Lirna kembali ke ruangannya untuk menetralkan pikirannya, dia mengumpulkan kesabarannya karena pertemuannya dengan Arnold membuat kesabarannya habis. Dia tak menyangka bertemu dengan sosok yang sifatnya hampir mirip dengan Reyhan, menyebalkan dan merasa berkuasa.
“Ya Tuhan, setahun ini aku bahagia. Aku harap laki-laki itu tidak mengusik ketenanganku, kenapa dia hampir mirip Reyhan. Sungguh memuakkan.”
Lirna menatap Erna yang menghampirinya dan memegang bahu Lirna. Lirna tahu Erna ikut sedih dengan perlakuan Arnold karena Erna mengetahui keterpurukannya selama ini, apalagi Erna menjadi tempat curhatan Lirna di berbagai aspek.
“Kamu sabar ya, nggak usah sangkut pautkan cowok itu dengan Reyhan si iblis,” seru Erna menenangkan Lirna.
“Iya, aku nggak mikirin itu kok. Sikap konsumen kan beda, dilihat dari gelagatnya aja dia orang kaya. So, wajar bersikap berkuasa gitu.”
“Ta-tapi mereka belum pergi. Mereka meminta pelayanan pemilik Kedai dan berbagai menu gratis sebagai sikap perlawanan kamu,” seru Erna hati-hati.
Mata Lirna membulat mendengar ucapan Erna, ternyata Arnold dan kawannya belum pergi. Padahal Lirna sudah lega karena mengira Arnold sudah pergi. Namun, Lirna pasrah karena memberikan pelayanan untuk konsumen adalah tanggung jawabnya. Apapun sikap dan perilaku konsumen harus ditangani agar Kedai kopinya semakin sukses.
“Baiklah, aku akan melayani mereka sepenuh hati,” pasrah Lirna mengulum senyum.
“Semangat ya,” ucap Erna seraya mengangkat tangannya sebagai kode penyemangat untuk Lirna.
Senyuman Lirna menyungging, dia kembali meracik kopi. Kemudian menyiapkan daftar menu pelengkap dan menghampiri meja Arnold dan kawan-kawannya.
“Silahkan dinikmati, maafin saya atas kejadian tak mengenakkan tadi ya,” seru Lirna menyungingkan senyum terpaksa.
“No problem. Pada akhirnya Anda kembali lagi setelah melenggang pergi, padahal saya mencarinya pemilik Kedai ini,” seru Arnold dengan nada mengejek.
Lirna menggigit bibir bawahnya kejam, dia tak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya dia malas berinteraksi dengan Arnold, bagi Lirna itu hanya membuang waktu saja.
“Nggak usah bingung gitu dong, Saya tahu Anda pemilik Kedai ini kok. Jangan Anda kira Saya b**o ya nggak tahu siapa pemilik Kedai Kopi CoffyDit ini ya,” ungkap Arnold dan membuat Lirna melongo.
Lirna menelan ludah gusar, ternyata Arnold mengetahui dialah pemilik Kedai. Namun, mengapa sikap Arnold tak mencerminkan sebuah penghormatan terhadap pemilik Kedai. Seharusnya Arnold bersikap ramah dan menjaga ketenangan kedai.
“Saya cuma ngetes Anda sebenarnya, baru kali ini Saya melihat pemilik Kedai dan barista adalah orang yang sama. Saya penasaran dan ternyata jiwa bisnis kamu patut diperhitungkan ya,” ucap Arnold berwibawa.
“Saya nggak butuh tes dari Anda. Ini bukan lelucon, Anda pikir Saya akan berterima kasih karena mendapat konsumen loyal dan sok bijak seperti Anda?!” Lirna muak dengan ucapan Arnold, dia tak mempan mendapat sanjungan Arnold.
“Anda realistis juga ya. Baiklah, ini saya bayar semua pesanan saya.”
Arnold mengeluarkan lembaran uang ratusan ribu sebanyak 20 dan meletakkan di meja. Kemudian, Arnold mengangkat kepala sebagai kode pada teman-temannya untuk pergi tanpa mencicipi semua menu di atas meja.
“Hey, mau kemana kalian? Habiskan pesanannya dulu baru pergi,” ucap Lirna tegas.
“Nggak usah ambil pusing deh! Saya sudah membayar semua pesanan di meja, bahkan lebih. So, jangan halangi Saya pergi,” keukeuh Arnold sok berkuasa.
“Bukan gitu. Saya paling nggak suka konsumen yang menyia-nyiakan makanan, Anda memesan semua jenis kopi dan menu pendamping di Kedai ini. So, habiskan pesanan sebelum pergi.”
“Aduh, drama banget sih hidup Anda. Zaman sudah modern, Saya nggak butuh semua makanan ini. Kamu simpan aja buatmu.”
Lirna tak terima Arnold merendahkan makanan seperti itu. Selain tak baik menyia-nyiakan makanan, Lirna tak mau nama baik Kedai kopinya dipertanyakan karena ada konsumen yang membayar lebih tanpa mencicipi pesanan.
“Udah guys, nggak usah dengerin wanita ini. Ayo kita pergi,” ajak Arnold dan melenggang pergi.
“Tunggu.”
Lirna sengaja menghadang Arnold sebelum mencapai pintu keluar. Dia menunggingkan senyuman manis dan menorehkan lubang indah di kedua pipinya. Kemudian, Lirna mengangkat tangannya ke arah Erna. Erna yang mengetahui kode panggilan dari Lirna segera menghampiri Lirna.
“Ada apa Lirna?” tanya Erna lembut.
“Bungkus semua pesanan Mas ini dengan rapi. Bungkus satu per satu ya,” perintah Lirna mengulum senyum.
“Baik.” Erna segera pergi membungkus pesanan Arnold.
Sementara Arnold dan kawan-kawannya heran dengan tindakan Lirna. Sebenarnya apa yang Lirna rencanakan dengan melarang Arnold pergi dan meminta pelayan membungkus pesanan Arnold.
“Ibu pemilik Kedai, Saya dan teman-teman mau pulang tanpa membawa semua pesanan itu. Untuk apa? Semua menu udah dingin dan nggak enak,” ucap Arnold penuh penekanan.
“Nggak usah GR! Mana mungkin saya meminta Anda membawa pulang pesanan. Sudah pasti dibuang,” sahut Lirna penuh kemenangan.
“Maksudnya?”
“Ini semua pesanannya udah dibungkus,” seru Erna seraya menyerahkan beberapa kantong kresek besar pada Lirna.
“Baik, makasih Erna.
“Iya.”
Arnold mengernyitkan kening dengan sikap Lirna, sebenarnya apa yang direncanakan gadis itu. Namun, perasaan Arnold tidak enak karena khawatir Lirna menyuruhnya melakukan hal aneh.
“Sekarang, Anda dan teman-teman Anda membantu Saya membagikan makanan ini ke pemulung dan anak jalanan,” seru Lirna tegas.
Sontak, Arnold melotot murka menatap Lirna. Tangannya mengepal seolah ingin melumat habis gadis di hadapannya itu. Namun, Lirna malah menanggapi kemarahan Arnold dengan santai.
“Ayo ikut aku,” ajak Lirna cepat.
“Tidak! Permintaan Anda sama saja menghina Saya, mana mungkin seorang eksekutif muda berjalan kaki di jalanan membagi makanan pada rakyat miskin. Itu nggak ada dalam kamus Saya,” tolak Arnold mantap.
“Tapi itu ada dalam kamus Saya dan menjadi peraturan Kedai Kopi Saya. Siapapun orang yang menyia-nyiakan menu di Kedai Saya, bersedia bertanggung jawab sesuai permintaan Saya.”
“Mana mungkin seperti itu. Sepanjang Saya hidup dan makan di berbagai Restoran, nggak ada pemilik yang memberlakukan peraturan aneh seperti itu.”
“Tanyakan saja pada konsumen lain.”
Seorang gerombolan laki-laki menghampiri Arnold dan melemparkan senyum pada Lirna. Mereka menundukkan kepala kepada Lirna sebagai rasa hormat dan kagum pada Lirna yang sukses mengelola Kedai Kopi dengan unik dan peraturan merakyat.
“Hey, sebaiknya Mas ikuti saja perintah Mbak Lirna. Semua yang dikatakan dia benar, nggak seharusnya Mas bersikap sombong di Kedai ini. Kalau Mas mau memamerkan kekayaan Mas, jangan disini,” seru laki-laki dengan rambut sebahu yang diikat.
“Benar, kalau sampai kamu menolak perintah Mbak Lirna awas. Kamu tinggal pilih, rumah sakit atau kuburan.” Laki-laki bertubuh berotot dengan tato di lenganya memamerkan kepalan tangannya yang besar dan kuat pada Arnold.
Arnold bergeming, tampak jelas otot di antara keningnya sebagai bagian kemarahannya yang memuncak. Namun dia tak bisa melawan karena Lirna dibela kaum laki-laki kuat, dia tak mau babak belur dan mencoreng reputasinya sebagai pengusaha muda yang loyal.
“Bagaimana Tuan? Mau pulang tapi tak aman, atau ikut dengan Saya membagikan menu ini,” ledek Lirna menawan tawa atas sikap Arnold yang tersudut.
“Baik, Saya setuju,” sahut Arnold terpaksa.
Arnold menatap wajah Lirna garang, dia tak akan melupakan penghinaan ini. Seorang gadis biasa kalangan bawah berani memerintah Arnold dan terjun ke jalanan membagikan makanan, padahal selama ini kedua orang tua Arnold saja gagal memerintah Arnold. Arnold memiliki kehidupan sendiri yang tak bisa dikekang, dia merutuk kedatangannya ke Kedai Kopi Lirna yang berujung penistaan harga diri.
“Pegang 2 ya.”
Lirna langsung memberikan 2 kantong kresek besar ke tangan Arnold. Arnold pun terpaksa menerimanya, Arnold menoleh ke arah teman-temannya yang menahan tawa. Namun, Arnold hanya bisa mengumpat dalam hati.
“Awas aja kalian, aku nggak akan traktir kalian selama sebulan.”
Lirna segera keluar Kedai yang diikuti Arnold. Namun sepasang pengemis tua renta menghampiri Arnold dan meminta belas kasihan Arnold.
“Tolong berikan kami rezeki Nak. Dari kemarin kami belum makan, hanya mengais sisa makanan di tempat sampah,” ucap seorang bapak kisaran umur 70 tahunan.
“Iya Nak, Nenek juga laper. Perut Nenek sakit sekali,” isak seorang nenek renta dengan suara bergetar.
Lirna memandang Arnold geram karena Arnold malah memasang wajah tanpa ekspresi, seharusnya Arnold cekatan memberikan makanan dalam kresek pada kakek dan nenek itu. Lirna pun menyenggol tangan Arnold dan memberikan kode kedipan mata, barulah Arnold mengambil 2 bungkus nasi di dalam kresek.
“Ibu buat kalian, semoga kalian suka ya,” ucap Arnold menyerahkan kotak nasi kakek dan nenek dengan kasar.
“Ya Allah, yang lembut bisa nggak sih?!” ketus Lirna.
“Sudah Neng, nggak papa. Justru kami sangat berterima kasih dengan pemuda baik ini. Walaupun masih muda tetapi nggak malu berbagai kepada kami yang orang jalanan,” seru sang kakek bijak.
Lirna mengulum senyum dengan kebaikan hati sepasang orang tua itu, walaupun hidup di jalanan tetapi semangat hidupnya masih tinggi. Lirna bahkan tak segan merangkul sang nenek dan kakek. Sontak sikap Lirna membuat Arnold terkejut karena sepasang orang tua itu memunculkan bau tak sedap pada badan dan pakaiannya.
“Nenek sama Kakek makan di Kafe aku aja ya. Nanti, kalian bisa makan di ruanganku dan mengganti pakaian kalian,” seru Lirna lembut.
“Nggak usah Neng, kami nggak mau orang yang minum Kopi disini bau dengan aroma tubuh kami. Kami nggak mau membuat usaha Neng cantik bangkrut,” sahut sang nenek lembut.
“Yaudah, Nenek sama Kakek istirahat di rumah itu aja. Itu rumah khusus untuk tamuku, Nenek bisa menikmati makanan disana.” Lirna berkata lembut dan menunjuk rumah sederhana di sebelah Kedai Kopi.
“Baiklah Neng, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Neng cantik ya,” pasrah sang nenek bahagia.
Lirna menatap ke 4 teman Arnold dengan tatapan tegas, sontak membuat 4 pemuda itu gusar. Mereka tampaknya khawatir akan diperintahkan hal aneh oleh Lirna. Sementara Arnold malah tersenyum penuh kemenangan karena temannya mendapat tatapan dari Lirna.
“Rasain, satu detik lagi kalian kena imbasnya.”
“Hey kalian, Saya minta belikan pakaian untuk Nenek dan Kakek ini dan peralatan lainnya,” ucap Lirna tegas.
“Astaga, Mbak ini pemilik kedai atau petugas sosial sih? Kami bertamu ke Kedai Kopi Mbak untuk menikmati kopi. Kenapa malah kaya pembokat gini,” seru Zaki geram karena perintah Lirna.
“Ini salah kalian, kalau kalian tidak berbuat keonaran di Kedai Saya nggak akan seperti ini. Cepat lakukan tugas kalian baru kalian semua boleh pergi, dan ini uangnya.” Lirna memberikan uang ratusan sebanyak 3 juta pada teman Arnold.
“Nasib-nasib,” celetuk teman Arnold yang lain.
“Jangan lupa sabun, kerudung buat Nenek dan sembako ya,” perintah Lirna puas.
“Iya.”
Lirna bernapas lega karena teman-teman Arnold bergegas pergi belanja. Kini, gilirannya mengajak Arnold membagikan makanan ke anak jalanan. Sementara Erna mengantar sepasang orang tua ke rumah Lirna untuk beristirahat.
Kini, Arnold dan Lirna berjalan pelan di area Kedai Kopi Lirna. Arnold langsung mengenakan kaca mata hitamnya karena melihat jalanan ramai pejalan kaki, dia berharap tak ada yang mengenalinya sebagai Arnold sang eksekutif muda.
“Kita bagikan makanan ini ke mereka,” ucap Lirna menunjuk gerombolan pemulung di seberang jalan.
“Nggak usah nyebrang juga kan. Suruh aja mereka nyamperin kita,” tolak Arnold cepat.
“Nggak bisa gitu dong. Nggak usah banyak protes kalau pengen cepet pulang.”
Lirna tak peduli dengan keluh kesah Arnold. Walaupun keringat sudah membasahi kulit Arnold, Lirna tak ambil pusing karena Arnold adalah laki-laki yang kuat dan tak sepantasnya cengeng.
Sementara Arnold terpaksa mengikuti langkah Lirna yang menyebrang, dia tak tahu mengapa Tuhan mempertemukannya dengan Lirna sang gadis menyebalkan. Arnold hanya memperhatikan Lirna telaten membagikan kopi dengan bungkus gelas unik dan aneka makanan yang terbungkus kotak nasi pada pemulung, pemberian Lirna tentunya membuat para pemulung tertawa riang mendapat makanan dan kopi gratis.
“Makasih ya Neng, Alhamdulilah Neng selalu membagikan makanan dan kopi gratis pada kami,” seru sang pemulung laki-laki.
“Kali ini bukan dari Saya Pak, dari laki-laki itu.” Lirna malah menunjuk Arnold dan membuat Arnold terkejut.
“Wah, terima kasih Mas. Masnya ganteng banget deh. Ya Allah, udah kaya artis korea aja Mas nya.” Seorang pemulung wanita antusias melihat ketampanan Arnold, dia bahkan memeluk Arnold kenceng.
“Bu tolong lepasin Saya Bu. Tolong.”
Arnold berusaha melepaskan pelukan ibu pemulung karena jijik dengan pakaiannya yang kotor, ditambah baunya busuk seperti sampah. Kepala Arnold mendadak berputar-putar dan lunglai, satu detik kemudian Arnold terjatuh dan tak sadarkan diri.
“Ya Allah,” usap Lirna khawatir.
“Mbak, sebaiknya bawa Mas nya ke kedai Mbak aja,” seru pemulung laki-laki.
“Iya. Tolong bantu Saya angkat dia ya,” pinta Lirna lembut.
“Baik Mbak.”
Lirna dan para pemulung pun menggotong tubuh Arnold, mereka membawa Arnold ke rumah sederhana. Lirna tak menyangka laki-laki yang sok berkuasa seperti Arnold akan pingsan karena di peluk pemulung, sungguh manusia yang tak bisa pernah melihat ke bawah mungkin.