bc

Ina Mah Apa Atuh

book_age16+
2.4K
FOLLOW
15.4K
READ
badboy
drama
comedy
sweet
bxg
like
intro-logo
Blurb

"Kalau misal gue perkosa lo, gimana? Yakin lo masih mau ngikut gue?"

Ina tampak berpikir. Beberapa saat kemudian Ina menganggukan kepala.

"Ina bakal perkosa balik!" jawab Ina mantap.

Seketika tenggorokan cowok itu terasa kering. Ini sungguh di luar ekspektasinya.

YA TUHAN, COBAAN MACAM APA INI?

Secepat kilat otak cowok itu mencap Ina sebagai cewek m***m.

chap-preview
Free preview
1. Awal Ketemuan
"Abaaaaaaaang!" pekik seorang gadis bermata belo yang sedang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Sedangkan yang dipanggil Abang oleh Gadis itu tampak tertawa terpingkal-pingkal melihat pemandangan di depannya. Untuk kesekian kalinya ia menjahili Adik semata wayangnya tersebut. "Abang jahat!" Lagi-lagi gadis itu terpekik. Dengan bermodalkan tangan kiri, Ina membersihkan wajahnya yang penuh dengan es krim. Sedangkan tangan kanannya memegang es krim rasa vanilanya dengan erat. "Abang minta maaf deh," ujar Venus yang tampak kesusahan menahan tawa. Sedangkan Gadis manis yang ia jahili itu hanya mencebikkan bibir sebal. "Gak! Ina gak mau maafin Abang!" rajuk Gadis yang bernama Ina Arsyana itu. "Ina cantik deh," rayu Venus berharap Ina memaafkannya. "Ina emang cantik kok!" sungut Ina dan tidak mau melihat wajah Venus. "Ina sayang, imut, manis, maafin abang ya," rayu Venus lagi. "Gak mauuuu!" bentak Ina sambil berjalan cepat. Venus yang melihat kelakukan Ina hanya mengeleng-gelengkan kepala. Dengan gaya sok Cool, Venus ikut berjalan di belakang Ina sembari memasukkan kedua tangannya ke kantong hoodie yang ia pakai. "Yakin gak mau maafin Abang?" "Yakin. Yakin banget malah," jawab Ina dari kejauhan yang masih dapat didengar oleh Venus. "Yakin, nih?" tanya Venus sekali lagi. "Yakinlah," jawab Ina sambil mempercepat langkahnya. Setelah cukup jauh, Ina memberanikan diri melihat ke belakang. Namun, di sana ia tidak melihat keberadaan Abangnya. "Bang," panggil Ina. Tidak ada jawaban. "Abaaaang," panggil Ina sekali lagi. Masih tidak ada jawaban. "Abaaaaang," panggil Ina lebih keras. Seperti sebelum-sebelumnya, teriakan Ina hanya dijawab oleh hembusan angin. "Plis deh, Ina lagi gak mau main petak umpet!" pekik Ina berharap pekikkannya didengar oleh Abangnya. Kesal karena Venus tidak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, Ina berinisiatif akan pulang sendiri. "Tapi, Ina gak tau jalan pulang," lirih Ina sambil menggigit bibirnya. "Ini semua gara-gara bang Venus. Ngajak jalan-jalan, tapi ninggalin Adeknya sendirian. Kalo Ina diculik gimana? Pasti yang nangis gede dia juga. Aaaaaaaa, Mamaaaaaa, bang Venus jahat!" pekik Ina dengan kepala tertunduk dan kaki yang menendang-nendang benda apa saja yang bisa ia tendang. "Auuuhhh," ringis seseorang dari kejauhan. "Suara apaan tuh?" tanya Ina sambil celingak-celinguk. Tepat di arah jam satu seorang cowok sedang berjalan mendekatinya dengan tangan bertengger di jidat. "Heh, lo!" tunjuk lelaki itu kearah Ina. "Hah?" sahut Ina menunjuk dirinya sendiri. "Iya lo!" "Ina kenapa?" tanya Ina tidak mengerti. "Tadi lo nendang kaleng, 'kan?" tanya cowok itu dengan sorot mata yang mampu membuat Ina ngeri. "Kayaknya iya. Terus kenapa?" tanya Ina dengan wajah polos. "Kaleng yang lo tendang itu kena jidat gue!" sembur cowok itu kesal. "Ina hebat dong." "HAH???" "Iya, Ina hebat. Soalnya Ina nendangnya cuma iseng, eh, kena jidat orang." "Whattt?? Liat nih jidat gue benjol gara-gara tendangan yang lo bilang hebat itu," tunjuk cowok itu kearah jidatnya. Ina yang melihat itu meringis pelan. "Yaudah Ina minta maaf," ucap Ina akhirnya. Malas berdebat dengan cowok yang sama sekali tidak dikenalinya. "Lo harus ganti rugi!" "Maksudnya jidat Ina dituker sama Jidat kamu? Atau mau Ina cariin jidat yang udah ngga kepake?" tanya Ina dengan wajah polos. Cowok itu hanya melongo mendengar penuturan Ina. Mimpi apa ia semalam sehingga harus berurusan dengan cewek super polos ini, ya Tuhan. Cowok itu tampak menarik napas, lalu mengembuskannya pelan. "Lain kali kalo jalan pake mata," dengkus cowok itu. "Emang bisa?" tanya Ina tidak mengerti. Sedangkan yang ditanya tampak mengerutkan dahinya heran. "Bisalah." "Di mana-mana jalan itu pake kaki!" sungut Ina tidak terima dengan ucapan cowok yang tidak ia ketahui namanya itu. Seketika cowok itu tersedak salivanya sendiri. Sebenarnya yang bodoh itu dia atau cewek ini sih?! "Bukan itu maksud gue." "Terus apa? Ngomong cepet, Ina gak punya banyak waktu nih!" desis Ina tidak sabaran. Di tempatnya Ina tampak tidak tenang. Di satu sisi ia ingin pulang dan mencari keberadaan Abangnya, sedangkan di sisi lain ia harus menyelesaikan urusannya dengan cowok bermata sipit ini. "Lupakan!" ucap cowok itu malas berdebat. "Lupakan apa?" tanya Ina tidak paham. "Lo ngapain disini?" tanya cowok itu mengalihkan pembicaraan. Sudah bukan hitungan jari ia berjalan-jalan di taman ini, namun baru pertama kali ini ia melihat cewek di depannya itu. "Tadi Ina jalan-jalan sama Abang Ina, terus Ina gak tau Abang Ina sekarang di mana. Ina mau pulang, tapi Ina gak tau jalan pulang," ucap Ina berbelit-belit. Cowok di depannya itu mengurut hidungnya pelan. Bingung juga harus melakukan apa. Untungnya ia paham apa yang dimaksud Ina. "Alamat lo di mana?" Ina menggeleng pelan. "Jangan bilang lo gatau?" tebak cowok itu. "Ina memang gak tau, kok." "Lo orang baru di daerah sini?" Dan dijawab anggukkan oleh Ina. "Lo punya HP-kan?" "Punya." "Nahh, lo pake dong buat nelpon abang lo. b**o banget, sih!" desis cowok itu. "Ina gak b**o!" decak Ina tidak terima dikata b**o. "Iya-iya. Sekarang ambil HP lo, dan telpon Abang lo. Sekarang!" "Masalahnya Ina gak bawa HP," lirih Ina sambil meremas-remas jaketnya. Sial. Cowok itu mendengkus kesal lalu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari Ina. Sungguh ini hari yang sial baginya. Pertama, ia harus menerima kenyataan bahwa jidatnya benjol. Kedua, ia harus berurusan dengan gadis aneh, polos pula. Entahlah, ia benar-benar polos atau hanya pura-pura saja. Belum jauh cowok itu melangkah, ia merasa ada yang tidak beres, lalu cowok itu membalikkan badannya. "Ngapain lo ngikutin gue?" sembur cowok itu ke arah Ina yang berjalan pelan di belakang. "Ina gak ngikutin kamu kok," bela Ina. Cowok itu hanya memandang Ina tajam. Karena tidak kuat dipandang seperti itu, Ina memberanikan diri membuka suara. "Ina takut. Ina gak kenal siapa-siapa, jadi boleh, ya, Ina ikut kamu?" "Gak!" jawab cowok itu cepat sambil berkacak pinggang. "Kenapa?" tanya Ina. Cowok itu tampak berpikir sejenak. "Emang lo gak takut ngikut gue?" bukannya menjawab, cowok itu malah balik bertanya. "Emangnya kenapa?" tanya Ina balik. "Kalau misal gue perkosa lo, gimana? Yakin lo masih mau ngikut gue?" Ina tampak berpikir. Beberapa saat kemudian Ina menganggukan kepala. "Ina bakal perkosa balik!" jawab Ina mantap. Seketika tenggorokan cowok itu terasa kering. Ini sungguh di luar ekspektasinya. YA TUHAN, COBAAN MACAM APA INI? Secepat kilat otak cowok itu mencap Ina sebagai cewek m***m.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

HYPER!

read
624.9K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

SEXRETARY

read
2.3M
bc

I Love You Dad

read
293.4K
bc

Hubungan Terlarang

read
513.1K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

The Naughty Girl

read
103.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook