Bagai angin p****g beliung yang menggulung memporak-porandakan bangunan, begitulah cerminan hati Dandi saat ia mendengar kabar jika wanita yang diinginkan olehnya akan menikah dalam waktu dekat. Lamarannya di tolak sedangkan lamaran orang lain wanita itu terima, rasanya sungguh sangat membuat marah. Berani sekali wanita itu mempermainkan hatinya. Rupanya selama ini Aisyah terlalu menyepelekan siapa Dandi. Wanita itu lupa bagaimana uang bisa membeli segalanya. Jangankan hanya untuk membeli kebahagiaan Aisyah, untuk membeli nyawa seseorang pun Dandi lebih dari mampu. Lupakah Aisyah bagaimana keluarga Dandi membeli nyawa anak Sukarman dengan uang yang keluarganya miliki.
Ya, Dandi pernah menghilangkan nyawa seorang anak sekolah menengah pertama saat ia mabuk. Dengan memberikan uang seratus juta keluarga korban tutup mulut tanpa membawanya ke jalur hukum. Apakah itu bukan disebut membeli nyawa? Karena begitulah uang bekerja tanpa banyak bicara.
"Kau keterlaluan, Aisyah! Murahan!. Beraninya kau menolak ku sedangkan lamaran si miskin kau terima. Sepertinya aku harus segera memberi mu pelajaran agar kau tahu siapa aku sebenarnya. Mari kita bermain."
Dengan tersenyum miring Dandi menatap secangkir kopi yang masih mengepulkan sedikit asap. Mendengar kabar jika Aisyah menerima lamaran dari kekasihnya membuat alirah darah Dandi seolah mendidih. Beruntung ia memiliki kacung yang bertetangga dengan sang mantan yang ingin ia miliki kembali, sehingga ia bisa mendapatkan informasi akurat tentang perkembangannya.
Malam ini Dandi akan menjalankan semua rencananya. Karena kata kacungnya yang bernama Ubay hari ini kekasih Aisyah bekerja malam, sehingga tidak akan dijemput oleh Rifki. Karena Rifki dan Ubay satu perusahaan yang berlawanan shift.
"Lakukan sesuai rencana. Pastikan semuanya aman," perintah Dandi pada Ubay yang tentu di sanggupi oleh laki-laki mata duitan itu.
Ubay rela menjadi pesuruh Dandi karena Dandi yang royal atas apa yang dikerjakan olehnya. Ubay yang selalu merasa kekurangan dalam urusan uang begitu terbantu oleh Dandi dengan segala perkerjaan anehnya.
"Siap, Bos! Aman pokoknya," balas Ubay dengan yakin.
Selagi ada uang apapun akan dilakukan oleh Ubay. Ia rela memuja Dandi selagi laki-laki itu memiliki uang. Ia bahkan rela mengelap sepatu Dandi menggunakan bajunya jika Dandi meminta dan membayar.
"Ah, duit ku hadir lagi. Akhirnya bisa beli sepeda buat, Rawi."
Ubay memiliki anak laki-laki berusia enam tahun yang sedang merajuk ingin dibelikan sepeda, karena di kampung mereka sedang musim dan hampir semua anak kecil bermain sepeda. Menikah muda tanpa kesiapan ekonomi dan mental, yang hanya memikirkan akan nikmatnya surga dunia membuat Ubay melakukan pekerjaan apapun demi memenuhi kebutuhan anak istrinya. Termasuk menjadi kacung Dandi yang sering memintanya melakukan apapun yang bos nya minta dengan bayaran besar menurutnya.
***
Jika bisa memutar waktu Aisyah mungkin akan membawa pekerjaannya ke rumah daripada lembur yang akhirnya membawa petaka. Jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam membuat jalan menuju rumahnya sepi, dan kesialan terjadi padanya. Ban motor matic miliknya tiba-tiba saja bocor, padahal tadi pagi masih baik-baik saja. Masih memiliki sedikit angin Aisyah memaksa untuk tetap menaiki motornya menuju tambal ban. Namun, belum sampai di tempat yang ia tuju di tengah jalanan sepi dua motor melintang di tengah jalan tanpa pemiliknya, sehingga menutup jalan.
"Motor siapa sih ini enggak ada kerjaan banget," gerutu Aisyah menghentikan motornya untuk menyingkirkan motor yang menghalangi jalan.
Terlambat untuk Aisyah menyadari jika dari arah belakang Dandi membekapkan sapu tangan yang membuatnya merasa pusing. Namun, Aisyah masih mendengar bisikan halus di telinganya.
"Mari bermain, Sayang." Setelah itu kesadaran Aisyah hilang.
Untuk menghilangkan kecurigaan orang tua Aisyah karena anaknya yang belum juga pulang, Dandi mengirim pesan memakai ponsel Aisyah. Mengatakan jika ada eksport malam ini yang mengharuskannya lembur hingga selesai. Menjadi admin di bagian produksi memang selalu membuat Aisyah lembur mengikuti operator, apalagi saat barang yang diproduksi harus kirim dan barang belum selesai, yang mengharuskan Aisyah beserta semua yang bersangkutan harus lembur sampai mobil container bisa di segel. Maka dari itu pulang pagi bukanlah hal aneh bagi orang tua Aisyah, mengingat bagaimana pekerjaan anaknya.
Bangun dengan kepala yang rasanya seperti berputar-putar. Aisyah mencoba menggerakkan tangan yang terikat dengan posisinya yang terbaring di atas kasur empuk. Matanya melotot saat melihat Dandi berada di sebelahnya dengan tatapan dan juga senyum meledek.
"Selamat malam, Sayang. Bagaimana tidurnya, nyenyak atau tidak?" tanya Dandi dengan mengusap pelan pipinya yang sudah di aliri air mata tanpa diminta.
"Lepaskan aku, Dandi. Mau apa kamu?" tanya Aisyah yang diliputi rasa takut.
"Mau bersenang-senang hingga puas," jawab Dandi dengan menjilat telinga Aisyah yang membuat wanita itu bergerak geli.
"Jangan lakukan apapun, Dandi. Aku mohon lepaskan aku," pinta Aisyah pilu.
"Tidak semudah itu, Sayang. Kita harus belajar dari sekarang bagaimana caranya memproduksi keturunan. Karena aku ingin segera memiliki anak, dan menunggu mu menerimaku terlalu lama, sedangkan aku sudah tidak sabar untuk menimang anakku."
"Jangan, Dandi. Aku akan segera menikah, tolong lepaskan aku. Aku tidak pantas untukmu. Aku miskin, tidak cantik, kita tidak sederajat, Dandi. Kamu akan mendapatkan yang lebih cantik dari aku," rayu Aisyah yang membuat Dandi tersenyum puas karena ketakutan yang sangat terlihat.
"Aku memang bisa mendapatkan wanita yang lebih segalanya darimu, tapi bagaimana jika yang aku inginkan hanya kamu? Karena aku hanya mencintai kamu," ujar Dandi dengan meremas melon sebelah kanan Aisyah dengan kasar.
Airmata Aisyah mengalir semakin deras. Memikirkan kecemasan orang tuanya karena dirinya belum pulang. Bagaimana caranya ia lepas dari b******n tidak tahu malu yang saat ini sedang mengusap-usap wajahnya perlahan.
"Tolong, Dandi. Lepaskan aku, aku akan segera menikah. Jangan lakukan macam-macam atau aku akan mati," ancam Aisyah yang justru membuat Dandi tertawa.
"Justru karena kamu lebih memilih laki-laki miskin itu daripada aku yang lebih segalanya sehingga aku melakukan ini. Kamu hanya boleh menikah denganku, tidak dengan orang lain. Kamu milikku, bukan milik si miskin itu. Nikmati apa yang aku lakukan agar kamu tidak kesakitan, tapi sebelum itu kamu harus minum ini dulu, Sayang. Supaya kamu tidak kehausan saat mengimbangi aku yang kelaparan."
Dandi membuka paksa mulut Aisyah, memasukkan dengan sendok es jeruk peras yang sudah ia berikan obat untuk meningkatkan libido yang akan membuat Aisyah seperti cacing kepanasan yang minta disegarkan.
Menunggu obat itu berfungsi Dandi menyiapkan kamera untuk merekam kegiatan mereka nanti yang ia pastikan akan sangat panas dan menggairahkan. Dandi sudah tidak sabar, yang membuat Aisyah semakin ketakutan. Posisi kamera yang ia arahkan hanya setengah badannya, sedangkan pada tubuh Aisyah beserta wajahnya sangat jelas terlihat.
"Jangan, Dandi. Aku mohon, ingat kamu mencintai Vina, bukan aku. Aku mohon, Dandi."
Aisyah mulai merasakan tubuhnya memanas dengan sedikit gatal di area sensitif nya. Perlahan semakin menjadi hingga ia tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya sendiri.
Sedangkan Dandi, di saat obat yang ia berikan sudah bereaksi membuka ikatan pada tangan Aisyah, memencet tombol on pada kamera yang langsung merekam kegiatan Aisyah yang sudah mulai meraba-raba tubuhnya sendiri.
Dandi merekam dengan bahagia apa yang dilakukan oleh Aisyah pada tubuhnya sendiri. Sebelah tangannya ikut meraba bagian sensitif wanita yang sedang dilanda gairah itu. Semakin lama semakin menjadi membuat Dandi yang sudah berpengalaman tidak tahan melihat itu.
Malam itu Dandi berhasil menanamkan benihnya pada rahim Aisyah dengan penuh gairah tanpa wanita itu sadari. Lensa kamera yang menyorot pada wajah dan tubuhnya membuat Aisyah seperti wanita yang sudah berpengalaman dalam bercinta, yang akan membangkitkan nafsu bagi yang melihatnya.
Dandi berhasil dengan semua rencananya. Yakinlah ia jika Aisyah tidak akan lagi menolak dirinya. Jika sampai wanita itu menolak bersiaplah untuk seluruh keluarganya akan menanggung malu karena videonya yang akan menyebar. Dan tidak mungkin Rifki akan menerima wanita liar seperti Aisyah.
Dandi tidak pernah main-main dengan segala ucapannya. Apa yang ia inginkan akan terwujud walaupun harus dengan paksaan.
"Kamu sangat nikmat, Sayang. Walaupun tidak memiliki pengalaman, tapi kamu mengerti caranya memuaskan. Aku bangga dan sangat tidak sabar untuk menikmati mu setiap hari," bisik Dandi setelah puas dengan permainan keduanya.
Aisyah yang sudah sadar sejak tadi hanya bisa menangis memikirkan bagaimana nasib ke depannya. Bagaimana perasaan orangtuanya, tentang hubungannya dengan Rifki yang sudah pasti akan berakhir karena dirinya yang sudah tidak suci lagi.
"Jangan menangis, Sayang. Bukankah kamu sangat menikmatinya? Jangan merasa kamu tidak ingin sedangkan dirimu sangat lihai dalam bermain. Lihatlah wajahmu dalam video ini. Begitu menggoda akan nikmatnya dosa. Kita akan menikah minggu depan, silahkan tolak aku lagi jika kamu ingin video ini berada di handphone para warga nantinya. Turunkan egomu sebelum harga mu terlalu murah."
Kata-kata Dandi bagai batu besar yang menimpa tubuhnya. Remuk redam dan hancur adalah perasaan sakit yang dirasakan oleh wanita tak berdaya itu. Bukan hanya tubuh, tapi hati yang sudah tak terbentuk.