Part 5

1752 Words
Sepanjang perjalanan pulang Laura hanya diam menatap kosong ke arah jalan raya di balik helm yang ia kenakan. Nafanya berat, wajahnya merengut memikirkan bagaimana pendapat-pendapat semua sahabatnya itu. Beban yang ia rasakan terasa semakin berat, selaras dengan resiko yang sebelumnya ia pikir dapat dengan mudah ia tanggung. Rasanya ... terlalu sulit. Membayangkannya saja benar-benar sulit untuk dihadapi. Akan tetapi ... saat ini bukan saatnya mundur, sudah tidak ada kesempatan baginya untuk berubah pikiran. Keputusan sudah diketuk, pernikahan akan segera digelar.   Kendaraan yang Laura tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Laura pun kemudian turun dari kendaraan itu disusul oleh Dafi. Laura menundukan pandangan, berusaha melihat pengikat helm yang sedang ia buka, namun ternyata gagal. Ia masih tidak bisa masang dan membuka benda itu sendiri.   Laura termenung, ia mendongak menatap Dafi yang tanpa banyak bicara sedang membantunya melepas helm tersebut. Ia menghela nafas panjang, lalu menatap lelaki itu semakin lamat ketika iris mata mereka mulai bertemu. Waktu serasa berhenti, detik demi detik berlalu tanpa ada sesuatu yang berarti, hanya diam, mematung dan saling menatap. Sampai tatapan mereka putus ketika Dafi mulai mengalihkan pandangan, menghindari tatapannya.   “Ayo, masuk.”   Laura mengikuti langkah Dafi memasuki rumahnya yang sudah hampir tiga minggu ini ia tempati.   “Dafi ... Nak Ara ... Akhirnya kalian pulang juga.” Andini menyambutnya di ruang tengah.   Laura tersenyum ia kemudian menyalami Andini lalu memeluknya sesaat. “Maaf Ara pulang terlambat Bunda, tadi teman-teman Ara tiba-tiba meminta bertemu secara mendadak.”   “Tidak masalah. Bunda cuma khawatir aja sama kamu. Takutnya terjadi sesuatu lagi.” ujar Andini.   Hati yang sebelumnya di selimuti rasa takut dan khawatir perlahan menghangat, semua yang dikhawatirkannya perlahan terkikis, serasa terangkat mulai menghilang dari hatinya, perasaannya pun terasa benar-benar nyaman setelah mendengar nada penuh kekhawatiran yang selalu dilayangkan oleh Andini. Sejak kejadian pemaksaan pulang itu Andini memang cenderung jadi lebih khawatir terhadapnya. Andini sering sekali menanyakan kabarnya dan keberadaannya. Terlalu berlebihan? Tidak. Justru Laura merasa bahagia karena sekarang ada seseorang yang benar-benar mengkhawatirkannya dengan tulus.   “Sekarang kalian bersihkan diri dulu lalu turun lagi, Bunda akan panaskan makan malam untuk kalian. Langsung makan saja ya di dapur. Bunda mau temani Ayah membaca di kamar.”   Laura tersenyum lalu mengangguk. “Iya Bunda. Terimakasih banyak.”   Laura melangkah menuju kamar tamu yang sekarang sudah menjadi kamarnya sendiri, beriringan dengan Dafi yang hendak menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.   “Laura.”   “Hm?” Laura menoleh ke arah Dafi.   “Setelah makan malam kita bicara.”   Laura mengangguk kecil, setelah memastikan Dafi beranjak ia pun memasuki kamarnya, kemudian meneguk ludahnya kasar lalu membasahi bibirnya yang terasa mendadak kering. Kenapa ia mendadak segugup ini?   ***   “Minumlah ... di sini dingin.”   Laura menoleh ke arah Dafi lalu dengan kedua tangan ia menerima segelas s**u jahe yang tercium begitu hangat dari tangan kanan Dafi.   “Terimakasih.” Ujar Laura lalu menyeruput minuman itu perlahan.   Hening.   Tidak ada percakapan apapun yang mereka mulai, keduanya hanya duduk diam di balkon kamar Dafi, menikmati pemandangan malam bertabur bintang dengan bulan yang membulat sempurna menerangi malam itu.   “Daf ... kamu gak mau nanya sesuatu tentang pertemuanku?” Laura menoleh menatap ke arah Dafi yang sedang melipat kedua tangan didada dengan kaki yang saling menyilang.   Dafi menoleh, menatap Laura. “Apakah aku perlu bertanya?”   Laura memalingkan pandangan ke arah lain. Benar ... memang apa pentingnya bagi Dafi? Tidak ada yang perlu Dafi tanyakan dan pedulika terhadapnya. Tidak ... karena ikatan hubungan mereka pun bahkan mungkin ... tidak ada pentingnya bagi Dafi.   “Hari ini saat kamu bertemu dengan sahabat-sahabatmu aku pun bertemu dengan Dania.” Ujar Dafi membuka percakapan.   Mata membesar. “Dania ... ?”   Dafi mengangguk kecil.   Laura meneguk ludahnya kasar. “Kenapa dia menemuimu?”   “Dia sangat terkejut melihat berita itu, karena setahu Dania aku memang masih berkencan dengan Angel. Dia ... juga kecewa padaku sebab dulu aku menolaknya karena status sosial kami yang berbeda tapi sekarang aku akan menikah denganmu.”   Cengkraman tangan Laura pada gelas di tangannya semakin kencang. Dania ... dia adalah sahabat yang sempat menjalin kasih dengan Dafi. Dania adalah ancaman terbesar baginya, karena Dania adalah satu-satunya perempuan yang sangat Dafi pedulikan. Satu-satunya perempuan yang ... Dafi bahkan akan rela melakukan apapun hanya untuk melihatnya bahagia.   Perempuan yang sempat menghancurkan perasaannya, menghancurkan harapannya untuk bersama Dafi. Perempuan yang membuatnya patah hati, dan satu-satunya perempuan yang berhasil menghancurkan perasaannya.   Ya ... hancur. Memang siapa yang tidak akan hancur saat melihat lelaki yang dicintai justru bersama perempuan lain? Bahkan hingga memperlakukan perempuan itu layaknya ratu.   “Dia juga menanyakan banyak hal tentang hubungan kita.”   Laura menoleh ke arah Dafi. “Lalu kamu menjawab apa?”   “Aku cuma bilang, ini takdir. Rahasia jodoh yang Tuhan simpan untuk kita.”   Laura menghembuskan nafasnya perlahan, lega setelah mendengar pengakuan tersebut. Setidaknya Dafi masih memiliki hati dengan tidak mengatakan yang sebenarnya terhadap Dania. Sebab jika sampai Dafi mengatakan yang sebenarnya pada Dania ia pasti akan malu, ia tidak akan sanggup memperlihatkan wajah di depan perempuan penuh percaya diri itu.   “Lalu ... apa tujuanmu mengatakan hal ini padaku?”   “Karena aku sadar diantara pasangan kekasih tidak boleh ada sesuatu hal yang dirahasiakan dan ditutupi.”   Laura dengan cepat menoleh ke arah Dafi. Apa katanya? “Pasangan kekasih?”   Dafi mengedikkan bahu. “Secara teknis sekarang kita begitu kan?”   “Ah ... ya ... benar.” Laura termenung lagi memikirkan hubungan mereka yang benar-benar hanya sebuah skenario yang harus tampak seperti pasangan kekasih pada umumnya.   “Laura ... .”   Laura kembali menoleh ke arah Dafi, ia memundurkan wajahnya sedikit ketika Dafi berada tepat di depan wajahnya. “D—Dafi.”   “Bolehkah aku menciummu?”   Laura membulatkan mata, terkejut dengan pertanyaan itu. Ia kemudian meneguk ludah kasar lalu membasahi bibirnya ketika merasakan jantungnya mulai berdetak kencang, tak terkendali. Apa yang harus ia katakan? Apa yang harus ia jawab?   “Tidak boleh?”   Laura mengerjapkan matanya kembali kemudian mengangguk kecil.   “Oh, yasudah.”   “Maksudku boleh.”   Dafi terdiam seraya menatap tepat di iris matanya. Perlahan Dafi mendekat, lelaki itu memiringkan wajahnya sebelum bibir itu mengais bibirnya, menciumnya ringan, lalu melumatnya, panas dan terasa benar-benar mendebarkan. Dafi kemudian memberikannya ciuman singkat kembali sebelum menyatukan kening mereka.   “Kamu harus ingat Laura ... Tanpa bertanya pun kita harus terbuka dan jujur, kita harus saling mengungkapkan apapun apalagi sesuatu hal yang mungkin akan mengganggu hubungan kita di masa depan.” Ujar Dafi sebelum kembali mengecup permukaan bibirnya.   ***   Laura bangun pagi-pagi sekali dengan jantung yang masih berdebar kencang seperti yang ia rasakan sepanjang malam. Ia tersenyum kemudian mengulum bibirnya sendiri ketika mengingat hangatnya bibir Dafi di atas permukaan bibirnya. Wajahnya menghangat, terasa panas dan begitu mendebarkan ketika mengingat panasnya ciuman mereka yang berlanjut setelah percakapan itu.   Laura menangkup wajahnya yang masih memerah di dalam pantulan cermin. Setelah itu ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali sebelum beranjak keluar dari kamar.   Laura berajalan ke arah Andini yang sedang berkutat di dapur, tampak membasuh beberapa peralatan masak yang baru saja selesai digunakan setelah memasak.   “Bunda biar Ara bantu.”   Andini tersenyum tipis lalu menggeser posisi berdirinya. Membiarkan Laura bergabung membersihkan sisa sabun pada piring dan gelas di bak pencucian.   “Nak Ara tidak ke kantor?”   “Weekend ini Ara tidak memiliki pekerjaan Bunda jadi Ara memutuskan untuk tinggal saja di rumah. Bersama Bunda.” Ujar Laura seraua melirik ke arah Andini sesaat.   “Good, bagaimana kalau kita membuat cookies kesukaan Dafi? Sudah lama sekali Bunda tidak membuatkan Dafi cookies.”   Kening Laura mengerut. Satu fakta yang baru ia ketahui tentang Dafi. “Dafi suka cookies?”   Andini mengangguk. “Sejak kecil Dafi memang sangat menyukai cookies, rasa coklat, vanila, kelapa, cookies apapun dia suka. Tapi cookies kelapa yang paling Dafi suka.”   “Sayang sekali ... Aku tidak bisa membuat cookies.” Ujar Laura tanpa sadar.   Andini terkekeh kecil. “Tidak masalah, kamu bisa belajar sama Bunda. Mudah kok. Dafi pasti akan suka jika kamu yang membuatnya.”   Laura membasahi bibirnya sesaat. “Benarkah? Dafi akan suka Bunda?” tanya Laura ragu. Karena hubungan mereka bukan benar-benar hubungan atas dasar cinta, bukan sesuatu hal atas dasar romantis yang akan menganggap makanan seburuk apapun terasa enak. Apalagi Laura sangat buruk dalam membuat kue dan juga pastry. Apakah Dafi akan benar-benar menyukai makanan buatannya nanti? Bagaimana jika tidak layak konsumsi?   “Pasti sayang ... Dafi pasti akan menyukai apapun yang kamu buat. Dafi pernah berkata pada Bunda, dia akan menjadi seperti ayahnya yang akan menghargai apapun yang dibuat oleh orang yang dia cintai. Dia bahkan bilang tidak akan pernah mengatakan bahwa makanan itu terasa buruk.”   Laura tersenyum tipis. Orang yang dia cintai ... sayang sekali ia tidak termasuk. Hubungan mereka bahkan hanya sebuah perjanjian atas dasar timbal balik. Tidak ada bedanya dengan bisnis. Tidak ada cinta, tidak akan ada hal romantis seperti itu.    “Nak Ara ... sebenarnya Bunda menyimpan sesuatu yang belum Bunda katakan padamu, sekarang mungkin saatnya kamu tahu dan ya ... kamu harus tahu agar tidak salah paham dengan sikap dingin yang Dafi berikan.”   Laura semakin mengerutkan keningnya. “Apa itu Bunda?”   “Dafi pernah mengatakan ... dia hanya akan membawa seorang perempuan yang dia cintai dan dia harapkan untuk masa depannya ke rumah ini. Seorang perempuan yang akan Dafi bawa kejenjang yang lebih serius.”   Deg!   Laura tertegun, ia kemudian meneguk ludahnya kasar, gugup setelah mendengar pengakuan yang Andini katakan terhadapnya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, keringat dingin pun mulai bercucuran di sepanjang punggung hingga lengannya. Bulu romanya berdiri, merinding. Tidak menduga Dafi memiliki pemikiran seperti itu.   “Kamu harus tahu Nak Ara ... Dafi tidak pernah membawa perempuan manapun kecuali sahabat-sahabatnya ke sini. Awalnya Bunda pun menduga Dafi akan menikah dengan salah satu sahabatnya itu karena tidak ada perempuan lain lagi yang pernah Dafi bawa. Tapi ternyata mereka sudah menikah lebih dulu ... Bunda sempat khawatir ... karena Dafi tidak pernah membawa siapapun ke sini, Dafi bahkan tidak pernah mengenalkan siapapun pada Bunda. Tapi setelah Bunda melihat kamu di rumah ini, kekhawatiran Bunda benar-benar menghilang sayang ... hati Bunda benar-benar lega ... karena akhirnya Dafi membawa seseorang pulang, bahkan tinggal di sini. Dan ... benar saja ... beberapa hari kemudian Dafi bertanya tentang bagaimana pendapat bunda dan ayah terhadap kamu. Karena itulah kami tidak terkejut lagi ketika Dafi mengatakan akan menikahimu.”   Mata Laura membulat, nafasnya terhenti, tertahan karena rasa terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan. Dadanya serasa penuh, dengan perasaan berbunga yang membuncah, terasa meletup-letup, penuh rasa kebahagiaan.   Jika memang seperti itu ... Saat ini, bolehkah ... ia berharap Dafi benar-benar menginginkannya?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD