Part 8

1958 Words
“Kemana?”   Laura yang baru saja hendak berdiri berbalik ke arah Dafi, kemudian tersenyum tipis. “Pulang, kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu dulu, nanti kita bicara di rumah.”   Dafi tidak menjawab, lelaki itu justru menepuk-nepuk kembali sofa di sampingnya. Kening Laura mengerut. “Bicara sekarang. Duduk.”   Laura mengikuti keinginan Dafi. Duduk kembali di tempat yang sebelumnya ia tempati, menghadap Dafi.   “Kemari.”   Laura semakin mengerutkan keningnya, tapi tanpa banyak bicara ia pun duduk lebih mendekat ke arah Dafi.   Mata Laura mengerjap semakin heran ketika Dafi menghembuskan nafas, terlihat kecewa. Apa yang salah?   “Aaa.”   Bruk!   Laura menoleh ke arah Dafi dengan cepat. Tanpa diduga, dengan gerakan yang sangat cepat Dafi menarik pinggangnya hingga ia terjengit saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh menimpa bagian kanan tubuh lelaki itu.   Mata Laura mengerjap pelan. “D—Dafi.”   Dafi menatapnya seraya terkekeh kecil, “Kenapa?”   “Eng—gak! Gapapa.” Jawab Laura cepat seraya mengalihkan pandangan ke arah lain seraya menegakkan posisi duduknya, akan tetapi baru saja ia hendak bangkit, pinggangnya sudah di tarik kembali, membuat ia terjatuh lagi, menimpa Dafi.   “Santai aja. Gak usah tegang.”   Laura menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lagi ketika merasakan jantungnya mulai menggila kembali. Bukannya relax, semakin lama ia justru semakin menegang, apalagi ketika secara tiba-tiba Dafi melingkarkan kedua tangan di pinggangnya seraya menyerukan kepala di perpotongan leher jenjangnya.   “Katanya ingin bicara, katakan.” Ujar Dafi tanpa mengubah posisi duduk.    Laura menggeliat kecil. “Kita ngobrol tapi jangan gini Daf.”   “Kenapa?”   Demi Tuhan! Geli! Seru Laura dalam hati, bulu romanya bahkan serasa sudah berdiri, meremang saat merasakan hangatnya nafas Dafi menerpa permukaan lehernya.   “Tenang aja, gak akan terjadi apapun. Apalagi kunci pintu ruangan ini sedang rusak. Cukup relax, lalu bicara.” Ujar Dafi lalu menjauhkan wajah dari lehernya.   Laura mengatur nafasnya sesaat sebelum menyandarkan punggung pada separuh tubuh Dafi, menyandarkan kepala pada bahu tegap itu, mencoba setenang dan serelax yang ia bisa.   “Aku udah mikir banyak hal. Tentang keegoisan aku dan ... tentang Bastian.” Laura menjeda ucapannya. “Seharusnya sejak awal aku ngerti, bahwa aku tidak perlu menunggumu bertanya lalu aku menjawab untuk menceritakan ini. Tapi aku harus menceritakannya bahkan sebelum kamu bertanya. Tapi aku baru menyadarinya sekarang, setelah mengingat bagaimana kamu bercerita tentang Dania tanpa kutanya.”   Dafi tidak mengatakan apapun, lelaki itu hanya diam dengan tangan kanan memainkan rambutnya.   “Maaf kalau keegoisanku menyinggung perasaanmu Dafi, aku sadar aku terlalu impulsif mengatakan hal itu, seharusnya aku lebih bersabar dan tenang. Selain itu ... jujur saja, aku sedikit panik saat kamu membicarakan Bastian.”   Laura melirik Dafi dengan ujung matanya ketika elusan yang Dafi berikan terhenti. Ia membasahi bibirnya sesaat, mulai gugup setengah takut menunggu reaksi Dafi. “Aku ... memang sangat dekat dengan Bastian. Lebih dekat daripada dulu ketika kita masih kuliah. Tapi kami tidak memiliki hubungan apapun. Sungguh ... kami hanya berteman, sahabat dekat. Itu saja.”   Laura mengepalkan tangannya sesaat seraya membasahi bibirnya kembali.   “Bastian mengatakan mencintaiku mungkin karena dia khawatir padaku, apalagi setelah tahu perjanjian yang kita sepakati. Terlebih tentang adanya anak. Sebenarnya tidak hanya Bastian yang marah, Alvin dan Gibran pun sama. Hanya saja mungkin kemarahan Bastian meluap-luap karena memang hubungan kami lebih dekat daripada sebelumnya. Selama di Aussie aku sangat bergantung pada Bastian, aku banyak bercerita, berkeluh kesah padanya. Bastian pun sering membantuku menyelesaikan banyak masalahku, termasuk masalah pribadi. Hingga terkadang banyak dari teman-temanku di sana yang menduga bahwa kami adalah pasangan. Jadi mungkin ... Bastian memang hanya khawatir, karena kami memang sedekat itu.”   Laura menoleh ke arah Dafi ketika mendengar dengusan cukup keras yang lelaki itu keluarkan dari hidung. Ia membasahi bibirnya sesaat lalu duduk miring, menghadap Dafi, dengan kedua tangan yang memberanikan diri memeluk pinggang lelaki itu.   Susah payah Laura meneguk ludah ketika iris matanya melihat kilatan aneh yang berada dalam tatapan tajam Dafi. Ia menahan nafas sesaat sebelum menghembuskannya lagi secara perlahan. “Dafi. Jangan menatapku seperti itu. kamu membuatku takut.”   Mata Dafi mengerjap, memaling sesaat sebelum menatap ke arahnya lagi. “Memang ada apa dengan tatapanku?”   Laura menatap iris mata Dafi lagi yang kini tampak lebih tenang, lalu menggeleng kecil. Laura kembali menatap iris mata Dafi yang saat ini dapat ia tatap dengan jarak kurang dari dua puluh centimeter, menyelami indahnya iris mata itu yang terasa seperti mulai menenggelamkannya.   “Aku tidak pernah berpikir bisa sedekat ini denganmu Dafi, apalagi setelah melihatmu yang terus menghindariku, menjauhiku seperti musuh, seperti orang yang paling kamu benci. Aku juga tidak pernah berpikir bisa memelukmu seperti ini, menyentuhmu ... .” ujar Laura seraya menyentuh rahang Dafi, mengelusnya perlahan. “Bahkan menciummu ... .” lanjut Laura seraya mengelus permukaan bibir Dafi dengan ibu jari tangan kanannya. “Aku pikir ... bersamamu hanya sebuah khayalan. Tapi sekarang ... aku di sini, aku bisa bersamamu.”   “Meskipun hanya untuk sementara.”   Dafi menunduk, memiringkan wajah lalu mencium permukaan bibirnya, menekannya perlahan, lalu menggerakkannya dengan lembut. Laura memejamkan mata, menikmati sentuhan hangat itu, mulai membalas lumatan itu, mencium bagian atas dan bawah bibir Dafi secara bergantian, lidah mereka pun mulai bergulir, bermain, saling membelit, membuat ciuman itu terdengar begitu basah dan panas.   Laura mengalungkan kedua tangan di leher Dafi, menekan belakang kepala Dafi, meremat rambut tebalnya, semakin memperdalam ciuman mereka. Sampai ciuman itu perlahan melembut kembali, kecupan-kecupan ringanpun menutup sesi ciuman panas mereka.   ...   Dafi menyentuhkan keningnya di atas kening Laura, seraya mengatur nafas yang masih memburu. Sementara itu tangannya terulur, meraih wajah Laura diiringi dengan tatapan intens yang begitu dalam, menatap mata Laura yang masih tertutup hingga terbuka secara perlahan, lalu memberinya tatapan sayu.   “Ra ... .” ujar Dafi setengah berbisik. “Apa Bastian pernah mengatakan mencintaimu? Atau ... setidaknya ... mengatakan tertarik padamu?”   Bola mata Laura membesar, tampak terkejut dengan pertanyaannya. Laura meneguk ludahnya kasar juga membasahi bibirnya beberapa kali. Terlihat begitu gugup.   Apa yang sebenarnya terjadi antara Laura dan Bastian? Kenapa Laura terlihat begitu gugup?   ...   Inilah pertanyaan yang paling Laura takutkan. Satu hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan pada Dafi. Bukan maksud ingin menyembunyikan, hanya saja ... ia takut hal itu menjadi mengubah cara pandang Dafi terhadap persahabatannya dengan Bastian.   “Laura ... .”   “Hm?”   Laura terjengit kecil ketika mendengar ponselnya berdering nyaring. Ia memalingkan wajah dari Dafi lalu segera meraih ponsel tersebut. Ternyata sebuah panggilan dari Bastian.   Laura menoleh ke arah Dafi lagi yang kini sudah menyandarkan punggung pada sandaran sofa, juga memalingkan wajah darinya.   “Daf ... Bastian. Boleh aku jawab?”   Tanpa banyak bicara Dafi meraih ponsel itu, menjawab panggilan tersebut lalu menghidupkan speaker.   “Hallo Ra.”   “Hallo.” Jawab Laura seraya menggigit bibir, gugup karena disaksikan oleh Dafi.   “Dimana? Gue mau kita ketemu.”   Laura menatap Dafi, meminta persetujuan lelaki itu. Beruntunglah Dafi mengangguk dengan tenang.   “Lo dimana? Biar gue yang ke sana.”   ***   Laura menatap Bastian yang sesekali melirik ke arah parkiran, tempat dimana Dafi berada, menunggunya di dalam mobil. Laura kemudian menghela nafas panjang, menatap ke arah Bastian lagi yang belum mengatakan apapun sejak ia duduk di tempat itu.   “Kalau lo minta gue dateng cuma buat liatin Dafi, mendingan lo ketemu sama Dafi aja sekalian.” Ujar Laura.   Bastian mengalihkan pandangan ke arah Laura, menatap tak suka. “Kenapa dia di sini?”   “Tentu aja, nganterin gue. Apa lagi?”   Bastian terkekeh sengau. “Mulai bertindak seperti pasangan?”   “Faktanya, sekarang Dafi emang pasangan gue Bas, lo harus terima itu.”   “Ra! Jangan keras kepala. Gue udah bilang, langkah yang lo ambil terlalu beresiko. Lebih baik lo batalin sekarang daripada lanjut dengan resiko orangtua lo tahu!”   “Karena itulah kalian semua harus tutup mulut. Yang tahu masalah ini di luar gue dan Dafi hanya kalian. Orangtua gue gak akan tahu jika kalian tutup mulut.”   “Ra ... please ... pikirin ulang. Ini bukan masalah itu aja. Tapi perjanjian itu membahayakan lo. Lo juga harus pikirin diri lo, gimana lo lahiran nanti kalau lo sendiri alergi anestesi? Terlalu beresiko buat lo juga Ra.”   Laura memalingkan wajah. Ya ... ia memang alergi anestesi, obat bius jenis apapun sehingga ia harus melalui berbagai efek samping setelah mendapatkannya. Awalnya ia pun tak tahu tentang hal itu, ia mengetahui hal itu ketika harus menjalani operasi kecil saat ia kecelakaan di Aussie.   “Melahirkan normal tidak perlu anestesi Bastian. Gue pasti bisa, melahirkan secara normal.” Ujar Laura pelan.   “Ra ... seribu kemungkinan bisa terjadi. Gimana kalau gak sesuai rencana? Ra please ... gue mohon pikirin ulang. Gue minta lo batalin perjanjian itu. Sebagai gantinya gue udah bilang gue bisa jadi suami lo. Gue gak akan pernah nuntut apapun termasuk anak.”   Laura menarik ujung bibirnya lalu menggeleng kecil. “Lo sendiri yang bilang lo anak tunggal yang harus memberikan keturunan buat orangtua lo Bastian. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan, karena pada akhirnya meskipun gue milih hidup sama lo, gue pasti hidup dalam tekanan dimana gue harus melahirkan anak buat keluarga lo. Gak akan ada bedanya dengan sekarang.”   “So ... please ... Bastian. Berhenti kayak gini. Gue harap sebagai sahabat gue, lo bisa ngertiin gue. Lo bisa ngertiin posisi gue dan lo bisa terima pasangan gue juga. Gue tahu Bas, gue sadar dengan semua resiko yang gue ambil, karena gue juga udah mikirin ini. Gue gak terima tawaran Dafi gitu aja, gue juga mikirin ini hampir seminggu penuh. Karena itulah ... hormati keputusan gue Bas. Gue tahu ini berat ... tapi ini satu-satunya cara supaya gue ... seenggaknya bisa bahagia. Meskipun memang cuma sementara ... tapi Bas ... setidaknya dengan perjanjian ini ... gue bisa ngerasain gimana rasanya hidup sama seseorang yang gue cintai.”   Laura menarik kedua ujung bibirnya. “Cuma itu Bas ... cuma itu yang gue harapkan.”   “Ra ... tapi Dafi ... gak ada perasaan sama lo. Dia ... .”   “Meskipun Dafi gak cinta sama gue, tapi seenggaknya gue bahagia ... bisa hidup sama dia Bastian. Seseorang yang udah gue tunggu ... dan gue cintai sepenuh hati.” Laura mengulurkan tangan, menggenggam tangan Bastian dengan tangan kanannya.   “Gue mohon ... Bastian ... jangan bahas ini lagi ... karena gue ... gak mau berdebat sama lo, gue gak mau sampe ada masalah sama sahabat terbaik gue. Gue mohon dengan sangat ... Bastian, lo maukan ngertiin posisi gue?”   Laura menatap Bastian dalam dengan tatapan intens penuh dengan harapan. Orang-orang mungkin berpikir ia berlebihan ketika ia memohon seperti ini pada Bastian. Akan tetapi baginya tidak, karena ia tidak mau melukai siapapun, ia pun tidak mau kehilangan siapapun, termasuk sahabat terbaiknya ini ... Bastian. Ia ingin melangkahkan kaki menuju jalan itu tanpa harus ada yang terluka dan tanpa ada yang menghilang dari sekitarnya.   Bastian kemudian membalas genggaman tangannya dengan erat. “Oke. As you wish ... Tapi lo harus janji, lo harus tetap jadi Laura, sahabat terbaik gue.” Bastian menghela nafas panjang kemudian tersenyum tipis.   “Gue harap lo bahagia Ra, dan ... gue juga berharap semoga Dafi membalas semua perasaan lo.”   Senyuman Laura mengembang setelah itu ia memeluk Bastian.   “Thank you ... Bastian.”   Bastian terkekeh kecil seraya membalas pelukannya. “Udah Ra, entar ada yang mangsa gue hidup-hidup lagi.” ujar Bastian seraya mengurai pelukan tersebut.   Kening Laura mengerut. “Siapa?”   Bastian menunjuk Dafi dengan dagu. Ia pun menoleh menatap ke arah Dafi namun bertepatan dengan itu Dafi mengalihkan pandangannya.   Laura mendesis.   “Gak mungkin. Ngarang lo.”   ...   Hubungan apapun akan tampak indah jika di dasarkan dengan komunikasi yang baik dan juga memberi pengertian yang besar, meski sulit. Begitu juga sebuah persahabatan. Karena persahabatan pun sebuah  hubungan yang harus dipelihara dengan komunikasi dan rasa pengertian yang begitu tinggi. Setidaknya itulah ... yang Laura pikirkan dan yang Laura lakukan saat ini, untuk mempertahankan persahabatan mereka.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD