Lusi membuka pintu kamar Yunita perlahan-lahan, sepelan mungkin agar engselnya tidak berdecit. Udara di dalam kamar itu jauh berbeda dari seluruh rumah; dingin, sunyi, dan terasa seperti waktu berhenti. Tirai jendela hanya terbuka sedikit, membiarkan cahaya tipis masuk dan mengenai wajah pucat wanita paruh baya yang berbaring di ranjang besar. Yunita, ibu Gevan, terlihat begitu rapuh. Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, dan napasnya teratur tapi lemah. Rambutnya yang dulu hitam lebat kini tampak kusam dan beruban. Di samping ranjang ada mesin kecil yang mencatat detak jantungnya, dan meja kecil tempat obat-obatan tertata rapi. Lusi menggenggam mangkuk bubur hangat yang dia buat diam-diam. Tangan kirinya sedikit gemetar karena campuran ketakutan dan harapan. Dia tahu Gevan tidak akan suka jik

