Lampu neon berwarna merah dan ungu menari liar di langit-langit klub malam itu. Musik berdentum keras, mengguncang d**a, namun tidak ada satu pun dentuman yang mampu menenggelamkan kekacauan dalam kepala Gevan. Ia melangkah masuk dengan napas berat, wajah yang kusut, dan mata yang tampak kosong namun penuh gejolak. Aroma alkohol bercampur parfum menyengat, tetapi Gevan tidak peduli. Dia hanya membutuhkan tempat bersembunyi dari kenyataan. Sebuah kenyataan pahit yang memburu pikirannya seperti bayangan gelap yang tak bisa dihindari. Rasa cintanya pada Lusi tidak pernah hilang. Justru kini semakin menyakitkan—seperti pisau yang terus ditancapkan, lalu diputar perlahan oleh takdir. “Kenapa harus begini?” gumamnya sambil meremas rambutnya sendiri. “Kenapa dari semua laki-laki di dunia… har

