Kamar kedua terbesar di rumah ini yang kini menjadi milik Lusi terasa lebih seperti kurungan daripada tempat tinggal. Lampunya redup, tirainya tertutup rapat, udara dingin merayap dari celah-celah jendela. Setelah kejadian di meja makan, langkah Lusi terasa gontai, tubuhnya seolah kehilangan tenaga ketika ia akhirnya masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Begitu pintu tertutup, ia langsung merosot bersandar pada dinding, tangisnya pecah lagi. Tubuhnya gemetar memikirkan bagaimana Gevan membanting semua makanan yang ia buat, bagaimana mata lelaki itu menatapnya dengan penuh kebencian, seakan keberadaan Lusi sendiri mencemari rumah ini. Ia memeluk kedua lututnya. Air matanya tak kunjung berhenti. Hatinya hancur berkeping-keping, tetapi ia tahu ia tidak boleh terlihat lemah di depan

