4. Halal dan Sah

1912 Words
Acara lamaran dan pertunangan hari ini berjalan dengan baik setelah penyematan kalung yang diberikan oleh mama Satrio dan menyepakati kalo acara pernikahan kami akan dilaksanakan  sebulan setelah acara wisudaku dilaksanakan dan semua udah diserahkan kepada weeding organizer. Kami berdua hanya diharus kan Fitting baju di butik langganan mamanya Satrio, baik aku maupun Satrio sudah percayakan segala urusan pernikahan kepada ke dua mama dan Wonya, karena jujur aku tdak memiliki dream weeding sendiri, menurutku menikah dengan orang yang aku cintai  dan mencintai aku merupakan impianku sejak kecil. Sebelum persiapan pernikahanku ang akan berlagsung sebulan lagi, hari ini aku dan Tika ke butik langganan ibuku untuk mengambil kebaya yang aku pake buat wisuda sabtu minggu ini dan ibu juga memesan buat Tika sahabatku karena ibuku sudah menganggap Tika sebagai anak sendiri, untuk itu mengajak Tika buat Fitting terakhir dan aku harap Tika tidak menolak kebaikan ibuku kali ini. Begitu sampe lokasi butik yang kami tujuan kami aku mengajak Tika keluar dari mobilku. Awalnya Tika menolak buat ikut tapi karna aku paksa akhirnya Tika ikut. “Ayra, ngapain loe ajak gue ke butik ini sih, ketusnya “temani Gue ngambil kebaya wisuda kita sabtu besok,” jawabku “ Kita???? , maksudnya kita” tanyanya balik “ayuk nanti kamu juga tau kok maksud Gue” buruan ibuku sudah menunggu kita didalam “ jawabku sambil mendorongnya masuk butik, karena emang ibuku sudah menunggu kami berdua. Dan begitu masuk pegawainya mengajak kami naik ke lantai 2 butik tersebut, dan aku liat ibuku sudah menunggu kami. “sayang ,kenapa lama banget sih datangnya, “ cecar ibuku begitu kami masuk ruangan “ iya bu tadi macet makany kami terlambat” jawabku sambil mencium tangan ibuku dan pipinya “ Tika, gimana kabar kamu sayang,” tanya ibu pada Tika “ baik Tante” kata Tika canggung sambil mencium tangan ibuku “ kok panggil tante sih Ibu donk sayang, kamu udah ibu anggap seperti anak ibu, jangan canggung gitu lagi donk” jawab ibuku sambil tersenyum “ iya bu, makasih selalu baik dengan Tika” jawab Tika sambil tersenyum “ y udah kalian berdua coba sana kebaya yang ibu pesen buat wisuda kalian sabtu besok, sekalian nunggu ayah kalian yang akan jemput kita sekalian buat makan diluar karena udah lama kan kita gak kumpul kayak gini” kata ibu sambil menyuruh pegawai itu mengantar kami ke ruang ganti. Aku dan Tika pun masuk dan tidak beberapa saat kami keluar dan menunjukkan baju kebaya yang kami pake. “wah kalian cantik banget pake kebayanya” kata tante yang punya butik dan di iyakan oleh ibuku sambil tersenyum ala pepsodent “ Ibu beneran pesen ini buat Tika” tanya Tika pada ibuku “ iya Tika sayang , kamu suka kan, pokokny Ibu gak mu dengar kamu nolak kebaya yang ibu pesen buat kamu TITIK” tegas ibuku saat Tika akan menolak kebaya yang dibeli ibuku buat Tika “ makasih ya bu” kata tika sambil memeluk ibuku dengan deraian air matanya “ kok nangis sih Sayang” ucap ibuku sambil membalas pelukan Tika “Tika kayak punya ibu lagi setelah Ibu Tika meninggal saat melahirkan Tika” kata Tika masih memeluk ibuku “ udah donk sayang jangan nangis lagi ya kan ibu udah bilang kalo Tika udah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri” jawab ibu sambil melepaskan pelukan Tika “ mbak saya pesen kebaya yang dipake oleh kedua putri saya yang cantik ini” kata ibu kepada si pemilik butik. Dan setelah pesenan kami selesai di buat dalam totebag, akhirnya kami keluar butik karena ayahku sudah menunggu di bawah. “ ayah udah lama nunggu ibu” kata ibuku sambil menghampiri ayahku dan mencium tangannya “ blom kok bu, ayah baru nyampe kok “ jawab ayah sambil mengusap rambut ibuku dan mencium pipi ibuku “ ayah gak malu apa, cium- cium ibu di tempat umum dan diliat ama Ayra dan Tika” kata ibu dengan pipi merona dan kami tertawa melihat tingkah ibuku “ loh kenapa malu kan ayah cium istri ayah klo ayah cium bini ato cewek lain baru ayah marah” kata ayah kemudian “ayah berani cium perempuan lain selain ibu” jawab ibu sambil menatap tajam ayahku dan ayahku terbahak. “udah ahh..... kadang klo ibu udah berdebat gak kenal tempat deh” ketusku memisahkan perdebatan orang tuaku “ udah selesai semuakan princess” tanya ayahku lagi “ udah ayah” kataku “ Tika kamu apa kabar sayang” tanya ayah pada Tika yang menunduk melihat perdebatan ibu dan ayahku tadi “ baik Om” jawab Tika canggung “ ayah Tika kenapa selalu Om sih apa ayah kelihatan kayak Om om ya? “tanya ayah pada Tika dan Tika senyum melihat tingkah ayahku. “ ayuk, Ayra udah lapar lagian emang ayah emang om om kok masa mas mas sih ayah itu udah tua jadi cocokny jadi dipanggil om dari pada mas kataku sambil mendorong ayahku keluar butik dan ibu dan Tika mengikut dibelakangku. Begitu nyampe parkiran aku melihat mobilku sudah tidak ada lagi “ayah mobil Ayra mana” tanyaku pada ayah karen aku tau ini pasti ulah ayahku “ ayah udah suruh supir ayah bawa pulang kita naik mobil ayah aja “ ketus ayah sambil membuka alarm mobilnya. Kali ini ayahku yang menyetir dan dibangku depan ibuku, aku dan Tika duduk dibelakang. 1 jam kemudian Kami sampai restoran langganan ayah dan ibuku dan kata ibuku kalo restoran ini juga adalah saksi bisu perkenalan awal ayah dan ibuku sampe ayahku melamar ibu dengan romantis juga direstoran ini. Setelah kami diantar ke ruangan privat yang telah di booking ayahku dan pesenan makanan kami datang kami makan sambil becanda khas kami kalo di rumah dan Tika Cuma senyum – senyum aja melihat interaksi aku dan orang tuaku, Tika itu anak yatim dan ayahnya menikah lagi semenjak ibu Tika meninggal, dan ibu tiri dan kakak tirinya selalu menjahati Tika bila ayahnya pergi kerja. Ayah Tika cuma seorang supir jarang di rumah, Tika bisa kuliah karena Beasiswa dan kerja part time disela- sela kegiatan kuliahnya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Selesai makan kami beranjak pulang dan mengantar Tika ke rumahnya dan Tika bilang makasih kepada oarang tuaku yang telah mengantar dan membelikan kebaya buat wisudanyanya. Tiba acara widusaku, aku dan kedua orang tuaku sampe di lokasi dan aku mencari keberadaan Tika sahabatku. Dan aku melihat Tika di dekat pintu masuk gedung dan aku samperin kayanya seperti orang bingung kelihatan sedih. “ Tika loe kenapa” tanyaku sambil menepuk pundaknya dan dia langsung balik badan dan memelukku sambil menangis “ Tika loe kenapa nangis” tanyaku lagi sambil membalas pelukannya “ Ayra papaku gak angkat telponku dari kemarin aku chat cuma dibaca aja” katanya msih dalam pelukanku “ ya udah kalo papamu tidak datang kan ayah dan ibuku, Gue relaku berbagi ayah dan ibuku sama loe karena loe sudah gue anggap saudara Tika” kataku dan melepas pelukan kami dan aku menghapus airmatanya “ makasih Ayra, loe emang sahabat terbaik dalam hidupku” katanya sambil menghapus airmatanya dengan Tisu yang aku kasih” “ Tuh kan make up Loe jadi berantakan” kataku sambil menarik tangannya menghampiri ayah dan ibuku dan aku minta tolong ibuku untuk memperbaiki make up Tika yang berantakan, untung ibuku selalu bawa alat make upnya di dalam mobil, setelah selesai kami beranak menuju aula tempat wisuda dan Tika menjadi mahasiswa lulusan terbaik dan ayah dan ibuku memberikan selamat kepada Tika dan mengajak Tika bersama kami untuk merayakan atas prestasi Tika. Selesai Euforia acara wisudaku tiba saatnya bagiku mempersiapkan acara pernikahanku ibuku dan calon mama mertuaku  sudah sibuk dengan segala persiapan pernikahanku dan putranya, mulai test food, pesen gedung, desain undangan, souvenir nikahan dan kostum buat nikahan dan resepsinya semuanya sudah di atur oleh kedua ibu dan WO acaranya. Dan tiba saatnya bagiku dan calon suamiku di suruh buat fitting baju terakhir buat acara pernikahan kami, siangnya dia menelponku dan menyuruhku langsung ke lokasi fitting karena dia tidak bisa menjemputku. Aku yang tau kesibukannya mengurus perusahaan Papanya maklum akan hal itu. Aku memakai taksi ke lokasi fitting baju dan menunggu calon suamiku datang, aku menunggu hampir 3 jam tapi dia tidak kunjung menampakkan batang hidungnya aku hampir saja mau beranjak pulang tapi tiba tiba dia datang dengan wajah yang kusut dan meminta maaf karena telat datang dengan alasan sibuk rapat dan macet, aku percaya dan kami mencoba beberapa gaun buat acara nikahan dan resepsi dan aku buat acara nikahan pilihanku jatuh kepada kebaya putih gading dan gaun resepsinya gaun peach dengan taburan swarovsi. Setelah selesai acara fitting baju pengantin dia mengantarku pulang dan tidak bisa singgah karena masih ada kerjaan. Aku pun masuk kedalam rumah dan aku melihat kedua orang tuaku sudah pulang kerja. “ Satrio gak singgah sayang” tanya ibu begitu aku menghampiri mereka sambil menciun tangan dan pipi ayah dan ibuku “tidak bu, tanya masih ada kerjaan di kantor” jawabku dan berlalu ke kamarku di lantai 2. Aku melanjutkan langkahku ke lantai 2 rumahku dan menuju kamarku sambil berpikir sikap yang ditunjukkan Satrio kepadaku tadi sangat dingin dan kata- kata yang dia ucapkan masih terngiang dipikiran dan telingaku “ aku menikahimu karena orang tua kita bersahabat jadi jangan berharap lebih dari itu” kata- kata itu aku masih sulit mencernanya apa maksudnya apa Satrio terpaksa menerima perjodohan ini, apa aku minta orang tuaku membatalkan perjodohan ini tapi aku takut kalo kedua orang tuaku sampe malu karena aku dan aku akan tetap meneruskan pernikahan ini aku berharap suatu saat Satrio akan mencintaiku kalo aku sabar karena ada pepatah jawa bilang “ Witing trisno Jalaran soko kulino (Cinta datang karena terbiasa)”. Hari bahagia yang aku tunggu akhirnya datang dan aku akan menikah besok dan hari ini Tika menginap di rumahku dan aku mau menghabiskan waktu dengannya sebelum aku menjadi istri keesokkan harinya. Kami bercanda dan membicarakan banyak hal sampe kami capek dan tertidur. Keesokan harinya aku sudah harus bangun untuk di make up karena acara nikahannya dilaksanakan di ballroom Hotel Mewah di tengah kota. Saat kami akan berangkat ke hotel Tika menerima telepon dan menjauh dari kami dan beberapa saat kemudian dia menghampiri kami sambil menagis dan menyatakan kalo dia harus ke Cianjur karena ayah, ibu dan kakak tirinya mengalami kecelakaan dengan berat hati aku melepasnya dan supir ibuku yang akan mengantarnya ke Cianjur, dan setelahnya kami berangkat ke hotel di antar oleh supir ayah karena keluarga yang lain sudah berangkat duluan. Selama perjalanan aku masih kepikiran Tika sahabatku, kenapa hidupnya begitu malang sampe aku tidak menyadari kalo mobil yang aku tumpangi sudah sampe lobby hotel dan ayahku membuka pintu mobil untukku. “ princes kenapa murung ini hari bahagiamu Princess” kata ayah setelah merangkul tanganku “ Ayra kepikiran Tika ayah “jawabku dengan muka lesu “ Tidak akan terjadi apapun sama Tika sayang” jawab ibu yang ada disebelah kiriku “ Iya ibu, Ayra tau itu” jawabku dengan senyum sedikit terpaksa dan kami melangkah ke ballrom karena acanya sudah mau di mulai. Begitu sampe pintu ballrom suara MC mempersilahkan aku masuk dengan didamping kedua oarang tuaku menuju Altar dan aku melihat Satrio dengan gagahnya dengan memakai setelan jas hitam dan menambah kewibawaannya dan menyambut uluran tanganku yang dipegang ayahku sambil berpesan “ayah serahkan segala tanggung jawab ayah kepadamu sebagai suaminya tolong jangan sakiti hati anak ayah “ kata ayahku menyerahkanku kepada calon suamimu  dan dia menerimanya sambil menganggukkan kepalanya. Dan acara pemberkatanku di saksikan oleh semua keluarga dan tamu undangan yang datang, dan sekarang Aku sudah sah dan halal menjadi istri seorang Satrio Hartono dan aku sekarang jadi Nyonya Ayra Felisya Hermawan Hartono.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD