Pagi itu rumah keluarga Orion terasa hening seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya. Matahari baru naik di balik pepohonan besar halaman depan, namun suasananya dingin dan menyesakkan. Tidak ada suara tawa, tidak ada kehangatan. Yang ada hanya rasa asing yang menempel di dinding-dinding rumah. Lusi membuka matanya dengan tubuh lelah, kepala berat, dan perasaan kacau. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan tenang. Bayangan wajah Gerald yang memaksanya, suara Gevan yang menghina, serta kondisi Mama Gevan yang lumpuh terus berputar di kepalanya. Ia ingin pulang. Hanya sebentar. Hanya melihat ibunya. Hanya memastikan ayahnya baik-baik saja. Ia sudah terlalu lama terjebak di rumah yang bukan rumah, di kehidupan yang tidak pernah ia inginkan. Dengan langkah pelan, ia bangkit dari ranja

