Bab 16

826 Words

Lusi berdiri terpaku di ruang makan yang setengah gelap itu. Cahaya lampu gantung memantul samar di lantai marmer putih, menyoroti tubuh Gevan yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Dadanya naik turun pelan, menunjukkan ia benar-benar mabuk berat. Lusi menghela napas panjang—napas yang terdengar seperti seseorang yang memikul beban dunia di pundaknya. Kedua tangannya gemetar, bukan karena takut saja, tetapi karena ia tidak tahu apa keputusan yang benar. Biarkan Gevan di lantai? Tidak mungkin. Nanti pelayan akan melihat dan mereka akan berbicara macam-macam. Nama Lusi yang sudah babak belur akan semakin jatuh. Tapi jika ia menyentuh Gevan, membangunkan atau membantunya, ia takut akan menambah masalah. Gevan tadi memeluknya, mabuk, emosinya kacau. Lusi tidak tahu apakah pria itu akan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD