Clarissa mengerutkan keningnya saat aroma menenangkan itu menyeruak dalam indera penciumannya. Sosoknya berada dalam pelukan lembut namun pada akhirnya napasnya sesak. Ohh, dia masih tak bisa berpikir dengan jernih, namun saat suara itu kembali nemanggil namanya dalam kelembutan, seluruh urat sarafnya menegang. "Clarissa, aku benar-benar ...-" Dan kemudian suara dalam pikirannya kian kuat. "Clarissa ...," "Cla...," "Cla...," Itu sama dengan panggilan Evander untuknya. Penuh kelembutan dengan penuh kasih sayang. Menghantarkan kehangatan yang dapat menyelimuti kesepiannya selama penantian. Namun entah kenapa kali ini, seluruh kenangan itu memberikan rasa asam. Dan saat dia bisa berpikir jernih, rasa kecewa memukul ujung matanya. Nyatanya pria yang mamanggilnya dengan penuh kelembuta

