yang kedua. Ia penasaran bagaimana hasilnya. Nina sayang sekali kepada anak-anaknya, tetapi ia membayangkan betapa enaknya hidup Laura begitu bebas tanpa beban. Sementara Nina benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana ia menjalani hari-hari esok yang pasti sama beratnya dengan hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD