Empat minggu berlalu. Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom terus berburu virus Reinka-99 melalui game ciptaan mereka, yaitu Battle Network. Namun, virus Reinka-99 terus saja bermunculan tanpa habis dan mereka pun berhasil memusnahkan beberapa virus yang tingkat kekuatannya dapat mereka tandingi. Sedangkan virus yang memiliki status Hidden Level tak berani mereka lawan karena hanya akan membuang-buang waktu.
Sakti, Yoland, Anata, Rico, dan Pom mulai menikmati bermain game ciptaan mereka saat melawan virus-virus yang mereka temui di setiap lokasi titik merah yang terlihat pada peta milik Sakti.
Sakti terkejut saat membuka fitur peta dan menemukan sebuah titik biru di sekitar mereka.
"Titik biru?!" gumam Sakti sembari mengerutkan kedua keningnya.
Sakti bergegas menggerakkan karakternya berlari menuju lokasi titik biru tersebut.
"Kau mau kemana, Sakti?!" tanya Yoland heran. Namun, Sakti tidak menjawab karena tidak menyadari Yoland berbicara dengannya akibat terlalu penasaran dengan sebuah titik biru pada petanya.
Yoland semakin penasaran, tapi saat ini dia, Anata, Rico, dan Pom masih berhadapan dengan sesosok virus Reinka-99 berwujud monster gorila raksasa dengan delapan tangan, kecuali Sakti.
"Apa itu pemain?!" gumam Sakti bertanya dalam hati saat karakternya tiba di lokasi titik biru dan melihat satu karakter dengan job pedang sedang melawan sesosok virus Reinka-99 berwujud laba-laba raksasa berwarna hitam dengan kepalanya yang berbentuk tengkorak kepala manusia, kemudian tubuhnya memiliki delapan kaki dan masing-masing kakinya berbentuk pedang logam besar yang sangat tajam.
Sakti menggerakkan karakternya bersiap untuk menembak sesosok virus yang dilawan oleh pemain misterius itu. Bidikan Sakti sangat tepat, dengan satu peluru virus itu berhasil dikalahkan.
Kemudian Sakti menggerakkan karakternta berlari menghampiri karakter dengan job pedang yang digunakan pemain misterius itu.
"Wah, terima kasih atas bantuanmu." Sebuah kalimat muncul tepat di atas kepala pemain misterius itu setelah Sakti berhasil mengalahkan virus dengan satu serangan.
"Apa dia cuma NPC?! Tapi, sepertinya bukan NPC..." gumam Sakti dalam hati.
Sepuluh jari tangan Sakti mulai beradu dengan papan keyboard di depannya.
"Kau siapa?" Sakti mengirim sebuah pesan.
"Salam kenal, namaku Lexo. Aku berasal dari kota Caloocan dan aku sangat pemula di game ini."
"Ternyata benar. Dia bukanlah NPC. Lalu, bagaimana dia bisa masuk ke dalam game ini?!" gumam Sakti bingung dan berpikir kenapa bisa ada pemain lain yang ikut bermain game bersama mereka.
Sementara itu, Yoland, Rico, Anata, dan Pom sudah berhasil mengalahkan virus yang tadi mereka lawan.
"Sakti..." panggil Yoland, tapi Sakti hanya diam.
Yoland merasa heran dengan sikap Sakti. Yoland beranjak berdiri, lalu berjalan menghampiri ke tempat duduk Sakti yang duduk di antara Anata dan Rico.
"Ada apa Sakti?" tanya Yoland ketika ia tiba dan berdiri tepat di belakang tempat duduk Sakti.
"Eh! Ketua...." Sakti tersentak seketika menoleh ke belakang tepat menatap Yoland, "I-ini...." Sakti kembali menoleh menatap ke arah layar monitor yang berada di depannya, "Teman-teman, apakah game ciptaan kita ini benar-benar sudah dibajak?"
"Dibajak?! Maksudmu?!" Seketika Rico menoleh ke arah layar monitor yang ada di depan Sakti, "Bagaimana mungkin ada pemain lain yang bisa tahu dengan game buatan kita ini?!"
Sakti mengangguk, "Ada pemain lain yang ikut memainkan game ini selain kita, dan sekarang aku masih berusaha menghubungi pemain itu."
"Apa mungkin dia adalah pencipta virus yang sekarang sedang kita hadapi?!" tanya Anata.
Sakti menggeleng, "Aku rasa bukan...."
Kesepuluh jari Sakti kembali beradu dengan papan keyboard di depannya.
"Lexo, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam game ini?" Sakti kembali bertanya melalui sebuah pesan yang muncul tepat di atas kepala karakter miliknya. Sedangkan Yoland, Anata, Rico, dan Pom ikut memperhatikan dari belakang Sakti.
"Masuk ke dalam game ini?! Aku tidak mengerti apa maksud pertanyaanmu...."
"Maksudku, bagaimana kamu tahu dengan game ini?"
"Ooh! Aku baru saja mengunduhnya melalui Market-App yang ada di komputerku. Sebenarnya aku hanya coba-coba dan menemukan game baru karena aku bosan dengan game-game lama. Aku sangat suka tampilan game ini. Sangat realistis, seperti tampilan di dunia nyata."
"Market-App?!" gumam Rico sembari mengerutkan kedua keningnya setelah membaca pesan balasan dari pemain misterius itu.
"Market-App itu bukan berasal dari negara tempat tinggal kita," ucap Anata.
"Benar, aku pernah menggunakan platform itu untuk membeli data langka," imbuh Rico, "Kalau aku tidak salah, platform itu berasal dari negara Filipina."
"Filipina?!" gumam Sakti, "Tadi dia mengatakan bahwa dia berasal dari kota bernama Caloocan," ucap Sakti.
"Caloocan...." Rico mencoba mengingat nama itu sesaat, "Benar, itu adalah salah satu kota di negara Filipina," ucap Rico.
"Jadi, si pencipta virus berasal dari negara itu?!" tanya Anata heran.
"Jangan terlalu gampang menyimpulkan sesuatu!" bentak Yoland menegur Anata.
"Eh!"
"Ketua benar, kita tidak boleh dengan gampang menyimpulkan sesuatu. Bisa saja kan, tujuan si pencipta virus ini memang untuk mengadu domba kedamaian antar negara," imbuh Sakti.
"Ya, karena tidak hanya orang yang berasal dari negara itu yang dapat mengakses platform Market-App." Rico menambahkan, "Mungkin saja, si pencipta virus berasal dari negara tempat tinggal kita, kan?"
Anata mengangguk faham.
"Astaga! Kenapa aku baru menyadarinya sekarang!" Seketika Rico terkejut dan tampak kecemasan dari raut wajahnya.
"Ada apa, Rico?" tanya Yoland.
"Jika game ciptaan kita bisa diakses di negara lain, maka...." Ucapan Rico terhenti.
"Virus Reinka-99 juga menyebar ke negara itu," sahut Sakti, "Sekarang, hal yang kita takutkan benar-benar terjadi...."
"Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya?" tanya Pom.
"Aku tidak tahu langkah apa yang harus kita ambil...." Yoland tampak bingung.
"Menurutku, tekhnologi di negara itu juga tidak ketinggalan. Mereka disana pasti tidak akan tinggal diam jika menemukan virus Reinka-99," ucap Rico yakin.
"Kemana dia?!" Sakti bingung karena saat melihat layar monitor di depannya tiba-tiba karakter yang dipakai oleh pemain misterius itu menghilang.
"Sepertinya virus Reinka-99 sudah melakukan pergerakan dan mulai menyebar ke sana," sahut Rico.
"Virus itu menyebar ke negara lain?! Kenapa aku tidak memperhitungkannya sampai ke sana?! Semua ini adalah kesalahanku!" ucap Yoland kesal.
"Tidak, Ketua." Sakti menggeleng, "Kita sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Itu benar!" seru Anata.
"Semoga di sana dampaknya tidak sampai separah seperti di negara kita," ucap Sakti lirih penuh harap.
"Ayo! Sebaiknya kita lanjutkan perjuangan kita, dari pada hanya berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa!" seru Anata mengajak untuk kembali masuk ke dalam game dan lanjut memburu virus Reinka-99.
"Ayo, Ketua," tambah Sakti.
Yoland pun mengangguk pelan, semangatnya masih belum bisa bangkit kembali karena ia merasa bahwa menyebarnya virus ke negara lain adalah akibat kesalahannya dalam mengambil keputusan sebagai ketua dari tim Trouble Maker.