8. Hidden Level

1446 Words
"Ayo kita lanjutkan..." Yoland kembali ke tempat duduknya kemudian diiringi oleh Pom. "Baiklah," ucap Rico kemudian kembali menatap layar monitornya. "Sakti, kemana kita selanjutnya?" tanya Yoland. Sakti membuka fitur map untuk memeriksa lokasi titik merah terdekat, "Ikuti aku," sahut Sakti kemudian menggerakkan karakternya berlari menuju lokasi titik merah terdekat, lalu diiringi oleh Yoland dan Pom. Sesampainya di titik merah, mereka kembali bertarung melawan virus Reinka-99. Setelah berhasil mengalahkan virus itu, sebuah benda misterius kembali terjatuh sebelum virus itu menghilang. Sakti menggerakkan karakternya menghampiri benda misterius tersebut. "Kali ini bukan gulungan kertas." Sakti menekan shortcut 'Pick' dan seketika benda misterius tersebut masuk ke dalam inventory karakternya. Sakti menekan tombol 'I' pada keyboardnya. "Kali ini apa, Sakti?" tanya Yoland. Sakti melihat sebuah benda berbentuk tali tambang yang menggulung. "Segumpal tali tambang," jawab Sakti. "Hah?!" Yoland merasa heran. "Apa tali itu bisa digunakan?" tanya Pom. "Ku rasa tidak. Sepertinya ini hanya sebuah 'ITEM' tidak berguna," sahut Sakti. "Kalau begitu, kita lanjutkan ke titik selanjutnya," ucap Yoland. "Baik, ayo kita lanjutkan," sahut Sakti kemudian kembali menggerakkan karakternya berjalan menuju ke lokasi titik merah yang terdekat selanjutnya. Yoland dan Pom pun menggerakkan karakter mereka mengikuti karakter Sakti. Empat, lima, enam, tujuh, dan delapan virus sudah berhasil mereka kalahkan, tapi semuanya hanya menjatuhkan 'ITEM' yang menurut mereka tidak berguna. Virus ke empat menjatuhkan sebuah 'ITEM' berupa selembar kain berwarna hitam, virus ke lima menjatuhkan sebuah 'ITEM' berupa sebuah batu kecil berwarna hitam, lalu virus ke enam, tuju, dan delapan menjatuhkan benda yang sama seperti benda yang dijatuhkan oleh virus ke lima, yaitu sebuah batu kecil berwarna hitam. Kemudian mereka melanjutkan dan akhirnya tiba di lokasi titik merah ke sembilan. Kali ini mereka berada tepat di tengah-tengah kota. "Dimana virus itu?" gumam Sakti saat karakternya berada di dalam sebuah bangunan sambil berdiri di depan jendela dan meneropong ke arah karakter Yoland yang berkeliling sendirian. Sementara Pom masih menunggu sampai bar 'Mana Point' karakter miliknya kembali terisi. "Bagaimana? Apakah sudah ada pergerakan dari objek tak dikenal?" tanya Yoland sambil terus menggerakkan karakternya berjalan menelusuri jalan raya yang suasananya sangat sunyi. "Masih belum, Ketua," sahut Sakti. "Pom, apakah pengisian "Mana Point-mu' masih lama?" tanya Yoland. "Sebentar lagi penuh, Ketua," jawab Pom. Sementara itu, Rico dan Anata sejak tadi terus memeriksa setiap data di dalam virus Reinka-99 yang tadi pertama kali mereka kalahkan. "Mereka serius sekali," gumam Anata melirik ke arah Rico, Sakti, Yoland, dan Pom yang tampak sangat serius. "Job golem memang sangat cocok untukmu, Pom," ucap Anata tetap mengunci pandangannya ke arah layar monitor sambil terus menggerakkan kesepuluh jari-jemarinya yang beradu dengan papan keyboard di depannya. "Hahaha." Sakti, Yoland, dan Rico seketika tertawa. "Lihat saja, saat karakternya sedang mengisi 'Mana Point', itu mirip sekali saat Pom sedang makan camilan sama seperti user-nya," ucap Anata lagi mencoba me-rileks-kan suasana di dalam base camp. "Hei... Begini begini, aku adalah satu-satunya hacker berbadan gemuk di kota ini..." sahut Pom membela dirinya yang sedang diejek oleh Anata. "Iya, tau kok," ucap Anata tersenyum sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan sebelah kirinya. Pom mendengus kesal sambil terus melahap makanan ringan yang sejak tadi masih berada di tangannya. "Ketua, awas!" teriak Sakti seketika saat menatap layar monitor dan melihat api yang menyembur ke arah karakter Yoland entah darimana asalnya. Yoland langsung berusaha untuk menghindari semburan api tersebut. Namun, usahanya untuk menghindar gagal karena semburan api itu sangat besar. "Darimana asal serangan itu?" gumam Yoland heran sambil terus menatap layar monitor kemudian menyeret matanya ke arah kiri atas layar tepat menatap bar 'Health Point' miliknya yang tersisa dua persen, "Serangan ini dampaknya lebih besar daripada serangan virus yang sebelumnya." Yoland mulai khawatir. "Kau tidak apa-apa, Ketua?" tanya Sakti. "Ya, tidak apa-apa. Tapi 'Health Point' milikku sangat kritis," jawab Yoland memberitahu. "Ketua, gunakan potion." Pom mengirimkan sebuah 'ITEM' berbentuk botol yang di dalamnya berisi ramuan berwarna merah. "Health Point Potion?!" Yoland heran, "Darimana kau mendapatkannya?" tanya Yoland seketika menggunakan item tersebut untuk menambah persentase bar 'Health Point' karakternya. "Aku yang mengirimnya kepada Pom, Ketua," sahut Anata tersenyum menang sambil membantu Rico menganalisa data virus Reinka-99. "Hei Anata, apa karaktermu punya Skill Buf...?" tanya Sakti. "Skill Buf?! Aku tidak tahu..." sahut Anata. "Skill Buf itu biasanya dimiliki oleh job penyihir seperti milikmu," ucap Yoland menjelaskan, "Kegunaannya adalah untuk membantu teman kelompokmu, contohnya Skill Buf yang memiliki kegunaan untuk memberikan tambahan poin ketangkasan kepada seluruh anggota kelompok, atau memberikan tambahan poin pertahanan, dan masih banyak lagi," sambung Yoland. "Dan dari situlah kesalahan pertamamu saat memilih skill-skill yang ada pada pohon kemampuan," ucap Sakti menoleh ke arah Anata yang duduk di samping kirinya. "Apa maksudmu!" Anata langsung berdiri sambil berkacak pinggang menghadap ke arah Sakti. "Eh.. Enggak, enggak." Sakti seketika merasa takut kepada Anata yang menatapnya dengan mata melotot. "Sebenarnya aku cuman mau ngasih tahu kalau memilih skill yang berguna saja, seperti skill buf untuk membantu kelompok, bukan skill menyerang," ucap Sakti pelan agar Anata tidak mendengarnya. "Lagian, kalau kamu tahu kenapa enggak ngasih tahu aku!" sahut Anata kesal karena mendengar ucapan Sakti walaupun sudah berusaha dipelankannya. "Sudah, sudah... Jangan berdebat dalam situasi seperti sekarang ini dulu...." Yoland mencoba melerai perdebatan antara Sakti dan Anata. "Teman-teman..." ucap Pom, "Coba lihat wujud virus itu." Pom menatap layar monitor dan melihat sesosok naga raksasa berkaki empat berjalan mendekati karakter Yoland. Rico menoleh ke arah layar monitor yang ada di depan Sakti, "Seekor naga?!" Rico tercengang setelah melihat visual dari virus tersebut. "Jujur teman-teman... Aku tidak memasukkan data visual naga dalam game ini," ucap Pom. "Jadi, pencipta virus ini sudah mengubah program yang sudah kita rancang tanpa sepengetahuan kita." Yoland tampak kesal. Yoland segera menggerakkan karakternya berlari menuju sebuah bangunan dimana karakter Sakti dan Pom berada. Namun, saat karakternya berlari, virus itu langsung mengejar dan menghalangi untuk bisa sampai ke bangunan. "Kenapa lari?" Sebuah kalimat muncul di atas kepala naga raksasa tersebut. "Apa aku tidak salah lihat?!" Yoland mengucak kedua matanya. "Virus itu bisa berkomunikasi?!" Sakti seketika merasa heran. "Ternyata hebat juga lawan yang kita hadapi saat ini," ucap Sakti kagum. "Hei Sakti, sekarang bukan saat yang tepat untuk mengaguminya. Bukankah dia adalah lawan kita?!" Rico merasa kesal kepada Sakti. "Ya, aku tahu. Aku hanya merasa sangat bersemangat untuk bisa mengalahkannya." Sakti mulai menunjukkan tatapan serius. Semangat membara kembali muncul dalam dirinya. Sakti bersiap menembak ke arah virus berwujud naga raksasa tersebut, tapi seketika naga itu langsung menoleh ke arah bangunan dimana karakter Sakti dan Pom berada. "Apa!! Dia tahu persembunyian kita!" Sakti terkejut kemudian senyum tipis tampak dari bibirnya, "Baiklah. Sepertinya kita tidak perlu sembunyi lagi," ucap Sakti sambil menggerakkan karakternya berjalan ke luar bangunan dan menghampiri virus berwujud naga raksasa yang berhadapan dengan karakter Yoland. "Sakti! Kau jangan nekat!" ucap Yoland. "Tidak ada gunanya aku bersembunyi. Dia juga tahu keberadaan aku dan Pom." Sakti terus menggerakkan karakternya menuju ke arah virus berwujud naga raksasa tersebut. Virus berwujud naga raksasa tersebut menoleh ke arah karakter Sakti yang berjalan mendekat. "Aku salut dengan keberanianmu." Sebuah kalimat kembali muncul tepat di atas kepala naga raksasa tersebut. Karakter Sakti tiba-tiba berhenti berjalan, kemudian membidik ke arah virus berwujud naga tersebut. Namun, virus tersebut tidak bergerak saat Sakti ingin menyerangnya. Sebuah peluru melesat ke arah virus tersebut dan tepat mengenai tubuhnya. Namun, serangan itu tidak berdampak apapun. Sakti menggeser mouse menggerakkan kursor panah ke arah virus tersebut. "Hidden Level?!" Sakti merasa bingung setelah membaca tulisan setelah kursor panah yang diarahkannya kepada virus itu. "Jika level virus itu tersembunyi, itu artinya kita tidak akan bisa mengalahkannya karena level karakter yang kita miliki sangat berada jauh dari level yang dimiliki virus itu," jelas Rico sambil bersama Anata terus menganalisa data dari virus pertama yang mereka kalahkan. "Pantas seranganku tidak berdampak apapun..." ucap Sakti. "Sudah ku katakan padamu 'Jangan nekat', tapi kau tidak mendengarkan," sahut Yoland. "Lalu, selanjutnya bagaimana?" tanya Sakti bingung. "Sebaiknya kita harus perlahan menjauh dari lokasi ini sebelum virus itu balik menyerang kita," ucap Pom memberi usul. "Kalau begitu...." Sakti mengubah mode karakternya dari mode menyerang ke mode berlari. Dengan seketika Sakti menggerakkan karakternya berlari menjauh dari lokasi itu sehingga membuat virus berwujud naga raksasa itu mengejarnya. "Sudah ku katakan 'Harus perlahan', kenapa kau malah lari?!" ucap Yoland kesal. "Biarkan saja dia, Ketua... Sepertinya Sakti memang memancingnya agar menjauh dari lokasi ini," sahut Pom ketika menoleh ke arah Sakti dan melihat raut wajah Sakti yang terlihat sangat tenang. "Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Yoland bingung. "Lihat saja..." Sakti terus menggerakkan karakternya berlari menjauh dari virus berwujud naga raksasa yang masih mengejarnya. Tak berapa lama, Sakti menghentikkan lari karakternya tepat di depan sebuah stadion lapangan bola. "Semoga dia mengikutiku sampai ke dalam..." ucap Sakti lirih kemudian kembali menggerakkan karakternya berlari memasuki stadion. Karakter Sakti berdiri tepat di tengah-tengah lapangan. Sementara Yoland dan Pom ikut menggerakkan karakter mereka berlari mengejar karakter Sakti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD