Di halaman belakang rumah yang sepi, Lusi duduk di kursi kayu panjang dekat taman kecil. Matahari sore menurunkan sinarnya perlahan, membuat cahaya hangat menyentuh pipinya. Tangan Lusi sibuk merajut benang warna biru lembut—warna favorit almarhum ibu kandungnya—karena ia ingin memberikan sesuatu yang hangat dan tulus untuk Yunita. Syal itu sudah hampir setengah jadi. Benang-benang melingkar indah membentuk pola sederhana, namun penuh ketulusan. Setiap lilitan benang terasa seperti doa agar Yunita pulih, agar wanita itu bahagia meski sedikit saja, agar Lusi bisa memberi kebaikan meski hidupnya penuh luka. Lusi tersenyum kecil ketika membayangkan Yunita memakainya nanti. *Semoga Ibu suka…* batin Lusi. Namun senyum itu langsung hilang ketika suara mobil terdengar di depan rumah. SUV hita

