"Grace, gue balik duluan ya. Lo masih mau disini?"
Gracia, berdiri di depan Nadia dan mengangguk. "Iya Nad, nunggu Kakak aku jemput. Kamu kalau mau balik nggak papa. Aku nunggu di sini sambil shoot foto," kata Gracia.
"Oke deh, gue balik ya. See you next Grace!"
Gracia melambaikan tangan mengantar kepergian Nadia, "Take care!"
Nadia, turun dengan escalator menuju ke lantai dasar mall. Dia, di escalator melamun memikirkan mengenai gambar yang ada di kamera milik wanita yang baru saja dia kenal tadi.
Nadia, menghela napas, sambil mengecek ponselnya. Berharap penuh ke- magican yang ada, sang kekasih mengabari dia, atau sekedar ada miss call dari pria itu. Namun, sama saja. Sudah hampir empat hari, dia bahkan selama itu hanya sekali. Menelpon pun tak ada satu menitan. Memang percintaan yang membagongkan sekali.
Wanita itu melangkah keluar mall dengan paper bag belanjaannya yang ada di tangan. Lalu, dia melambaikan tangan untuk menghentikan taksi yang lewat. Karena tadi pagi dia di antar oleh Edgar- sang paman yang masih muda dan hot able itu, dan akhirnya dia pulang sendiri.
"Pak, apartemen di Jalan Patrius ya."
"Siap Neng!"
Di dalam taksi Nadia meletakan kepalanya ke belakang. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia mengatur napasnya seirama. Saat dia masih santai. Taksi yang dia tumpangi mendadak rem, hingga dia terlempar ke depan dengan terkejut.
"ASTAGGAAA!!"
Sopir taksi tersebut menoleh kearah Nadia, dan menatap penuh sesal kepadanya. "Maaf Neng, di depan itu ada kecelakaan, jadi Bapak rem mendadak. Punten atuh Neng..."
Nadia melihat kearah luar jendela, dan melihat mobil – mobil berhenti menyebakan kemacetan. Banyak orang juga yang berlarian.
"Kecelakaan apaan Pak memang di depan, kok sampai rame banget sih?"
"Aduh, Bapak juga kurang tau Neng. Kayaknya sih mobil sama mobil tabrakan. Nggak tau juga sih Bapak atuh."
"Jadi penasaran, saya turun bentar Pak!"
Nadia yang jiwa keponya tinggi memutuskan untuk turun. Dia membuka pintu taksi, dan melihat gerombolan yang ada di ujung. Saat seorang pria berlari akan kearah sana, Nadia memegang tangannya dan menghentikannya.
"Mas, ini kecelakaan apa ya, kok rame gini?"
"Itu Mbak, dua mobil tabrakan. Ada pasangan suami istri dan anak kecil. Sama itu pemuda yang bawa mobil satunya. Untung cuma luka – luka aja, nggak ada korban jiwa disini. Saya permisi dulu Mbak."
Nadia menaikan alisnya sebelah, "Kesian juga."
Saat Nadia akan kembali naik ke taksi. Dia melihat dari ujungnya seorang pria yang mengalami luka – luka menggendong seorang anak kecil di sisinya ada seorang wanita. Nadia berhenti dan menatapnya. Betapa terkejutnya dia melihat Felix?
Nadia menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin Felix! Dia, nggak mungkin ada di Indonesia. Dia kan lagi perjalanan dinas, nggak, nggak!"
Namun semakin dia menajamkan pengelihatannya kearah pria itu, semakin pula fakta menamparnya. Itu adalah Felix, memang benar – benar pria itu. Saat Nadia menyadarinya, Felix sudah masuk ke dalam ambulance bersama wanita itu dan dengan anak yang ada di gendongannya.
Nadia yang panik dan penuh oleh tanda tanya masuk langsung ke dalam taksi. Dia lalu memukul kursi sopir taksi dengan cepat. "Pak, Pak, ikutin ambulance itu cepetan! Ish, cepetan Bapak!!"
Bapak sopir, yang tidak tau apa – apa, hanya mengikuti apa yang wanita itu katakan. Taksi yang di tumpangi oleh Nadia, dia lalu membuntuti ambulance yang jalan tak jauh dari posisi taksinya. Dalam taksi, Nadia sangat merasa gelisah. Dia berharap apa yang dia lihat adalah halusinasinya saja. Namun, untuk mengusir rasa penasarannya, Nadia, membuntuti ambulance tersebut.
Perasaannya gelisah. Dia mencoba untuk berpikiran positif, sebelum benar - benar realtia yang sebenarnya sungguh menampar dirinya.
Ambulance pun tak lama berhenti, dia berhenti di salah satu rumah sakit besar swasta. Lalu, taksi yang di naiki Nadia pun ikut berhenti dari jarak yang lumayan dekat. Nadia, tak mau membuang waktu pun turun.
Melihat gerombolan staf medis membawa korban kecelakaan itu, Nadia berlari dan memegang bahu pria yang mengenakan stelan jas yang sudah kusut dan kotor.
"Tunggu!"
Saat Nadia sudah menahan pria itu dengan memegang bahu, pria itu dan orang yang ada disana, berbalik menatapnya.
Zonk!
Dia bukan lah orang yang Nadia cari, Felix Caralos sang kekasih. Nadia, yang melihat kenyataannya, mengerjapkan mata. Dia menyengir tidak enak, dan melepaskan tangannya pada bahu pria asing yang menggendong anak kecil.
"Mbak ini siapanya suami saya? Kenapa memberhentikan kami? Kita butuh segera perawatan medis, karena habis kecelakaan."
Nadia menyengir dan berakhir meminta maaf, "Ah, maaf maaf. Saya salah orang, silahkan dilanjut..."
Nadia berbalik dan pergi dari sana. Dia memukul kepalanya merasa bodohh sekali. Betapa gilaanya dia, karena sangat bucin, dan merindukan Felix, wanita itu malah salah mengenali orang.
"Ish, ngapain juga sih Nad, lo salah orang? Malu kan tuh!"
***
Hari ke enam tanpa Felix. Nadia, memilih di apartemen saja untuk tiduran. Lagi pula, ini weekend, dia pun libur. Rasa malas menyerang. Dia pasti weekend seperti ini, bergerak hanya untuk makan, dan mandi saja. Bahkan, tak jarang wanita itu mandi sehari sekali waktu weekend, karena sangat malas.
Nadia membuka ponselnya, men-scrol media sosialnya sambil merebahkan diri. Dia bosan. Tak ada kegiatan lain selain ini itu saja. Anggit, korban spamming chat Nadia, sekarang sudah sok sibuk karena sedang taken dengan janda apartemen sebelah.
Nadia kesal menggoncangkan kakinya. "Arghhh... Gue mati bosen lama - lama kalau begini caranya! Oh my bebeb darling Felix, kenapa si belum balik. Aaa miss you so bad," gumamnya.
Dengan malas, wanita itu bangkit dari tidurnya. Dia menghela napas dan keluar dari kamarnya. Dia turun dari tangga, dan lalu menuju ke lemari pendingin untuk mengambil minuman dingin.
Tangan mungilnya menarik pintu lemari es, dan lalu mengambil botol mineral dingin dari dalam kulkas. Dia mengambilnya, dan lalu menutup kembali kulkasnya.
Nadia dengan wajah lesunya mengambil cangkir, dan menuangkan air mineral dingin ke cangkirnya. Tak lupa, dia membawa cemilan yang dia sudah stok di lemari, dan membawa ke ruang tamu untuk menonton film.
Baru saja bokongg sintalnya duduk, bel apartemennya berbunyi. Sungguh membagongkan sekali. Nadia dengan terpaksa bangkit kembali dan menuju pintu untuk membukanya.
"Surprise!!"
Seorang pria tampan dengan rambut coklat, tersenyum lebar di depan pintu.
"Uncle?! Ngapain sih pakai dateng. Ini kan hari libur Nanad, dan big no, Nanad nggak mau ya, di suruh - suruh jadi babunya Uncle!" gerutunya.
Edgar, pria yang menginjak kepala tiga itu mendengus. Dia menoyor kepala Nadia, dan kemudian berdecih.
"Ajaran siapa sih. Uncle rasa, Mamah sama Papah kamu nggak kek gitu amat. Bukannya tamu di suruh masuk, tapi... malah mau di hempas ck ck ck!"
Mulut Nadia memenye - menyekan mulutnya mengikuti omelan dari Edgar, "Ijirin sipi si. Incil risi Mimi Pipi kimi nggik kiyi giti imit sih... Yaudah - yaudah, masuk!"
Nadia membuka lebar pintu, mempersilahkan Edgar masuk ke dalam. Edgar pun yang di persilahkan, dengan senang hati masuk ke dalam apartemen. Namun, saat dia masuk ke dalam apartemen Nadia, Edgar mengelus dadaa.
"Astaga, Nanad! Kamu ini apartemen, atau kapal titanic?! Berantakan banget. Kamu ini anak gadis kok malah nggak mau bersihin apartemen sendiri. Astaga Nanad-"
Blup!
Edgar di sumpel roti oleh Nadia dengan santai. Nadia menyengir, "Tuan rumah yang baik ngasih makan buat fakir miskin."
