Menyembuhkan luka dari sebuah hubungan yang cukup lama bukanlah hal mudah. Apalagi saat kita ditinggalkan hanya karena alasan bosan. Rasanya sangat menggelikan hingga tidak ingin lagi berhadapan.
Aisyah yang membalut luka hatinya satu persatu hingga kembali utuh tidak mungkin rasanya menerima dia untuk kedua kalinya. Apalagi saat ia memulai hubungan baru dengan seseorang yang terlihat begitu nyata kasih sayangnya. Bukan hanya sekadar ucapan, tapi melalui aksi yang mengutamakan kebahagiaan dirinya, membuat wanita cantik itu merasa begitu dicintai dengan tulus.
Menangis memang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi dengan menangis semua sesak yang menghimpit paru-paru perlahan menguap seiring derai air mata yang mengalir. Begitulah yang dirasakan oleh Aisyah yang baru bisa menghentikan tangisnya.
Terlahir dari keluarga miskin bukanlah keinginan Aisyah, tapi wanita itu juga tidak menginginkan kehidupan kaya raya secara instan dengan cara menikah dengan Dandi yang sombong. Bukan kebahagiaan yang akan ia dapat, yang ada makan hati setiap hari.
Dering telepon menyadarkan Aisyah dari lamunannya. Nama sang pujaan hati yang tertera di sana. Mungkin ini waktunya Aisyah untuk memberitahu Rifki tentang Dandi dan keluarganya.
"Abis nangis ya, kenapa?" tanya Rifki setelah mereka saling sapa.
"Aku mau cerita sama kamu," jawab Aisyah dengan suara yang membuat Rifki tersenyum di balik teleponnya.
"Sok atuh."
Aisyah mulai menceritakan apa yang terjadi. Tentang lamaran Dandi dan juga kelakuannya. Tidak lupa dengan kesombongan Tibe dan sikap tidak tahu diri Dandi. Sudah biasa, karena semua orang sudah tahu bagaimana sikap dan sifat keluarga Tibe. Mendengar cerita Aisyah yang menggebu membuat Rifki ikut kesal pada keluarga sombong itu.
"Kalau aku yang ngelamar Ais mau terima enggak?" tanya Rifki setelah Aisyah selesai bercerita dengan penuh emosi.
"Kenapa enggak?" tantang Aisyah yang ia pikir hanya penenang saja.
"Ya udah kalau begitu, besok malam aku sama paman ke rumah Ais ya buat minta restu ke ibu sama bapak."
"Kamu serius?"
"Emang kedengeran aku bercanda ya?"
"Aku kira emang bercanda."
"Aku enggak pernah bercanda soal perasaan apalagi pernikahan, Ais. Cuma, aku enggak bisa adain resepsi mewah."
"Aku enggak perlu resepsi, yang penting resmi."
"Siap, Bu Haji."
Mereka tertawa bersama, obrolan yang awalnya menggebu akan emosi kini berubah menjadi obrolan santai dengan penuh canda tawa. Jika sakit badan memerlukan paracetamol untuk menghilangkan nyeri, maka kekasih hati akan menjadi obat paling ampuh saat mengalami kegundahan hati.
Laki-laki itu bernama Rifki Muktabar. Lelaki dengan sikap lembut dan penyabar, serta setia karena sudah mencintai Aisyah dari masa ia sekolah menengah pertama. Ia yang membalut luka Aisyah hingga kembali utuh. Perjuangannya cukup lama dalam mendapatkan hati Aisyah yang cukup terluka karena sebuah pengkhianatan. Tidak mungkin rasanya ia melepaskan begitu saja apa yang sudah ia perjuangkan dengan kesabaran yang cukup lama.
Seperti Aisyah yang sudah menemukan paracetamol untuk hatinya yang bernama Rifki. Laki-laki pemilik senyum manis dengan penampilan sederhana, tapi mampu menggetarkan hatinya secara luar biasa.
Seperti kebanyakan pasangan pada umumnya yang sedang mengalami kasmaran. Melakukan sleep call hampir satu setengah jam rasanya seperti lima belas menit. Berbicara melalui sambungan telepon hingga tanpa sadar mata telah tertutup menjadi kebiasaan mereka berdua, hingga handphone yang kehabisan daya.
***
Memendam rasa sejak lama tidaklah mudah hingga ia harus menahan semua keinginan saat melihat gadis pujaan bersama laki-laki lain. Sekarang, saat sang gadis telah menjadi miliknya tidak mungkin ia lepaskan pada laki-laki yang pernah memiliki gadis itu. Memiliki sedikit tabungan dan meniatkan pernikahan untuk ibadah Rifki meminta tolong pada sang paman dan bibinya untuk melamar Aisyah. Walaupun hubungan mereka baru seumur jagung, Rifki sudah mantap untuk mempersunting Aisyah, daripada ia harus kembali merasakan nelangsa melihat sang pujaan bersama laki-laki lain.
