Chapter 11

2129 Words
Karena malas untuk menggunakan mobil, mau tak mau Edgar terpaksa lahir batin mengantar Nadia untuk pergi ke kantor. Di dalam mobil, Nadia, menatap Edgar. Dia sudah sampai di kantornya. “Makasih Uncle! Have a nice day. Nanad turun dulu ya. See you!” “Oke, jangan nakal!” “Dih, mana ada nakal.” Wanita itu membuka seatbeltnya, dan turun ke luar mobil. Sampai di luar, dia melambaikan tangan untuk mengantar kepergian mobil dari Edgar. Nadia dengan bersenandung, dia masuk ke kantor. Dia meraih id card kantornya, sebagai akses masuk. Saat dia meraba lehernya, ternyata id cardnya tidak ada di sana. “Astaga! Id card gue mana?!” Nadia mulai panik melihat jalanan masuk kearah kantor, bersih, tak ada jejak id cardnya yang jatuh di sana. Wanita itu mulai menggigit jarinya bingung. “Mampus, gue nggak bakal ada akses masuk dong kalau gini caranya!” gerutu Nadia. Saat Nadia bingung mengenai akses masuk ke dalam kantornya. Seorang pria dengan menggunakan jas formalnya berjalan mendekat. Dia mendekat kearah Nadia membuat otak brilliant wanita itu berkumandang. Pria itu meng-scan id card miliknya, dan pintu akses pun terbuka. Dengan santai, pria itu masuk sambil menjinjing tas kerjanya. Saat pintu tertutup, dan sang pria akan pergi, Nadia dengan tanpa tau malu menarik jas pria itu hingga sang pria hampir terjengkang ke belakang. Dengan wajah marahnya, dia menempis tangan Nadia dan menatapnya. “Kamu itu berani sekali menarik jas saya! Kalau saya jatuh, gagar otak, kamu mau biayain rumah sakit saya?! Kalau saya amnesia bagaimana?!” omelnya. Nadia menyengir, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Eh, anu Pak. Bukan maksud saya buat Pak Lucas terjengkang. Tapi, gini Pak… Em, saya…” “Em am em, memang kamu Nisa Sabyan! Ngomong yang benar!” “Id card saya ketinggalan deh, Pak. Saya nggak ada akses masuk buat ke kantor. Nah, pas banget ada Pak Lucas kan. Bisa saya pinjem akses masuknya nggak Pak? Saya ada meeting bareng Bu Rima nih. Nanti ngomel hehe.” Lucas, pria itu malah dengan satai menatap Nadia. “Itu urusan kamu. Bukan saya.” Lucas lalu berbalik akan pergi. Namun, Nadia memang dasarnya jelmaan monyett atau bagaimana. Tangannya gerak cepat untuk menarik jas dari Lucas. Lucas yang jasnya di tarik oleh Nadia berdecih kesal. Dia memelotot dan menempis kesal Nadia. “Enak saja main tarik – tarik jas saya! Biaya londry ini mahal! Kalau jas saya kusut bagaimana?! Mau tanggung jawab kamu!” Nadia merengek, dia melihat jam yang ada di lingkar tangannya membuat jantungnya sangat dugun – dugun. Dia mengatupkan kedua tangan di depan dadanya, “Please Pak… Aduh, sekali aja deh. Besok kan saya juga nggak bakal lupa kayak gini. Ya ya ya, Pak Lucas cakep deh!” Lucas menaikan sebelah alisnya. “Loh, saya memang cakep. Saya juga tau. Nggak usah di jelasin.” Nadia mendengarnya menjadi dongkol dalam hati. “Gila, pede juga nih orang,” batin Nadia. Nadia menyengir saja masa bodoh, “Iya, cakep, cakep serius Pak. Kim Jong Un aja lewat! Hehe. Pak… help saya masuk dong,” rengeknya. Lucas memutar bola matanya, dan meng-scan id cardnya lagi dan pergi begitu saja. Nadia, tersenyum lebar. Dia lalu tak melewatkan kesempatan ini untuk segera masuk ke dalam kantor. “Yes! Gue dah masuk! Aaaa legaa!” jeritnya