Langkah-langkah sepatu dokter dan dua perawat terdengar menggema di lorong panjang rumah itu. Lusi berdiri kaku di balik dinding dekat ruang keluarga, memegang sapu yang sudah tidak ia gunakan lagi sejak lima menit lalu. Dadanya naik turun, mencoba mengatur napas ketika melihat para tenaga medis itu melewati dirinya. Salah satu pelayan, Rani, yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Lusi, mendekat pelan. Suaranya berbisik lirih. "Mereka memang datang dua kali seminggu. Untuk memeriksa Nyonya Yunita. Sudah sejak lama." Lusi mengangguk pelan, matanya mengikuti rombongan kecil itu menuju kamar utama. Jari-jarinya gemetar. Ada rasa penasaran yang mencubit-cubit, ingin tahu kondisi wanita yang dulu dikenal anggun dan lembut itu. Namun, di sisi lain, ada rasa takut yang menggumpal. Takut jika Ge