Malam ini akan menjadi penentuan hubungan mereka yang akan lanjut pada jenjang yang lebih serius. Dengan membawa buah tangan seadanya, karena acara yang benar-benar mendadak tidak menghalangi niat baik Rifki untuk menghalalkan hubungannya bersama Aisyah.
Pun dengan orang tua Aisyah yang tidak mungkin menolak niat baik Rifki yang telah menjalin hubungan dengan anak sulung mereka. Sikap dan sifat Rifki berbeda 180 derajat dibandingkan dengan sikap Dandi. Rifki yang santun dengan kelakuan baik karena mereka mengetahui bagaimana keseharian laki-laki dengan senyum manis itu. Dipaksa mandiri dan dewasa sejak kecil membuat Rifki menjadi laki-laki rendah hati dan bertanggungjawab juga berpikiran dewasa. Berbeda dengan Dandi yang sombong dan arogan, menganggap semua hal bisa diselesaikan dengan uang. Hal yang menjadi tolak ukur Aisyah dalam memilih pasangan.
"Begini, Pak, Bu. Kedatangan kami kemari atas permintaan Rifki untuk melamar Aisyah, yang kami harap menerima lamaran keponakan saya ini. Maaf jika ini sangat mendadak dan kami tidak membawa apa-apa. Dan maaf juga saya katakan dari sekarang, jika kami tidak mampu mengadakan resepsi mewah, paling alakadarnya."
Paman Rifki langsung menerangkan maksud dan tujuan mereka. Tidak lupa menjelaskan jika mereka tidak mampu memberikan pesta pernikahan mewah untuk Aisyah. Mengingat jika Aisyah dilamar oleh Dandi yang pasti sanggup mengadakan pesta mewah di hotel bintang lima sekalipun.
Aisyah beserta kedua orang tuanya tersenyum dengan kejujuran dan kesederhanaan keluarga Dandi. Bagi Aisyah maupun Sulaiman tidak perlu pesta mewah, karena mereka memang tidak menginginkan itu. Untuk apa pesta mewah jika sengsara pada akhirnya. Karena di daerah mereka masayarakat yang datang dan membawa hadiah berupa apapun akan dijadikan hutang yang harus di bayar saat mereka mengadakan pesta. Sulaiman tidak mau mempunyai hutang seperti itu, apalagi jika ada yang membawa banyak seperti sembako dengan nominal tidak sedikit, atau yang disebut dengan kata Nyambungan, baik Sulaiman maupun Sari takut jika tidak sanggup membayarnya. Maka dari itu tidak pernah terbersit dalam hati mereka untuk mengadakan pesta pernikahan anaknya.
"Terima kasih karena bapak dan ibu sudah mau mengantar keponakannya untuk melamar anak saya. Saya merestui dan menerima, tapi semua keputusan ada di tangan Aisyah, karena yang menjalani kehidupan rumah tangga nanti, Aisyah. Jadi mari kita tanyakan pada Aisyah diterima atau tidak lamaran, Rifki." Sulaiman menghormati sang anak yang akan menjalani hidupnya.
Semua mata jelas menatap ke arah wanita yang kini tengah tersenyum malu. Rifki yakin akan diterima, karena malam kemarin ia sudah mengatakan pada sang kekasih, dan Aisyah langsung menerima walaupun belum resmi. Namun, tetap saja Rifki merasakan ketegangan sebelum Aisyah mengatakan iya pada saat ini, karena bukan hanya dirinya yang menunggu, tapi semua semua keluarganya juga.
"Saya menerima dengan senang hati. Dan saya juga tidak ingin mengadakan resepsi apalagi secara besar-besaran. Saya justru ingin mengadakan intimate wedding yang hanya dihadiri keluarga inti saja," ujar Aisyah menyampaikan keinginannya.
Membayangkan menjadi ratu sehari memang menyenangkan dalam resepsi besar nan mewah. Akan tetapi, Aisyah juga membayangkan bagaimana lelahnya menjadi pengantin yang di pajang seharian saat menyambut tamu, membuatnya enggan merasakan itu. Mendengar cerita dari teman-temannya yang sudah menikah dengan resepsi besar yang wajahnya penuh dengan make-up, membuat Aisyah sudah merasakan lelah terlebih dahulu.
Malam itu adalah malam paling bahagia bagi Aisyah dan Rifki. Mereka sudah resmi bertunangan dan menemukan kesepakatan pernikahan yang akan diadakan satu bulan lagi.
Senyum Aisyah semakin lebar, hari Aisyah semakin cerah dengan selalu membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari Rifki. Rasanya Aisyah seperti orang kurang waras dengan sering tersenyum tidak jelas.
Namun, kata orang ujian sebelum menikah itu beragama dan tidak pernah ada yang tahu akan seperti apa. Karena di saat wanita pemilik rambut lurus itu selalu membayangkan indahnya kehidupan rumah tangga, saat itu juga kehidupannya hancur tak tersisa oleh laki-laki tidak tahu diri yang semakin ia benci.