Pergi

1374 Words

Khiya terisak. Kepalanya berdenyut nyeri, potong ingatan bertumpuk memaksa masuk, memenuhi kepalanya. Khiya meraih obat pereda, meminumnya dan seketika rasa sakit itu perlahan menghilang. Khiya terduduk lemah di ujung kasurnya, perasaan kecewa menyesap penuh di dadanya, begitu banyak hingga terasa sesak. Khiya kecewa pada Farel, bukan karena Farel penyebab kecelakaan terjadi, tapi karena Farel tidak pernah percaya padanya. Jika dulu, Farel tidak bisa memberitahu kenyataan ini pada Khiya kecil Khiya bisa memaklumi hal itu. Dia terlalu kecil, pemikirannya terlalu sempit untuk menerima kenyataan bahwa inilah takdir. Takdir yang bergerak diluar kendali manusia. Khiya bisa terima itu. Tapi... Tapi sekarang? Khiya sudah dewasa, dia tidak sebodoh itu untuk menyalahkan Farel untuk apa yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD