Part 7

2072 Words
Musim gugur tahun 2014, di hari Rabu pagi, Sandra terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar hotel dengan tubuh tanpa busana yang hanya ditutupi oleh selimut saja. Sandra tidak ingin pasti apa yang terjadi malam itu, selain dirinya minum terlalu banyak setelah melakukan tugas pertamanya sebagai seorang pembunuh. Perasaan Sandra kacau saat itu, jadi Sandra memutuskan untuk minum, lalu hal itu terjadi begitu saja. Astaga. Pikiran Sandra sangat kacau sekarang karena kenangan buruk yang menghantuinya. Setelah memastikan Rachel benar-benar terlelap, Sandra keluar dari kamar Rachel dan menghampiri Delvin yang sedang duduk seorang diri. “Aku pikir kau sudah pulang,” ucap Sandra, lalu duduk di sebelah Delvin. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Delvin. “Tidak perlu membahasnya lagi. Jangan katakan hal ini pada Ayah. Perang besar akan terjadi, jika Ayah sampai tahu. Sebentar lagi ulang tahun Rachel dan juga ulang tahunku, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan. Sudah cukup satu kenangan buruk saat hari ulang tahunku.” Sandra menjawab pertanyaan Delvin sembari mengambil segelas air, lalu meminumnya. Delvin hanya bisa menunjukkan wajah kecewanya. Sandra lagi-lagi tidak mau berbagi dengannya dan memang sesulit itu untuk membuat Sandra mau berbagi cerita dengannya. Tetapi, sisi misterius ini juga menjadi daya tarik Sandra. “Pulanglah. Kau harus lanjutkan latihanmu. Ayah berharap banyak padamu,” ucap Sandra setelah meneguk habis air minumnya. “Ternyata kau masih tidak paham juga, K-a-k-a-k.” Delvin menekankan kata kakak. Kata kakak tidak selalu keluar dari mulut Delvin, hanya di waktu-waktu tertentu dan itulah yang membuatnya berbeda. “Apa maksudmu?” tanya Sandra. “Ayah memintaku untuk berlatih dengan keras, agar menjadi orang tidak terkalahkan untuk menjagamu nantinya. Kau adalah anak kesayangan Ayah dan Ayah ingin kau yang menggantikannya sebagai pemimpin Black Mamba. Semua orang tahu hal itu, bagaimana bisa kau tidak tahu?” Ekspresi wajah Sandra berubah setelah mendengar ucapan Delvin. Sandra tidak tahu jika ayahnya berpikir untuk melanjutkan kursi kepemimpinan padanya. Sandra telah memiliki rencana besar bersama Rachel, bagaimana bisa rencana itu hancur karena dirinya harus memimpin Black Mamba? •••• Seperti biasanya, Sandra mengantar Rachel ke sekolah. Sandra melambaikan tangannya pada Rachel yang akan masuk ke dalam kelas. Saat akan pergi, langkah kaki Sandra terhenti sejenak karena melihat Clara. Malas sekali Sandra melihat wajah Clara. Sandra sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai Clara selalu saja menatapnya dengan tatapan seakan ia adalah makhluk yang menjijikkan, bahkan sekarang Clara juga menatapnya seperti orang marah. Sandra tidak mengerti apa sebenarnya masalah Clara dengannya. “Menyebalkan sekali!” gerutu Sandra, lalu masuk ke dalam mobilnya karena harus pergi ke restoran. •••• Selain seorang ibu, pembunuh bayaran, dan juga anggota mafia, Sandra juga merupakan seorang pemilik restoran. Sandra menyediakan berbagai masakkan yang resepnya ia dapat dari mendiang ibunya. Sandra terbilang sukses dalam usaha ini berkat kerja kerasnya. Kerasnya kehidupan memaksa Sandra untuk menguasai hal apapun yang memang diperlukan untuk bertahan hidup. Lagipula Sandra percaya ketika bisa memiliki lebih dari satu keahlian, maka itu adalah hal yang bagus, tidak perlu memilih salah satu. Akan tetapi, Sandra ingin melepaskan salah satunya. Sandra ingin berhenti dari dunia hitam yang telah membuatnya terkenal sebagai Dangerous Woman, sebab dunia seperti itu tidak akan baik untuk Rachel. Setiap pelayan yang melihat Sandra langsung membungkuk hormat dan Sandra akan memberikan senyum ramah pada setiap pekerjanya. Lalu, Sandra pergi ke dapur restoran untuk memastikan apakah semua berjalan dengan lancar. “Delvin?” Sandra terkejut melihat kehadiran Delvin ada di dapur restorannya dan sedang memasak bersama Jennie, yang merupakan chef di restoran milik Sandra. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sandra. Ini bukanlah tempat Delvin seharusnya berada. “Aku sedang belajar memasak. Nanti kau juga harus mengajariku memasak nasi goreng kimchi yang enak itu.” Delvin menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari masakkannya. “Ini restoran, bukan tempat kursus masak. Kau harus menemui Ayah, kan? Dan di mana Luciana?” “Diamlah dulu. Kak Jennie saja setuju, lagipula aku tidak mengganggu pekerjaan siapa pun. Tentang Ayah, kita yang akan menemui Ayah, bukan hanya aku. Kita bisa pergi bersama-sama.” Delvin menjawab pertanyaan Sandra dengan nada santainya. Sebenarnya ini hanya cara Delvin agar bisa melihat Sandra. “Luciana belum datang. Dia sering terlambat akhir-akhir ini.” Dan Jennie menjawab pertanyaan Sandra. “Tetapi ....” “Permisi.” Seorang pelayan menyela kalimat Sandra. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi ini sangat mendesak. “Ada seseorang mencari Anda,” ucap pelayan ini lagi. Sandra langsung pergi meninggalkan dapur restoran tanpa mengatakan apa-apa lagi, sebab penasaran siapa yang datang mencarinya. Delvin ikut penasaran siapa yang datang mencari Sandra, ini membuat Delvin langsung pergi meninggalkan dapur dan mengikuti Sandra. Pelayan ini membawa Sandra ke hadapan seorang pria yang terlihat arogan dan kini tersenyum pada Sandra seolah tidak terjadi apa-apa. Darren. Sandra sungguh tidak mengerti kenapa sekarang dirinya selalu saja bertemu dengan Darren. Delvin yang berada di belakang Sandra juga memikirkan hal yang sama. Entah untuk alasan apa lagi Darren datang menemui Sandra. Darren berdiri dan ingin mendekati Sandra, tapi Delvin lebih dulu maju untuk mencegah Darren mendekati Sandra. Delvin berdiri di depan Sandra, berhadapan langsung dengan Darren, dan memberikan tatapan tajamnya pada Darren. “Apa yang kau lakukan? Aku ingin bicara dengannya,” ucap Darren. “Aku yang seharusnya mengatakan itu. Apa yang kau lakukan di sini? Kau sungguh ingin berperang dengan kami?” Delvin membalas ucapan Darren. “Delvin ....” “Biarkan aku saja yang bicara dengannya.” Delvin menyela kalimat Sandra. “Aku tidak ingin bicara denganmu dan kedatanganku bukan untuk memulai peperangan. Aku ingin membicarakan kejadian di Hotel Axton pada musim gugur tahun 2014.” Darren melirik Sandra saat mengatakan hal ini. “Hotel Axton?” Delvin terlihat bingung. Ekspresi wajah Sandra berubah setelah mendengar maksud kedatangan Darren. Sandra tidak berharap pria itu adalah Darren, tapi melihat cara bicara Darren, kenyataan yang tidak Sandra harapkan bisa saja menghantamnya. “Apa yang sedang dia bicarakan?” Delvin bertanya pada Sandra. “Entahlah.” Sandra menjawab pertanyaan Delvin. “Kita bicara di ruanganku.” Lalu Sandra bicara pada Darren dan setelahnya berjalan lebih dulu ke ruangannya. Darren tersenyum pada Delvin, baru setelahnya mengikuti Sandra. Ini bukanlah senyuman manis, melainkan senyuman mengejek karena sikap sok pahlawan Delvin sia-sia saja. Sementara Delvin sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Entah apa yang terjadi di Hotel Axton pada musim gugur tahun 2014. Sandra mengunci dengan rapat pintu dan jendela di ruangannya, kemudian duduk di hadapan Darren. Kalau saja pembicaraan ini tidak berjalan lancar dan Darren kembali mencari masalah dengannya, maka Sandra jamin perang akan terjadi, bahkan jika sebelumnya ia tidak ingin berperang. “Apa yang kau ketahui tentang Hotel Axton pada musim gugur tahun 2014?” Sandra mengajukan pertanyaan pada Darren. Darren yang tadinya menyilangkan kakinya, kini menurunkan salah satu kakinya dan meraih tangan Sandra. “Aku tidak sengaja tidur dengan wanita yang memiliki tato seperti ini. Itu kau, kan?” Sandra menjauhkan tangannya dari tangan Darren. Entah takdir macam apa ini. “Kau ingat tatonya, tapi tidak ingat wajahnya?” “Aku terlalu mabuk saat itu. Ingatanku sangat tidak baik jika sedang mabuk. Intinya, kita melakukan sesuatu malam itu, kan? Kau juga sepertinya tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Jadi, mari lakukan tes DNA untuk mengetahui apakah Rachel ....” “Sudah cukup. Aku tidak suka membicarakan keluargaku dengan orang asing, apalagi orang sepertimu. Entah apa yang terjadi di masa lalu, kita lupakan saja. Aku tidak memberi izin pria sepertimu masuk ke dalam keluargaku. Rachel adalah anakku, atas dasar apa kau ingin melakukan tes DNA dengannya? Jangan lupakan masalah yang telah terjadi di antara kita. Kau tidak cukup baik untuk mendekati anakku!” Sandra menyela kalimat Darren dengan kalimat tegasnya. “Aku ayah Rachel, kan? Kenapa kau ....” Sandra tiba-tiba menodongkan pistol ke kepala Darren, yang membuat Darren seketika terdiam. “Ayah Rachel sudah mati! Lagipula, sejak kapan pria b******k sepertimu peduli tentang seorang anak kecil? Aku sangat tahu bagaimana sifat pria sepertimu. Jangan mencoba untuk main-main denganku. Aku tidak akan ragu untuk membunuhmu.” Sandra kembali menyela kalimat Darren dan masih menodongkan pistol pada Darren. “Kau tidak bisa menghindari hubungan yang telah ditakdirkan untuk terjadi.” “Hubungan? Kau terlalu banyak berkhayal. Kau bukan ayah Rachel, jadi, jangan pernah melewati batasanmu. Kau sudah tahu siapa aku, maka jangan pernah berani untuk main-main denganku!” Sandra menekankan kalimatnya untuk membalas ucapan Darren. “Lalu, bagaimana jika Rachel sendiri yang ingin dekat denganku? Kau bisa melakukan apa jika hal itu terjadi?” “Kau bicara sekali lagi, aku jamin kau akan pulang ke rumahmu dalam keadaan tidak bernyawa lagi,” ancam Sandra yang membuat Darren tersenyum. “Sulit dipercaya wanita menyeramkan sepertimu bisa menjadi seorang ibu.” Darren pergi dari ruangan Sandra setelah mengatakan hal ini. Sandra menurunkan pistolnya dan terdiam di tempatnya. Sandra memang ingin tahu siapa ayah Rachel, tapi tidak ingin terlibat apapun dengan pria itu. Sandra tidak ingin terikat dengan seorang pria, apalagi pria seperti Darren. Sandra sungguh tidak mengerti kenapa harus ada kemungkinan dia yang menjadi ayah Rachel. Sebelum keluar dari restoran, Darren melirik Delvin yang terus saja menatapnya. Darren lagi-lagi tersenyum, lalu kembali melangkahkan kakinya. “Anak muda yang bodoh. Kenapa tertarik pada wanita angkuh seperti Sandra?” dan Darren bergumam. •••• Setelah bertemu dengan Darren, Sandra langsung pergi ke sekolah Rachel, sebab takut jika Darren melakukan sesuatu di sini. Sandra tahu tidak sulit bagi orang seperti Darren untuk mendapatkan segala informasi tentang siapa pun yang dia inginkan, tapi Sandra jamin Darren tidak akan mendapatkan informasi apa-apa tentang kehidupan pribadinya dan Rachel. Pantang bagi pria seperti Darren masuk ke dalam kehidupan putrinya. “Kenapa Ibu datang lebih awal? Ini belum waktunya aku pulang.” Rachel yang saat ini di taman bermain sekolah bertanya pada sang ibu yang duduk di sebelahnya. “Ibu hanya khawatir setelah kejadian kemarin. Tidak ada orang aneh yang datang kemari, kan?” Sandra bertanya sembari mengusap sudut bibir Rachel yang kotor karena makan biskuit. “Ibu yang bilang padaku kalau sekolah ini aman, kenapa Ibu justru khawatir? Tidak ada orang aneh yang datang, hanya ada pengganti ibu guru untuk menggantikan Bu Tina yang pernah aku ceritakan pada Ibu. Lihat ...” Rachel menunjukkan aksesoris di rambutnya. “Tadi rambutku berantakkan saat bermain dan jepit rambutku hilang, lalu bu guru baru yang bernama Bu Lavina itu merapikan rambutku dan memberikan aku jepit rambut yang cantik.” Rachel bicara dengan sangat ceria karena mendapat hiasan rambut yang cantik. Sandra baru menyadari ada jepit rambut baru di rambut anaknya. Sandra tidak menganggap ini sebagai hal aneh, sebab Sandra memang sudah mendengar kalau salah satu guru berhenti karena akan pindah bersama suaminya, tapi tetap saja Sandra harus bertemu dengan guru baru itu. “Jika ada orang asing yang ingin mengajakmu pergi, kau tidak boleh ikut dengannya, jangan pernah bicara pada orang asing, dan jangan percaya apapun yang orang itu katakan. Kau hanya akan di jemput oleh ibu, Paman Delvin, Bibi Brianna, Nenek Jane, dan mungkin terkadang Kakek, jika Kakek ada waktu. Kau mengerti?” Sandra menatap Rachel. “Aku mengerti,” jawab Rachel dengan seulas senyum manisnya. “Baiklah. Kalau begitu, ibu akan menemui bu guru Lavina. Kau bermainlah bersama temanmu. Sampai nanti.” Sandra pun pergi untuk menemui guru baru yang dibicarakan oleh Rachel. Saat ini, Sandra sudah berada di ruangan kepala sekolah, bicara dengan wanita paruh baya bernama Meri Choi untuk menunggu kedatangan Lavina. Sandra mengatakan bukannya tidak mempercayai pihak sekolah dalam mencari seorang pengajar, tapi Sandra hanya ingin mengenal Lavina saja. Meri pun tidak mempermasalahkan hal itu, karena Meri memahami kekhawatiran Sandra sebagai orang tua. Beberapa saat setelahnya, seorang wanita masuk ke dalam ruangan ini. Wanita berambut pendek dan tersenyum ramah pada Sandra juga Meri. “Saya Lavina Hwang, guru baru di sini.” Lavina menyapa Sandra. Sandra berdiri dan tersenyum pada Lavina. “Bicaralah dengan santai. Kita sepertinya seumuran. Aku Sandra, ibu Rachel. Aku harap kau tidak salah paham karena aku ingin bertemu denganmu.” “Baiklah. Mana mungkin bisa ada kesalahpahaman. Setiap orang tua pasti ingin orang terbaik yang mengajari anaknya.” Nada suara Lavina terdengar begitu lembut dan ramah. Sandra rasa tidak perlu curiga pada Lavina, sebab Lavina terlihat seperti wanita baik-baik. Sandra tidak melihat ada yang mencurigakan darinya. “Terima kasih atas jepit rambut yang kau berikan pada Rachel.” “Itu bukan apa-apa,” ucap Lavina. Sandra benar-benar merasa tidak ada yang aneh, apalagi mencurigakan dari Lavina. Sandra harap keyakinannya memang benar. Kalau saja Darren masih mencari masalah dengannya, maka semua akan selesai saat itu juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD