Sentuhan Terpaksa

1959 Words
Lirna dan para pemulung membaringkan tubuh Arnold di sofa ruang tamu, sementara Erna memberikan minyak angin pada Lirna. Erna menampakan wajah tak suka pada Arnold yang merepotkan. Lirna pun hanya menghela napas dengan sikap Erna. “Eumm... Erna, kamu yang olesin minyak angin ya. Malas aku,” seru Lirna enggan mengoleskan minyak angin pada hidung Arnold. “Ogah! Daripada aku bantu cowok sombong itu, mending kerja semalaman di Kedai tanpa dibayar,” sahut Erna emosi. Lirna menghembuskan napas ke atas, membuat poni terkena sapuan angin dari mulutnya. Sebenarnya dia enggan menyentuh dan memberikan perhatian pada laki-laki. Lirna tak ingin hal buruk kembali menimpanya, walaupun selama ini dia ramah dengan konsumen pria di Kedai tetapi tak pernah bersentuhan. Namun, kini dia harus menyentuh kulit Arnold untuk menyadarkannya. “Udah sambil merem aja. Toh aku yakin kamu nggak bakalan suka sama cowok sombong kaya dia,” ucap Erna, mengetahui isi pikiran Lirna. Lirna mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk kuat, dengan tangan gemetar dia mengoleskan minyak angin ke hidung dan d**a Arnold. Lirna tak bisa memungkiri badan laki-laki itu memang atletis, bahkan kulitnya mulus dan bersih layaknya laki-laki perawatan. “Jangan kurang ajar kamu.” Arnold shock karena mendapati Lirna memegang area dadanya, dia langsung menepis tangan Lirna dan membuat Lirna terkejut. Arnold langsung bangkit dan menatap Lirna geram, sementara Lirna malah tersipu malu dengan mulut yang mengatup sempurna. “Saya kira ucapan kamu yang tinggi setara dengan kepribadianmu. Ternyata salah, kepribadianmu hina dan tak bermoral,” seloroh Arnold menghina Lirna. Wajah Lirna berubah memanas, raut wajahnya mendadak memerah menahan amarah. Tak membutuhkan waktu lama, tangan Lirna mendarat di pipi Arnold. Lirna bahkan memandang Arnold penuh amarah dengan mata yang berair. “Siapa Anda berani mengejek Saya! Apa Anda sudah mengenal Saya sampai mengatakan hal sekeji itu?! Anda nggak berhak menghakimi hidup Saya,” ucapnya penuh penekanan. Arnold tersenyum sinis mendengar ucapan Lirna. Dia tak menyangka Lirna semarah itu dengan ucapannya, padahal ucapannya sering dilontarkan pada kaum wanita dan tak ada masalah. “Sekarang Anda pergi dari sini dan jangan kembali lagi!.” “Saya memang akan pergi dari sini. Saya menyesal berkunjung ke Kedai Anda, Saya harap ini adalah pertemuan pertama dan terakhir kita.” Arnold memasang wajah murka, dia mengambil jaket yang tergeletak di sofa. Beberapa detik menatap wajah Lirna, kemudian berlalu pergi. Lirna meneteskan air mata menatap punggung Arnold yang semakin menjauh. “Kenapa kalimat itu aku dengar kembali setelah satu tahun, kenapa?” isaak Lirna. “Kamu sabar ya, aku yakin insiden hari ini nggak akan terulang lagi. Dia nggak bakal balik lagi ganggu hidup kamu,” ucap Erna menguatkan Lirna. “Kalau dia kembali lagi gimana?” tanya Lirna frustasi. “Udah, nggak usah berpikiran negatif thinking. Masa kamu kalah dengan sepasang Nenek dan Kakek itu,” seru Erna seraya menunjuk sepasang kakek dan nenek yang mesra di atas karpet. Lirna pun mengarahkan pandangannya ke arah sepasang orang tua itu, tampak kebahagiaan bergelayut di wajah keduanya. Walaupun mereka serba kekurangan dan tak memiliki tempat tinggal, namun keduanya bisa bahagia dan tertawa bahagia. Mereka saling menguatkan satu sama lain sehingga tercipta kebahagiaan yang tak tertandingi. “Kamu benar, aku bisa bahagia karena kedua orang tuaku dan Dito. Aku nggak mau Dito tahu penderitaan Mamanya,” ucap Lirna menyemangatkan dirinya sendiri. “Nah gitu dong, nggak ada dalam kamus Lirna seorang cowok sombong berani buat Lirna nangis.” “Iya, aku udah berjanji nggak akan larut dan terpuruk. Walaupun aku dipertemukan lagi dengan cowok itu, aku nggak akan gentar.” “Bagus.” “Ya udah, Kamu tolong temani Kakek dan Nenek dulu ya. Aku mau belanja kebutuhan Dito dulu,” pinta Lirna mengulum senyum. “Oke oke aja sih, asal ada vouchernya ya,” sahut Erna terkekeh. Sore itu, Lirna mengendarai motor bebeknya menuju Supermarket tak jauh dari Kedai. Lirna mengemudikan motornya dengan cepat tanpa kemacetan di Ibukota, Lirna segera menghentikan motornya saat dia area parkir Supermarket. Lirna berjalan memasuki Supermarket seraya mencari ponsel di tas mungilnya. Hal tersebut membuat Lirna menabrak seseorang di hadapannya sampai tubuh Lirna bergeser. Lirna mendongak, tak menyangka seseorang yang ditabrak adalah Arnold. “Anda mengikuti Saya?” tanya Lirna emosi. “Hey, Anda punya kaca atau tidak sih. Jelas-jelas Anda yang hendak masuk Supermarket. Sedangkan Saya dari tadi di dalam Supermarket,” jelas Arnold membela dirinya. Lirna tak tak melanjutkan obrolannya karena seorang gadis di hadapannya tampak memperhatikan perdebatannya dengan Arnold seraya menahan senyuman. Lirna tak ingin gadis itu berprasangka buruk tentangnya. Jangan sampai gadis itu beranggapan dirinya dan Arnold memiliki hubungan asmara karena percintaan identik dengan kebencian yang menjadi cinta. “Tumben diem! Biasanya nyerocos kaya petasan mahal,” ejek Arnold mendapati Lirna yang bungkam. “Sudahlah, minggir. Saya mau belanja,” ucap Lirna ingin mengakhiri obrolan. “Wah, aku seneng deh dengar perdebatan kalian. Menggemaskan,” seru Rania, sepupu Arnold. “Rania. Apa-apaan sih Kamu, Kamu itu masih kecil,” sanggah Arnold tak terima dengan ucapan Rania. “Sumpah Om, baru kali ini Aku lihat Om ngobrol dengan cewek tuh bikin senyum-senyum deh. Nggak kaya biasanya yang emm... penebar pesona. Jangan-jangan gadis itu nggak mempan dengan rayuan maut Om ya.” Arnold membelakakan mata mendengar ucapan sang sepupu, dia tak menyangka Rani terang-terangan mengatakan sifatnya di hadapan Lirna. Sudah Lirna menjadikannya kesempatan menjatuhkan martabatnya. “Cewek itu bukan tipe Om, sama sekali nggak respect,” sahut Arnold cepat. “Hey, Anda pikir Saya sudi di rayu oleh Anda. Sama sekali nggak,” ucap Lirna menatap Arnold geram. “Walaupun Anda masih gadis dan cantik, Saya nggak sudi berteman denganmu. Apalagi menyimpan namamu di hati, mustahil!” “Idih, siapa juga yang ngarep dicintai Anda. Nggak guna.” Lirna melangkah menyenggol bahu Arnold dan masuk ke Supermarket. Pertemuannya dengan Arnold sangat menguras emosinya karena sikap Arnold yang angkuh, namun Lirna merasa sorot mata Arnold meneduhkan. Berbanding terbalik dengan ucapannya yang kasar dan tak memiliki hati. “Gadis...” Lirna tersenyum tipis mengingat Arnold yang memanggilnya gadis, padahal jelas-jelas Lirna sudah memiliki anak satu. Walaupun tanpa pernikahan, Lirna bukanlah gadis seperti gadis umumnya. Lirna menghela napas, mungkin Arnold memiliki alasan bersikap angkuh dan pandai mengejek orang karena dia orang kaya. Tak terasa, satu jam sudah Lirna belanja kebutuhan Dito dan kebutuhan lainnya. Lirna pun bergegas pulang karena merindukan tingkah menggemaskan Dito, motor Lirna pun memasuki halaman rumah Lirna yang tak terlalu luas setelah menempuh perjalanan 3 menit. “Assalamu’alaikum,” ucap Lirna seraya membuka pintu utama rumah. “Wa’alaikum salam Nak. Akhirnya kamu pulang sayang, ini Dito badannya panas,” sahut Bu Citra, ibu kandung Lirna. “Ya Allah, sayang. Sini Ma.” Lirna langsung meletakkan barang belanjaannya di atas meja, kemudian menggendong Dito yang tertidur pulas. Lirna langsung membawa Dito ke kamarnya dan membaringkan sang putra diatas tempat tidur. Lirna duduk di sisi ranjang, dengan cekatan mengambil plester kompres modern yang tadi dibeli di Supermarket, lalu menempelkannya di kening Dito. Lirna menghela nafas lega saat termometer menunjukkan suhu tubuh Dito tak terlalu tinggi dan bisa dirawat sendiri di rumah. “Kamu kangen sama Mama ya Nak, maafin Mama ya sayang karena setiap hari ninggalin Kamu. Mama melakukan ini untuk masa depanmu Nak, Mama ingin kamu hidup enak dan tak kekurangan seperti Mama,” ucap Lirna seraya mengusap lembut rambut Dito. Lirna menyelimuti sang putra sebatas perut, lalu keluar dari kamar untuk mandi. Namun, Citra menahan langkah Lirna yang tampak gontai. Lirna pun memeluk sang ibu dari samping untuk menetralkan kenyamanan tubuh sang ibu memasuki tubuhnya. “Kamu kenapa sayang?” tanya Bu Citra seraya mengusap wajah Lirna, walaupun Lirna sudah memiliki anak tetapi Bu Citra menganggap Lirna seperti anak gadisnya yang selalu dimanjakan. “Aku nggak papa Ma,” sahut Lirna berbohong. “Mama sudah mengenal kamu sejak lahir sayang. Mama tahu saat kamu bahagia, saat kamu sedih dan kesal. Sekarang, ceritakan ke Mama apa yang Kamu rasakan.” Lirna melepaskan pelukannya, dia menggandeng sang mama menuju sofa ruang keluarga. Duduk memandang wajah sang mama yang meneduhkan membuat Lirna melupakan perselisihannya dengan Arnold. “Aku emang udah nggak gadis lagi Ma, tapi aku kesal dengan sikap cowok sombong itu. Seenaknya dia hina aku dan Kedai aku tanpa melihat jerih payahku merintis Kedai Kopi itu.” “Kalian pertama bertemu?” tanya Bu Citra menerka-nerka. “Lebih tepatnya pertemuan kedua Ma, tapi Aku harap nggak ada pertemuan lagi.” “Sayang, Kamu masih muda dan butuh sosok pendamping yang bisa menjaga dan membahagiakanmu dan Dito. Sudah saatnya kamu menghapus luka di hati dan mencari pendamping hidup,” ucap Bu Citra membujuk Lirna, berharap sang putri menemukan tambatan hatinya.” Lirna berubah murung karena sang ibu membahas cinta, sejujurnya hati kecilnya memang merindukan sosok laki-laki yang menjadi penyemangat hidupnya. Namun, luka di hatinya terlalu dalam dan takut luka terulang kembali. “Percaya sama Mama sayang, luka hati kamu adalah cara Allah menunjukkan kebenaran sifat Reyhan bukanlah jodoh terbaik untukmu. Mama