Siang hari ketika jam makan siang hampir tiba, Laura berinisiatif mengantar makan siang untuk Dafi setelah Andini mengatakan bahwa Dafi sering sekali melupakan jam makan siang. Sepanjang perjalanan Laura mengulum bibir, menahan senyumannya untuk tidak berkembang terlalu lebar dengan sesekali melirik ke arah kotak makan beserta setoples cookies lalu berfokus pada jalanan raya lagi. Jantungnya benar-benar berdebar, ia tidak sabar mendengar reaksi Dafi terhadap makanan yang ia buat, terutama cookies yang dengan bangga untuk pertama kalinya berhasil ia buat.
Tak perlu menunggu lama, setelah mobil yang ia kendarai berhenti di area parkir bengkel Daf, ia segera keluar, lalu mengambil paper bang dari sisi lain tempat duduknya. Langkahnya terasa ringan, sesekali ia menyunggingkan senyumannya pada beberapa orang yang menyapa, tidak ada canggung lagi karena ia hampir sudah terbiasa dengan tempat ini sebab hampir semua karyawan yang bekerja di tempat itu pun sudah mengenalnya, dari mulai petugas keamanan hingga montir pekerja inti.
“Pak, Mas Dafi-nya ada?” tanya Laura pada seorang montir yang palin senior di tempat itu.
“Selamat siang Mbak Laura. Ada Mbak. Mas Dafi sedang ada di kantornya, baru saja kembali. Namun sepertinya sedang ada tamu Mbak.”
Kening Laura mengerut. “Tamu? Siapa Pak?”
“Tidak tahu Mbak, seorang lelaki asing. Tapi sepertinya teman lama Mas Dafi.”
Laura mengangguk kecil lalu tersenyum. “Terimakasih Pak.” Ujarnya lalu membungkuk kecil sebelum beranjak pergi ke arah kantor Dafi yang berada di lantai dua tempat tersebut. Berniat menunggu tamu itu pergi di ruang tunggu, di depan ruang kerja Dafi.
Akan tetapi begitu Laura menginjak anak tangga terakhir seseorang keluar dari ruangan tersebut. Bola mata Laura membesar.
“Bastian.”
Bastian pun tampak terkejut, lelaki itu terdiam menatapnya beberapa saat sebelum menghela nafas lalu beranjak pergi tanpa berkata sedikitpun.
“Bastian! Bastian tunggu!” Laura meraih lengan Bastian dengan tangan kirinya. “Ada apa? Ngapain apa lo ke sini?”
“Menurut lo?”
“Bas!”
Bastian menghembuskan nafas kasar lalu menghempaskan tangan Laura. “Bukan urusan lo Ra, ini urusan laki-laki dengan laki-laki.”
“Urusan Apa?” Laura meraih lengan Bastian lagi.
“Daripada lo introgasi gue, mendingan obati calon suami lo.”
Mata Laura membesar lalu mengerjap beberapa kali. “Apa yang lo lakuin sama Dafi Bas?”
Bastian tidak menjawab, lelaki itu hanya mengatupkan rahang, juga mengepalkan kedua tangannya.
“Bastian!”
Lelaki itu menatap Laura dengan tajam, “Memberinya peringatan, apa lagi? Lo mau marah? Silahkan! Gue kayak gini karena gue peduli sama lo! Lo dan pikiran impulsif lo bener-bener ... .” Bastian mengerang kecil. “Udahlah ... sekarang terserah lo.” Ujar Bastian kemudian beranjak pergi meninggalkan Laura dengan langkah cepat.
Laura menghembuskan nafas kasar, dengan tangan kanan naik menyisir rambutnya dengan tangan kiri. Beberapa saat setelah itu ia beranjak, menaiki anak tangga itu kembali, lalu tanpa permisi memasuki ruangan tersebut.
“Dafi ... .” panggil Laura seraya berjalan dengan cepat ke arah Dafi yang duduk di sudut sofa. Laura duduk di samping Dafi lalu meraih wajah Dafi dengan kedua tangannya, menatap lelaki itu dengan tatapan intens penuh kekhawatiran. “Ada apa ini? Kenapa berdarah? Bastian menghajarmu Daf?” tanya Laura dengan penuh kekhawatiran.
Tangan Laura bergetar, kedua bola matanya mulai berembun, sedih melihat Dafi harus terluka karena sahabatnya sendiri. “Maaf Daf ... setelah semua pengawalku, sekarang Bastian. Kemarin Bastian memang sangat emosi setelah mendengar ceritaku, tapi aku tidak menduga Bastian akan melakukan hal ini padamu ... Maaf ... Maafkan dia Dafi.”
Dafi menghembuskan nafas lalu menepis kedua tangan Laura. “Kamu tidak perlu meminta maaf atas namanya. Kamu tidak salah apapun.”
Tangan Laura menggantung di kedua sisi wajah Dafi, masih bergetar terkejut, di tambah dengan rasa takut yang ia rasakan setelah melihat reaksi Dafi.
“Daf ... .” ujar Laura dengan suara bergetar. Setelah itu ia berdiri. “Biar aku cari obat dulu ... setelah itu aku ... .”
Dafi meraih lengan Laura, “Duduk.” Ujar Dafi dengan tegas seraya menarik tangan itu.
Laura bergeming, ia justru berusaha melepaskan genggaman tangan itu. “Tapi Dafi ... nanti berbekas.”
“Aku bilang duduk!”
Bruk!
Laura terhuyun jatuh hingga menimpa sebagian tubuh Dafi. Laura mendongak, menatap lekat ke arah mata Dafi yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Laura bergidik ketika melihat tatapan mata Dafi yang terlihat sangat tajam, dingin dan penuh emosi. Tidak ada ketenangan seperti yang selama ini lelaki itu miliki.
Apa yang dikatakan Bastian pada Dafi hingga Dafi semarah ini? Apa yang Bastian perbuat?
“D—Dafi ... ka—mu membuatku takut.”
Dafi menghembuskan nafas panjang, menutup matanya sesaat sebelum kembali menatap ke arah Laura, lalu mendorong Laura hingga Laura bersandar pada sandaran sofa, tepat dibawah kuasanya. “Apa ini membuatmu takut?” tanya Dafi lalu memiringkan wajah, menyentuhkan bibir tepat di atas bibir Laura, mengecupnya perlahan, melumatnya dengan lembut sebelum ciuman itu berpindah menuju kedua pipi hingga ke telinga kanan Laura.
Laura menahan nafas seraya mengepalkan kedua tangan, ketika hembusan nafas hangat menerpa telinga kanan yang merupakan area tersensitif yang ia miliki.
“Dafi ... .” Suara Laura bergetar diiringi dengan desahan kecil yang keluar dari bibirnya. Laura menutup mulut, menggigit bibir bawahnya dengan keras, menahan untuk tidak mengeluarkan desahan-desahan lagi.
“Ternyata benar.” Ujar Dafi seraya menjauhkan wajah darinya.
Perlahan Laura membuka mata lalu menatap ke arah Dafi dengan kening mengerut. “Apa maksudmu Dafi? Apa yang benar?”
“Titik sensitifmu ... telinga kanan.”
Blush!
Wajah Laura memerah diiringi dengan dentuman jantungnya yang semakin menggila. Matanya mengerjap beberapa kali ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari Dafi yang kini masih menatapnya dengan intens diiringi dengan seringaian kecil.
“Ternyata ... Bastian tidak berbohong padaku.”
Laura terkesiap, tubuhnya seketika menggigil, seperti di siram oleh air es secara tiba-tiba. “A—apa maksudmu? Kenapa ... Bastian? Apa yang dia katakan padamu?” tanya Laura dengan suara tergagap, terlihat sangat kebingungan.
Bukannya menjawab, Dafi justru menyeringai kembali. “Seharusnya aku yang bertanya padamu Laura, kenapa aku? Kenapa kamu tidak memilih Bastian saja? Lelaki yang sudah sangat jelas mencintaimu.”
Laura kembali terkesiap, apa katanya? Bastian mencintainya?
.
.
.
Tiga puluh menit sebelumnya ...
Dafi kembali ke bengkel setelah selesai memesan beberapa barang untuk persediaan di bengkel. Awalnya ia berniat untuk makan siang di luar setelah berbelanja, akan tetapi ibunya tiba-tiba menelpon lalu mengatakan bahwa Laura akan datang membawakannya makan siang, sehingga ia memutuskan untuk kembali setelah urusannya selesai.
Begitu sampai di bengkel, bukannya Laura yang ia temui, ia justru dikejutkan oleh kedatangan Bastian yang sedang duduk di bangku tunggu bengkelnya.
“Bastian.” Dafi kemudian menyunggingkan senyumannya, lalu mengulurkan tangan. “Apa kabar? Lama tidak jumpa. Mari ... sebaiknya kita ngobrol di dalam kantor saja.”
Dafi berjalan di depan, sementara Bastian mengekorinya, berjalan tanpa mengatakan apapun.
“Silahkan duduk.”
“Gue gak mau basa-basi. Langsung saja ke intinya.”
Dafi berbalik, menatap ke arah Bastian. Membalas tatapan lelaki itu dengan tatapan yang tidak kalah dinginnya. “Katakan.”
“Tinggalkan Laura.”
Dafi menaikkan satu alis lalu menarik ujung bibirnya. “Tinggalkan? Atas dasar apa gue harus ninggalin Laura?”
“Kalian tidak sepantasnya bersama! Laura berhak bersama lelaki yang lebih baik, derajatnya lebih tinggi dan yang pasti bukan lelaki yang cuma mau memanfaatkannya.” Bastian menarik nafas berat lalu berjalan ke arah Dafi. “Dafi ... Lo pikir gue gak tahu kalian bersama cuma karena perjanjian?” Desis Bastian. “Kalau sampai Paman Damar tahu ... kalian akan hancur. Kalian tidak akan bersama.”
“Terus kenapa lo datang ke sini? Seharusnya lo datang ke Pak Damar dan katakan semua yang lo tahu ini. Supaya semuanya hancur, seperti yang lo mau. Supaya gue ... gak bisa bersama Laura.”
“Dafi!”
Bastian menghembuskan nafas perlahan, lalu dengan santai menatap ke arah Bastian. “Kenapa Bastian? Lo gak mau liat Laura disiksa sama Pak Damar ... ? Makanya alih-alih bilang langsung, lo malah minta gue yang ninggalin Laura? Gitu?”
“Gak perlu banyak bicara! Yang harus lo lakuin cukup tinggalin dia! Lo harus sadar Dafi ketika kalian bersama bukannya menghilangkan masalah, justru akan menimbulkan masalah lain. Masalah yang akan semakin rumit lagi! Gue gak mau Laura semakin terluka! Apalagi semuanya sudah jelas, kalian bersama hanya untuk berpisah. Jadi ... lo lebih baik pergi dari kehidupan Laura. Jangan dekati dia lagi.”
“Kalau emang lo gak mau Laura hidup sama gue, kenapa lo gak minta aja sama Laura buat ninggalin gue? Lo gak bisa kan?” Dafi menyeringai, tersenyum penuh kemenangan. “Sayang sekali ... Bastian. I’m win. She’s loves me. Gue cinta pertama Laura. Sejak kuliah Laura bahkan udah cinta sama gue kan? Jadi ... tentu saja lo gak akan pernah bisa minta dia tinggalin gue. Bukan begitu?”
Buk!
Bruk!
“b******k! Dafi! Jadi lo bener-bener manfaatin Laura? Manfaatin perasaan Laura dan harta yang Laura punya?!”
Dafi tersungkur dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah. Ia kemudian mendongak menatap ke arah Bastian. Menatap berang ke arah lelaki itu.
“Oke, kalau karena itu lo gak bisa ninggalin Laura gue cuma mau bilang satu hal sama lo.” Bastian berjongkok tepat di hadapannya.
“Apa? Lo cinta sama Laura?”
Bastian terkekeh kecil. “Memang, akhirnya lo sadar? Lo inget ... hampir tiga tahun gue tinggal bareng Laura di Aussie?”
Dafi menatap Bastian penuh antisipasi. Mencoba membaca situasi, ke arah mana lekaki itu akan membawa percakapan mereka.
“Gue cuma mau bilang.” Bastian menjeda ucapannya seraya mencondongkan tubuh, mendekat ke arahnya. “Titik sensitif Laura ada di telinga kanan, dia akan mendesah hebat kalo lo manjain telinga kanan dia.”
Mata Dafi membulat, menatap Bastian semakin tajam dengan rahang yang mengatup rapat. “Apa maksud lo dengan bilang kayak gitu ke gue?”
Kali ini Bastian yang tersenyum penuh kemenangan. “Lo boleh cinta pertama dia, tapi gue ... orang pertama yang melihat dan merasakan semuanya.”
.
.
.
Dafi menatap ke arah Laura lagi. “Bastian sendiri yang mengakuinya, baru saja sebelum memukulku karena memanfaatkan keadaanmu.”
“Tidak ... tidak mungkin Bastian mencintaiku Dafi. Dia hanya peduli padaku. Dia hanya berusaha melindungiku agar aku tidak berada dalam masalah yang lebih besar. Dafi ... aku mohon jangan hiraukan dia. Jangan sampai kamu berubah pikiran karena Bastian.” Ujar Laura dengan cepat, seraya menggelengkan kepala penuh dengan kepanikan.
Dafi tidak membuka suara sama sekali. Lelaki itu hanya menatap ke arah Laura dalam diam dengan tatapan dinginnya.
“Dafi ... katakan sesuatu.”
“Tapi aku rasa semua yang Bastian katakan memang benar Laura ... seharusnya kamu bersama lelaki yang lebih baik. Bukan aku.”
“Tidak! Aku tidak mau.”
“Lebih baik pikirkan lagi. masih ada waktu untuk membatalkan pernikahan kita.”
Laura menggelengkan kepalanya semakin cepat. “Tidak! Aku bilang tidak mau! Siapa yang peduli tentang siapa yang lebih baik untukku? Siapa Dafi? Orang lain tidak ada yang bisa mengaturku! Tidak ada yang berhak menilai pilihanku! Aku tidak mau tahu ... tidak ada pilihan lain. Daripada berubah pikiran dan membatalkannya, aku akan mempercepat pernikahan kita! titik! tidak ada bantahan lagi!"