3. MAIN HUJAN

955 Words
"s**t. Ina kamu kemana aja ...," lirih Venus yang sedang bersimbuh di tanah. Ia tampak frustasi karena sejak beberapa jam yang lalu ia tidak menemukan keberadaan Ina, adiknya. Ia sudah mencarinya kemana-mana. Bahkan menanyakan kepada siapa pun yang lewat di daerah terakhir ia meninggalkan Ina, namun hasilnya nihil. Venus memang sengaja maninggalkan Ina sendirian di tempat itu. Ia mengira meninggalkan Ina sendirian bukanlah ide yang buruk. Ia hanya meninggalkan Ina sebentar untuk membeli camilan kesukaan Ina, popcorn. Ia ingin meminta bantuan ke polisi, namun hilangnya Ina belum genap 24 jam. Bahkan menurut perkiraannya, Ina menghilang baru sekitar lima jam. Itu artinya ia harus menunggu sekitar sembilan belas jam lagi. Rasanya Venus akan gila dibuatnya. Kini Venus terduduk lemas di depan pintu apertemennya. Karena lelah mencari keberadaan Ina yang tak kunjung ketemu. Ia ingin meminta bantuan selain kepada polisi, namun ia sama sekali tidak mengenal siapa pun di daerah itu. Sebab ia sendiri berstatus sebagai orang baru. Menelpon keluarganya? Oh No! itu sama saja Venus bunuh diri. Venus yang sedari tadi merenung, tiba-tiba dikagetkan oleh suara HP-nya yang melengking di saku bajunya. Melihat nama yang tertera di layar HP, Venus merasa ingin tenggelam saja dari tempat ia duduk sekarang. Pelan namun pasti, Venus memberanikan diri menjawab telpon di seberang sana. "H-halo Ma." Susah payah, Venus menetralkan degup jantungnya yang menggebu dari dalam sana. "Bagaimana kabar kamu dengan Anak kesayangan Mama?" ucap seorang wanita paruh baya dari seberang sana. Mendengar kata 'anak kesayangan mama' Venus seketika berdecih. Selalu saja Mamanya membeda-bedakan di antara mereka bedua. Tidak bisakah Mamanya bersikap adil? Memang sejak Ayahnya meninggalkan mereka untuk selamanya, Venus seakan merasa asing dengan keluarganya sendiri. Mamanya menjadi jarang di rumah, ia sibuk dengan pekerjaan kantor, peninggalan Ayah tentunya. Mereka menjadi kekurangan kasih sayang, terlebih Venus. Namun, meskipun begitu ia sadar Mamanya melakukan itu demi menenuhi segala kebutuhan hidup mereka. Dan ia masih bersyukur, karena dianugrahi Adik yang periang, lucu dan cantik seperti Ina walaupun sedikit manja dan bloon. Terlepas dari lamunan Vano, ia tersadar bahwa sambungan telpon masih terhubung. Terdengar dari sebrang sana Mamanya sedang kesal memanggil-manggil namanya. "Venus, kamu masih di sana, 'kan?" Venus memijit pelan keningnya sembari mengembuskan napas lelah. "Iya Ma." "Di mana anak kesayangan Mama? Mama telpon dari tadi kok gak diangkat?" Bagaimana mau diangkat jika HP Ina saja ada bersamanya. "Venus?" "E-eh iya ma ...." "Kamu kenapa? ko gugup gitu?" "Ina, lagi tidur Ma," jawab Venus berbohong dan mengabaikan pertanyaan Mamanya. "Pasti dia capek setelah menempuh perjalanan jauh." "Iya Ma. Udah dulu ya Ma ... Venus juga mau istirahat," alibi Venus. Karena ia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Mamanya. Karena semakin lama ia berbicara, semakin banyak pula kebohongan yang akan ia keluarkan dari mulutnya. Menyebalkan. "Oh, ya, sudah. Jaga diri kamu di sana, ya. Jaga anak Mama baik-baik." Liya menasehati, Mama Venus. Mendengar itu Venus tersenyum kecut, di sini seakan-akan yang berstatus anak hanya Ina. Maaf, ma. Anak kesayangan mama udah aku hilangin, batin