Dust

746 Words
  Beberapa hari setelah kejadian 'itu' grupnya mendapat promosi besar-besaran. Jadwalnya menjadi lebih padat karena tus mendatangi beberapa acara musik dan menjadi bintang iklan. Namun ia sangat bahagia dan ia yakin member yang lainnya pun juga begitu. Presdirnya (Chanyeol) benar-benar mempromosikan mereka dengan baik tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Setidaknya pengorbanannya tidak sia-sia. Meskipun begitu sikap para member terhadap dirinya tidak banyak yang berubah. Mereka tetap sinis dan berlaku sedikit kasatr. Namun ia bersyukur karena para member terlihat bahagia sekarang. Ah, sepertinya ia harus berterima kasih kepada sang Presdir.   Hari itu jadwal Mars berakhir lebih cepat dari biasanya. Dengan langkah tergesa Baekhyun memasuki gedung agensinya. Hati ini Baekhyun ingin berterima kasih kepada Chanyeol. Ditangannya ia membawa pizza dan bunga. Ia tidak tahu harus membawa apa untuk berterima kasih kepada sang Presdir atas kesuksesan grupnya kali ini, jadi ia putuskan untuk memebawa 2 benda tersebut. Ia membungkuk saat bertemu pandang dengan sekretraris Presdir. "Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya sang sekretaris. "Ah itu saya ingin bertemu dengan Presdir." "Nama?" "Byun Baekhyun" "Aaa baiklah tunggu sebentar Baekhyun ssi." Ucap sang sekretaris. Terlihat sang sekretaris mengangkat gagang telepon kemudian bercakap-cakap sebentar. "Silahkan masuk, Presdir sudah menunggu." Sang sekretaris berucap sambil membukakan pintu riangan Presdir. Baekhyun masuk dengan perlahan. Dilihatnya sang Presdir tengah begelung dengan pulpen dan berkas. Namun sedetik kemudian sang Presdir mengangkat kepalanya menatap Baekhyun. "Ada apa Byun? Apa kau merindukanku?" Tanya Chanyeol sambil menyeringai. "I itu saya kemari untuk berterima kasih Presdir" Baekhyun gugup setengah mati ditatap seperti itu. Ia menelan ludahnya saat melihat Chanyeol tersenyum miring sambik menatapnya. "Kemarilah." Chanyeol mengkode dengan jarinya. Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati Chanyeol dengan gugup. "Duduklah disini." Chanyeol menepuk pahanya. Baekhyun hanya mengerkapkan matanya bingung. Ia terlihat ragu-ragu dan takut. "Aku tidak suka mengulangi ucapanku Byun, jadi cepat duduk disini." Suara berat itu mengagetkannya. Dengan tergesa Baekhyun memdudukkan dirinya di pangkuan Chanyeol. Chanyeol menyeringai sambil menatap Baekhyun yang tertunduk. "Aku tidak menyangka kau akan menyerahkan dirimu sendiri tanpa kuminta. Coba tatap aku Baekhyin." Chanyeol mengelus pipi dan rahang Baekhyun perlahan. Baekhyun menatap Chanyeol dengan polos dan sedikit ketakutan terpancar disana. Iaenelan ludahnya gugup. Sedetik kemudian ia membelalakkan mata sipitnya saat belah bibir Chanyeol menempel dibibirnya. Ciuman itu terasa lembut awalnya, namun perlahan menuntut dan agresif. Baekhyun gelagapan menhadapinya. Ia tidak pernah ciuman. Dan secara tiba-tiba Chanyeol menciumnya dengan ganas. Meskipun diawal pertemuan mereka Chanyeol juga menciumnya dengan ganas, tetap saja Baekhyun gelagapan. Ia tidak terbiasa atau belum mungkin. Ciuman Chanyeol semakin menuntut dan dalam, tangan yang juga begerilya ditubuh Baekhyun. Dielusnya paha Baekhyun yang masih terbalut jeans. Baekhyun melenguh dengan wajah memerah.  Ciuman Chanyeol terlepas namun kemudian berpindah kearah leher jenjang Baekhyun yang terbalut choker. Baekhyun terengah, ia belum siap menerima serangan nafsu seperti ini. Lehernya makin mendongak kala Chanyeol mengecupnya sehalus kupu-kupu. Desahan Baekhyun perlahan keluar. Baekhyun meremat pundak Chanyeol yang ia jadikan tumpuan. Nafasnya terengah dan wajahnya memerah. Matanya terpejam dengan mulut terbuka sedikit. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sehingga rangsangan sedikit saja membuat ia kewalahan. Chanyeol menyeringai sambil memberikan kecupan-kecupan seringan kapas pada leher dan rahang Baekhyun. Ia tidak cukup bodoh untuk meninggalkan jejal dileher putih Baekhyun. Itu akan menjadi skandal untuk artisnya ini. Walau sebesar apapun keinginannya ia tetap menahannya. Chanyeol mengulum cuping telinga Baekhyun membuat Baekhyun makin mendesah. Pelan-pelan Chanyeol membuka kemeja yang dikenakan oleh Baekhyun. Saat kemeja tersebut terbuka, ia kemudian mengelus-elus d**a Baekhyun. Kemudian bibirnya berpindah mengulum p****g menegang Baekhyun membuat pemiliknya memekik pelan. Baekhyun tidak berhenti mendesah. Mulutnya terus menerus mengeluarkan desahan meskipun ia menahannya karena malu. Tangan Baekhyun berpindah meremas surai Chanyeol. Chanyeol sudah bersiap menelanjangi Baekhyun sepenuhnya saat telinganya menangkap suara dering telepon. Ia mengumpat pelan saat harus menyudahi permainannya. Diangkatnya telepon tersebut. Sementara ia mengangakat telepon dan berbicara dengan sekretarisnya, tangannya yang satunya lagi mendekap tubih setengah telanjang Baekhyun yang terengah dan lemas di pelukannya. Dielus-elusnya punggung telanjang Baekhyun. Sedang Baekhyun ia hanya pasrah sambil bersandar didada bidang Chanyeol. Tubuhnya lemas, selain itu ia juga malu setengah mati. Tubuh dan mulutnya bereaksi diluar dugaan menerima rangsangan Chanyeol tadi. Selesai berbicara dengan sekretarisnya, Chanyeol berbisik didekat telinga Baekhyun. "Apa kau ada jadwal besok?". Baekhyun menggeleng, ia kemudian mengatakan bahwa grupnya libur 2 hari. "Kalau begitu mari selesaikan yang tertunda tadi dirumahku. Cepat pakai bajumu dan kita berangkat sekarang." Ucap Chanyeol mutlak. Baekhyun membelalakkan matanya saat mendengarnya.                                                                                                             T.B.C
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD