“Wah! Pak Darma yang terhormat, saya tidak menduga akhirnya anda mau datang ke kantor saya ini.” Jaya berdiri seraya tersenyum lebar saat melihat Darma memasuki ruangannya. Sementara itu Darma hanya tersenyum miring lalu duduk tanpa di minta. Darma menyilangkan kedua tangan didada, begitu juga kedua kakinya yang bersilangan dengan kaki kanan yang berada di kaki kiri, menunjukkan kekuasaan sekaligus intimidasi yang ia miliki. Sejujurnya setelah ia membaca seluruh dokumen dari sekretarisnya hampir saja ia datang dengan emosional. Ia hampir tidak bisa menahan dirinya lagi ketika melihat kebusukan yang dilakukan oleh Jaya. Akan tetapi ia sadar, kekerasan tidak akan menyelesaikan apapun, bisa saja ia yang justru terjebak dan berbalik menjadi terkena masalah yang lebih besar. “Apa