Venus. "Adek Abang yang blo'on, kamu ada di mana?" lirih Venus sebelum tenggelam dengan kegelapan. -----00----- Angin berembus pelan menerpa wajah Ina yang sedang melamun di jendela kamarnya yang sudah dibersihkan oleh Tia. Entah kenapa tiba-tiba ia teringat dengan Abangnya. Bahkan ia merasa sangat merindukannya. Ia seketika ingin segera bertemu dengan Abangnya dan menceritakan segala keluh kisahnya. Dan menceritakan kesongongan seorang Alif yang diam-diam Ina akui sebagai orang baik. Jika Alif jahat tidak mungkin ia rela menggendong Ina yang tak bisa terbilang dekat. Jika Alif orang jahat pasti Ina sudah ditinggalkannya begitu saja di tengah-tengah kebun yang tak berpenghujung itu. Sungguh polos sekali pemikiran gadis tersebut terhadap seseorang, yang bahkan baru dikenalnya. Angin yang tadi manari-nari sembari memainkan rambut Ina, kini tergantikan oleh rintik-rintik hujan gerimis yang lama-kelamaan berubah menjadi deras. Ina berinisiatif untuk bermain hujan-hujanan. Ia bergegas keluar dari kamarnya dan menuju kehalaman belakang rumah Alif yang cukup luas. Yang mana di setiap sisinya ditumbuhi oleh bunga mawar, dan di setiap sudut ditumbuhi oleh pohon-pohon besar yang Ina saja tidak tahu itu pohon apa, namun cukup menampilkan kesan indah nan asri. Ina tampak sangat bahagia bermain hujan-hujanan. Tercetak dengan jelas senyum manis di bibir mungilnya. Siapa pun yang melihat itu pasti tahu jika Ina sangat senang. Di lain tempat, Tia yang kebetulan melintas di dapur tidak sengaja melihat pintu belakang terbuka lebar. Ia bermaksud untuk menutupnya. Namun, alangkah terkejutnya saat melihat Ina sedang berjingkrak-jingkrak di bawah derasnya hujan. "Ii-na, kaak-amu nga-apain di-disi-tu?!" teriak Tia agar suaranya tidak teredam oleh suara derasnya hujan. "Main hujanlah. Ayok ikut," teriak Ina sambil berlari menghampiri Tia. "Eng-nggak baba-ik! Nan-nti ka-kmu sas-sakit!" balas Tia dengan kegagapannya. "Gak apa-apa. Ina gak bakal sakit kok, kata Abang Venus, Ina itu kuat," jawab Ina sambil mengusap air yang menerpa wajahnya. Malas berdebat, Tia segera bergegas untuk memberitahu Alif. Ia rasa hanya Alif yang dapat menghentikan tingkah gadis tersebut. Tidak memakan waktu lama, Tia tiba di depan kamar milik Alif, itu pun dengan bantuan berlari. Sedikit info, rumah Alif cukup terbilang besar, untuk mengelilinginya saja harus siap-siap kakimu pegal. Dengan hati-hati Tia mengetuk pintu kamar Alif. Tidak menunggu lama sosok yang berada di dalam kamar menampilkan wajahnya. "Ada apa?" tanyanya. Terdengar dari suaranya yang parau, Tia sudah tahu jika Majikannya tersebut baru bangun tidur. "Pa-p-ap-" "Papap apa?" potong Alif tidak sabaran. "Pap-p-acar mas ma-ma-in hu-hu-jan," ucap Tia susah payah. Alif mengernyit bingung. Seingatnya ia tidak memiliki pacar. Namun beberapa detik kemudian, Alif membulatkan bola matanya. Ia baru sadar yang di maksud pacar oleh Tia itu siapa. Tidak menunggu lama lagi, Alif bergegas menghampiri orang yang dimaksud Tia. Namun, baru beberapa langkah, Alif menghentikan jalannya dan membalikkan badan menghadap Tia yang sedang kebingungan melihat Alif berhenti. "Di mana dia sekarang?" "Di be-bela-la-" Tanpa menunggu kelanjutan ucapan Tia, Alif kembali melanjutkan jalannya dan meninggalkan Tia yang mengerjapkan mata bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD