Apa kegiatan pengantin baru selain tentang kenikmatan dunia dalam bentuk halal bahkan mendapatkan pahala saat melakukannya. Deru napas yang menggebu seolah menjadi candu untuk berbagi peluh. Walaupun proses mendebarkan saat malam pertama tidak pernah didapatkan, tetap saja rasanya menyakitkan yang diakhiri kenikmatan.
Tidak ada yang bisa memungkiri jika saat berbagi nafsu adalah suatu kenikmatan dengan apa pun caranya. Seperti Aisyah saat Dandi melakukan penghinaan padanya, bukan seperti diperkosa, karena saat itu ia menikmati walaupun bukan atas kemauannya, melainkan karena dorongan obat yang terus membuka sisi liar hasratnya. Aisyah menikmati walaupun dalam kondisi sakit hati. Apalagi sekarang disaat pernikahan sudah terjadi, tidak ada lagi sangsi untuk melakukan kegiatan panas tanpa batas. Sangat salah jika Aisyah tidak bisa memanfaatkan ketampanan dan kekayaan suaminya itu. Melihat Dandi yang seperti orang mati karena tidak bergerak sama sekali membuat Aisyah tersenyum dalam hati. Balas dendamnya dimulai dari sekarang untuk merekam ekspresi Dandi saat sedang diburu nafsu.
"Saatnya kita bermain, Dandi. Aku juga bisa melakukan seperti yang kamu lakukan," gumam Aisyah dengan senyum jahatnya.
Aisyah mempersiapkan semua barang yang ia butuhkan. Mulai dari kamera handphone, mengambil empat pashmina untuk semua keperluan balas dendamnya. Walaupun tidak memakai kerudung dalam kesehariannya Aisyah tetap memiliki banyak kerudung yang ia pakai saat kondangan. Hal pertama yang Aisyah lakukan adalah mengikat kedua tangan Dandi dengan perlahan, setelah itu pada bagian kaki. Sedikit merasa kasihan karena sepertinya Dandi sangat kelelahan hingga tidak sadar apa yang sudah Aisyah lakukan. Melihat Dandi terlelap dengan sangat nikmat membuat wanita itu tidak suka. Aisyah ingin Dandi tersiksa sebelum ia benar-benar bisa menerimanya. Mereka tidak akan bermain, Aisyah hanya ingin mempermainkan nafsu Dandi yang tidak bisa melihat wanita dengan pakaian terbuka walaupun hanya sedikit saja. Itulah pemikiran Aisyah tentang Dandi.
Aisyah naik ke atas ranjang setelah ia berganti pakaian, ia mendapatkan ide itu setelah ia membuka kado terakhir tanpa nama yang isinya baju sobek-sobek dengan bahan sangat tipis, atau yang biasa disebut dengan baju haram ditempat kerjanya dulu.
"Sayang..."
Dengan lembut Aisyah berbisik di telinga Dandi. Meniup perlahan membuat Dandi menggelengkan kepala mungkin karena geli.
"Bangun, Sayang. Lihat aku."
Kini bukan hanya meniup, Aisyah bahkan menjilatnya sampai leher yang membuat Dandi membuka mata dengan sedikit melenguh.
"Aw! Apa ini, Ais?" tanya Dandi saat menyadari tangan dan kakinya terikat.
"Kita bermain," jawab Aisyah dengan memencet hidung mancungnya.
"Bermain?" tanya Dandi bingung setelah Aisyah melepaskan tangannya dari hidung sang suami dan menarik napas dalam.
"Iya, kita bermain. Permainan yang menyenangkan," jawab Aisyah dengan posisi d**a di depan wajah Dandi.
"Oh s**t!! Permainan macam apa ini, Sayang?"
Dandi dengan segala nafsunya sungguh tidak akan sanggup menahan gelora. Posisi melon Aisyah yang sedikit lagi menempel pada wajahnya membuat Dandi kehabisan napas karena bernafsu. Dandi menjulurkan lidahnya untuk menyambut puncak gunung tinggi milik sang istri yang terlihat dengan jelas, bukannya memberikan Aisyah justru menjauhkan diri sebelum lidah itu sampai. Posisi Aisyah yang menduduki senjata kebanggaan Dandi dengan menggoyangkan tubuhnya pelan membuatnya semakin membengkak. Untung saja Dandi tidak sedang memakai celana kerja yang menghimpit, sehingga rasanya tidak terlalu sesak di dalam sana.
"Enak?" tanya Aisyah dengan mengusap dadanya yang tidak tertutup apa pun.
"Sayang jangan begini," mohon Dandi dengan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri.
"Kamu mau seperti apa? Seperti ini?"
Aisyah mengusap dari ujung bahu hingga bawah pusar yang berjarak sedikit dengan senjata Dandi, membuat laki-laki itu menekuk perutnya karena rasa geli. Aisyah menikmati ekspresi Dandi yang sedang diburu nafsu dengan mata setengah terpejam dan lidah yang terus membasahi bibir. Rasanya sungguh menyenangkan dengan terus bergoyang pelan.
"Aduh... Talinya jatuh."
Aisyah dengan sengaja menjatuhkan tali yang hanya sebesar lidi dari pundaknya, hal itu membuat puncak gunungnya hampir terlihat.
"Sayang... Mau itu," pinta Dandi dengan menjulurkan lidahnya.
"Mau ini? Sebelah apa semua?"
Aisyah mencolek puncak gunung rata milik Dandi, membuat Dandi menggeliat menahan nafsu. Hanya bagian atas saja Dandi sudah seperti itu, bagaimana jika Aisyah mempermainkan senjatanya. Rasanya pasti akan lebih menyenangkan.
"Sayang jangan, please. Lepaskan dulu tali sialan ini, baru kamu boleh memainkannya."
Dandi menarik tali yang mengikat tangannya, kesal setengah mati pada kain yang membuatnya seolah tidak berdaya. Istrinya semakin liar dengan menyusuri bagian bawah tubuhnya. Berawal dari paha yang ia lanjutkan hingga tengah dengan cara mengusap-usap pelan. Dandi hanya bisa mendongakkan kepala menahan segala nikmat yang ada. Ingin rasanya ia mengurung Aisyah dalam kuasanya, tapi ikatan pada tangan dan kakinya sangat kuat hingga ia tak berdaya.
Hal yang membuat Dandi semakin kesal adalah karena Aisyah hanya memainkan perlahan, tanpa niat memberikan kenikmatan yang sesungguhnya. Itu bisa ia rasakan dari sentuhan yang hanya menggoda. Tangan lembut itu juga tidak menyentuh senjatanya sama sekali, ia hanya melingkari sekitarnya dengan menyenggol sedikit secara sengaja.
"Pegang, Sayang. Kalau enggak pake mulut," minta Dandi dengan merintih.
Aisyah sangat menyukai itu. Melihat Dandi memohon dengan wajah tanpa daya membuat Aisyah sangat puas.
"Teruslah memohon, Dandi. Aku menyukai wajah nafsumu saat ini, sama seperti saat aku dilanda nafsu oleh obat yang kamu berikan, begitulah rasanya sekarang."
"Jangan membuatku marah, Aisyah. Aku akan menghukum mu jika kamu masih terus menggoda," ancam Dandi membuat Aisyah tertawa.
"Tapi aku menyukai dirimu saat ini. Tugas suami adalah membahagiakan istri, dan aku bahagia dengan cara seperti ini. Lakukan kewajibanmu untuk membahagiakan ku," balas Aisyah dengan tangan tetap diposisi yang sama.
"Kebahagiaanmu menyiksaku, Ais."
"Dan kebahagiaanmu juga menyiksaku, Dandi."
Setelah mengatakan itu Aisyah langsung menempelkan bibirnya pada bibir Dandi dengan ganas. Sejujurnya Dandi takut dengan Aisyah yang seperti orang kesurupan. Aisyah bahkan menggigit bibirnya hingga terluka yang menimbulkan rasa asin dan sedikit anyir.
Hampir dua jam Dandi disiksa dengan nafsu oleh Aisyah yang terus mempermainkannya. Dandi frustasi dengan segala rasa yang ia tahan, hingga Aisyah memberikan apa yang ia butuhkan menggunakan tangan, bukan dengan miliknya yang tidak membuat Dandi puas.
Ketukan pada pintu membuat Aisyah menghentikan semua aksinya. Memakai dress sederhana Aisyah membuka sedikit yang hanya cukup untuk tubuhnya saja, karena posisi Dandi yang masih terikat dengan napas yang memburu.
"Kenapa, Dek?" tanya Aisyah pada Abi adik bungsunya yang baru umur delapan tahun.
"Ada tamu Aa di depan," jawabnya.
"Oh, yasudah nanti Teteh bangunin Aa nya. Suruh tunggu ya."
Abi hanya mengangguk kembali ke depan, Aisyah masuk ke dalam kamar dan melihat Dandi yang memberikan tatapan tajam padanya yang sama sekali tidak membuatnya takut.
"Suamiku tersayang, di depan ada tamu buat kamu. Mau kamu temui atau diusir aja?" tanya Aisyah sambil membuka bajunya. Memperlihatkan tubuh yang cukup seksi dengan melon menggantung indah.
"Sayang buka talinya, aku mau lihat siapa yang datang."
"Aku kira suruh diusir."
"Kamu jahat, Sayang. Lihat tangan aku sampai begini."
Dandi menangkap Aisyah begitu ikatan di tangannya terbuka. Menunjukkan lingkaran merah akibat ikatan yang dilakukan Aisyah. Bukannya bangun untuk menemui tamunya, Dandi justru memainkan melon Aisyah secara brutal. Kali ini Aisyah tertawa dengan lepas karena menahan rasa geli dengan sensasi berbeda, bukan senyum samar terpaksa. Dandi menghentikan aksinya saat pintu kamar kembali diketuk, kali ini suara bapak mertuanya yang mengingatkan jika ia memiliki tamu di luar yang harus segera ditemui.
"Cukup, Dandi. Tamu kamu nungguin."
Aisyah mengulang perkataan bapaknya tentang tamu yang sedang menunggu.
"Awas kamu, aku bales lagi nanti. Tamu enggak tahu diri lagi ganggu aja," ancam Dandi dengan menggerutu kesal.
Dandi tidak akan tinggal diam, ia akan membalas semua yang Aisyah lakukan padanya tanpa ampun. Harga dirinya kembali terluka atas perbuatan Aisyah yang menggila. Lihat dan rasakan apa yang akan ia lakukan nanti. Aisyah akan menyesal karena telah mempermainkan nafsunya.
"Aku tunggu, Sayang."
Menampilkan wajah menggoda Aisyah membalas perkataan Dandi, membuat laki-laki itu menyambar bibirnya sekilas. Memakai baju dengan cepat tanpa mengganti celana Dandi pergi keluar untuk menemui tamu yang ia sendiri tidak tahu siapa.