Nadia pergi begitu saja menuju sofa masa bodohh. Dia dengan santai duduk, dan menaikan kakinya di atas sofa. Sambil mengambil cemilan dan menghidupkan televisinya.
Edgar mengunyah roti yang tadi di sumpel oleh Nadia, sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Ponakannya memang sungguh jorok sekali. Edgar heran dari mana sikap joroknya itu berasal. Melihat Bramantyo, dan Sandra yang rapi wangi dan bau duit tujuh turunan.
Edgar menghampiri Nadia, dan duduk di sampingnya. Dia lalu menonton televisi bersama. Kebetulan, acaranya adalah acara drama korea.
Belum ada setengah jam mereka menonton. Nadia sudah mewek seolah di tinggal ke dunia lain.
"Huaaaaa!! Kenapa sih Songkang jahat banget... Huaaa mampus gue doain mampuss huaaa!!"
Edgar menaikan sebelah alisnya dan menatap membelak. Nadia sudah malah menempel di bahu Edgar dan mengelap ingusnya disana.
"Hiyaaa! Nadia! Astaga..."
Nadia dengan tampang tak berdosanya malah menatap Edgar sambil menyusrup ingusnya ke dalam lagi. Edgar menatapnya jijik.
"Ih, jorok banget aaaa!"
Edgar langsung bangkit dan bergegas ke kamar mandi. Nadia, yang masa bodo menaikan bahunya acuh, dan kembali menonton drama koreanya.
***
Malam harinya, Edgar masih betah di apartemen Nadia. Bagaimana bisa tidak? Dia orang yang gatal kalau melihat tempat yang tak rapi.
Laki - laki dewasa itu membersihkan seluruh apartemen Nadia, dan... apartemen wanita itu menjadi kinclong seperti baru kembali. Nadia, yang selesai menonton film korea marathon menatap sekelilingnya yang bersih tertawa.
"Enak juga ya Uncle ke sini, bisa dapat pembantu gratis, ups!"
Nadia mematikan televisinya dan bangkit dari duduknya. Dia naik ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, Nadia kembali turun, karena bau sedap menguasi indra penciumannya.
"Ahhh, bau enak. Gue yakin Uncle Edgar yang masak..."
Melihat di atas meja makan ada makan yang tersedia, Nadia tanpa babibu lagi menghampiri meja makan, dan mengambil posisi duduk.
Edgar yang selesai membereskan panci dan perlatan dapur, menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Enak sekali ya, anak muda. Nggak mau susah, giliran orang dewasa yang masak udah di sikat! Ck ck ck."
Nadia menyengir, "Ih, anggap aja bayaran Uncle Edgar main ke apartemen Nanad sih. Gitu aja repot, dasar nenek - nenek sekali anda..."
Edgar yang sedang berkacak pinggang berdecih, "Mulutnya... Mulutnya... Itu, yang masak siapa coba..."
"Iya - iya, Uncle Edgar yang terbaik! Aaa ganteng banget Uncle aku. Laper... Makan dulu ya Uncle..."
Nadia langsung membuka piring dan mengambil nasi, lauk, hingga menumpuk menggunung membentuk sebuah kebahagiaan yang enak di pandang mata.
Edgar melepas apronnya, dan mengambil duduk di samping wanita itu, ikut menikmati makan malam mereka.
Di sela - sela makan, Edgar tak sengaja menyinggung mengenai Felix, membuat Nadia tersedak.
"Kamu sama Felix beneran serius Nad?"
Nadia yang sedang menyantap ayam, tersedak dan terbatuk - batuk. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Edgar yang tak tega, menuangkan minuman dan menyodorkan kepada Nadia. "Hati - hati kenapa sih! Nggak ada yang minta juga," omelnya.
Nadia meminum air yang di berikan Egar dan melirik ke pria itu. "Serius kok," katanya.
"Yakin?"
Nadia dengan kembali menyantap makanannya menganggukan kepala. "E- em."
"Kalau kamu memang yakin, jangan ada keraguan di mata kamu, dan juga di hati kamu. Yang ada malah bikin penyakit, bikin stress sendiri."
Nadia berhenti dan melirik kearah Unclenya, "Kok Uncle tanya gini tiba - tiba. Why??"
"Uncle cuma kasih tau aja. Soalnya Uncle, kandasnya karena tidak ada kepercayaan satu sama lain. Keraguan menjadi bumerang untuk pasangan masing - masing, dan kandas. Jadi, sebelum terjadi kandas, lebih baik di warning dulu kan?" kata Edgar sambil melirik kearah Nadia.
Nadia hanya mengangguk dan memilih memutus pandang ke arah lain. Dia menunduk dan kembali menyantap makanannya.