Paper bag berwarna hitam itu terbang ke arah Lusi dan jatuh tepat di pangkuannya. Suaranya terdengar cukup keras di ruangan yang sunyi itu. Lusi terlonjak pelan, ia mengangkat wajah dan menatap Gerald yang berdiri beberapa langkah di depannya dengan tatapan dingin dan penuh penilaian. Gerald bahkan tidak terlihat lelah meski katanya pulang dari perjalanan bisnis luar kota. Lelaki tua itu berdiri dengan tangan bersedekap, rahangnya terangkat, seolah-olah ia adalah raja yang sedang menunggu budaknya membuka hadiah yang ia berikan. Lusi perlahan mengambil paper bag itu. Tangannya bergetar sedikit. Gerald memperhatikannya tanpa kedipan. “Buka,” ujar Gerald datar. Lusi mengangguk kecil dan meraih ujung kantong belanja itu, menarik isinya keluar. Seketika wajahnya memucat. Sebuah gaun pende

