Dan benar seperti yang dikatakan Tia, cewek tersebut sedang asik bermain hujan-hujanan. Sambil sesekali berputar-putar. Alif yang melihat itu seperti melihat reka adegan film India yang pernah ditontonnya bersama seseorang yang pernah mengisi kekosonganan hatinya.
Ingat masa lalu huh? Cibir hatinya seolah mengingatkan.
Tanpa menunggu lama lagi, Alif segera menghampiri Ina yang tampak tak menyadari kehadirannya, sebelum itu tidak lupa Alif menggenggam payung berwarna biru muda di tangannya yang masih terbungkus dengan rapi.
"Lo mau sakit hah?!" bentak Alif di tengah derasnya hujan. Ina yang tidak pernah menyangka akan kehadiran Alif, berjingkat kaget.
"Alif?" ucap Ina memastikan.
"Iya ini gue," sahut Alif dengan tatapan tepat di bola mata Ina.
Ina mencoba menetralisirkan degup jantungnya akibat terkejut, Ina berusaha membalas tatapan Alif yang cukup membuat sekujur tubuhnya gemetar. Entah gemetar karena kedinginan atau karena tatapan Alif.
"Kamu mau ikutan main hujan juga, ya?"
"Lo gila ya!" sembur Alif tidak menghiraukan ucapan Ina.
Ina menelan salivanya susah payah saat melihat badan Alif yang sudah basah akibat guyuran air hujan. Walaupun matanya sedikit buram akibat terpaan air hujan, Ina masih dapat melihat cetakan roti sobek di perut Alif yang hanya dilapisi kaos tipis berwarna abu-abu. Entah kenapa ia menjadi salah pokus. Salahkan sendiri ciptaan Tuhan di hadapannya ini yang menggoda iman.
"Mata lo ga usah jelalatan!" dengkus Alif saat menyadari mata Ina yang salah fokus. Ina cepat-cepat mengalihkan matanya saat ketahuan menikmati sesuatu yang ada di perut Alif.
"Kamu ngomong apa, sih?"
"Udah! lo gak usah banyak omong. Sekarang masuk, lihat bibir lo udah pucet gitu!" titah Alif sambil menarik tangan Ina untuk berteduh dinaungan payung yang baru saja dibukanya. Ina hanya diam dan menurut saja, bahkan saat Alif melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Ina.
Sesampainya di dalam rumah, Alif segera menyambar handuk yang memang sudah disediakan oleh Tia dan melingkarkannya di badan Ina yang sudah basah kuyup, begitupun dengan dirinya.
"Sekarang bersihin badan lo, sama keringin rambut lo dengan handuk." Alif mengucapkan itu tampak melihat ke arah Ina. Bagaimana pun juga ia merasa malu melihat tubuh Ina yang tercetak dengan jelas.
"Badan Ina udah bersih kok. Kan, Ina tadi sambil mandi." Ina berucap dengan sesekali menggosok-gosok hidungnya.
Alif berdecak sebal. Cewek ini selalu saja menjawab ucapannya.
"Bawel! sekarang masuk ke kamar."
"Ke kamar siapa?" Ina bertanya dengan wajah polos.
"Kamar lo lah, b**o. Emang lo mau masuk kekamar gue?!"
"Oh, oke," jawab Ina singkat.
"Oke apaan?"
"Masuk ke kamar kamu."
Tolong peringatkan Alif untuk memasukkan Ina kedalam karung lalu membuangnya ke kandang macan.
Sungguh menguji kesabaran.
Sebelum Ina berceloteh tidak jelas lagi, Tia mengambil tindakan dengan menuntun Ina masuk kekamar miliknya yang tepat berada di samping kamar milik Alif. Tia juga membantu Ina untuk mempersiapkan baju yang akan digunakannya.
Tampak Tia sibuk mengeringkan rambut Ina dari belakang sedangkan empunya hanya duduk patuh di pinggir ranjang.
"Ina bisa sendiri kok ngeringin rambut Ina," tolak Ina halus. Bagaimana pun juga ia merasa merepotkan Tia.
"Eng-ngga apa-a-apa kok."
Huachim.
"I-ina ke-ken-napa?"
"Ina gak apa-apa kok. Cuma bersin." Ina menjawab seadanya dengan diselingi senyum canggung.
"Ina, mau tidur dulu ya," ucap Ina seakan mengusir secara halus. Sebenarnya ia malas mendengar ucapan Tia yang tergagap-gagap itu, jahat memang, namun begitulah adanya. Mungkin karena efek kepalanya yang sedang berdenyut-denyut sakit.
Seolah paham, Tia pamit keluar. Dan meninggalkan Ina yang berusaha menopang tubunya.
Sepeninggal Tia, Ina menarik selimut bermotif bunga-bunga itu untuk menutupi seluruh tubuhnya, selain kepalanya. Ia kedinginan.
*******
Jam delapan malam....
Saat ini waktunya makan malam. Seperti kemarin-kemarin Alif kembali di hadapkan dengan kesunyian di meja makan.
"Tia," panggil Alif.
"I-iya ma-s ...."
"Kemana cewek itu?"
"Ti-tidu-r ma-s."
Alif tampak melirik jam tangannya. Merasa ada yang kurang beres, Alif bergegas menghampiri Ina di dalam kamar.
Sesampainya di depan kamar bercat coklat tua tersebut. Tanpa basa-basi Alif segera membuka pintu tersebut yang kebetulan tidak terkunci.
Hal yang pertama kali dilihat Alif adalah sebuah kepompong.
Ralat, tapi manusia seperti kepompong. Bagaimana tidak, seluruh badan Ina terbungkus dengan selimut tebal yang hanya memperlihatkan kepalanya saja.
Pelan-pelan, Alif mendekati ranjang Ina. Dapat dilihat dengan jelas wajah Ina yang pucat pasi. Alif menempelkan punggung tangannya kekening gadis itu untuk mengecek suhu tubuhnya. Panas.
"s**t!" umpat Alif.
"Dia sakit. Ngerepotin aja lo!" dengkus Alif tampak tidak suka. Namun, tak urung ia terlihat khawatir juga. Dan saat ia memperbaiki letak kepala Ina yang sedikit terjatuh dari bantal, matanya tidak lepas dari wajah Ina yang memucat.
Setelah selesai, pelan-pelan Alif berjalan keluar kamar agar tidak terdengar bunyi yang mengakibatkan Ina terbangun. Setelah itu Alif bergegas menuju dapur untuk mengambil air kompresan.
Ia ingat, dulu sewaktu ia demam, Bundanya dengan telaten mengompres kepalanya dengan air hangat. Kata Bundanya itu sangat manjur untuk menurunkan panas.
Untuk pertama kalinya Alif akan mempraktekan yang pernah dilakukan Bundanya dulu saat ia demam.
Melihat Alif yang sibuk mondar mandir di dapur, Tia mencoba untuk bertanya. Namun belum sempat ia bertanya, Alif sudah mengeluarkan suaranya dan menyuruhnya diam saja.
Merasa semua sudah lengkap, Alif bergegas kekamar Ina.
"Ck, dasar cewek b**o!" umpat Alif di tengah kesibukannya mengompres kepala Ina.
"Idiot."
"Ceroboh."
"Ngerepotin aja lo ishh!" cerca Alif terus menerus. Walaupun begitu, Alif tetap menjaga volume suaranya agar tidak mengganggu tidur Ina.
"Mammahh, Abangg ...," erang Ina.
Di tengah kesibukannya, Alif menghentikan pekerjaannya mengompres saat mendengar Ina mengigau.
"Dasar cewek Aneh. Tidur yang nyenyak," ucap Alif sambil menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi wajah Ina.
"Peluk Ina ...," lirih Ina.
Alif seketika terkejut mendengar ucapan yang lolos di mulut mungil Ina.
"Ina kedinginan ...," lirih Ina lagi.
Alif menghembuskan napasnya pelan, lalu merangkak naik kesamping Ina.
"Berhubung gue juga dingin, jadi gue turuti kemauan lo cewek bego."
Pelan-pelan Alif mendekap tubuh mungil Ina. Karena tubuh Ina terbungkus selimut tebal, membuat Alif kesusahan memeluknya.
Alif mendapat ide. Ia pun menyingkap selimut itu lalu menarik tubuh Ina kepelukannya, setelah itu baru ia tarik selimut yang tadinya ia singkap untuk menutupi tubuh mereka berdua. Perfect.
"Gue sebenernya takut meluk lo. Takut entar lo perkosa gue," gumam Alif bergidik ngeri saat mengingat obrolan absurdnya dengan Ina di kebun teh kemarin.
Ada-ada saja.
Alif begitu menikmati setiap inci wajah Ina. Entah dorongan dari mana ia memberanikan diri mengecup pipi gembul milik Ina. Ia tau perbuatannya itu lancang, namun salahkan wajah Ina yang menggemaskan itu.
Merasa sudah cukup memandangi wajah Ina, Alif mencoba untuk memejamkan matanya dan mengistirahatkan tubuhnya.
Namun, belum lama ia memejamkan mata, ia merasa ada pergerakan di sampingnya, tanpa membuka mata pun Alif tahu yang dilakukan Ina.
Ina sedang memeluk dirinya dengan kepala yang disandarkan di d**a bidang miliknya.
Malam ini adalah malam pertama kali Ina tidur bersama lelaki selain Ayah dan Abangnya. Tanpa ia sadari tentunya.
Entah ini pertanda baik, atau pertanda buruk untuk Ina di pagi harinya.