Pernikahan pun digelar dengan begitu megah di sebuah ballroom hotel ternama. Seluruh sudut ruangan itu pun penuh dengan tamu dari berbagai kalangan, dari kolega bisnis kedua keluarga, juga kolega bisnis Laura dan Dafi, tak lupa seluruh sahabat-sahabat mereka pun menyempatkan datang bersama dengan duplikat kecil mereka—anak. Semua orang pun mulai saling bergantian menyalami kedua mempelai yang terus saling berangkulan seraya tersenyum lebar, tampak begitu bahagia.
Alvin datang bersama sang istri, Jihan dan kedua anak mereka, Aluna dan Brian. Gibran juga datang bersama dengan Fanya dan Adnan, putera mereka, tak lupa Kevin pun datang bersama Dania serta batita mereka yang sangat menggemaskan, Aura.
“Selamat Bang. Gak nyangka ternyata pasangan yang waktu itu dapetin buket bunga di hari pernikahan gue sama Kak Alvin beneran nikah juga.” Jihan terkekeh. “Selamat Bang ... gue ikut bahagia buat kalian.” Ujar Jihan seraya memeluk Dafi. “Kak ... selamat ya.” Kali ini Jihan beralih pada Laura yang menyambut Jihan dengan senyuman lebar dan pelukan yang sangat erat. “Semoga kalian bahagia.”
Laura mengangguk kecil seraya mengurai pelukan itu. “Terimakasih Jihan, mungkin ini berkat do’a di pernikahan kalian juga?” Laura mengelus lengan Jihan. “Kali ini giliran gue yang dengerin banyak saran dari lo buat jalanin pernikahan. Gue harap bisa kayak lo sama Alvin yang semakin harmonis dari tahun ke tahun.”
“Makin kayak orang pacaran ya Kak?” tanya Jihan lalu tersenyum malu. “Padahal anak udah ada dua.”
“Yang ketiga kapan nih?” goda Laura.
Jihan terkekeh lagi. “Coming soon.” Ujarnya lalu menunduk melihat puteri kecilnya yang berusia enam tahun. “Kakak beri salam pada Tante Laura.” Anak perempuan itu pun menyalami Laura seraya memberikan senyuman lebar.
Lain Jihan, lain juga dengan Alvin yang sedang menyalami Dafi, jangan lupakan tatapan penuh peringatan yang sedang Alvin arahkan dengan tegas pada Dafi setelah itu Alvin setengah memeluk Dafi. Menepuk punggung Dafi berulang kali seraya berujar pelan. “Gue percaya sama lo Dafi. Lo orang baik, lo gak akan mungkin nyakiti Laura gitu aja.” Ujarnya pelan.
Alvin menatap Dafi kembali lalu memberikan senyuman. “Gue tunggu kabar baiknya. Abang ayo beri salam pada Om Dafi.” Lanjut Alvin pada putera kecilnya yang berada dalam gendongan.
Dafi membalas senyuman Alvin lalu terkekeh kecil. “Udah Abang aja. Niat nambah anak lo?” canda Dafi, berusaha mengurai ketegangan diantara mereka.
“Pasti, bahkan Jihan yang nyaranin.” Ujar Alvin diiringi kekehan kecil.
Setelah itu Alvin beralih pada Laura, tanpa bicara ia pun memeluk Laura lalu berbisik pelan. “Gue harap lo bahagia Ra, seperti yang lo impikan selama ini.”
“Thanks Vin ... Thank you lo udah mau ngertiin gue dan support gue.”
“Anytime Ra, kalo ada sesuatu jangan sungkan kabari gue atau yang lain. kita pasti bantu lo.”
Laura mengangguk kecil, “Hm ... Vin, dimana Bastian? Kok gue gak liat dia dari tadi?”
Dafi menoleh ke arah Laura begitu mendengar nama itu keluar dari mulut Laura, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Dafi kemudian mengalihkan pandangan pada Gibran yang juga memberikan tatapan penuh peringatan, tidak berbeda dengan Alvin.
“Daf ... lo gak lupa kan gue sabuk hitam taekwondo?”
Dafi terkekeh kecil lalu memeluk Gibran setelah mendengar ancaman tersirat dari ucapan itu. “Gue gak akan lupa.”
Setelah itu satu persatu sahabat mereka yang lain saling menyalami, dari Gibran diikuti Fanya, lalu di susul oleh Kevin terakhir Dania yang menatap Dafi dengan wajah menekuk dan mata berkaca-kaca.
“Abang!” Seru Dania seraya memeluk Dafi. Air mata Dania tumpah begitu saja setelah mendapatkan pelukan balasan dari Dafi.
Salah satu patah hati terbesar dari seorang sahabat laki-laki dari sahabat perempuan adalah ketika dia menikah. Inilah yang di rasakan Dania. Bukan berarti ia masih mencintai Dafi atau bahkan masih mengharapkan Dafi. Bukan berarti pula Dania tidak bahagia. Hanya saja perasaannya tetap merasa terluka, serasa akan ditinggalkan.
“Sorry ... Bang.” Ujar Dania seraya menyeka air matanya yang tak terbendung. Dafi pun terkekeh kecil melihatnya kemudian membantu menyaka air mata Dania sesaat sebelum menangkup wajah merah sahabat kecilnya itu. “Gak malu diliatin anaknya nangis begini? Kayak anak kecil aja.”
“Abang gue bukan anak kecil!” rajuk Dania yang kembali berurai air mata.
Dafi semakin terkekeh lalu kembali membawa Dania ke dalam pelukannya. “Shh ... iya iya ... lo bukan anak kecil Dania.”
Dania mengurai pelukan itu lagi lalu mendongak menatap Dafi. “Sekarang gue serius.”
“Gue gak bisa serius sama lo Dan, gue udah nikah. Lo juga.”
“Abang!”
Dafi tergelak melihat Dania yang kembali merajuk. Menggemaskan.
Dania menatap Dafi lamat seraya menyentuh lengan Dafi, merematnya beberapa saat. “Gue harap lo juga bahagia Bang. Maaf waktu itu gue marah-marah, gue cuma mikir lo dimanfaatin sama Kak Laura. Tapi gue sadar, gue pasti salah. Kak Laura baik, gak mungkin Kak Laura kayak gitu. Gue ikut seneng Bang pada akhirnya lo nikah, bersama dengan perempuan sebaik Kak Laura. Bukan cewek-cewek aneh yang selalu lo pacarin.”
Dafi terkekeh kecil seraya membelai kepala Dania perlahan. “Gak masalah Dania. Gue tahu lo lagi sensitif aja kan? Kalau lo gak sensitif, lo pasti bisa mikir logis.”
Dania mengangguk kecil seraya menyeka setitik air mata yang turun dari sudut kedua matanya lagi. “Gue emang sensitif banget Bang belakangan ini, ditambah cengeng banget. Semua yang dilakuin Kevin di rumah salah terus. Pokoknya nyebelin banget, gak ada yang ngertiin gue.”
Dafi tersenyum kecil seraya membelai kepala Dania lagi. “Jangan gitu ... Kevin pasti udah berusaha ngerti tapi emang dia juga serba salah. Bener gak?”
“Udah jangan emosi ya ... .” lanjut Dafi yang di angguki dengan patuh oleh Dania.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Laura, apalagi percakapannya dengan Kevin sudah berakhir sejak beberapa saat lalu, sementara Dania tanpa rasa bersalah bermanja begitu lama dengan Dafi. Laura menunduk, meneguk ludahnya kasar sesaat sebelum menghembuskan nafas lalu mengalihkan pandangan. Tepat di saat yang sama iris matanya bertemu dengan tatapan Kevin yang tersenyum tipis padanya.
“Jangan khawatir. Mereka emang udah biasa kayak gitu, apalagi kalau Dania sedang hamil muda kayak gini. Manjanya sama Bang Dafi naek sampe seratus persen. Lagian Bang Dafi sekarang suami lo, jadi lo gak perlu khawatir terlalu banyak. Gak bakalan di rebut kok.” Ujar Kevin diiringi kekehan kecil.
Laura tersenyum tipis lalu melirik ke arah Dafi lagi. Iya sih ... iya Dafi memang sudah menjadi suaminya dan tidak ada kesempatan bagi siapapun untuk merebut Dafi darinya. Tapi ... kalau ia harus melihat pemandangan ini terus menerus, perasaannya cukup terganggu juga, hatinya terasa panas, dadanya benar-benar bergemuruh, cemburu.
“Om Bas!” suara nyaring Aluna membuat semua orang menoleh ke arah gadis kecil itu. Begitu juga dengan Laura, ia kemudian mengikuti arah pandang Aluna, melihat ke arah Bastian yang datang dengan begitu percaya diri dengan stelan serba hitamnya, persis seperti yang dikenakan Dafi, seolah ingin bersaing.
“Princess ... You look so beautiful.” Ujar Bastian seraya membawa Aluna ke dalam gendongannya. Setelah itu Bastian berjalan ke arahnya, melewati Dafi yang masih bercengkrama dengan Dania.
“Selamat, Laura.”
Laura tersenyum tipis lalu mengangguk kecil. “Thank you Bastian. Lo dateng sendiri?”
Bastian terkekeh kecil. “Masa iya gue dateng sendiri di saat semua temen gue punya pasangan? Ini ... My princess, Aluna.”
Anak perempuan itu tersenyum lebar lalu memberi sebuah ciuman di pipi Bastian.
Laura menarik ujung bibirnya. “Bas inget umur. Beda lo berapa tahun sama Aluna? Gak lucu banget entar lo manggil Alvin Papa.”
Bastian tertawa cukup lebar. “Canda Ra, lagian gue gak sedepresi itu kok. Sebentar ... tadi dia ke toilet.” Bastian kemudian berbalik ke arah kerumunan orang-orang, tak lama setelah itu seorang perempuan dengan gaun berwarna soft purple muncul dengan begitu anggunnya.
Laura menoleh kembali ke arah Bastian yang menyambut perempuan itu dengan senyuman. Bastian lalu menoleh ke arah Laura lagi. “Kenapa Ra? Kaget?”
Laura membasahi bibirnya sesaat setelah melihat perempuan yang dulu begitu Bastian hindari, sekarang justru nempel, merangkul lengan Alvin dengan begitu eratnya. Perempuan yang juga salah satu sahabat jauhnya. “Agatha? Kapan lo balik dari Aussie?”
“Last month Ra, cuma gue harus urus ini itu dulu buat pindah ke Indo lagi. jadi belum sempet ngabarin lo. Btw selamat Ra ... Gue ikut bahagia akhirnya lo nikah. Do’ain gue ya gue juga pengen banget cepet-cepet nikah.”
Laura melirik Bastian sesaat lalu mengangguk kecil. “Yang terbaik buat kalian aja. Gue pasti dukung.”
Pemandangan itu tak luput dari Dafi yang sudah ditinggalkan oleh Dania. Dafi hanya menatap Laura dalam diam, membaca gerak-gerik perempuan itu dan berusaha mendefinisikan tatapan yang perempuan itu berikan pada Bastian.
Dafi menghembuskan nafasnya perlahan, tanpa berniat mengalihkan pandangan sama sekali hingga Laura kemudian membalas tatapannya. Laura dan Dafi bertatapan dalam diam, saling menyelami tatapan masing-masing.
“Ini foto barengnya kapan kalau ngobrol terus?” seru Gibran yang membuat semua sahabat-sahabat mereka terkekeh kecil.
***
Pesta pernikahan pun selesai, semua tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara, kecuali kelaurga inti, dan tentu saja sepasang pengantin baru itu. Mereka telah menyewa tiga kamar hotel di hotel tempat acara tersebut, agar mereka bisa segera beristirahat setelah acara resepsi pernikahan selesai.
“Mama sama Papa ke kamar duluan Ra.” Pamit Priyanti yang hanya diangguki kecil oleh Laura. Setelah itu Laura mengalihkan pandangannya pada Andini dan Rama yang masih menatap kedua orangtuanya yang sudah beranjak pergi dari tempat tersebut.
“Bunda ... Ayah ... sebaiknya kalian juga istirahat, ini sudah terlalu malam, kalian pasti juga sangat lelah bukan?” Ujar Laura.
Andini tersenyum lembut seraya membelai lengan Laura. “Iya Nak Ara, kalian juga istirahat ya ... wajah kamu keliatan capek banget.”
“Iya Bunda ... Ara pasti segera istirahat. Good night Bunda.” Ujar Laura seraya memeluk Andini sesaat. “Good night juga Ayah ... .”
“Oh ya ... Dafi. Ingat kata Ayah. Jangan terlalu kasar dan memaksa.”
Dafi menghembuskan nafas. “Iya Ayah ... Dafi ingat. Ayah sudah ingatkan berapa kali pada Dafi?”
“Ya ... siapa tahu lupa? Baiklah ... good night putri ayah. Kalau Dafi tidak gentle, kamu bisa menendangnya sampai jatuh dari tempat tidur ya?”
Blush!
Wajah Laura mendadak memerah setelah mendengar percakapan tersebut. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sesaat seraya mengangguk kecil.
“Kalau begitu kami tinggal sekarang ya ... sampai besok.” Pamit Andini kemudian berlalu juga meninggalkan Dafi dan Laura di area Ballroom itu.
Laura menghembuskan nafas perlahan kemudian duduk di pelaminan seraya meluruskan kakinya yang terasa sangat kebas, pegal sekaligus sakit karena harus terus berdiri hampir seharian ini.
“Ayo ke kamar.”
Laura mengacungkan tangan lalu menggelengkan kepala. “Bentar ... sakit banget kakinya, pegel. Tunggu sampe pegelnya ilang, bentar lagi.”
Dafi menghela nafas panjang dengan iris mata tak lepas dari Laura yang masih mengurut kakinya secara bergantian. Tanpa banyak bicara lagi Dafi berjongkok, lalu tanpa komando mengangkat tubuh Laura dengan kedua tangannya.
“Dafi.”
Dafi berjalan dengan ringan menuju lift yang akan membawa mereka ke sebuah kamar dengan spot yang paling indah di hotel itu. “Jangan gerak, kamu berat Laura. Pegangan aja yang kuat.”
Laura mencebik kecil, tapi kemudian mengulum bibir, menahan senyuman lalu memeluk leher Dafi dengan kedua tangannya.
Begitu sampai di depan kamar, tanpa menurunkan Laura Dafi membuka pintu kamar hotel tersebut. Lalu membawanya masuk ke kamar hotel yang sudah di sulap menjadi tempat yang begitu romantis. Bertabur kelopak mawar merah dengan wangi yang menguar, begitu harum dan menenangkan.
Laura terkesima, ia tidak menduga kamar pengantin mereka akan menjadi kamar seindah ini. Kamar seperti pada kamar-kamar pengantin pada umumnya. Ia pikir ia hanya akan melewati malam pertama mereka dengan hal yang biasa saja, tanpa ada hal romantis seperti ini. Tapi ternyata Dafi ... memberikan layanan seromantis ini untuknya. Seperti layaknya pasangan yang benar-benar menikah karena cinta.
Tak hanya itu, ternyata tidak hanya kamar yang di sulap menjadi begitu mengesankan. Kamar mandinya pun sama. Begitu mereka masuk, aroma terapi dari bathtub menguar, mengundang tubuhnya untuk segera menceburkan diri ke dalam sana. Tak lama setelah itu ia diturunkan oleh Dafi secara perlahan.
Laura mendongak menatap Dafi yang juga tampak lelah. Apalagi di tambah harus menggendongnya seperti tadi. Membuat dadanya terenyuh, menghangat sempurna. Ia tak menduga Dafi yang ia pikir akan sangat dingin, ternyata begitu perhatian padanya, melebihi ekspektasi yang selama ini ia bayangkan.
“Mandilah, kamu pasti butuh berendam untuk mengembalikan energi.” Ujar Dafi kemudian berbalik hendak meninggalkan Laura. Akan tetapi Laura dengan cepat meraih lengan Dafi, membuat lelaki itu berbalik lagi menghadap ke arahnya.
“Kenapa?"
Laura membasahi bibirnya sesaat lalu meneguk ludahnya kasar sebelum menatap Dafi lagi. “Mau ... berendam bersama?”