Kemarahan Dandi

1332 Words
Dandi sedang merasakan bagaimana nikmatnya memiliki seorang istri. Bukan hanya perutnya yang akan kenyang, tapi senjatanya juga akan selalu mendapatkan jatah tanpa membuang hasilnya. Baru sehari ia bergelar menjadi suami, tapi sudah sangat menyenangkan hingga rasanya seperti ingin terbang. Hari-harinya akan diliputi canda tawa dengan sang istri yang akan bertambah dengan anak mereka nanti. Aisyah juga seperti sudah belajar menerimanya dengan baik, terbukti dengan sikapnya yang sudah bisa tertawa riang. Tidak salah bukan walaupun Dandi melakukan satu hal hina demi mendapatkan bahagia? Karena rasanya cukup puas untuk hasil yang belum sempurna. Ponselnya berdering setelah ia nyalakan, dari tadi malam laki-laki itu memang mematikan alat komunikasi miliknya itu dengan sengaja, karena tidak mau diganggu oleh teman-temannya yang jahil. Walaupun tadi malam kegiatannya hanya merenung dan tidur, tapi pikirannya tenang dan tidurnya lelap. Apalagi saat tanpa sadar Aisyah memeluk tubuhnya yang membuat Dandi dengan cepat menutup mata. "Kenapa, Pak?" tanya Dandi langsung pada Tibe yang sudah menelponnya berkali-kali. "Kamu ke mana aja, Dan? Kenapa baru bisa dihubungin?" tanya Tibe dengan cemas. "Di kamar aja, emang dari semalem hp nya Dandi matiin, soalnya berisik." "Harusnya kamu ngasih kabar dulu sama Bapak, biar Bapak enggak khawatir. Ibu kamu juga nanyain terus tuh," balas Tibe. Walaupun sudah besar dan sering bekerja di luar kota Dandi tidak pernah hilang komunikasi, selalu memberi kabar tiga kali sehari seperti minum obat. Dandi yang manja dengan kedua orang tua yang kasih sayangnya full hanya untuknya, maka tidak heran jika kelakuan Dandi terkadang seperti anak kecil, karena sedari kecil Dandi tidak pernah yang namanya kekurangan dalam segala hal, baik materi maupun kasih sayang. "Iya maaf. Terus sekarang ibu mana?" ucapnya dengan sesal. Seumur hidup memang baru kali ini Dandi tidak memberi kabar sama sekali. "Ibu lagi di taman belakang. Kamu kapan mau pulang?" Baru dua puluh empat jam Dandi menghilang dari pandangan mereka, tapi sudah ditanya kapan pulang, seperti anak yang tidak pulang selama satu minggu. Anak lain akan sangat iri melihat bagaimana Dandi mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. "Gimana Aisyah aja, Pak. Lagian deket ini nanti Dandi mampir," balas Dandi yang kembali mendapatkan ceramah. "Kok gimana Aisyah? Kamu yang kepala rumah tangga, Sayang. Kamu yang harus atur dia. Rumah kamu sebesar ini ngapain kamu tinggal di rumah gubuk itu. Bapak tidak setuju kamu tinggal disitu, besok kamu ajak si Aisyah pindah ke sini." "Iya, Pak. Besok Dandi pulang sama Aisyah juga." Saat Dandi berkata seperti itu Aisyah datang dengan membawa nampan. Mendengar apa yang dikatakan oleh Dandi membuatnya melemparkan tatapan tajam pada suaminya itu. "Ya sudah Bapak tunggu. Bapak matiin dulu teleponnya. Kamu jangan lupa makan ya." "Iya, Pak." Sambungan telepon mati dan Dandi langsung mengambil alih nampan yang istrinya bawa. Semangkuk mie rebus sesuai request darinya yang ditemani segelas es teh manis dan juga kerupuk membuat perutnya bergejolak meminta segera dimasukkan makanan itu. "Makasih, Sayang." "Aku enggak mau tinggal di rumah kamu ya," ujar Aisyah langsung saat Dandi mulai menyantap makanannya. "Ngomongnya nanti aja kalau aku udah selesai makan. Kamu mendingan makan ini dulu biar tahu rasanya." Tidak mau mengganggu kenikmatan makannya Dandi menyuapkan satu sendok mie dengan diberi sedikit kuah agar Aisyah tahu betapa nikmatnya makanan itu. Apalagi ini buatan tangan istrinya sendiri, rasanya berkali-kali tambah nikmat dari biasanya. Aisyah menurut dan membuka mulut, aroma minyak bawang dengan cabai rawit memang sangat terasa, apalagi saat ia menumisnya tadi, membuat Aisyah sampai bersin-bersin karena bau dari cabai. "Enak, 'kan?" tanya Dandi setelah melihat ekspresi Aisyah. Dandi menghancurkan kuning telur yang masih utuh agar bersatu dengan kuah mie tersebut, sekarang mie instan rasa soto ayam itu berubah seperti mie rasa kari dengan kuah yang kental dan sangat cocok dimakan dengan kerupuk yang Aisyah sediakan. "Enak. Kamu sejak kapan masak mie kayak gini?" tanya Aisyah yang kembali mendapatkan suapan dari Dandi yang kini berisi putih telur. "Dari jaman kuliah juga aku masak mie kayak gini. Ini resep dari temen aku yang emang pinter masak." "Cewek?" "Iya. Dulu waktu KKN ada cewek namanya Widya, dia ini pinter banget masaknya. Dia itu jadi koki dulu dan ngasih kita makan mie kayak gini dan aku ketagihan aku pinta aja resepnya." Cerita Dandi mengenang masa kuliah kerja nyata dulu. "Minta resep doang apa sekalian minta bikin anak?" "Apa sih, Sayang. Beneran cuma minta resep loh. Lagian kita tuh di desa yang gak ada hotelnya, jadi enggak bisa bikin anak." Antara polos dan jujur tidak beda jauh untuk Dandi. Ia menceritakan apa yang membuat Aisyah kesal. Walaupun Aisyah sudah tidak mencintai Dandi, tapi ia selalu merasa jijik saat mengingat bagaimana laki-laki itu banyak tidur dengan wanita lain. "Berarti kalau ada kesempatan apalagi hotel kamu bakalan tidur sama dia dulu?" "Kayaknya sih. Dia cantik juga soalnya." "Ini yang buat aku benci kamu, Dandi. Jujur aja aku bahkan jijik kalau ingat kamu sering tidur sama cewek lain. Kamu lihat Rifki, dia enggak pernah main-main sama cewek lain, dia bisa nahan nafsu dengan baik karena dia punya iman enggak cuma punya imin." Dandi melemparkan mangkok yang isinya belum habis mendengar perkataan Aisyah hingga barang itu pecah. Baru saja dirinya merasa bersyukur dan menikmati makanannya, tapi dengan tega Aisyah itu membandingkan dia dengan mantannya yang miskin itu. Harga dirinya kembali terluka mendengar setiap kata yang keluar dari bibir manis itu. "Aku tidak suka dibandingkan dengan mantan kekasihmu yang miskin itu. Jangan pernah sekali-kali kamu memancing emosiku dengan membandingkan aku dan dia. Itu masa laluku, dan aku sudah tidak mau melakukannya lagi setelah menikah. Jangan menjadi tidak tahu diri hanya karena aku mencintaimu." Dandi melepaskan dengan paksa cengkraman pada dagu Aisyah. Matanya berkilat marah saat mengatakan itu semua. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau dibanding-bandingkan dengan orang lain, apalagi dengan mantan kekasih yang ia tahu istrinya masih sangat mencintainya. Dandi bangkit dan meninggalkan Aisyah menuju jendela. Duduk di kursi plastik dengan amarah yang memuncak. Menyalakan rokok tidak peduli walaupun di ruangan ber-Ac. Sedangkan Aisyah hanya diam dengan apa yang baru saja terjadi. Apa yang dilakukan Dandi semakin membuatnya membenci laki-laki itu. Apa yang ia katakan semuanya benar dan Aisyah tidak menyesalinya sama sekali. Dia dan Rifki sangat berbeda dalam segi apa pun dan Rifki selalu lebih unggul darinya. Tidak salah Aisyah begitu mencintai mantan kekasihnya itu. Tidak mempedulikan Dandi Aisyah memilih untuk membereskan pecahan mangkok yang mengotori kamarnya. Aisyah menyukai kebersihan, kamarnya selalu rapi hingga melihat kuah mie berserakan rasanya menyakitkan mata. Wanita itu tidak akan meminta maaf karena merasa dirinya tidak salah. Apa yang ia bicarakan semuanya fakta yang tidak bisa ditutupi. Cukuplah kebebasannya yang ditawan, tidak untuk hak bicaranya. Tidak peduli akan mendapatkan siksaan jenis apa, yang pasti ia tidak akan tinggal diam dalam menghadapi sifat dan sikap otoriter Dandi. Ia akan melayani Dandi selayaknya istri pada suami, tapi Aisyah tidak akan memberikan hatinya apalagi dengan embel-embel materi. Setelah beres Aisyah lebih memilih untuk mandi, menyegarkan tubuh dengan segarnya air. "Sial!" Dandi meninju tembok untuk melampiaskan rasa marahnya. Ingin sekali ia menampar bibir yang sering memancing emosinya, tapi dirinya bukan banci yang akan memukul wanita apalagi hanya karena sebuah perkataan. Selain kebahagiaan ternyata ujian selalu datang beriringan. Wanita itu bahkan tidak menghargainya sebagai suami dengan membandingkan antara dirinya dan Rifki. Walaupun ia tahu melupakan masa lalu tidak mudah, tapi setidaknya jangan menyebut apalagi sampai membandingkan dirinya. Hal itu sungguh membuat Dandi sangat murka. Aisyah belum juga kembali saat ia sudah menghisap sepuluh batang rokok. Sepertinya sengaja untuk menghindarinya. Saat Dandi akan kembali membakar tembakau yang hanya tersisa empat batang lagi Aisyah sudah kembali dengan baju tidur motif doraemon kesukaannya. Tanpa bicara Dandi segera mengambil handuk dan keluar kamar. Dandi juga perlu mendinginkan tubuh dan pikiran agar kemarahan menghilang dari kepalanya. Sedangkan Aisyah benar-benar tidak mempedulikan itu semua. Wanita itu kini sibuk mengoleskan skincare pada wajah dan tubuhnya. Setelah selesai barulah ia menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Dandi. Sudah bisa membayangkan mungkin seperti itu kehidupan mereka ke depannya. Dandi dengan emosinya dan Aisyah dengan kebenciannya. Aisyah berdoa agar dirinya tidak cepat hamil sebelum ia bisa membuka hatinya kembali untuk Dandi. Doa yang berbanding terbalik dengan Dandi yang ingin segera mendapatkan hasil dari usahanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD