"Widih! Pengantin baru di kamar aja kegiatannya. Sampe lumutan kita nungguin," celetuk salah satu dari sepasang manusia yang membuat Dandi resah karena kehadiran si wanita.
Tamu yang dimaksud ternyata teman dan juga mantannya yang dari luar kota. Karena kesibukan mereka hingga mereka baru bisa sampai hari ini untuk memberikan selamat pada Dandi atas pernikahan impiannya.
"Kalian ganggu aktivitas pengantin baru. Lagian mau ngapain coba ke sini, makanannya juga udah pada habis."
Dandi membalas sambil bersalaman. Untuk yang lelaki sendiri adalah teman satu angkatan saat melakukan magang disalah satu perusahaan milik Asing. Terpisah karena menjalani kehidupan masing-masing di berbagai daerah tapi tetap solid. Dandi cukup rajin datang ke resepsi pernikahan teman-teman yang mengundangnya. Mereka yang akrab maupun tidak tetap ia datang jika diundang, maka tidak heran tamunya pun membludak saat acara kemarin.
Seharusnya memang ia mengadakan resepsi di gedung mengingat siapa dia dan bagaimana tamunya, tapi demi menjaga kenyamanan istrinya dan juga kebebasan para tamu untuk datang jam berapa Dandi menuruti kemauan Aisyah yang menginginkan acara di rumah.
"Gak afdol kalau kita enggak ganggu pengantin baru yang masih sosonoan. Ganas banget kayaknya sampe luka tuh bibir sama tangan," balas Reno salah satu buaya berbentuk manusia untuk kalangan wanita.
"Namanya juga pengantin baru ya pasti lagi ganas-ganasnya lah. Tau dari mana anda kata sosonoan itu?" tanya Dandi heran dari mana Reno tahu bahasa Sunda yang artinya kangen-kangenan itu.
"Dari ibu-ibu yang lewat tadi," jawab Reno dengan menyeruput kopi yang telah disediakan.
"Dimakan A kuenya."
Aisyah datang menghentikan obrolan mereka dengan menyodorkan dua piring kue. Pakaiannya sudah rapi dengan memakai dress sebetis berlengan panjang seserahan dari Dandi berwarna biru muda, membuat penampilannya cantik dengan rambut tergerai lurus.
"Terima kasih, Teh. Jadi ngerepotin," ucap Reno kembali.
Aisyah cukup kaget pada si wanita yang duduk di samping teman Dandi. Ia melirik pada suaminya yang kini tersenyum samar dan menariknya agar duduk di sampingnya.
"Udah tau ngerepotin pake acara ke sini lagi. Kenalin ini Aisyah istri gue," sela Dandi memperkenalkan Aisyah dengan bangga.
"Istri gue enggak tuh? Reno." Reno meledek sambil mengulurkan tangan pada Aisyah.
"Apa kabar, Aisyah. Akhirnya kawin juga ya sama dia," celetuk wanita yang tak lain adalah Vina.
"kok mau sih Teh sama dia?" tanya Reno langsung mengalihkan pertanyaan Vina karena Dandi yang melotot.
"Terpaksa," jawab Aisyah yang sebenarnya kejujuran, tapi dianggap candaan oleh mereka karena sikap Aisyah yang santun.
"Terpaksa juga awalnya doang udah tau mah ah uh ah uh," balas Dandi tanpa malu.
"Apaan sih kamu." Aisyah mencubit pinggang Dandi karena malu dengan candaannya.
"Enggak heran sama omongan dia yang begitu mah, Teh. Udah lepas kontrol dia mah," timpal Reno membuat Aisyah menggeleng.
Pantas saja kelakuan Dandi seperti itu, ternyata teman-temannya sama seperti dia. Mereka hanya tampan dari segi fisik tapi buruk secara akhlak. Karena mereka tidak lagi bercanda jika menyangkut kesenangan dunia, mereka praktekan dengan nyata menggunakan uang yang dipunya. Aisyah juga baru mengetahui jika Vina merupakan w**************n yang asal singgah pada lelaki mana saja. Aisyah lebih banyak diam dan sedikit memperhatikan Vina yang berpakaian cukup terbuka dengan melon yang hampir tumpah. Begitu pun dengan Vina yang juga hanya diam seperti memperhatikan Aisyah.
"Jangan kaget, Sayang. Mereka mah udah enggak aneh sama yang begituan. Cuma kamu doang yang polos," balas Dandi dengan merangkul pinggang Aisyah.
Dandi benar-benar menunjukkan betapa ia mencintai Aisyah tanpa malu. Hal yang seharusnya membuat Aisyah bangga jika saja ia tidak berpikir jika Dandi memperlakukan semua wanitanya seperti itu.
"Gue do'ain cepet-cepet punya anak biar punya saingan."
Melihat bagaimana kelakuan Pengantin baru itu membuat panas mata bagi Reno yang memang jomblo. Sepertinya mereka memang benar saling mencintai tanpa ada yang memanfaatkan satu sama lain. Mengetahui bagaimana royalnya Dandi pada wanita membuat Reno selalu menginterogasi temannya itu, karena selama ini Dandi dan para wanitanya hanya melakukan hubungan simbiosis mutualisme, di mana Dandi membutuhkan lubang surga yang mereka tawarkan dan akan dibayarkan dengan uang yang para wanita itu idamkan. Namun, jika sampai pada tahap pernikahan artinya Dandi benar mencintai dengan serius.
"Justru kalau bini gue mau mah udah nabung duluan gue, biar begitu nikah enggak perlu lama nunggu buat ngeliat kembaran gue. Kalau bisa sebelum ijab qabul gue udah punya buntut dua," balas Dandi dengan santai dan khayalan.
"Enak aja ngomongnya. Mangkanya kalau lagi maen sama cewek lain jangan dikantongin tuh benih, biar cepet jadi," sela Aisyah dengan kesal mengingat kembali Dandi yang sering tidur dengan wanita lain dan melirik Vina.
"Kalau sama mereka aku enggak mau lah, anak aku cuma boleh lahir dari kamu bukan dari rahim yang lain."
"Kenapa begitu?"
"Kamu mah ketauan cuma aku doang yang make, mereka mah udah siapa aja. Nanti anak aku bukan malah aku yang suruh jadi bapaknya."
Vina sedikit tersinggung dengan perkataan Dandi yang tidak bisa mengelak. Vina hanya diam melihat perdebatan sepasang pengantin baru itu. Ia tidak menyangka ternyata Dandi benar-benar mencintai Aisyah yang jauh di bawahnya dari segala hal.
"Udah tau bekas pakai orang aja kamu masih mau."
"Eh tolong kalian kenapa jadi berantem ya?" tanya Reno.
Mereka sepertinya lupa jika sedang berada di depan tamu, hingga dengan santainya berdebat untuk hal penanaman benih milik Dandi.
"Maaf ya," ucap Aisyah malu.
"Santai, Teh. Kita mah sengaja aja biar dia gak ketauan banget bucinnya," balas Reno yang aneh melihat sikap Dandi.
"Bucin sama bini sendiri itu pahala tau," balas Dandi yang kini justru memeluk Aisyah.
"Kamu ngapain sih? Gak tau malu ih lepasin, aku mau masuk aja."
Aisyah melepaskan paksa pelukan Dandi yang dengan sengaja memeluknya erat dengan kepala yang menggesek punggungnya. Urat malu laki-laki itu memang sudah putus hingga rasanya sudah tidak ada lagi. Aisyah malu sendiri pada kelakuan suaminya itu, walaupun mungkin hal tersebut biasa ia lakukan dengan para wanitanya dulu.
Sebenci apa pun Aisyah pada laki-laki itu tetap ia akan menghormati Dandi di depan tamunya. Karena ia tidak mau mempermalukan diri sendiri dengan di cap sebagai wanita tidak sopan, bukan untuk menjaga nama baik Dandi. Kebenciannya hanya akan ia tunjukkan di depan Dandi dan juga orang-orang yang mengetahui permasalahan mereka. Karena cukup hatinya yang merasakan, bukan untuk ia tunjukkan pada semua orang. Biarlah orang lain menganggapnya menjadi wanita paling bahagia di kampungnya karena menikah dengan pangeran kaya. Mobil yang masih terbungkus pita akan menjadi bukti betapa ia dicintai tanpa harus menjual diri.
"Bisa-bisanya dia ke sini pake baju kayak gitu. Udah tahu si Kuya nafsuan, pasti bangun itu." Aisyah menggerutu kecil melihat wanita yang pernah dipilih Dandi dulu.
Setelah berada di dalam kamar Aisyah lebih memilih memainkan handphone, melihat rekaman dari hasil balas dendamnya pada Dandi yang sedang diburu nafsu. Aisyah menyimpan file itu pada penyimpanan handphone paling aman yang tidak akan bisa dibuka oleh Dandi. Karena melihat wajah tersiksa Dandi mengobati sedikit luka hatinya walaupun ia harus menanggung resiko. Setelah tersimpan rapi dengan kata sandi hanya dirinya yang tahu Aisyah memilih bermain game sambil mendengarkan musik menggunakan headset. Bukan lagu sedih, karena Rani sudah mengirimkan link penjelasan seorang dokter sekaligus hypnotherapy tentang bahaya mendengarkan lagu galau secara terus menerus yang kita tahu dengan pasti artinya. Karena Menurut Dr. Brian Primack dari Universitas Pittsburgh, tingkat mendengarkan musik sedih yang tinggi bisa memicu depresi.
Dari semua media, ternyata hanya musik yang menunjukkan hubungan yang signifikan dengan peningkatan risiko depresi. Selain jenis musik, durasi mendengarkan dan lirik lagunya juga terkait dengan pemicu depresi. Penelitian yang dilakukan oleh Frontiers in Psychology, mengatakan orang-orang yang gampang baper alias terlalu mudah terlarut dalam perasaan justru lebih rentan mengalami depresi. Apalagi kalau sedang berada dalam situasi mood yang memang sedang down. Artikel ini ditinjau oleh tim Redaksi Halodoc pada lima belas februari 2019. Dan Aisyah tidak mau terus menerus bersedih dalam hidupnya, sehingga ia lebih memilih mendengarkan musik yang membuat perasaannya bahagia agar hidupnya juga bahagia. Itu adalah mindset yang harus ia terapkan pada hidup yang menyedihkan.
"Sayang..."
Saat masih sibuk dengan game dan juga musiknya Dandi masuk tanpa mengetuk pintu. Aisyah mendengar, tapi ia berpura-pura tidak mendengar dan lebih fokus pada gamenya. Hingga Dandi melepas secara tiba-tiba headset yang menutup telinganya.
"Mantan kamu udah pulang?" tanya dengan sindiran Aisyah setelah mematikan handphone.
"Udah, salam katanya sama kamu. Aku laper kita nyari makan keluar yuk," ajak Dandi dengan justru merebahkan diri disampingnya. Dandi tahu apa yang dipikirkan istrinya, tapi dia tidak akan memperdulikan karena tidak mau membangun pertengkaran.
"Di rumah banyak makanan, ngapain nyari di luar?"
"Bosen, Sayang. Makannya itu lagi itu lagi."
Dandi adalah tipe manusia yang tidak pernah memikirkan apa yang sudah orang lain lakukan padanya. Orang yang sangat mudah melupakan kejadian yang telah berlalu sehingga rasanya tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti sikapnya pada Aisyah yang seolah mereka adalah pasangan paling bahagia dengan cinta dari keduanya yang begitu besar.
Berbeda dengan Aisyah yang sebenarnya merasa ingin sekali melukai Dandi karena kebencian yang tertanam di hati atas semua perbuatan laki-laki itu. Bohong jika Aisyah harus ikhlas dengan semua kejadian yang menimpa dirinya. Apalagi pelaku utama dari kejahatan itu adalah orang yang harus hidup bersamanya, rasanya Aisyah ingin sekali menancapkan sesuatu agar laki-laki itu musnah dari hidupnya.
"Kamu tahu enggak kalau aku capek? Aku lemes sebenarnya, cuma maksain aja."
"Ya udah jangan. Masak mie rebus aja kalau gitu pake cabe, bawang putih, sosis sama telor."
"Ya udah aku masakin dulu, tapi enggak ada sosis adanya sayuran."
"Telornya dua kalau gitu ."
"Telor kamu aja sekalian," canda Aisyah dengan kembali memasang wajah menggoda juga tatapan tepat pada senjata Dandi.
"Jangan macem-macem, Sayang. Kalau telor dia dimasak nanti si Rudal enggak ada penopangnya," balas Dandi dengan menutup senjatanya yang ia beri nama Rudal.
"Semuanya 'kan dua, dan aku cuma butuh tambahan satu aja kok."
"Cepetan Sayang aku laper."
"Huh! Pelit," ledek Aisyah sambil mengikat rambutnya.
"Aku kasih tahu cara masaknya. Bawang putih tiga dicincang halus, cabe rawit sebelas dipotong-potong abis itu ditumis pake sedikit minyak abis itu ditaburuin di atas mie yang udah mateng, biar wanginya keluar."
"Bawel!"
Aisyah pergi setelah mengatakan itu, ternyata mie instan yang seharusnya mudah dan cepat sesuai namanya menjadi ribet saat Dandi yang menginginkan itu. Terlalu banyak tambahan toping hingga kepala Aisyah rasanya pusing.