senang. Dia lalu berlari segera menaiki lift, untuk naik ke ruangannya sebelum terlambat meeting pagi ini. Saat lift mau tertutup, Nadia dengan cepat lalu menekan tombol lift dan bernapas lega saat lift tak jadi tertutup. “Sorry sorry gaes!” Orang – orang yang di dalam lift sudah hapal prilaku absurd Nadia. Nadia, santai masuk ke dalam lift dan menekan tombol kembali sehingga lift pun tertutup. Di sampingnya, Anggit ternyata berada di dalam lift yang sama. Dia menyenggol bahu Nadia, dan berbisik. “Shhhss!” Nadia merasa di senggol menoleh, dan mendapati Anggit yang menyengir bagai kuda. “Eh lo jadwal pagi?” Mendengar pertanyaan Anggit, Nadia memutar bola matanya. “Lo emang sahabat gue apa bukan sih? Sejak kapan gue masuk siang? Sejak mak lo nikah sama mak gue? Iya?” Anggit mengerutkan keningnya, dan menggelengkan kepala, “Mulutnya ya… Minta di tabok lo ya… lesbong dong ah!” “Lah, kesel sih gue. Lo itu sahabat gue Nggit, nggak ada perhatian sama sekali sama gue deh!” “Ya, sorry. Gue mah lebih ngamatin janda bohay, dari pada lo.” Ting! “Janda terus yang lo pikirin. Makan tuh janda!” Nadia menyumpel Anggit dengan tissue di mulutnya. Anggit yang di sumpel mendengus sebal. “Sue banget tuh anak!” Nadia masa bodohh, dia melangkah keluar dari lift langsung menuju ke dalam ruangannya. Dia duduk dan meletakan tasnya di atas meja. “Oke, gue harus semangat kerja. Kata orang kalau ngelakuin sesuatu dengan semangat, hari bakar cepet berlalu. Oke, Nad, lo harus semangat!” katanya semangat. *** Dengan tersenyum, Nadia Bramantyo berdiri di samping layar yang di pantulkan proyektor. “Dengan adanya daya sumber manusia yang kita kirim, sesuatu dengan hasil rapat sebelumnya. Kemungkinan terbesar adalah citra perusahaan kita akan semakin maju. Dan, kepercayaan mungkin akan selalu tersemat, sehingga saham kemungkinan akan meroket. Sekian, presentasi dari saya, saya ucapkan terimakasih.” Semua bertepuk tangan setelah wanita itu menyelesaikan presentasinya. Nadia, yang melihat respon dari seluruh orang menjadi lega. Dia menghela napasnya. “Fyuh, untung gue nggak belepotan ngomongnya,” gumamnya sambil mengambil duduk di samping Anggit. Anggit yang melihat Nadia baru saja duduk, melirik wanita itu dan berbisik. “Anak siapa sih ini, pinter amat Bu…” Nadia melirik kearah Anggit, dan menaikan sebelah alisnya, “Anaknya Tukul Arwana!” sebalnya. “Anjir, gilaa amat anaknya Tukul. Bukan Tukul adanya malah tukang pukul haha!” Nadia kembali menghadap lurus ke depan, dan memutar bolanya malas. Sementara Lucas, di ujung berdiri dan merapikan jasnya. “Rapat, saya akhiri. Untuk Nadia, kamu serahkan laporan hasil rapat ini ke saya di ruangan.” Nadia mengangguk, “Iya, siap Pak!” Kemudian, Lucas pun keluar dari ruang rapat. Bersama dengan karyawan yang lain yang mengikuti untuk keluar. Nadia, membereskan dokumen – dokumen terlebih dahulu dan mengangkut bersamanya sebelum dia keluar dari ruangannya. Dengan semangat wanita itu membawa dokumen itu untuk ke ruangan Lucas, sesuai permintaannya. Dia mengetuk terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan Bos yang selalu membuat kepalanya pusing. Setelah mendapat lampu hijau, Nadia masuk ke dalam ruangan Lucas dan tersenyum seramah mungkin kepada pria itu. “Permisi Pak, saya mau mengantarkan catatan hasil rapat hari ini. Dan, kebetulan juga ada dokumen yang perlu Pak Lucas tanda tangani. Ini Pak.” Nadia menyerahkan berkas – berkas itu kepada Lucas di atas meja. Dia berdiri menunggu pria itu selesai mengecek berkas – berkasnya. Wanita itu menunggu sambil melihat sekeliling dengan malas. Lucas, melirik kearah wanita itu yang berdiri di sampingnya. Dia menghentikan membaca dokumen, dan mulai membuka suara. “Kamu pikir saya membaca satu kalimat? Saya tidak suka kamu berdiri seperti penagih hutan. Duduk dan tunggu saya selesai!” Nadia menyengir, dan mengambil duduk di depan Lucas. Bos, adalah raja. Dan karyawan adalah babu. Ya, itu semboyan setiap karyawan yang ada di kantor mungkin… Lucas pun melanjutkan membaca, dan menggoreskan tinta di atas berkas – berkas yang tadi Nadia kirim. Lalu, memberikannya kepada Nadia. Nadia pun senang, tugasnya selesai bukan? Dia bisa santai mungkin tidur setelah ini? Ah, enaknya tugas dia sebagai pegawai magang… Nadia berdiri dan dengan semangat mengambil berkas yang sudah di tanda tangani Lucas. “Terimakasih Pak, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya.” Saat Nadia berbalik, Lucas menghentikannya. “Eits, siapa bilang kamu boleh pergi sekarang?” Nadia berbalik dan menaikan alisya, “Maksud Pak Lucas?” “Revisi!” Nadia mengerut alisnya, “Ha? Revisi? Revisi apa Pak?” Lucas dengan wajah santainya menunjuk satu huruf yang ada di berkas laporan yang tadi Nadia buat panjang lebar. Saat mata itu menyelidik, sungguh membagongkan sekali Nadia. Hanya karena salah penempatan e dan n saja dia kembali mengulang laporan sepanjang itu? Ya amsyong… Lucas sepertinya memang punya kelaian mencari kesalahan pegawainya. Nadia, dengan berat hati membawa kembali laporannya. “Baik Pak, saya akan revisi!” “Bagus!” Tangan Lucas mengusir Nadia segera keluar. Nadia membawa kembali laporan dengan mulut komat – kamit benci kepada bosnya itu. Saat pintu ruangan sang bos sudah di tutup, Nadia mulai meluapkan rasa kesalnya. “Dasar Bos sialann! Apasih, tuh orang ngeselin banget sebelas dua belas sama monyett! Udah mulusnya pedes, kalau minta harus seenak udel. Di kira nggak capek apa! Dasar, bos nggak pengertian! Gue sumpahin dia cepetan ketemu ajal kali ya!” “Ehem!” Nadia langsung membelak matanya. Dia tau, suara itu adalah suara bos yang sedang dia kutuk seenak – enaknya. Dia merasa deru napas di sisi kanan kepalanya. “Dari pada kamu mengutuk saya, bagaimana kalau kamu segera revisi dan memberikan ulang ke saya, Nadia Bramantyo? Atau, surat magang kamu, tidak akan keluar.” Nadia langsung membalikan badan dan menyengir, “I-Iya Pak, saya permisi hehe…” Nadia langsung mengacir menuju ke ruangannya. Sungguh Lucas itu terkadang seperti setan yang muncul tiba – tiba. Bisa buat dia jantungan lama – lama kalau gini. “Fyuhh! Aman…” *** Pulang kerja, Nadia tak langsung kembali ke apartemennya. Dia mampir dulu ke mall untuk berbelanja. Dia adalah pemburu discount sejati. Saat mendengar mall membuka discount, wanita itu langsung meluncur saat itu juga. Dia melihat – lihat baju yang ada di mall dengan berbinar. Sekali – sekali memanjakan diri, dengan baju – baju yang berdiscount, ah… dia sangat suka sekali. “Em, gue pilih yang ini apa yang warna ini ya?” Nadia menimang – nimang dua pilihan baju dengan dua model yang berbeda namun dengan warna yang sama, yaitu soft pink. Saat dia menaik turunkan alisnya, seorang tangan menunjuk salah satu baju yang dia bawa. “Sepertinya ini lebih cocok di kamu.” Mendengarnya. Nadia, mendongak dan melihat kearah wanita itu yang tersenyum memegang kameranya. “Eh?” “Maaf, kesannya nggak sopan. Tapi, saya rasa baju yang ada di tangan kanan kamu lebih cocok. Corak yang sederhana, pasti saat kamu gunakan akan terlihat lebih elegant.” Nadia menaikan sebelah alis dan melihat kembali kedua baju yang dia pegang. Dia pikir – pikir, apa yang di katakan wanita itu betul juga. Dengan senang, Nadia akhirnya memilih pakaian yang di pilihkan wanita itu kepadanya. “Yaudah, ambil yang ini hehe.” Wanita itu ikut tersenyum. Nadia, menatapnya kembali. “Gue Nadia. Lo?” “Gracia.” “Oke, Grace? Karena lo udah bantuin gue yang bingung dari tadi. Lo habis ini masih ada waktu?” “Waktu? Tentu Nad. Saya sendiri jalan – jalan di sini. Kebetulan, hanya untuk melihat – lihat, dan memotret,” katanya sambil tersenyum. “Oh lo suka fotograph?” Wanita itu mengangguk, “Iya. Suka sih.” “Ah gitu. Yaudah gue bayar ke kasir dulu, habis ini kita ngopi gue yang traktir!” Selesai membayar blanjaannya, Nadia langsung bersama Gracia ke tempat coffe yang ada di mall. Pesanan mereka sudah datang, dan Nadia dengan senang menyusrup coffe latte ke sukaannya. “Lo bilang lo jalan – jalan? Emang ada ya, orang Jakarta yang jalan – jalan ke kota sendiri?” Gracia, dia tertawa kecil. “Saya bukan orang Jakarta. Saya lahir di Solo, dan kebetulan tinggal di New Zealand. Saya baru saja pulang hari ini, dan ingin berkeliling.” “Ahh, iyakah?” New Zealand. Bahkan lelakinya saja berada di sana. Uh, sungguh dia merindukan pria itu sangat. Tapi, semakin bertambah umur, dia tidak boleh egois. Felix, kekasihnya itu sedang menjalani kewajibannya bekerja. Dia tidak boleh membuat Felix berada dalam kesulitan. Gracia, diam – diam memfoto Nadia yang terbengong. Jepret! Nadia pun sadar, dan menatapnya aneh. “Eh, gue kan lagi bengong kok di foto sih! Jelekk tau,” dengusnya. “Tidak, menurut saya gambarnya cantik. Ini, lihat!” Gracia, wanita itu memperlihatkan hasil jepretannya. Nadia melihat dan tertawa. Dia juga melihat – lihat hasil jepretan Gracia yang sangat bagus menurutnya. Benar – benar hoby atau passion sebenarnya? Saat dia masih melihat – lihat hasil jepretan. Dia melihat seorang wanita dan lelaki saling menatap tersenyum. Membuat jantung Nadia berdebar kencang. Melihat Nadia yang terdiam, Gracia heran. “Nad, kamu baik – baik saja?” Nadia menoleh dan tersenyum. Dia melihatkan hasil jepretan Gracia dan mulai bertanya. “Grace, kalau boleh tau, ini siapa ya yang kamu foto?” Gracia pun mengerutkan keningnya, dan melihat kearah kameranya. “Ini? Sepertinya aku mempotret random, tapi saat aku berada di New Zealand. Aku juga tidak tau. Sepasang kekasih itu terlihat mesra, dan aku suka, dan mengambil gambarnya, kenapa?” Dia mengenal pria itu adalah Felix. Dia kenal Felix dari sisi mana pun. Meski di gambar terlihat dari samping. Tapi, siapa wanita yang bersama Felix? Kenapa sulit dia mengenali wajah perempuan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD