Farel menghela nafas panjang. Dia merasa seperti pengecut yang lari dari masalah. Farel tidak bisa melihat Khiya terluka dengan kehadirannya. Atau Farel memang ingin pergi dari Khiya? Apa ini murni karena Farel ingin menjaga Khiya? Atau perasaan pada Sania yang terus menggerakkan langkah kakinya? Farel terus berpikir.... Tapi tak juga ia temui semua pertanyaan yang menuntut jawaban. Farel tidak tahu, perasaan apa yang ada di hatinya. “Farel, kamu ke sini gak bareng istri kamu?” tanya pak Yanto, menyandarkan Farel dalam lamunan panjangnya. “Maaf pak, tapi Sania bukan is—“ “Nah itu Sania,” kata pak Yanto tiba-tiba, menatap jauh di belakang Farel. Farel spontan berbalik melihat arah pandang dosennya. “Sania...” gumam Farel, kaget. “Pak...” Sania tersenyum melihat Farel, namun F