yakin, Allah telah mempersiapkan jodoh yang akan memberikan kebahagiaan dan ketenangan untukmu.” “Tapi siapa Ma?” “Mama nggak tahu sayang, tapi hatimu akan menuntunmu menemukan jodoh itu. Yang terpenting buka hati agar jodohmu bisa menemukanmu.” “Aduh Ma, udahlah nggak usah bahas jodoh. Aku takut Ma,” ucap Lirna pasrah. Bu Citra hanya mengulum senyum dengan tanggapan sang putri, dia tahu sebenarnya Lirna sudah siap membuka hati. Namun ketakutan masih menyelimuti dan mengurungkan niatnya, Bu Citra berjanji akan membantu Lirna bangkit, dia tak akan membiarkan putri semata wayangnya hidup menyendiri sampai tua. “Sayang, kamu kenal Mbok Inem kan?” tanya Bu Citra lembut. “Kenapa malah bahas Mbok Inem Ma? Beliau kan tetangga kita yang tinggalnya sendirian.” “Kenapa beliau sendirian?” tanya Bu Citra lagi. “Eum.. karena beliau tidak menikah Ma.” “Nah kamu tahu kan, Mbok Inem hidup sebatang kara dan menikmati masa tuanya sendirian. Beliau tidak memiliki suami untuk berbagai keluh dan bahagia, tidak memiliki anak juga. Apa kamu ingin sendirian di masa tuamu?” “Tapi aku ragu Ma, zaman modern ini sulit mencari laki-laki yang hatinya baik Ma.” “Tapi, sepertinya laki-laki yang Kamu bicarakan menarik dibicarakan.” DEG! Lirna membelalakkan mata mendengar ucapan sang mama, mengapa sang ibu malah membahas Arnold si laki-laki sombong dan tak memiliki hati. Apa tak ada laki-laki lain yang lebih baik darinya? “Selama ini Kamu nggak pernah bercerita tentang laki-laki. Tapi pemuda tadi berhasil membuatmu marah, kesal dan curhat ke Mama,” ucap Bu Citra mengulum senyum. “Ya, karena dia sombong Ma. Beraninya dia menghina aku, pastinya aku nggak terima dan marah dong,” sahut Lirna kesal. “Percayalah Nak! Ini saatnya Kamu membuka diri, bangkit demi Dito agar kelak dia bahagia dan memiliki kasih sayang lengkap dari orang tuanya. Tanamkan kebaikan dan kebahagiaan pada diri Dito, jangan biarkan dia mengetahui Mamanya tidak memiliki pasangan dan menderita,” nasihat Bu Citra seraya memegang bahu Lirna. “Aku akan pikirkan nasihat Mama. Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya Ma.” Lirna memegang tangan sang mama, kemudian berjalan menuju kamarnya. Lirna melangkah menghampiri Dito yang tertidur pulas, ia duduk di sisi ranjang dan mencium kening sang putra. Lirna memikirkan ucapan sang mama dan membenarkannya, Dito memang membutuhkan sosok ayah. Sosok ayah sambung yang bisa menyayangi dan menjaga Dito tumbuh sehat dan besar. “Apa Mama harus melanggar janji Mama untuk menutup hati Nak? Apa Mama bisa menjalin hubungan dengan laki-laki dan siap dengan segala resiko, disakiti atau menyakiti?” ucap Lirna memandang wajah menggemaskan sang putra. Lirna merebahkan tubuhnya di samping Dito, memejamkan matanya untuk terlelap. Namun, bayangan wajah Arnold memenuhi pikirannya, sontak Lirna terbangun dan merasa jijik melihat wajah Arnold melintas di pikirannya. “Kenapa wajah dia ada pikiranku sih? Ini nggak bisa dibiarin,” kesal Lirna. Lirna baru teringat dia belum mandi, dia segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Lirna berharap bayangan Arnold tak menghantuinya lagi karena membuatnya malas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD