Suara langkah Gerald terdengar berat menuruni tangga. Setiap hentakan kaki pria itu membuat semua pelayan menunduk makin dalam, seolah seluruh udara di dalam rumah langsung menegang. Gevan masih berdiri di ruang tengah, bersandar pada tiang dekat sofa, memainkan ponselnya sambil pura-pura tidak peduli. Padahal dari sudut mata, ia tahu betul ayahnya sedang marah. Dan benar saja. Begitu Gerald sampai di bawah, ia tidak berkata apa-apa. Tidak ada sapaan, tidak ada peringatan. Hanya sebuah gerakan tangan cepat. Plak! Tamparan itu terdengar keras sampai menggema. Salah satu pelayan perempuan langsung terkesiap kecil, menutup mulutnya. Pelayan laki-laki yang memegang nampan hampir menjatuhkan gelas. Rumah itu membeku. Gevan terhuyung sedikit ke samping. Kepalanya terpaksa menoleh karena ke

