"Masih jauh gak, sih? Kaki Ina pegal nih," adu ina sambil memijit kakinya.
Cowok yang bersama Ina itu berdesis sebal. "Bentar lagi sampai," sahut cowok itu, lalu ikut berhenti di samping Ina.
"Dari tadi juga jawabnya bentar lagi, tapi gak sampai-sampai pun!" Ina bersungut kesal.
Sedangkan cowok itu hanya meresponnya dengan bahu terangkat. Ina melihat itu mengernyitkan dahi, Jujur Ina tidak paham bahasa tubuh.
Jika bertanya mengapa Ina bisa bersama cowok itu sampai sekarang, jawabannya adalah karena Ina merengek minta ikut kerumah cowok itu. Dari pada ia jadi gelandangan, lebih baik ia mengikuti cowok itu walaupun ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
"Masih kuat?" tanya cowok itu melirik Ina sebentar.
"Enggak. Ina udah gak kuat." Ina tampak mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Sebenarnya rumah kamu di mana, sih? Dari tadi kok gak sampai-sampai. Ini lagi, kenapa kita mesti lewat kebun teh? kayak gak ada jalan lain aja!"
"Emang gak ada jalan lain," sahut cowok itu cepat.
Ina spontan memutar badannya menghadap cowok di sampingnya itu. Ia tampak memperhatikan setiap inci dari tubuh cowok itu, mulai dari bawah hingga atas. Sedangkan yang dipandang bergidik ngeri. Ia menjadi waspada.
Ina menggelengkan kepala dan menepuk kepalanya pelan.
"Gak mungkin," gumam Ina pelan. Walaupun pelan tetap saja cowok itu masih bisa mendengarnya.
"Mikirin apa lo?"
"Mikirin kamu." Ina menjawab jujur dengan wajah polos. Cowok itu tampak terkejut.
"Jangan macem-macem!" desis cowok itu . Takut cewek aneh ini melakukan hal yang tidak wajar.
"Ina gak macem-macem kok. Ina cuma mikir, gak mungkin cowok kayak kamu tukang kebun," cerocos Ina tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cowok di sampingnya.
Cowok itu semakin dibuat terkejut oleh ucapan Ina. Ini sudah kesekian kalinya ia dibuat terkejut sekaligus ngeri.
"Emang di muka gue ada tampang tukang kebun?" protes cowok itu tidak terima.
Ina menggeleng kuat. "Gak ada."
"Terus kenapa lo mikir gitu?"
"Mikir gitu gimana?" tanya Ina heran.
'Mulai deh begonya'
"Ayo jalan!" ajak cowok itu sambil beranjak berdiri, tidak lupa menepuk-nepuk celana training yang dipakainya agar tidak ada kotoran yang menempel.
"Jalan kerumah kamu, 'kan?"
"Gak!"
"Lah? Terus kita jalan kemana lagi?"
"Ya kerumah gue lah, b**o! Ayo cepetan!" sembur cowok itu sambil mengulurkan tangannya agar diraih cewek mungil itu.
"Ina gak kuat ...," lirih Ina tanpa minat meraih tangan cowok jangkung bermata sipit di hadapannya tersebut.
"Jalan atau gue tinggal?" ancam cowok itu.
"Tinggal aja deh. Ina beneran gak kuat. Kamu duluan aja, kalo kamu udah nyampe di rumah, istirahat ya, terus kalau istirahatnya udah kelar, jemput Ina di sini."
Cowok itu hanya mampu mengurut d**a sabar mendengar ocehan Ina yang tidak masuk akal.
"Gue itung sampe lima, kalo lo masih males-malesan, otomatis gue tinggal."
"Satu." cowok itu mulai menghitung.
"Dua."
"Ti-"
"LIMA!" potong Ina cepat.
"Gue belum selesai, b**o!"
"Nunggu kamu kelamaan. Udah sana, jalan. Tinggalin aja Ina di sini. Ina beneran gak kuat lagi," ucap Ina sambil merapatkan jaketnya. Udara di sini benar-benar dingin. Bahkan ia dapat merasakan udara meresap masuk ke pori-porinya.
Cowok itu tampak memandang Ina lama. Menurutnya Ina tidak main-main dengan ucapannya.
"Naik!" perintah cowok itu.
"Hah?"
"Naik kepunggung gue. Biar gue gendong."
Ina memandang cowok itu yang entah sejak kapan sudah berjongkok di hadapannya dengan posisi membelakanginya. Ragu-ragu Ina menaiki punggung tersebut. Dengan sigap cowok itu mangaitkan tangannya di sela kedua kaki Ina. Sedangkan Ina tanpa merasa sungkan mengalungkan kedua tangannya di leher cowok itu. Jika orang melihat itu pasti akan mengira jika mereka adalah sepasang kekasih.
"Keliatannya aja lo mungil. Tapi berat lo setara dengan induk sapi."
"Enak aja sama-samain Ina dengan induk sapi," dengkus Ina dari belakang.
'Tumben gak b**o'
"Emang kamu udah pernah gendong induk sapi?" tanya Ina terdengar sungguh-sungguh.
Cowok itu menarik kembali ucapannya. Cewek digendongannya ini memang asli b**o. Tapi tunggu, yang b**o Ina apa cowok itu?
"Menurut lo?" tanya cowok itu jutek.
"Gak tau," jawab Ina kalem.
Cowok itu memilih untuk diam, malas menanggapi.
Hening sesaat.
"Ina boleh nanya?"
"Hmm."
"Ina anggap boleh. Kalo Ina boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Ina.
"Kepo!" jawab cowok itu datar.
"Oh, nama kamu kepo."
Cowok itu menggeram kesal. Cewek di gendongannya ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Nama gue Alif."
"Temennya Ba sama Ta dong!" pekik Ina antusias di gendongan Alif.
"Maksud lo?"
"Alif Ba Ta sha jim ha ...." Ina mulai melantunkan sebuah nyanyian huruf-huruf hijaiah.
"Sekali lagi lo ngoceh gak jelas, gue lempar sekarang juga!" ancam Alif tidak main-main. Merasa kesal dengan ocehan Ina.
Ina menggeleng kuat, pertanda tidak mau.
"Anak pintar." Puji Alif sambil mengatur napasnya.
"Berat badan lo berapa, sih?"
Ina tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir demi mengingat-ngingat berat badannya.
"Terakhir kali Ina cek 50 kilo."
"Pantesan."
"Pantesan apa?" tanya Ina.
"Berat."
"Abang Venus juga ngomong gitu kok."
"Venus siapa?" tanya Alif basa-basi.
"Abang Ina lah!" jawab Ina ngegas.
Alif berdecak sebal. Kupingnya terasa berdengung.
"Itu rumah siapa?" tunjuk Ina kesebuah rumah mewah berlantai dua. Bisa dikatakan rumah yang ditunjuk Ina itu adalah rumah satu-satunya di wilayah tersebut.
"Gue."
Ina tampak menggaruk pipinya.
"Oh, rumah majikan kamu." Ina mengabaikan ucapan Alif.
"Rumah gue, b**o!"
"Ngaku-ngaku," cibir Ina.
"Serah lo!" decak Alif kesal.
Setelah sampai di teras rumah, Alif menurunkan Ina dari gendongannya. Setelah itu Ina tidak melihat keberadaan Alif karena sibuk melepaskan sepatunya.
"Eehh, a-a-da ta-tamu," sambut seorang gadis manis dengan rambut bersanggul rapi.
"Hai," sapa Ina ramah.
'Cantik' puji Ina pada gadis di depannya itu.
"Si-sssi-lahkan ma-ma-asuk."
Ina tersenyum canggung mendengar perkataan gadis berwajah cantik itu.
"Kamu gak usah gugup gitu. Santai aja kalo sama Ina mah," kekeh Ina pede sambil mengikuti gadis itu.
"Aa-ak-u eng-ga-ak gu-g-up kok," ucap gadis itu tanpa menghilangkan senyum manis di wajahnya. Ina sampai pangling melihat senyum itu.
'Andaikan Ina cowok, mungkin Ina udah jadiin dia pacar' batin Ina ngawur.
"Si-ssilah-kan dud-uk," ucap Gadis itu mempersilahkan Ina duduk.
Ina tersenyum sopan menutupi kegeramannya menunggu gadis itu meneruskan ucapannya.
"Makasih, ya."
"Ka-kmu pa-ppa-car nya ma-s A-ali-f, yaa?"
Belum sempat Ina menyangkal sudah terdengar suara berat dari lantai atas.
"Tia, tolong bersihin kamar nomor dua."
"Ba-baik mas," sahut Gadis bernama Tia itu dengan sopan. Dan beranjak dari duduknya, tidak lupa melempar senyum kearah Ina.
"Mas? Istri kamu, ya?" tanya Ina ke arah Alif dengan mata menyipit.
"Aduuhhh," ringis Ina. Karena baru saja sebuah jitakan mendarat di jidat lebarnya.
"Gue masih single, b**o!" desis Alif tajam.
"Tapi gak pake jitak juga bisa kali," dengkus Ina sambil mengelus bekas jitakan Alif.
"Eh, jidat kamu!" pekik Ina tersadar akan sesuatu. Alif terlonjak mendengar pekikkan cewek mungil tersebut.
"Ehhh," kaget Alif saat wajah Ina tiba-tiba sudah begitu dekat dengan wajahnya. Sejak kapan cewek ini berpindah duduk jadi di sampingnya?
Alif tanpa sadar menikmati wajah Ina. Bibir mungil, alis tebal, bola mata indah, dan bibir yang merah alami. Paket yang lengkap bukan?
"Masih sakit?" tanya Ina mengalihkan fokusnya kewajah Alif. Tangan kanannya tampak sibuk mengelus luka di dahi Alif.
Entah kenapa Alif tiba-tiba merasa gugup. Tidak tahukah Ina jika tindakannya ini berbahaya.
"E-nggak." jawab Alif cepat sambil menepis tangan Ina dari dahinya.