bc

Bersuamikan Mantan

book_age18+
282
FOLLOW
4.1K
READ
HE
opposites attract
kickass heroine
drama
small town
like
intro-logo
Blurb

Luka tak kasat mata yang baru sembuh dari pengkhianatan kembali terbuka saat sang mantan tiba-tiba datang melamar, walaupun sudah ia tolak dua kali. Lima tahun menjalin hubungan ternyata tidak membuat Aisyah mengenal siapa Dandi dengan sifat tidak tahu diri sang mantan. Khayalan akan indahnya hidup berumah tangga bersama Rifki sang kekasih hancur saat Aisyah harus terpaksa menikah dengan Dandi. Akankah Aisyah bahagia dengan pernikahannya? Bagaimana sikap Dandi setelah menikah setelah ia merasa terhina atas penolakan Aisyah?

chap-preview
Free preview
Lamaran Mantan
Satu tahun lalu laki-laki itu yang memutuskan hubungan dengannya untuk bersama perempuan lain. Kisah yang mereka bangun lima tahun terputus saat hadirnya perempuan bernama Vina. Sekarang, saat Aisyah kembali membuka hati untuk menjalin kasih bersama orang baru, dengan tidak tahu malunya Dandi datang bersama keluarga, menyampaikan kata demi kata yang membuat perut wanita cantik itu mual rasanya. Wajah yang seolah tanpa dosa tersenyum saat mata mereka saling tatap. Entah apa yang laki-laki itu pikirkan. Apakah dia berpikir jika Aisyah akan kembali menerima dirinya, setelah apa yang ia lakukan satu tahun lalu. Mungkin dia berpikir jika Aisyah masih menyimpan rasa untuknya, hingga dengan tidak tahu malu ia datang bersama keluarga untuk melamar wanita yang biasa di panggil dengan panggilan Ais itu. Rasanya Ais ingin terbahak saat ayahnya menyampaikan jika hubungan mereka yang sudah terlalu lama, dan itu tidak baik yang harus segera dihalalkan. Padahal selama memiliki hubungan dengan laki-laki bernama Dandi itu Aisyah tidak pernah melakukan apapun. Alasan yang membuatnya lebih memilih perempuan lain. Karena kata Dandi Vina memberikan apa yang ia inginkan, sedangkan dengannya ia tidak pernah mendapatkan apapun, bahkan hanya untuk sekadar ciuman. "Maksud kedatangan saya sekeluarga untuk melamar Aisyah agar segera menjadi bagian dari keluarga kami. Mereka sudah terlalu lama menjalin hubungan, tidak baik jika terus dibiarkan tanpa ikatan yang halal." Ais tersenyum sinis mendengar perkataan orang tua Dandi. Apakah mereka tidak mengetahui jika hubungannya dengan Dandi sudah berakhir sejak satu tahun lalu. "Maaf Om jika saya tidak sopan, tapi saya hanya ingin memberitahukan jika antara saya dan Dandi sudah tidak memiliki hubungan apapun sejak satu tahun lalu, karena Dandi lebih memilih wanita bernama Vina." Mereka terlihat kaget mendengar perkataan Aisyah. Serempak mereka juga menatap laki-laki tidak dengan wajah tanpa dosanya. "Bukan aku yang memilih Vina, kamu saja yang tidak sabaran. Aku hanya bermain dengannya, tanpa berniat serius. Aku hanya menghilangkan rasa bosan dalam hubungan kita. Mengapa kamu justru meminta putus?" Potong Dandi membela diri. "Enteng sekali perkataanmu. Kamu anggap apa perasaanku? Dan apakah aku harus selalu menerima adanya wanita lain dalam hubungan kita nanti jika kamu kembali bosan? Lucu sekali jalan pikiran mu," timpal Aisyah tidak terima. "Kamu hanya terlalu kekanak-kanakan dalam berpikir, Ais. Seharusnya kamu tahu, walaupun aku pergi atau bahkan menjalin hubungan dengan wanita lain, hati dan cintaku tetap padamu. Jadi jangan terlalu memikirkan mereka," balas Dandi dengan enteng. Ingin sekali rasanya Aisyah melemparkan batu ke arah Dandi, agar ia tahu rasanya sakit hati. Walaupun Aisyah yakin sakit karena dilempar batu tidak akan sebanding dengan rasanya sakit hatinya. "Cukup, Dandi! Kamu membuat ibu malu. Ingat, ibu juga perempuan, ibu juga tidak akan rela jika bapakmu seperti itu. Ayo, Pak. Lebih baik kita pulang. Maafkan kami, Pak, Bu, Aisyah. Kami tidak tahu jika kelakuan Dandi seperti ini." Mungkin selama ini Dandi hanya menunjukkan sikap baik dihadapan orang tuanya, sehingga mereka tertipu dan membuat malu. "Sudahlah, Bu. Namanya masa remaja ya wajar jika seperti itu, yang penting 'kan sekarang Dandi mau berubah dan berniat baik untuk menghalalkan, Aisyah." Tibe memaklumi kelakuan anaknya yang dirasa wajar. "Benar yang dikatakan bapak, Bu. Yang penting sekarang aku mau menikah dengan Aisyah. Dan Aisyah harus membuang jauh sifat kekanak-kanakannya itu," sela laki-laki itu dengan rasa bangga karena telah dibela. Sekarang Aisyah tahu darimana sifat tidak tahu diri laki-laki itu berasal. Ternyata dari bapaknya yang selalu mewajarkan segala hal. Dan tanpa malu mereka berdebat di depan keluarganya. "Tapi maaf, Pak, Bu. Saya tidak mau menikah dengan laki-laki yang tidak bisa menghargai perasaan saya. Dan jika menurut mu sifatku kekanak-kanakan, maka maafkan aku yang tidak bisa dewasa karena tidak mampu menerima hal yang menurutku tidak benar. Aku tidak mentolerir perselingkuhan, jadi sekali lagi aku minta maaf jika aku tidak bisa menerima lamaran mu. Lagipula aku sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang bisa menghargai perasaanku." Aisyah rasa caranya menolak lamaran tidaklah kasar dan cukup jelas agar laki-laki itu mengerti. Aisyah sangat malas melihat wajah angkuh sang mantan. Entah apa yang dulu merasuki hati dan pikirannya, sehingga Aisyah bisa menjalin hubungan lima tahun dengan dia. "Kamu seperti w************n yang dengan mudah menjalin hubungan, padahal baru setahun kita berpisah." "Hei manusia tidak tahu malu! Lupa atau memang kau tidak punya pikiran dengan menyebutku seperti itu? Dibandingkan aku, kamu yang lebih murahan bahkan tidak tahu malu. Aku menjalin hubungan dengan orang lain setelah berpisah denganmu, sedangkan kamu menjalin hubungan saat masih bersamaku. Di mana letak murahannya aku?" Emosinya memuncak saat laki-laki tidak tahu diri itu asal berbicara. Ingin sekali rasanya Aisyah menampar mulut kotor itu. Jangankan untuk menikah, bahkan untuk melihat wajah angkuhnya saja ia tidak sudi. "Begini, Pak, Bu, Dandi. Maaf dengan segala hormat, saya pun tidak bisa menerima pinangan keluarga kalian jika Aisyah tidak setuju. Apalagi dengan perkataan manis Dandi barusan, yang dengan entengnya mengatakan anak saya murahan padahal dirinya yang tidak memiliki aturan. Saya rasa omongan saya ini cukup jelas, dan jika sudah tidak ada keperluan silahkan kalian pergi." Dengan halus pak Sulaiman mengusir mereka setelah melihat Aisyah emosi. Orang tuanya memang menyerahkan semua keputusan pada Aisyah. Apalagi Pak Sulaiman, beliau tipe orang yang diam, lembut tapi tegas. Laki-laki yang lebih banyak mendengar, tapi sekali beliau bicara itu harus didengarkan. "Ternyata kalian sombong sekali ya. Ayok kita pulang, Dandi. Bapak tidak mau memiliki menantu seperti dia. Miskin saja kalian banyak tingkah," kata bapak Dandi yang tidak terima dengan perlakuan keluarga Aisyah. "Kami permisi dulu, Pak, Bu, Aisyah. Maafkan keluarga saya, assalamu'alaikum." Ibu Dandi masih sempat berpamitan dan meminta maaf, walaupun setelah itu ia dibentak oleh suaminya untuk segera pergi. "Waalaikumsalam," jawab kami serempak. Mereka pergi dengan ocehan dari Dandi juga bapaknya, sedangkan ibunya mengangguk beberapa kali karena merasa malu. Keluarga yang cukup aneh menurut Aisyah. "Astaghfirullah! emosi banget dibuat manusia itu. Kenapa Ais dulu bisa punya mantan kayak dia," celoteh Ais yang membuat kedua orang tuanya tersenyum. "Jangan begitu, kamu bertahan sampe lima tahun sama dia tandanya kamu emang pernah cinta. Biarpun kayak begitu kelakuannya, dia pernah baik sama kamu. Jangan suka inget yang jeleknya aja, inget juga sama kebaikannya." Nasihat pak Sulaiman untuk putri pertamanya itu. "Astaghfirullahalazim, astaghfirullahalazim. Jangan sampe Ais ketemu lagi sama laki-laki modelan begitu," do'a Aisyah. "Amin," seru kedua orang tuanya. "Ais ke kamar dulu, Bu, Pak. Nanti kalau ada mereka ke sini lagi langsung usir aja, amit-amit nikah sama cowok kayak gitu." Kedua orang tuanya hanya tersenyum. Wajar jika anaknya sangat emosi dengan sikap tidak tahu malu Dandi, karena mereka pun sebenarnya sama, hanya saja mereka bisa menahan dan untuk menenangkan Aisyah. Karena jika semua emosi, siapa yang akan menenangkan mereka nanti. Keluarga Dandi memang memiliki ekonomi yang bagus dengan bapaknya yang seorang kontraktor dan juragan tanah, begitu pun Dandi yang memang belajar dari bapaknya. Mereka keluarga terhormat karena harta, bukan karena akhlaknya. Sifat sombong memang sudah mendarah daging, jadi hal yang sudah biasa mendengar kesombongan mereka.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

Revenge

read
35.7K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Oh, My Boss

read
387.1K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
34.1K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook